Mooneta High School

Mooneta High School
3 Blood


__ADS_3

Setelah mendapatkan apa yang ia mau, gadis itu bergegas


kembali ke tempat persembunyiannya. Sebelum ada orang lain yang melihatnya


berkeliaran di sekitar sini. Dengan langkah tergesa-gesa, Nhea menaiki deretan


anak tangga tersebut. Ia memang sengaja tidak menggunakan sepatu pada saat


turun. Karena ia tahu betul jika suara langkah kakinya pasti akan terdengar


jelas. Sol sepatu yang menghantam permukaan lantai akan menciptakan irama


langkah kaki yang cukup nyaring. Jadi, Nhea hanya turun dengan menggunakan kaos


kaki. Meski hal tersebut berpotensi membuatnya terpeleset sewaktu-waktu.


Terkadang manusia memang terpaksa mengambil pilihan beresiko


dalam hidupnya. Karena hanya itu satu-satunya opsi yang ia miliki untuk menyelamatkan


diri. Pada dasarnya, setiap hal pasti memiliki resikonya masing-masing. Hanya


saja ada yang presentase resikonya sangat kecil, hingga yang paling berbahaya.


Meski terskesan terburu-buru, namun Nhea tetap


mempertahankan posisi tubuhnya. Ia terus bersikap hati-hati. Menghindari kesalahan


sekecil apa pun. Padahal Nhea mungkin saja bisa kehlangan keseimbangan. Namun,


pada kenyataannya tidak sama sekali. Ia berhasil mengatasi permasalahan yang


satu itu.


Ia berhasil sampai tepat di depan ruang penyimpanan dengan


selamat. Semua berjalan sesuai rencana. Tapi, ada satu hal yang tidak pernah ia


duga sebelumnya. Sungguh berada di luar ekspektasinya.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Nhea menginterupsi.


Orang tersebut yang semua berdiri tepat di depan pintu masuk


menuju ruang penyimpanan, lantas segera berbalik ke arah sumber suara.


“Ternyata dugaanku benar. Kau ada di sini,” ucap Chanwo


secara gamblang.


Sontak Nhea yang mendengar perkataan tersebut semakin merasa


terkejut. Setelah sebelumnya ia dibuat terkejut oleh keberadaan pria itu di


sini. Sungguh, Nhea sama sekali tidak habis pikir.


***


“Jadi, bagaimana kau bisa tahu jika aku berada di sini?”


tanya Nhea penasaran.


“Haruskan aku memberitahunya kepadamu?” tanya pria itu balik


seolah meragukan pertanyaan Nhea.


Setelah kejadian tadi, Nhea pada akhirnya mempersilahkan Chanwo


untuk masuk. Sebenarnya tidak boleh. Karena tidak sembarang orang bisa memiliki


akses untuk masuk ke ruang penyimpanan. Mungkiin Nhea saja bisa terancam


masalah jika sampai ada seseorang selain Chanwo yang mengetahui jika dirinya


berada di sini.

__ADS_1


Ruang penyimpanan bukan tempat untuk bermain. Ada berbagai


benda berharga di dalamnya. Namun, mau bagaimana lagi. Mau tak mau Nhea harus


mentap di sini untuk beberapa waktu ke depan. Sebab tiidak ada tempat lain yang


ia rasa jauh lebih aman dan nyaman.


Sembari menunggu jawaban atas pertanyaannya barusan, Nhea


memutuskan untuk kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Ia baru


memulai makan malamnya pada pukul tiga dini hari. Sungguh tidak masuk akal.


Gadis itu sudah terlaambat lebih dari lima jam. Dan anehnya, sampai sekarang


kondisi gadis itu masih baik-baik saja.


“Kau tahukan jika aku berasal dari klan vampir?” tanya


Chanwo untuk memastikan.


Pasalnya, selama ini Chanwo belum pernah membongkar jati


dirinya secara terang-terangan kepada orang lain. Termasuk Nhea. Eun Ji Hae


saja bahkan tahu karena melihatnya sendiri. Bukan berdasarkan pengakuan


darinya.


Kalau soal dirinya, pria itu memang terkesan sedikit


tertutup. Tidak banyak orang yang tahu siapa dia sebenarnya. Hanya ada satu


tujuan Chanwo melakukan hal tersebut. Tentu dengan alasan keamanan. Ia tidak


ingin membahayakan dirinya sendiri saat berkeliaran dalam dunia yang berbahaya


ini.


“Memangnya kau sungguhan seorang vampir?” tanya gadis itu


“Selama ini kukira dugaanku salah,” cicitnya kemudian.


“Memangnya apa yang aku duga selama ini?” tanya Chanwo lagi.


“Perilakumu aneh. Tidak seperti orang kebanyakan. Jadi, bisa


kusimpulkan jika kau bukan manusia biasa,” jawab Nhea dengan apa adanya.


“Seperti kata mereka, jika dimensi yang sedang kita tempati


kali ini tidak hanya dihuni oleh manusia. Melainkan ada begitu banyak mahluk


dari berbagai macam klan yang tersebar di segala penjuru,” jelasnya dengan


panjang lebar.


Chanwo hanya tersenyum tipis mendengar jawaban dari gadis


itu. Apa yang dikatakan oleh Nhea benar. Ia tidak salah sama sekali. Namun meskipun


begitu, Chanwo masih belum bisa sepenuhnya percaya dengan dimesi lain yang


pernah Nhea sebut beberapa waktu lalu. Gadis itu mengaku jika ia pernah tinggal


di sana sebelumnya.


Menurut penuturan Nhea, kondisi di sana tidak jauh berbeda


dengan di sini. Hanya saja, di tempat ia tinggal dulu semuanya jauh lebih


modern. Dan satu lagi, tidak ada akademi sihir seperti ini. Yang ada hanya


sekolah dan akademi biasa. Intinya, semua yang berada di sana masih serba

__ADS_1


normal.


“Biar aku beri tahu sesuatu kalau begitu!” celetuk Chanwo.


Kali ini kalimatnya berhasil menarik perhatian gadis itu.


Nhea mengalihkan pandangannya ke arah Chanwo. Tidak sabar untuk menunggu hal


baru apa lagi yang akan ia katakan. Sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah


jika ada beragam rahasia yang terbongkar secara sengaja di dalam ruangan ini.


“Apa kau tahu jika ternyata dirimi tidak jauh berbeda


denganku?” tanya Chanwo.


Gadis itu hanya bisa mengerutkan dahinya, pertanda jika ia


tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Chanwo.


“Begini, pertama-tama kau perlu tahu jika Wilson dan aku


berasal dari kaum yang sama. Ayahku dulunya adalah seorang pemimpin bagi kaum


kami. Namun, aku menggantikannya setelah ia meninggal,” jelas Chanwo sebagai


pengantar.


“Kenapa tidak ibumu yang menggantikannya?” tanya Nhea secara


gamblang.


“Dia meninggalkanku di hari yang sama dengan kepergian ayah,”


jawab Chanwo dengan apa adanya.


Setelah mendengar pernyataan tersebut, mendadak Nhea merasa


bersalah. Tidak seharusnya ia menanyakan hal konyol seperti itu. Saat ini


Chanwo pasti merasa sedih. Meski ia tidak tahu betul apakah mahluk seperti


dirinya memiliki perasaan atau tidak.


“Klan vampir dan klan bayangan hidup berdampingan dalam satu


hutan terkutuk. Mereka adalah satu kesatuan yang disebut sebagai kaum


kegelapan.”


Pria itu kembali melanjutkan penjelasannya.


“Wilson berasal dari klan bayangan, dan aku berasal dari


klan vampir. Tapi, pada intinya kami masih berasal dari kaum yang sama,”


tukasnya kemudian.


“Lantas, maksudmu aku termasuk kepada salah satu dari kalian


begitu?” tanya Nhea dengan ragu, yang kemudian diangguki oleh pria itu.


Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Rasanya stok kata yang


ia simpan di dalam kepalanya mendadak buyar seketika.


“Kau harus tahu jika kau istimewa,” ungkap Chanwo.


“Apa maksudnya?” tanya Nhea tak paham.


“Di dalam dirimu saat ini tengah mengalir tiga darah dari


tiga klan yang berbeda secar sekaligus,” beber pria itu.


Chanwo yakin jika gadis itu

__ADS_1


tidak akan paham juga meski ia sudah memberikan petunjuk awalnya. Oleh sebab


itu Chanwo berinisiatif untuk menjelaskannya secara rinci agar mudah dipahami.


__ADS_2