
Suasana kembai menjadi hening. Tidak ada satu pun di antara
mereka yang berani buka suara. Mendadak atmosfirnya berubah. Baik Nhea maupun
wanita tersebut kini sama-sama bungkam. Diam membisu seribu bahasa.
Mereka sama sekali tidak tahu bagaimana caranya untuk
menghidupkan kembali suasana seperti semula. Jika saja wanita tersebut mampu
menjawab pertanyaan Nhea yang sebelunya dan tidak mengelak, maka bisa
dipastikan tidak akan seperti ini jadinya.
Diam-diam Nhea masih menantikan jawaban pasti darinya. Ia menuntut
penjelasan. Bagaimanapun juga, wanita tersebut memang telah berhtang penjelasan
atas dalih tersebut tadinya.
“Apa yang anda takutkan di sini?” tanya Nhea yang mulai
memberanikan diri untuk buka suara.
“Kenapa diam saja?” lanjutnya kemudian.
Kepercayaan diri gadis itu kini mulai kembali secara
perlahan. Ia berhasil mendapatkan posisinya kembali. Memperkuat pertahanannya
yang nyaris melemah, bahkan roboh. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk
menyerang balik wanita tersebut. Setelah mendapatkan segala yang ia butuhkan,
gadis itu merasa siap untuk menunjukkan eksistensinya lagi. Sudah tidak ada
__ADS_1
keraguan sedikit pun.
Sementara itu, di sisi lain situasinya masih sama. Wanita
itu tidak ingin berkomentar sama sekali. Hanya ada dua kemungkinan. Pertama, ia
kehabisan kata-kata dan enggan mengaku kalah, atau malah memang sengaja tidak
ingin menanggapi perkataan Nhea barusan. Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya
tidak ada alasan sama sekali untuk mengacuhkan Nhea.
“Sudah kuduga,” cicit Nhea.
Ia menghela napas dengan kasar. Kemudian melemparkan
pandangannya ke sembarang arah. Kemana saja boleh. Asal kedua netranya jangan
kembali menangkap sosok wanita yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Entah
sejak kapan ia mulai merasa jenuh untuk berhadapan dengannya. Semakin ke sini,
“Karena kau tidak memberikan komentar sedikit pun
terhadapku, maka akan kuputuskan jika asumsiku benar,” ungkap Nhea secara
gamblang.
Sebenarnya, ia tetap tidak bisa memutuskan sesuatu secara
sepihak begitu saja. Namun, di sisi lain Nhea juga enggan menunggu jawaban yang
tak pasti dari wanita itu. Menurutnya sama sekali tidak berguna. Hanya membuang-buang
waktunya secara sia-sia. Nhea tidak termasuk ke dalam tipikal orang yang akan
__ADS_1
melakukan pekerjaan sia-sia seperti itu.
Nhea kembali menghela napasnya untuk yang kesekian kalinya.
Kemudian ia berkata, “Senang bisa bertemu denganmu.”
Anggap saja itu sebagai pesan terakhir darinya. Sekaligus menjadi
kalimat perpisahan yang mungkin tidak akan pernah ia ucapkan lagi. Sungguh
sebuah kebetulan yang tidak bisa dielakkan jika mereka akan bertemu kembali
nanti. Tapi, sepertinya kecl kemungkinan jika mereka akan bertemu di lain
waktu.
“Terima kasih juga telah memberikanku beberapa informasi
yang sebenarnya tidak terlalu kubutuhkan saat ini,” sindirnya.
Jika wanita itu berharap agar Nhea percaya dengan semua
kalimatnya, maka ia salah. Nhea tidak akan pernah melakukan hal tersebut. Dia
tidak terlalu polos. Tidak peduli seberapa keras usaha wanita tersebut untuk
selalu meyakinkan Nhea. Namun, gadis itu tetap tidak akan percaya. Hanya dengan
bermodalkan tahu tata letak gedung utama, bukan berarti dia termasuk ke dalam
daftar orang-orang yang bisa dipercaya olehnya.
Nhea tidak bisa mempercayai sembarang orang. Seperti yang
pernah disampaikan oleh Chanwo beberapa saat lalu. Ia mengungkapkan jika
__ADS_1
manusia memang tidak bisa dipercaya. Tapi, mungkin anggota klan bisa. Meski tetap
tidak menutup kemungkinan jika mereka akan berkhianat juga nantinya.