
Tidak ada alasan lagi untuk tetap berlama-lama di tempat itu. Setidaknya, malam ini juga mereka harus sudah sampai di Reodal. Kalau bisa tepat sebelum matahari terbenam. Itu akan terasa jauh lebih baik. Sebab, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan jika mereka semakin mengulur waktu untuk perjalanan mereka.
Kini semua orang sudah berbaris dalam formasi yang serupa. Tidak ada yang boleh terpisah dari rombongan. Mereka harus tetap bersama sampai ke Reodal, tidak peduli apa pun yang terjadi nantinya. Orang-orang ini akan menjadi lemah seketika jika hanya berdiri sendiri. Namun, tidak jika mereka berkumpul dan menghimpun kekuatan.
“Menurutmu, kenapa mereka bisa berkelahi seperti itu tadi?” tanya Hwang Ji Na.
Tentu sudah bisa ditebak siapa lawan bicaranya saat ini. Yang jelas bukan orang selain Chanwo. Ia tidak akan mengajak bicara siapa pun selain pria itu. Jangankan untuk berbicara, Hwang Ji Na sama sekali tak ingin terlibat urusan apa pun dengan mereka.
Chanwo tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Hal tersebut membuat Hwang Ji Na merasa diacuhkan olehnya. Entah ada masalah apa sampai Chanwo tega berbuat seperti itu.
“Hey!” seru gadis itu sekali lagi.
Sontak Chanwo terperanjat kaget dan melemparkan tatapan tidak menyenangkan ke arah gadis itu. Namun, Hwang Ji Na sama sekali tidak menanggapinya dengan serius.
__ADS_1
“Dasar menyebalkan!” gerutu pria itu sebal.
Ia sengaja membuat Chanwo terkejut. Sehingga isi pikirannya mendadak buyar seketika saat Sepertinya pria itu sedang melamun. Ia terlalu sibuk dengan segala hal yang ada di dalam kepalanya. Hwang Ji Na sendiri bahkan tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria ini.
“Ada apa?” tanya Chanwo sambil berdecak sebal.
Gadis itu sama sekali tidak peduli dengan perasaan Chanwo saat ini. Bukan hal itu yang ia inginkan. Chanwo bukan sesuatu yang begitu penting sekarang.
Hwang Ji Na melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangannya lurus ke depan. Ia bahkan berbicara tanpa menatap pria itu. Sungguh tidak sopan. Tapi hal itu sama sekali tidak menjadi masalah untuk mereka berdua. Sopan santun dan tata krama bukan hal yang paling penting di kehidupannya.
“Apa kau sama sekali tidak merasa penasaran dengan apa yang terjadi barusan?” tanya Hwang Ji Na.
Ini baru permulaan. Masih banyak hal lain yang bisa ia ungkapkan setelahnya.
__ADS_1
“Yang mana?” tanya pria itu balik.
“Ck!” balas Hwang Ji Na.
“Perdebatan antara wanita tua itu dengan Eun Ji Hae,” jelas gadis itu.
Chanwo tidak langsung memberikan reaksi, melainkan berpikir sejenak. Tidak perlu waktu lama baginya untuk mendapatkan kembali ingatan tersebut.
“Bibi Ga Eun maksudmu?” tanya Chanwo untuk memastikan.
“Apakah itu namanya?” tanya gadis itu balik.
Chanwo hanya mengangguk pelan untuk mengiyakan perkataan gadis itu barusan.
__ADS_1
“Jadi namanya Ga Eun,” gumam Hwang Ji Na sambil mengangguk paham.
Perlahan namun pasti, gadis itu mulai tahu banyak soal Sekolah Mooneta beserta dengan semua orang yang berada di dalamnya. Meskipun ia sama sekali belum menjadi bagian dari Mooneta secara resmi. Semuanya terjadi begitu saja dengan seiring berjalannya waktu.