
Untuk pertama kalinya bagi Wilson dan juga Eun ji Hae
mengalami hal yang baru saja terjadi. Wilson sama sekali tidak pernah bertindak
kasar sebelumnya kepada siapa pun kecuali ia memang pantas menerimanya. Meski bersikap
dingin sekalipun, pria itu dikenal sebagai sosok yang cukup penyayang. Terutama
kepada orang-orang yang berada di sekitarnya. Sudah tentu di dalamnya adalah
keluarga besar. Bahkan, ia juga tidak memperlakukan dengan cara yang beda bagi mereka
yang tak memiliki hubungan darah dengannya.
Keduanya kini tampak terkejut satu sama lain. Masing-masing
sama sekali tidak habis pikir dengan apa yang barusan terjadi. Otak mereka
menolak untuk percaya, padahal itu nyata.
Eun Ji Hae mulai merasa kesulitan untuk membedakan mana yang
benar ada dan mana yang tidak ada. Batinnya begitu terpukul. Gadis itu
memegangi pipinya yang masih terasa sakit dengan perasaan yang sulit untuk
dideskripsikan begitu saja dengan kata-kata. Eun Ji Hae tak tahu harus berbuat
apa. Bahkan, ia sendiri juga tak tahu harus bereaksi bagaimana.
Sampai pada akhirnya, gadis itu memilih untuk menarik keuda
sudut bibirnya. Eun Ji Hae tersenyum miring ke arah Wilson. Sontak, hal
tersebut berhasil membuat pria itu takut sekaligus kebingungan. Pasalnya, Eun
Ji Hae sama sekali tidak pernah berperilaku seperti ini sebelumnya.
“Apa kau sudah puas?” tanya Eun Ji Hae.
Wilson hanya bisa diam seribu bahasa. Kata-kata yang
sebelumnya telah ia rangkai dengan sedemikian rupa di dalam kepalanya mendadak
enyah begitu saja. Eun Ji Hae adalah pihak yang menguasai permainan ini
sekarang.
Eun Ji Hae merapihkan penampilannya kembali dari ujung
rambut hingga ke ujung kaki. Bersikap baik-baik saja, seolah tak ada apa-apa
yang terjadi. Dia berhasil menutupi semuanya dengan begitu sempurna. Sehingga,
mereka mungkin tidak akan percaya jika Wilson baru saja memberikannya
pelajaran. Eun Ji Hae sudah cukup ahli dalam hal seperti itu. Hampir sebagian
besar dari hidupnya ia gunakan untuk mengobati diri.
“Kau benar-benar membuat semuanya terasa begitu singkat,
padat dan juga jelas,” ujar Eun Ji Hae secara terang-terangan.
“Beberapa saat yang lalu adalah yang terakhit kalinya bagiku
untuk memanggilmu dengan sebutan ayah!” ungkapnya dengan penuh penekanan.
“Aku bahkan tidak pernah menduganya sama sekali,” lanjutnya.
__ADS_1
Eun Ji Hae memberikan kesempatan kepada pria itu untuk
mengungkapkan isi hatinya setelah memberikan gadis itu pelajaran. Mungkin, ini
adalah kesempatan terakhir yang dimiliki oleh Wilson. Karena setelahnya, jelas
Eun Ji Hae tidak akan mau berurusan lagi dengan pria itu. Ada banyak hal yang
harus ia pertimbangkan jika ingin melibatkan Wilson ke dalam urusannya.
Satu detik, dua detik, tiga detik, masih belum ada kata-kata
sama sekali. Wilson tetap bergeming. Ia diam membisu seribu bahasa. Sepertinya tidak
ada lagi hal yang perlu ia katakan di sini. Hal tersebut sdah cukup untuk
membuatnya paham.
Merasa tidak ada lagi yang perlu dijelaskan di sini, Eun Ji
Hae langsung beranjak pergi dari tempatnya berdiri tanpa sepatah kata pun. Lagi
pula ia sudah memberikan waktu bagi Wilson, tapi dia tidak memanfaatkannya
dengan baik. Jangan salahkan Eun Ji Hae jika ia pergi begitu saja tanpa
berpamitan sama sekali. Lagi pula, waktunya memang sudah habis. Waktu akan
terus berjalan, bahkan jika kau berhenti sekali pun. Dia terlalu egois untuk
menunggu.
“Benar-benar tidak masuk akal,” gumam Eun Ji Hae sambil
mengusap-usap pipinya yang memerah itu.
berkumpul di satu titik tertentu. Tidak ada lagi yang bermalas-malasan. Kelihatannya
mereka sedang merundingkan sesuatu di sana.
“Apa kita harus pergi sekarang?” tanya Eun Ji Hae kepada
salah satu siswa yang berada di sana.
“Benar kakak ji!” jawab pria itu.
“Nyonya kepala sekolah meminta kita untuk bersiap, sebentar
lagi perjalanan akan segera dilanjutkan,” jelasnya dengan panjang lebar.
Eun Ji Hae hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai
bentuk reaksi atas perkataan pria itu barusan.
“Baiklah!” ucapnya.
Gadis itu kemudian beralih ke arah lain. Ia mengambil semua
barang-barangnya yang terletak di bawah pohon. Memastikan jika tidak ada yang
tertinggal sama sekali.
Eun Ji Hae bersikap terlalu santai setelah kejadian tadi,
sehingga orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak ada yang menyadari apa
yang baru saja ia alami. Bahkan Wilson sendiri sampai kebingungan. Tidak seharusnya
gadis itu bersikap demikian. Sama sekali tidak sinkron dengan apa emosinya saat
__ADS_1
ini.
Tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan apa yang sedang
terjadi di sini saat ini. Benar-benar membingungkan. Bahkan hal tersebut
terlalu sulit untuk dicerna bagi mereka yang terlibat sekalipun.
“Aku hanya akan berada di sini, karena merasa bertanggung
jawab atas mereka. Aku akan memastikan jika semua orang akan sampai di Reodal
dengan selamat. Selebihnya bukan urusanku sama sekali,” batin Eun Ji Hae di
dalam hati.
Dari awal, gadis itu memang tidak berniat sama sekali untuk
pergi dan menjadi bagian dari Reodal. Tidak pernah terlintas sama sekali di
dalam pikirannya jika ia akan melakukan hal yang paling dibenci. Eun Ji Hae
tidak akan menyesali hal tersebut. Karena, bagaimana pun juga dirinya sendiri
terlibat di dalam pengambilan keputusan final yang membuat semua orang harus
meninggalkan Sekolah Mooneta.
Eun Ji Hae hanya menyayangkan tindakan mereka yang terkesan
terlalu gegabah. Orang yang jauh lebih dewasa, tidak menjamin jika cara
berpikirnya akan jauh lebih dewasa juga. Bisa saja sebaliknya. Mereka tidak
bisa mengandalkan usia dan hanya bersembunyi di balik angka tersebut.
Jika saja mereka sedikit lebih bersabar dan tetap menunggu
di sana, mungkin mereka akan menemukan jalan keluarnya. Seperti yang semua
orang tahu jika kita harus menghadapi masalah dengan kepala dingin. Emosi tidak
akan bisa menyelesaikan segalanya. Kita adalah orang yang harus memgang kendali
atas masalah tersebut, bukan malah sebaliknya.
Meninggalkan Sekolah Mooneta hanya karena salju abadi bukan
satu-satunya jalan keluar. Eun Ji Hae dan yang lainnya juga yakin jika masih
ada opsi lainnya. Tapi, pihak Reodal telah berhasil memanipulasi keadaan dengan
sedemikan rupa. Mereka memanfaatkan situasi yang ada. Mendesak Mooneta untuk
menerima tawaran tersebut, seolah tidak ada pilihan lain yang jauh lebih baik. Mereka
hanya membuat kepanikan dimana-mana.
Semua orang tahu jika orang-orang yang berada di Reodal
tidak memiliki satupun hal baik yang bisa dibanggakan. Tidak ada. Yang ada hanya
kejahatan yang terselubung di balik hal lain. Manipulatif adalah karakter
mereka. Hal tersebut seolah diwariskan secara turun-temurun. Padahal, sebagian
besar tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Mereka hanya orang asing yang
berkumpul dalam suatu tempat.
__ADS_1