
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, gadis itu bergegas
kembali ke tempat persembunyiannya. Sebelum ada orang lain yang melihatnya
berkeliaran di sekitar sini. Dengan langkah tergesa-gesa, Nhea menaiki deretan
anak tangga tersebut. Ia memang sengaja tidak menggunakan sepatu pada saat
turun. Karena ia tahu betul jika suara langkah kakinya pasti akan terdengar
jelas. Sol sepatu yang menghantam permukaan lantai akan menciptakan irama
langkah kaki yang cukup nyaring. Jadi, Nhea hanya turun dengan menggunakan kaos
kaki. Meski hal tersebut berpotensi membuatnya terpeleset sewaktu-waktu.
Terkadang manusia memang terpaksa mengambil pilihan beresiko
dalam hidupnya. Karena hanya itu satu-satunya opsi yang ia miliki untuk menyelamatkan
diri. Pada dasarnya, setiap hal pasti memiliki resikonya masing-masing. Hanya
saja ada yang presentase resikonya sangat kecil, hingga yang paling berbahaya.
Meski terskesan terburu-buru, namun Nhea tetap
mempertahankan posisi tubuhnya. Ia terus bersikap hati-hati. Menghindari kesalahan
sekecil apa pun. Padahal Nhea mungkin saja bisa kehlangan keseimbangan. Namun,
pada kenyataannya tidak sama sekali. Ia berhasil mengatasi permasalahan yang
satu itu.
Ia berhasil sampai tepat di depan ruang penyimpanan dengan
selamat. Semua berjalan sesuai rencana. Tapi, ada satu hal yang tidak pernah ia
duga sebelumnya. Sungguh berada di luar ekspektasinya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Nhea menginterupsi.
Orang tersebut yang semua berdiri tepat di depan pintu masuk
menuju ruang penyimpanan, lantas segera berbalik ke arah sumber suara.
“Ternyata dugaanku benar. Kau ada di sini,” ucap Chanwo
secara gamblang.
Sontak Nhea yang mendengar perkataan tersebut semakin merasa
terkejut. Setelah sebelumnya ia dibuat terkejut oleh keberadaan pria itu di
sini. Sungguh, Nhea sama sekali tidak habis pikir.
***
“Jadi, bagaimana kau bisa tahu jika aku berada di sini?”
tanya Nhea penasaran.
“Haruskan aku memberitahunya kepadamu?” tanya pria itu balik
seolah meragukan pertanyaan Nhea.
Setelah kejadian tadi, Nhea pada akhirnya mempersilahkan Chanwo
untuk masuk. Sebenarnya tidak boleh. Karena tidak sembarang orang bisa memiliki
akses untuk masuk ke ruang penyimpanan. Mungkiin Nhea saja bisa terancam
masalah jika sampai ada seseorang selain Chanwo yang mengetahui jika dirinya
berada di sini.
__ADS_1
Ruang penyimpanan bukan tempat untuk bermain. Ada berbagai
benda berharga di dalamnya. Namun, mau bagaimana lagi. Mau tak mau Nhea harus
mentap di sini untuk beberapa waktu ke depan. Sebab tiidak ada tempat lain yang
ia rasa jauh lebih aman dan nyaman.
Sembari menunggu jawaban atas pertanyaannya barusan, Nhea
memutuskan untuk kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Ia baru
memulai makan malamnya pada pukul tiga dini hari. Sungguh tidak masuk akal.
Gadis itu sudah terlaambat lebih dari lima jam. Dan anehnya, sampai sekarang
kondisi gadis itu masih baik-baik saja.
“Kau tahukan jika aku berasal dari klan vampir?” tanya
Chanwo untuk memastikan.
Pasalnya, selama ini Chanwo belum pernah membongkar jati
dirinya secara terang-terangan kepada orang lain. Termasuk Nhea. Eun Ji Hae
saja bahkan tahu karena melihatnya sendiri. Bukan berdasarkan pengakuan
darinya.
Kalau soal dirinya, pria itu memang terkesan sedikit
tertutup. Tidak banyak orang yang tahu siapa dia sebenarnya. Hanya ada satu
tujuan Chanwo melakukan hal tersebut. Tentu dengan alasan keamanan. Ia tidak
ingin membahayakan dirinya sendiri saat berkeliaran dalam dunia yang berbahaya
ini.
“Memangnya kau sungguhan seorang vampir?” tanya gadis itu
“Selama ini kukira dugaanku salah,” cicitnya kemudian.
“Memangnya apa yang aku duga selama ini?” tanya Chanwo lagi.
“Perilakumu aneh. Tidak seperti orang kebanyakan. Jadi, bisa
kusimpulkan jika kau bukan manusia biasa,” jawab Nhea dengan apa adanya.
“Seperti kata mereka, jika dimensi yang sedang kita tempati
kali ini tidak hanya dihuni oleh manusia. Melainkan ada begitu banyak mahluk
dari berbagai macam klan yang tersebar di segala penjuru,” jelasnya dengan
panjang lebar.
Chanwo hanya tersenyum tipis mendengar jawaban dari gadis
itu. Apa yang dikatakan oleh Nhea benar. Ia tidak salah sama sekali. Namun meskipun
begitu, Chanwo masih belum bisa sepenuhnya percaya dengan dimesi lain yang
pernah Nhea sebut beberapa waktu lalu. Gadis itu mengaku jika ia pernah tinggal
di sana sebelumnya.
Menurut penuturan Nhea, kondisi di sana tidak jauh berbeda
dengan di sini. Hanya saja, di tempat ia tinggal dulu semuanya jauh lebih
modern. Dan satu lagi, tidak ada akademi sihir seperti ini. Yang ada hanya
sekolah dan akademi biasa. Intinya, semua yang berada di sana masih serba
__ADS_1
normal.
“Biar aku beri tahu sesuatu kalau begitu!” celetuk Chanwo.
Kali ini kalimatnya berhasil menarik perhatian gadis itu.
Nhea mengalihkan pandangannya ke arah Chanwo. Tidak sabar untuk menunggu hal
baru apa lagi yang akan ia katakan. Sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah
jika ada beragam rahasia yang terbongkar secara sengaja di dalam ruangan ini.
“Apa kau tahu jika ternyata dirimi tidak jauh berbeda
denganku?” tanya Chanwo.
Gadis itu hanya bisa mengerutkan dahinya, pertanda jika ia
tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Chanwo.
“Begini, pertama-tama kau perlu tahu jika Wilson dan aku
berasal dari kaum yang sama. Ayahku dulunya adalah seorang pemimpin bagi kaum
kami. Namun, aku menggantikannya setelah ia meninggal,” jelas Chanwo sebagai
pengantar.
“Kenapa tidak ibumu yang menggantikannya?” tanya Nhea secara
gamblang.
“Dia meninggalkanku di hari yang sama dengan kepergian ayah,”
jawab Chanwo dengan apa adanya.
Setelah mendengar pernyataan tersebut, mendadak Nhea merasa
bersalah. Tidak seharusnya ia menanyakan hal konyol seperti itu. Saat ini
Chanwo pasti merasa sedih. Meski ia tidak tahu betul apakah mahluk seperti
dirinya memiliki perasaan atau tidak.
“Klan vampir dan klan bayangan hidup berdampingan dalam satu
hutan terkutuk. Mereka adalah satu kesatuan yang disebut sebagai kaum
kegelapan.”
Pria itu kembali melanjutkan penjelasannya.
“Wilson berasal dari klan bayangan, dan aku berasal dari
klan vampir. Tapi, pada intinya kami masih berasal dari kaum yang sama,”
tukasnya kemudian.
“Lantas, maksudmu aku termasuk kepada salah satu dari kalian
begitu?” tanya Nhea dengan ragu, yang kemudian diangguki oleh pria itu.
Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Rasanya stok kata yang
ia simpan di dalam kepalanya mendadak buyar seketika.
“Kau harus tahu jika kau istimewa,” ungkap Chanwo.
“Apa maksudnya?” tanya Nhea tak paham.
“Di dalam dirimu saat ini tengah mengalir tiga darah dari
tiga klan yang berbeda secar sekaligus,” beber pria itu.
Chanwo yakin jika gadis itu
__ADS_1
tidak akan paham juga meski ia sudah memberikan petunjuk awalnya. Oleh sebab
itu Chanwo berinisiatif untuk menjelaskannya secara rinci agar mudah dipahami.