Mooneta High School

Mooneta High School
Goa


__ADS_3

 


 


Mereka sama sekali belum menempuh setengah dari jarak total


perjalan dan memilih untuk beristirahat sejenak di dalam sebuah goa kosong. Perjalanannya


terasa semakin berat dan jauh lebih sulit dari pada biasanya. Ada saju


dimana-mana. Hal tersebut berhasil menghambat langkah mereka. Jadi tidak ada


yang bisa bergerak cepat sepeti biasanya. Selain itu, udara di luar sini juga


cukup dingin.


Tidak akan banyak waktu yang dihabiskan untuk beristirahat


di sini. Mengingat mereka masih harus melanjutkan perjalanannya lagi. jika


ingin cepat sampai, maka mereka memang harus bergegas. Sebelum salju turun


semakin lebat lagi dan malah menutupi jalanan. Akan sulit untuk menjangkau


Reodal jika begitu situasinya.


“Apakah kau yakin jika mereka tidak akan merasa curiga


denganmu?” tanya Chanwo.


“Kenapa harus curiga?” tanya Hwang Ji Na balik.


“Tentu saja!” balas pria itu.


“Ini adalah pertama kalinya bagimu untuk menampakkan diri di


depan mereka semua. Belum ada yang pernah melihatmu sebelumnya. Kau juga belum


terdaftar sebagai siswa sekolah ini. Mereka pasti akan merasa curiga,” jelas


Chanwo dengan panjang lebar.


Alih-alih penjelasan, pemilihan kalimat yang digunakan oleh


pria itu barusan jauh lebih terdengar seperti sebuah ocehan yang tidak jelas.


Hwang Ji Na memutar bola matanya ke arah lain. Kemana saja


asal bukan menghadap Chanwo. Gadis itu terlalu malas untuk menanggapi setiap


tingkah laku pria di hadapannya ini. Terkadang ia memang terlihat menyebalkan.


“Tenang saja! Aku tidak akan ketahuan,” ujar Hwang Ji Na.


“Akan ku pastikan yang satu itu!” tegasnya sekali lagi.


Hwang Ji Na harus memastikan agar pria itu tidak buka suara


lagi soal dirinya. Ia sudah terlalu lelah. Terutama secara fisik. Ada hal yang


tidak bisa ia tanahn di sini. Kaki gadis ini rasanya akan patah. Kemarin ia


baru saja sampai setelah menempuh perjalanan jauh menembus angin musim dingin


yang berhembus. Bukan hanya itu saja. Hwang Ji Na bahkan harus rela berjalan


kaki. Sekarang ia harus mengalami hal yang serupa lagi. Semesta seolah tidak


memberinya jeda untuk beristirahat sebentar saja. Bagaimana pun juga, ia sama


sekali belum makan dari kemarin. Energinya mulai menipis. Tapi, untungnya tadi


pagi Chanwo sengaja menyisakan jatah sarapannya untuk gadis itu. Dia tidak akan

__ADS_1


bisa bertahan tanpa makanan.


“Berapa lama lagi kita akan berada di sini?” gumam Chanwo sambil


merapatkan baju hangat miliknya untuk mencegah udara dingin masuk.


“Kelihatannya kau begitu ambisius untuk pergi ke sana dengan


cepat!” cicit Hwang Ji Na.


“Memangnya ada apa di sana?” tanya gadis itu.


“Mana aku tahu!” balasnya.


Hwang Ji Na kembali berdecak sebal untuk yang kesekian


kalinya dalam hari ini. Lagi-lagi masih dengan alasan yang sama. Tentu saja


karena Chanwo. Memangnya siapa lagi. Hanya pria itu yang membuatnya sebal


sepanjang hari. Mungkin itu pula sebabnya kenapa ia tidak mau tinggal di istana


bersama dengan Chanwo. Padahal keluarga pria itu telah menganggap Hwang Ji Na sebagai


salah satu bagian dari keluarga mereka juga. Hwang Ji Na menolak hal tersebut


dengan alasan tidak mau merepotkan. Padahal kepribadiannya dengan Chanwo memang


tidak cocok. Mereka hanya akan beradu argument jika bertemu setiap saat.


contohnya saja seperti yang tengah terjadi hari ini.


“Sepertinya kita akan tetap berada di sini sampai besok


pagi,” ungkap Hwang Ji Na.


Chanwo terlihat tidak ingin memberikan tanggapan sama


sekali. Ia hanya menoleh sekilas ke arah gadis itu, kemudian mengalihkan


“Sebentar lagi akan ada badai salju,” bebernya.


“Yang benar saja. Memangnya kau peramal cuaca?!” sarkas pria


itu.


“Kita lihat saja nanti siapa yang benar,” balas Hwan Ji Na


acuh tak acuh.


Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada dinding goa yang


seharusnya turut menjadi dingin. Namun, ia tidak akan mempermasalahkan hal


tersebut sama sekali. Lebih baik seperti ini dari pada tidak ada tempat untuk


berlindung sama sekali.


Yang benar saja. Beberapa saat setelah Hwang Ji Na


mengatakan hal tersebut, tiba-tiba salju turun dengan lebat. Lebih mirip


seperti sebuah badai yang siap untuk menerjang apa saja yang berada di


depannya.


“Tidak mungkin,” ucap Chanwo.


Pria itu tampak tercengang dengan apa yang baru saja


dilihatnya. Otaknya menolak untuk percaya. Bagaimana bisa hal seperti ini


terjadi. Sungguh tidak masuk akal. Mustahil jika Hwang Ji Na benar bisa

__ADS_1


meramal. Sejak kapan ia menguasai kemampuan tersebut. Klan alpha sama sekali


tidak memiliki kemampuan seperti itu dalam sejarah. Bahkan tidak diturunkan


melakui garis keturunan.


“Apa kau belajar soal sihir dan meramal?” tanya Chanwo yang


masih tak percaya sekaligus takjub degan kemampuan luar biasa gadis ini.


“Hanya sedikit,” katanya.


“Eun Ji Hae pernah mengajariku satu dua hal sewaktu kami


masih tinggal bersama,” jelas Hwang Ji Na.


“Pantas saja,” balas pria itu.


Hwang Ji Na ternyata jauh lebih terampil dalam berbagai hal


jika dibandingkan dengan dirinya. Hal itu pula yang kerap membuat Chanwo merasa


iri terhadap gadis itu. Contohnya saja seperti yang tengah terjadi sekarang. Bagaimana


bisa Hwang Ji Na jauh lebih pandai dalam sihir. Sementara Chanwo sama sekali


belum ada mempelajari apa pun sejak hari pertamanya di sekolah. Belum ada


satupun materi yang diajarkan kepadanya. Sehingga saat ini pria itu tidak tahu


apa-apa soal sihir, meski ia adalah salah satu siswa Sekolah Mooneta.


“Apa kau merasa iri terhadap diriku?” tanya Hwang Ji Na.


Dengan begitu santainya ia mengucapkan kalimat seperti itu. Tentu


saja Chanwo merasa iri setidaknya karena Hwang Ji Na lagi-lagi lebih hebat


darinya.


“Aih, yang benar saja!” balasnya.


“Apakah kau membaca isi pikiranku juga?!” tuduh Chanwo.


“Bisa jadi,” jawab gadis itu secara gamblang. Ia bahkan


tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.


Tentu saja hal itu semakin membuat Chanwo tak bisa menahan


dirinya. Hampir saja dia akan menghajar gadis itu dengan tangannya sendiri. Tapi


kenyataan kembali menyadarkannya jika Hwang Ji Na tetaplah adiknya. Dia masih


anak-anak. Jadi wajar saja jika sering menyebalkan seperti ini.


“Perhatian semuanya!” sahut Bibi Ga Eun dari depan.


Sontak semua orang mengalihkan pandangan ke arah wanita


tersebut. Kini Bibi Ga Eun telah menjadi pusat perhatian semua orang.


“Kita akan tetap tinggal di sini sampai badainya reda,” ujar


wanita itu.


“Badai tidak akan reda sampai besok pagi,” gumam Hwang Ji


Na.


“Apa kau sungguh yakin dengan ucapanmu barusan?” tanya Chanwo.


Tidak ada seorang pun yang mendengar ucapan Hwang Ji Na

__ADS_1


barusan kecuali Chanwo. Karana hanya pria itu satu-satunya orang yang berada di


dekat Hwang Ji Na. Lagi pula volume suaranya termasuk kecil.


__ADS_2