Mooneta High School

Mooneta High School
OK


__ADS_3

Suasana kembai menjadi hening. Tidak ada satu pun di antara


mereka yang berani buka suara. Mendadak atmosfirnya berubah. Baik Nhea maupun


wanita tersebut kini sama-sama bungkam. Diam membisu seribu bahasa.


Mereka sama sekali tidak tahu bagaimana caranya untuk


menghidupkan kembali suasana seperti semula. Jika saja wanita tersebut mampu


menjawab pertanyaan Nhea yang sebelunya dan tidak mengelak, maka bisa


dipastikan tidak akan seperti ini jadinya.


Diam-diam Nhea masih menantikan jawaban pasti darinya. Ia menuntut


penjelasan. Bagaimanapun juga, wanita tersebut memang telah berhtang penjelasan


atas dalih tersebut tadinya.


“Apa yang anda takutkan di sini?” tanya Nhea yang mulai


memberanikan diri untuk buka suara.


“Kenapa diam saja?” lanjutnya kemudian.


Kepercayaan diri gadis itu kini mulai kembali secara


perlahan. Ia berhasil mendapatkan posisinya kembali. Memperkuat pertahanannya


yang nyaris melemah, bahkan roboh. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk


menyerang balik wanita tersebut. Setelah mendapatkan segala yang ia butuhkan,


gadis itu merasa siap untuk menunjukkan eksistensinya lagi. Sudah tidak ada

__ADS_1


keraguan sedikit pun.


Sementara itu, di sisi lain situasinya masih sama. Wanita


itu tidak ingin berkomentar sama sekali. Hanya ada dua kemungkinan. Pertama, ia


kehabisan kata-kata dan enggan mengaku kalah, atau malah memang sengaja tidak


ingin menanggapi perkataan Nhea barusan. Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya


tidak ada alasan sama sekali untuk mengacuhkan Nhea.


“Sudah kuduga,” cicit Nhea.


Ia menghela napas dengan kasar. Kemudian melemparkan


pandangannya ke sembarang arah. Kemana saja boleh. Asal kedua netranya jangan


kembali menangkap sosok wanita yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Entah


sejak kapan ia mulai merasa jenuh untuk berhadapan dengannya. Semakin ke sini,


“Karena kau tidak memberikan komentar sedikit pun


terhadapku, maka akan kuputuskan jika asumsiku benar,” ungkap Nhea secara


gamblang.


Sebenarnya, ia tetap tidak bisa memutuskan sesuatu secara


sepihak begitu saja. Namun, di sisi lain Nhea juga enggan menunggu jawaban yang


tak pasti dari wanita itu. Menurutnya sama sekali tidak berguna. Hanya membuang-buang


waktunya secara sia-sia. Nhea tidak termasuk ke dalam tipikal orang yang akan

__ADS_1


melakukan pekerjaan sia-sia seperti itu.


Nhea kembali menghela napasnya untuk yang kesekian kalinya.


Kemudian ia berkata, “Senang bisa bertemu denganmu.”


Anggap saja itu sebagai pesan terakhir darinya. Sekaligus menjadi


kalimat perpisahan yang mungkin tidak akan pernah ia ucapkan lagi. Sungguh


sebuah kebetulan yang tidak bisa dielakkan jika mereka akan bertemu kembali


nanti. Tapi, sepertinya kecl kemungkinan jika mereka akan bertemu di lain


waktu.


“Terima kasih juga telah memberikanku beberapa informasi


yang sebenarnya tidak terlalu kubutuhkan saat ini,” sindirnya.


Jika wanita itu berharap agar Nhea percaya dengan semua


kalimatnya, maka ia salah. Nhea tidak akan pernah melakukan hal tersebut. Dia


tidak terlalu polos. Tidak peduli seberapa keras usaha wanita tersebut untuk


selalu meyakinkan Nhea. Namun, gadis itu tetap tidak akan percaya. Hanya dengan


bermodalkan tahu tata letak gedung utama, bukan berarti dia termasuk ke dalam


daftar orang-orang yang bisa dipercaya olehnya.


Nhea tidak bisa mempercayai sembarang orang. Seperti yang


pernah disampaikan oleh Chanwo beberapa saat lalu. Ia mengungkapkan jika

__ADS_1


manusia memang tidak bisa dipercaya. Tapi, mungkin anggota klan bisa. Meski tetap


tidak menutup kemungkinan jika mereka akan berkhianat juga nantinya.


__ADS_2