
Di luar sana terlihat dengan sangat jelas jika suasananya mendadak menjadi ramai. Semua orang terkejut bukan main saat melihat pemandangan semacam itu dari sini. Yang jelas mereka semua pasti tahu jika pasukan itu bukan berasal dari para siswa, karena sudah jelas-jelas jika dari tadi semua orang berlindung di dalam tempat ini.
Tak ada yang tahu pasti dari mana pasukan sebanyak itu tiba-tiba datang dan memenuhi pekarangan sekolah mereka. Orang-oran itu terlihat memakai jubah merah yang tak terlalu panjang dan hanya bisa menutupi sampai ke bagian pinggang saja. Kemungkinan besar jika itu adalah pasukan yang turut dibawa gadis licik itu bersamanya dari seberang sana.
Jika orang-orang sebanyak ini telah mampu menerobos portal yang mereka buat, pasti Ify juga telah berhasil masuk bersama mereka. Beberapa guru memerintahkan para siswa untuk kembali berlindung di dalam aula sampai situasi benar-benar terkendali. Untuk sementara ini mereka hanya bisa mengandalkan para griffin dan pegasus saja. Semoga hewan-hewan itu bisa mengimbangi kekuatan pasukan Ify.
“Nhea! Mau kemana kau di saat seperti ini?” sahut Wilson dari belakang saat mendapati anaknya yang diam-diam akan melarikan diri dari tempat ini.
“Aku harus menemui Jongdae dan Oliver di menara pengawas, mereka sedang dalam bahaya,” jelas Nhea sembari menghentikan langkahnya untuk sesaat.
“Tapi nak, di luar sana terlalu berbahaya,” bujuk Vallery yang harap-harap cemas.
__ADS_1
“Jika kalian ingin menang, berbuatlah sesuatu. Jangan bersikap seolah kalian adalah seorang pecundang!” balas gadis itu secara gamblang.
“Gelar kalian sebagai penyihir ternyata tak ada apa-apanya disaat seperti ini,” lanjutnya kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
“Biarkan saja anak itu pergi, dia terlalu keras kepala sekarang,” ujar Wilson saat melihat istrinya akan menyusul langkah Nhea dari belakang.
Untuk saat ini Vallery tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa berharap agar anaknya itu selamat selama perjalanan. Pasukan sebanyak itu pasti telah masuk dan menerobos gerbang utama. Vallery sangat yakin jika mereka telah berkeliaran di seluruh sekolah ini.
Dengan perlahan namun pasti, ia terus bergerak maju tanpa ada gangguan sama sekali. Sejauh ini aksinya lancar-lancar saja. Hingga akhirnya Nhea berhasil mencapai puncak menara dengan selamat. Nhea mendapati kedua temannya itu sedang berlindung di balik beton yang mengelilingi menara, sambil sesekali mengamati situasi di bawah sana.
“Dari mana pasukan itu datang?” tanya Nhea secara tiba-tiba.
__ADS_1
“Bagaimana kau bisa berada di sini?” ujar Oliver yang malah bertanya balik.
“Bukankah kau sedang berlindung bersama mereka di bawah sana?” sambung Jongdae.
“Aku tak ingin bersama kumpulan orang-orang pengecut seperti mereka,” jawab gadis itu secara gamblang.
“Jadi dari mana mereka datang?” lanjutnya.
“Entahlah, kami tadi sempat kecolongan untuk kejadian yang satu itu,” jawab Jongdae.
Nhea mendekatkan kepalanya pada salah satu celah kecil yang terdapat di sana. Tak lupa dilengkapi dengan teropong di setiap sisinya. Kini ia sendiri yang berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana. Kelihatannya perjalanannya ke tempat ini terasa begitu sia-sia, karena ia tak bisa mendapatkan satu informasipun.
__ADS_1