
Semua orang bergegas agar rapat segera dimulai. Rapat kali
ini bisa dibilang cukup besar dan transparan. Karena semua orang ikut terlibat
di dalamnya. Jika biasanya mereka hanya akan memanggil orang-orang tertentu
saja, tapi tidak dengan rapat yang kali ini. Semua bagian dari sekolah ikut
diturut sertakan untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Mulai dari bagian
yang paling tertinggi di sini dan memegang peranan penting, sampai bagian
terkecil sekali pun.
Alasan kenapa ada banyak pihak yang dilibatkan di sini,
karena menurut Eun Ji Hae ia harus mendengarkan pendapat mereka yang selama ini
belum sempat tersalurkan. Selain itu, kebetulan semua orang memang sedang
berkumpul di tempat ini. Jadi tidka perlu susah payah untuk mengumpulkan mereka
lagi.
Eun Ji Hae berdiri dari tempat duduknya, namuan tetap di
sana dan tidak kemana-mana. Gadis itu hanya ingin memperluas jangkauan
pengelihatannya. Ia harus memastikan jika semua orang telah selesai dengan
kegiatannya masing-masing. Hal itu mungkin terlihat sepele. Namun merupakan
bagian paling penting sebelum rapat dimulai.
“Apakah semua orang telah selesai?” tanya Eun Ji Hae sembari
memperhatikan mereka satu-persatu.
Sama sekali tidak ada seorang pun yang ingin menjawab
pertanyaan gadis itu. Mereka hanya bisa bungkam dan saling melempar pandangan
satu sama lain.
Eun Ji Hae menghela napasnya kasar. Begitu melihat
situasinya aman dan terkendali, gadis itu segera membuat keputusan untuk
memulai rapatnya dengan segera. Tidak ada lagi yang perlu mereka tunggu di
sini. Semua orang telah siap untuk hal tersebut. Jadi, tidak perlu menglur
waktu lagi terlalu lama.
“Baiklah, kalau begitu rapat akan segera kita mulai!” sahutnya.
Eun Ji Hae kembali ke tempat duduknya. Semua orang tengah
dalam posisi bersiap saat ini. Gadis itu sama sekali tidak memiliki wewenang
apa pun di sini sebelum Bibi Ga Eun memintanya untuk melakukan sesuatu. Karena dalam
rapat, mereka tidak boleh melakukan apa-apa tanpa persetujuan dari pimpinan
sidang. Selama rapat berlangsung, kekuasaan penuh berada di tangan pimpinan
sidang.
Seperti biasanya, kali ini Bibi Ga Eun yang akan memimpin
jalannya rapat ini. Wanita itu selalu ditunjuk sebagai seorang pimpinan sidang.
Tidak perlu diragukan lagi soal kinerjanya. Semua orang tahu soal itu. Tidak perlu
pembuktian sama sekali, karena rasanya apa yania lakukan selama ini telah
cukup.
__ADS_1
Sementara itu, Eun Ji Hae dan juga salah satu petinggi
sekolah lainnya bertugas sebagai pimpinan sidang dua dan tiga. Tapi yang utama,
tetap saja Bibi Ga Eun. Tidak ada seorang pun yang bisa menandinginya di sini.
“Bi, mari kita mulai rapatnya! Semua orang telah siap,” ucap
Eun Ji Hae kepada wanita itu dengan volume suara yang jauh lebih rendah dari
pada sebelumnya.
Bibi Ga Eun hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan perkataan
gadis itu.
Sejak kembali ke sekolah ini karena ia telah selesai dengan
hukumannya, Eun Ji Hae banyak memegang peranan penting di tempat ini. Dia
bertanggung jawab untuk melakukan berbagi hal vital. Eun Ji Hae akan
mengkoordinir semua kegiatan dan memastikan jika semuanya akan berjalan
baik-baik saja. Dia telah dibebani tanggung jawab baru itu tepat beberapa hari
yang lalu setelah kembali ke sekolah dengan membawa serta Vallery dan Wilson
bersamanya.
Bibi Ga Eun memang sengaja memebrikan tanggung jawab
tersebut kepadanya. Eun Ji Hae sudah menjadi salah satu alumni, yang artinya
jika ia tidak bisa kembali bersekolah lagi di tempat ini. Wanita itu tidak akan
membiarkan Eun Ji Hae tinggal di tempat ini tanpa melakukan pekerjaan sama
sekali. Mereka tidak akan pernah menjadikan Eun Ji Hae layaknya sebagai seorang
***
Suasana menjadi henig seketika. Semua orang mulai terbawa
suasana. Padahal Bibi Ga Eun belum mengucapkan sepatah kata pun. Tapi wajah
mereka sudah terlihat begitu tegang. Wajar saja. Ini menjadi pertama kalinya
bagi mereka untuk dilibatkan dalam rapat sebesar ini. Wajar jika mendadak
mereka menjadi gugup seperti itu.
“Baiklah, rapat akan saya ambil alih!” ujar Bibi Ga Eun
dengan suara yag tak kalah besar.
Mengingat jika ruangannya jauh lebih besar dan peserta yang
dilibatkan dalam rapat kali ini juga jauh lebih banyak, jadi mereka harus
berbicara dengan kuat dan jelas agar terdengar hingga ke sudut ruangan. Harus
diakui jika hal tersebut cukup melelahkan karena membutuhkan energi yang tidak
sedikit. Orang yang berbicara harus bisa mengontrol situasi agar tetap kondusif
sampai rapat berakhir.
“Baiklah, rapat resmi dibuka!” seru Bibi Ga Eun.
Sebenarnya ada beberapa hal yang akan mereka bahas kali ini.
Pasalnya, ada beberapa masalah baru yang timbul belakangan ini. Tentu sjaa
akibat dari badai salju kemarin.
“Pertama-tama, mari kita dengarkan pendapat kalian soal
__ADS_1
badai kemarin. Tentang penyebab terjadinya dan apa solusi yang paling tepat
untuk mengatasi hal tersebut,” ujar Bibi Ga Eun.
“Pendapat serta saran dari kalian akan sangat membantu kami
dalam menentukan langkah berikutnya. Jadi, jangan pernah merasa ragu untuk
mengeluarkan pendapat kalian,” ungkapnya.
“Silahkan!” tegasnya sekali lagi.
Tidak perlu menanti terlalu lama untuk menemukan hal
tersebut. Karena Nhea langsung meminta interupsi dan berdiri setelahnya.
“Silahkan kepada saudari Nhearsha, dipersilahkan untuk
menyampaikan pendapatnya,” ujar Bibi Ga Eun.
Wanita itu langsung meminta Nhea untuk segera mengutarakan
isi pikirannya. Tidak akan ada yang tahu hal brilian seperti apa yang ia miliki
jika tidak diungkapkan. Tidak semua orang bisa tahu.
“Baiklah, terima kasih telah memberikan saya kesempatan
untuk berbicara,” ujarnya.
“Pertama-tama, saya ingin menyampaikan sesuatu yang cukup
penting di sini. Saya tidak akan berbicara dengan panjang lebar, karena saya
yakin jika anda sekalian dapat memahami inti dari kalimat saya nanti,” paparnya
sebelum mulai masuk ke inti permasalahannya.
Gadis itu sudah mengatur semuanya dengan sedemikian rupa. Ia
bahkan telah menyusun setiap kata-kata dengan rapih di dalam otaknya. Jadi Nhea tidak perlu
khawatir akan terputus di tengah jalan saat menjelaskan.
“Jadi begini,” mulainya.
“Menurut sebuah buku sejarah yang saya baca dan saya rasa
jika kita semua juga pernah membacanya di sini. Karena buku tersebut selalu
digunakan pada saat proses pembelajaran tengah berlangsung. Di buku itu
dikatakan jika salju abadi akan membekukan mahluk hidup atau sel hidup apapun
yang bersentuhan secera langsung dengannya,” papar gadis itu dengan panjang
lebar.
“Lantas, kenapa kita tidak melakukan percobaan dengan
menguji pendapat dari buku tersebut?” tukasnya.
“Memangnya apa yang harus kita lakukan untuk mengujinya? Apakah
kita harus mengorbankan salah satu dari mereka maksudmu?” tanya Bibi Ga Eun
balik.
“Apakah yang dinamakan sebagai mahluk hidup hanya sebatas
manusia saja?” balas Nhea.
Kalimat yang dilontarkan oleh gadis itu berhasil membuat
Bibi Ga Eun kehabisan kata-kata. Dia bungkan dan tidak bisa berkutik sedikit
pun.
__ADS_1