Mooneta High School

Mooneta High School
Bingung


__ADS_3

Untuk pertama kalinya bagi Wilson dan juga Eun ji Hae


mengalami hal yang baru saja terjadi. Wilson sama sekali tidak pernah bertindak


kasar sebelumnya kepada siapa pun kecuali ia memang pantas menerimanya. Meski bersikap


dingin sekalipun, pria itu dikenal sebagai sosok yang cukup penyayang. Terutama


kepada orang-orang yang berada di sekitarnya. Sudah tentu di dalamnya adalah


keluarga besar. Bahkan, ia juga tidak memperlakukan dengan cara yang beda bagi mereka


yang tak memiliki hubungan darah dengannya.


Keduanya kini tampak terkejut satu sama lain. Masing-masing


sama sekali tidak habis pikir dengan apa yang barusan terjadi. Otak mereka


menolak untuk percaya, padahal itu nyata.


Eun Ji Hae mulai merasa kesulitan untuk membedakan mana yang


benar ada dan mana yang tidak ada. Batinnya begitu terpukul. Gadis itu


memegangi pipinya yang masih terasa sakit dengan perasaan yang sulit untuk


dideskripsikan begitu saja dengan kata-kata. Eun Ji Hae tak tahu harus berbuat


apa. Bahkan, ia sendiri juga tak tahu harus bereaksi bagaimana.


Sampai pada akhirnya, gadis itu memilih untuk menarik keuda


sudut bibirnya. Eun Ji Hae tersenyum miring ke arah Wilson. Sontak, hal


tersebut berhasil membuat pria itu takut sekaligus kebingungan. Pasalnya, Eun


Ji Hae sama sekali tidak pernah berperilaku seperti ini sebelumnya.


“Apa kau sudah puas?” tanya Eun Ji Hae.


Wilson hanya bisa diam seribu bahasa. Kata-kata yang


sebelumnya telah ia rangkai dengan sedemikian rupa di dalam kepalanya mendadak


enyah begitu saja. Eun Ji Hae adalah pihak yang menguasai permainan ini


sekarang.


Eun Ji Hae merapihkan penampilannya kembali dari ujung


rambut hingga ke ujung kaki. Bersikap baik-baik saja, seolah tak ada apa-apa


yang terjadi. Dia berhasil menutupi semuanya dengan begitu sempurna. Sehingga,


mereka mungkin tidak akan percaya jika Wilson baru saja memberikannya


pelajaran. Eun Ji Hae sudah cukup ahli dalam hal seperti itu. Hampir sebagian


besar dari hidupnya ia gunakan untuk mengobati diri.


“Kau benar-benar membuat semuanya terasa begitu singkat,


padat dan juga jelas,” ujar Eun Ji Hae secara terang-terangan.


“Beberapa saat yang lalu adalah yang terakhit kalinya bagiku


untuk memanggilmu dengan sebutan ayah!” ungkapnya dengan penuh penekanan.


“Aku bahkan tidak pernah menduganya sama sekali,” lanjutnya.

__ADS_1


Eun Ji Hae memberikan kesempatan kepada pria itu untuk


mengungkapkan isi hatinya setelah memberikan gadis itu pelajaran. Mungkin, ini


adalah kesempatan terakhir yang dimiliki oleh Wilson. Karena setelahnya, jelas


Eun Ji Hae tidak akan mau berurusan lagi dengan pria itu. Ada banyak hal yang


harus ia pertimbangkan jika ingin melibatkan Wilson ke dalam urusannya.


Satu detik, dua detik, tiga detik, masih belum ada kata-kata


sama sekali. Wilson tetap bergeming. Ia diam membisu seribu bahasa. Sepertinya tidak


ada lagi hal yang perlu ia katakan di sini. Hal tersebut sdah cukup untuk


membuatnya paham.


Merasa tidak ada lagi yang perlu dijelaskan di sini, Eun Ji


Hae langsung beranjak pergi dari tempatnya berdiri tanpa sepatah kata pun. Lagi


pula ia sudah memberikan waktu bagi Wilson, tapi dia tidak memanfaatkannya


dengan baik. Jangan salahkan Eun Ji Hae jika ia pergi begitu saja tanpa


berpamitan sama sekali. Lagi pula, waktunya memang sudah habis. Waktu akan


terus berjalan, bahkan jika kau berhenti sekali pun. Dia terlalu egois untuk


menunggu.


“Benar-benar tidak masuk akal,” gumam Eun Ji Hae sambil


mengusap-usap pipinya yang memerah itu.


berkumpul di satu titik tertentu. Tidak ada lagi yang bermalas-malasan. Kelihatannya


mereka sedang merundingkan sesuatu di sana.


“Apa kita harus pergi sekarang?” tanya Eun Ji Hae kepada


salah satu siswa yang berada di sana.


“Benar kakak ji!” jawab pria itu.


“Nyonya kepala sekolah meminta kita untuk bersiap, sebentar


lagi perjalanan akan segera dilanjutkan,” jelasnya dengan panjang lebar.


Eun Ji Hae hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai


bentuk reaksi atas perkataan pria itu barusan.


“Baiklah!” ucapnya.


Gadis itu kemudian beralih ke arah lain. Ia mengambil semua


barang-barangnya yang terletak di bawah pohon. Memastikan jika tidak ada yang


tertinggal sama sekali.


Eun Ji Hae bersikap terlalu santai setelah kejadian tadi,


sehingga orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak ada yang menyadari apa


yang baru saja ia alami. Bahkan Wilson sendiri sampai kebingungan. Tidak seharusnya


gadis itu bersikap demikian. Sama sekali tidak sinkron dengan apa emosinya saat

__ADS_1


ini.


Tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan apa yang sedang


terjadi di sini saat ini. Benar-benar membingungkan. Bahkan hal tersebut


terlalu sulit untuk dicerna bagi mereka yang terlibat sekalipun.


“Aku hanya akan berada di sini, karena merasa bertanggung


jawab atas mereka. Aku akan memastikan jika semua orang akan sampai di Reodal


dengan selamat. Selebihnya bukan urusanku sama sekali,” batin Eun Ji Hae di


dalam hati.


Dari awal, gadis itu memang tidak berniat sama sekali untuk


pergi dan menjadi bagian dari Reodal. Tidak pernah terlintas sama sekali di


dalam pikirannya jika ia akan melakukan hal yang paling dibenci. Eun Ji Hae


tidak akan menyesali hal tersebut. Karena, bagaimana pun juga dirinya sendiri


terlibat di dalam pengambilan keputusan final yang membuat semua orang harus


meninggalkan Sekolah Mooneta.


Eun Ji Hae hanya menyayangkan tindakan mereka yang terkesan


terlalu gegabah. Orang yang jauh lebih dewasa, tidak menjamin jika cara


berpikirnya akan jauh lebih dewasa juga. Bisa saja sebaliknya. Mereka tidak


bisa mengandalkan usia dan hanya bersembunyi di balik angka tersebut.


Jika saja mereka sedikit lebih bersabar dan tetap menunggu


di sana, mungkin mereka akan menemukan jalan keluarnya. Seperti yang semua


orang tahu jika kita harus menghadapi masalah dengan kepala dingin. Emosi tidak


akan bisa menyelesaikan segalanya. Kita adalah orang yang harus memgang kendali


atas masalah tersebut, bukan malah sebaliknya.


Meninggalkan Sekolah Mooneta hanya karena salju abadi bukan


satu-satunya jalan keluar. Eun Ji Hae dan yang lainnya juga yakin jika masih


ada opsi lainnya. Tapi, pihak Reodal telah berhasil memanipulasi keadaan dengan


sedemikan rupa. Mereka memanfaatkan situasi yang ada. Mendesak Mooneta untuk


menerima tawaran tersebut, seolah tidak ada pilihan lain yang jauh lebih baik. Mereka


hanya membuat kepanikan dimana-mana.


Semua orang tahu jika orang-orang yang berada di Reodal


tidak memiliki satupun hal baik yang bisa dibanggakan. Tidak ada. Yang ada hanya


kejahatan yang terselubung di balik hal lain. Manipulatif adalah karakter


mereka. Hal tersebut seolah diwariskan secara turun-temurun. Padahal, sebagian


besar tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Mereka hanya orang asing yang


berkumpul dalam suatu tempat.

__ADS_1


__ADS_2