
Mereka sama sekali belum menempuh setengah dari jarak total
perjalan dan memilih untuk beristirahat sejenak di dalam sebuah goa kosong. Perjalanannya
terasa semakin berat dan jauh lebih sulit dari pada biasanya. Ada saju
dimana-mana. Hal tersebut berhasil menghambat langkah mereka. Jadi tidak ada
yang bisa bergerak cepat sepeti biasanya. Selain itu, udara di luar sini juga
cukup dingin.
Tidak akan banyak waktu yang dihabiskan untuk beristirahat
di sini. Mengingat mereka masih harus melanjutkan perjalanannya lagi. jika
ingin cepat sampai, maka mereka memang harus bergegas. Sebelum salju turun
semakin lebat lagi dan malah menutupi jalanan. Akan sulit untuk menjangkau
Reodal jika begitu situasinya.
“Apakah kau yakin jika mereka tidak akan merasa curiga
denganmu?” tanya Chanwo.
“Kenapa harus curiga?” tanya Hwang Ji Na balik.
“Tentu saja!” balas pria itu.
“Ini adalah pertama kalinya bagimu untuk menampakkan diri di
depan mereka semua. Belum ada yang pernah melihatmu sebelumnya. Kau juga belum
terdaftar sebagai siswa sekolah ini. Mereka pasti akan merasa curiga,” jelas
Chanwo dengan panjang lebar.
Alih-alih penjelasan, pemilihan kalimat yang digunakan oleh
pria itu barusan jauh lebih terdengar seperti sebuah ocehan yang tidak jelas.
Hwang Ji Na memutar bola matanya ke arah lain. Kemana saja
asal bukan menghadap Chanwo. Gadis itu terlalu malas untuk menanggapi setiap
tingkah laku pria di hadapannya ini. Terkadang ia memang terlihat menyebalkan.
“Tenang saja! Aku tidak akan ketahuan,” ujar Hwang Ji Na.
“Akan ku pastikan yang satu itu!” tegasnya sekali lagi.
Hwang Ji Na harus memastikan agar pria itu tidak buka suara
lagi soal dirinya. Ia sudah terlalu lelah. Terutama secara fisik. Ada hal yang
tidak bisa ia tanahn di sini. Kaki gadis ini rasanya akan patah. Kemarin ia
baru saja sampai setelah menempuh perjalanan jauh menembus angin musim dingin
yang berhembus. Bukan hanya itu saja. Hwang Ji Na bahkan harus rela berjalan
kaki. Sekarang ia harus mengalami hal yang serupa lagi. Semesta seolah tidak
memberinya jeda untuk beristirahat sebentar saja. Bagaimana pun juga, ia sama
sekali belum makan dari kemarin. Energinya mulai menipis. Tapi, untungnya tadi
pagi Chanwo sengaja menyisakan jatah sarapannya untuk gadis itu. Dia tidak akan
__ADS_1
bisa bertahan tanpa makanan.
“Berapa lama lagi kita akan berada di sini?” gumam Chanwo sambil
merapatkan baju hangat miliknya untuk mencegah udara dingin masuk.
“Kelihatannya kau begitu ambisius untuk pergi ke sana dengan
cepat!” cicit Hwang Ji Na.
“Memangnya ada apa di sana?” tanya gadis itu.
“Mana aku tahu!” balasnya.
Hwang Ji Na kembali berdecak sebal untuk yang kesekian
kalinya dalam hari ini. Lagi-lagi masih dengan alasan yang sama. Tentu saja
karena Chanwo. Memangnya siapa lagi. Hanya pria itu yang membuatnya sebal
sepanjang hari. Mungkin itu pula sebabnya kenapa ia tidak mau tinggal di istana
bersama dengan Chanwo. Padahal keluarga pria itu telah menganggap Hwang Ji Na sebagai
salah satu bagian dari keluarga mereka juga. Hwang Ji Na menolak hal tersebut
dengan alasan tidak mau merepotkan. Padahal kepribadiannya dengan Chanwo memang
tidak cocok. Mereka hanya akan beradu argument jika bertemu setiap saat.
contohnya saja seperti yang tengah terjadi hari ini.
“Sepertinya kita akan tetap berada di sini sampai besok
pagi,” ungkap Hwang Ji Na.
Chanwo terlihat tidak ingin memberikan tanggapan sama
sekali. Ia hanya menoleh sekilas ke arah gadis itu, kemudian mengalihkan
“Sebentar lagi akan ada badai salju,” bebernya.
“Yang benar saja. Memangnya kau peramal cuaca?!” sarkas pria
itu.
“Kita lihat saja nanti siapa yang benar,” balas Hwan Ji Na
acuh tak acuh.
Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada dinding goa yang
seharusnya turut menjadi dingin. Namun, ia tidak akan mempermasalahkan hal
tersebut sama sekali. Lebih baik seperti ini dari pada tidak ada tempat untuk
berlindung sama sekali.
Yang benar saja. Beberapa saat setelah Hwang Ji Na
mengatakan hal tersebut, tiba-tiba salju turun dengan lebat. Lebih mirip
seperti sebuah badai yang siap untuk menerjang apa saja yang berada di
depannya.
“Tidak mungkin,” ucap Chanwo.
Pria itu tampak tercengang dengan apa yang baru saja
dilihatnya. Otaknya menolak untuk percaya. Bagaimana bisa hal seperti ini
terjadi. Sungguh tidak masuk akal. Mustahil jika Hwang Ji Na benar bisa
__ADS_1
meramal. Sejak kapan ia menguasai kemampuan tersebut. Klan alpha sama sekali
tidak memiliki kemampuan seperti itu dalam sejarah. Bahkan tidak diturunkan
melakui garis keturunan.
“Apa kau belajar soal sihir dan meramal?” tanya Chanwo yang
masih tak percaya sekaligus takjub degan kemampuan luar biasa gadis ini.
“Hanya sedikit,” katanya.
“Eun Ji Hae pernah mengajariku satu dua hal sewaktu kami
masih tinggal bersama,” jelas Hwang Ji Na.
“Pantas saja,” balas pria itu.
Hwang Ji Na ternyata jauh lebih terampil dalam berbagai hal
jika dibandingkan dengan dirinya. Hal itu pula yang kerap membuat Chanwo merasa
iri terhadap gadis itu. Contohnya saja seperti yang tengah terjadi sekarang. Bagaimana
bisa Hwang Ji Na jauh lebih pandai dalam sihir. Sementara Chanwo sama sekali
belum ada mempelajari apa pun sejak hari pertamanya di sekolah. Belum ada
satupun materi yang diajarkan kepadanya. Sehingga saat ini pria itu tidak tahu
apa-apa soal sihir, meski ia adalah salah satu siswa Sekolah Mooneta.
“Apa kau merasa iri terhadap diriku?” tanya Hwang Ji Na.
Dengan begitu santainya ia mengucapkan kalimat seperti itu. Tentu
saja Chanwo merasa iri setidaknya karena Hwang Ji Na lagi-lagi lebih hebat
darinya.
“Aih, yang benar saja!” balasnya.
“Apakah kau membaca isi pikiranku juga?!” tuduh Chanwo.
“Bisa jadi,” jawab gadis itu secara gamblang. Ia bahkan
tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.
Tentu saja hal itu semakin membuat Chanwo tak bisa menahan
dirinya. Hampir saja dia akan menghajar gadis itu dengan tangannya sendiri. Tapi
kenyataan kembali menyadarkannya jika Hwang Ji Na tetaplah adiknya. Dia masih
anak-anak. Jadi wajar saja jika sering menyebalkan seperti ini.
“Perhatian semuanya!” sahut Bibi Ga Eun dari depan.
Sontak semua orang mengalihkan pandangan ke arah wanita
tersebut. Kini Bibi Ga Eun telah menjadi pusat perhatian semua orang.
“Kita akan tetap tinggal di sini sampai badainya reda,” ujar
wanita itu.
“Badai tidak akan reda sampai besok pagi,” gumam Hwang Ji
Na.
“Apa kau sungguh yakin dengan ucapanmu barusan?” tanya Chanwo.
Tidak ada seorang pun yang mendengar ucapan Hwang Ji Na
__ADS_1
barusan kecuali Chanwo. Karana hanya pria itu satu-satunya orang yang berada di
dekat Hwang Ji Na. Lagi pula volume suaranya termasuk kecil.