Mooneta High School

Mooneta High School
Hurry Up


__ADS_3

Semua orang bergegas agar rapat segera dimulai. Rapat kali


ini bisa dibilang cukup besar dan transparan. Karena semua orang ikut terlibat


di dalamnya. Jika biasanya mereka hanya akan memanggil orang-orang tertentu


saja, tapi tidak dengan rapat yang kali ini. Semua bagian dari sekolah ikut


diturut sertakan untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Mulai dari bagian


yang paling tertinggi di sini dan memegang peranan penting, sampai bagian


terkecil sekali pun.


Alasan kenapa ada banyak pihak yang dilibatkan di sini,


karena menurut Eun Ji Hae ia harus mendengarkan pendapat mereka yang selama ini


belum sempat tersalurkan. Selain itu, kebetulan semua orang memang sedang


berkumpul di tempat ini. Jadi tidka perlu susah payah untuk mengumpulkan mereka


lagi.


Eun Ji Hae berdiri dari tempat duduknya, namuan tetap di


sana dan tidak kemana-mana. Gadis itu hanya ingin memperluas jangkauan


pengelihatannya. Ia harus memastikan jika semua orang telah selesai dengan


kegiatannya masing-masing. Hal itu mungkin terlihat sepele. Namun merupakan


bagian paling penting sebelum rapat dimulai.


“Apakah semua orang telah selesai?” tanya Eun Ji Hae sembari


memperhatikan mereka satu-persatu.


Sama sekali tidak ada seorang pun yang ingin menjawab


pertanyaan gadis itu. Mereka hanya bisa bungkam dan saling melempar pandangan


satu sama lain.


Eun Ji Hae menghela napasnya kasar. Begitu melihat


situasinya aman dan terkendali, gadis itu segera membuat keputusan untuk


memulai rapatnya dengan segera. Tidak ada lagi yang perlu mereka tunggu di


sini. Semua orang telah siap untuk hal tersebut. Jadi, tidak perlu menglur


waktu lagi terlalu lama.


“Baiklah, kalau begitu rapat akan segera kita mulai!” sahutnya.


Eun Ji Hae kembali ke tempat duduknya. Semua orang tengah


dalam posisi bersiap saat ini. Gadis itu sama sekali tidak memiliki wewenang


apa pun di sini sebelum Bibi Ga Eun memintanya untuk melakukan sesuatu. Karena dalam


rapat, mereka tidak boleh melakukan apa-apa tanpa persetujuan dari pimpinan


sidang. Selama rapat berlangsung, kekuasaan penuh berada di tangan pimpinan


sidang.


Seperti biasanya, kali ini Bibi Ga Eun yang akan memimpin


jalannya rapat ini. Wanita itu selalu ditunjuk sebagai seorang pimpinan sidang.


Tidak perlu diragukan lagi soal kinerjanya. Semua orang tahu soal itu. Tidak perlu


pembuktian sama sekali, karena rasanya apa yania lakukan selama ini telah


cukup.

__ADS_1


Sementara itu, Eun Ji Hae dan juga salah satu petinggi


sekolah lainnya bertugas sebagai pimpinan sidang dua dan tiga. Tapi yang utama,


tetap saja Bibi Ga Eun. Tidak ada seorang pun yang bisa menandinginya di sini.


“Bi, mari kita mulai rapatnya! Semua orang telah siap,” ucap


Eun Ji Hae kepada wanita itu dengan volume suara yang jauh lebih rendah dari


pada sebelumnya.


Bibi Ga Eun hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan perkataan


gadis itu.


Sejak kembali ke sekolah ini karena ia telah selesai dengan


hukumannya, Eun Ji Hae banyak memegang peranan penting di tempat ini. Dia


bertanggung jawab untuk melakukan berbagi hal vital. Eun Ji Hae akan


mengkoordinir semua kegiatan dan memastikan jika semuanya akan berjalan


baik-baik saja. Dia telah dibebani tanggung jawab baru itu tepat beberapa hari


yang lalu setelah kembali ke sekolah dengan membawa serta Vallery dan Wilson


bersamanya.


Bibi Ga Eun memang sengaja memebrikan tanggung jawab


tersebut kepadanya. Eun Ji Hae sudah menjadi salah satu alumni, yang artinya


jika ia tidak bisa kembali bersekolah lagi di tempat ini. Wanita itu tidak akan


membiarkan Eun Ji Hae tinggal di tempat ini tanpa melakukan pekerjaan sama


sekali. Mereka tidak akan pernah menjadikan Eun Ji Hae layaknya sebagai seorang


***


Suasana menjadi henig seketika. Semua orang mulai terbawa


suasana. Padahal Bibi Ga Eun belum mengucapkan sepatah kata pun. Tapi wajah


mereka sudah terlihat begitu tegang. Wajar saja. Ini menjadi pertama kalinya


bagi mereka untuk dilibatkan dalam rapat sebesar ini. Wajar jika mendadak


mereka menjadi gugup seperti itu.


“Baiklah, rapat akan saya ambil alih!” ujar Bibi Ga Eun


dengan suara yag tak kalah besar.


Mengingat jika ruangannya jauh lebih besar dan peserta yang


dilibatkan dalam rapat kali ini juga jauh lebih banyak, jadi mereka harus


berbicara dengan kuat dan jelas agar terdengar hingga ke sudut ruangan. Harus


diakui jika hal tersebut cukup melelahkan karena membutuhkan energi yang tidak


sedikit. Orang yang berbicara harus bisa mengontrol situasi agar tetap kondusif


sampai rapat berakhir.


“Baiklah, rapat resmi dibuka!” seru Bibi Ga Eun.


Sebenarnya ada beberapa hal yang akan mereka bahas kali ini.


Pasalnya, ada beberapa masalah baru yang timbul belakangan ini. Tentu sjaa


akibat dari badai salju kemarin.


“Pertama-tama, mari kita dengarkan pendapat kalian soal

__ADS_1


badai kemarin. Tentang penyebab terjadinya dan apa solusi yang paling tepat


untuk mengatasi hal tersebut,” ujar Bibi Ga Eun.


“Pendapat serta saran dari kalian akan sangat membantu kami


dalam menentukan langkah berikutnya. Jadi, jangan pernah merasa ragu untuk


mengeluarkan pendapat kalian,” ungkapnya.


“Silahkan!” tegasnya sekali lagi.


Tidak perlu menanti terlalu lama untuk menemukan hal


tersebut. Karena Nhea langsung meminta interupsi dan berdiri setelahnya.


“Silahkan kepada saudari Nhearsha, dipersilahkan untuk


menyampaikan pendapatnya,” ujar Bibi Ga Eun.


Wanita itu langsung meminta Nhea untuk segera mengutarakan


isi pikirannya. Tidak akan ada yang tahu hal brilian seperti apa yang ia miliki


jika tidak diungkapkan. Tidak semua orang bisa tahu.


“Baiklah, terima kasih telah memberikan saya kesempatan


untuk berbicara,” ujarnya.


“Pertama-tama, saya ingin menyampaikan sesuatu yang cukup


penting di sini. Saya tidak akan berbicara dengan panjang lebar, karena saya


yakin jika anda sekalian dapat memahami inti dari kalimat saya nanti,” paparnya


sebelum mulai masuk ke inti permasalahannya.


Gadis itu sudah mengatur semuanya dengan sedemikian rupa. Ia


bahkan telah menyusun setiap kata-kata dengan rapih  di dalam otaknya. Jadi Nhea tidak perlu


khawatir akan terputus di tengah jalan saat menjelaskan.


“Jadi begini,” mulainya.


“Menurut sebuah buku sejarah yang saya baca dan saya rasa


jika kita semua juga pernah membacanya di sini. Karena buku tersebut selalu


digunakan pada saat proses pembelajaran tengah berlangsung. Di buku itu


dikatakan jika salju abadi akan membekukan mahluk hidup atau sel hidup apapun


yang bersentuhan secera langsung dengannya,” papar gadis itu dengan panjang


lebar.


“Lantas, kenapa kita tidak melakukan percobaan dengan


menguji pendapat dari buku tersebut?” tukasnya.


“Memangnya apa yang harus kita lakukan untuk mengujinya? Apakah


kita harus mengorbankan salah satu dari mereka maksudmu?” tanya Bibi Ga Eun


balik.


“Apakah yang dinamakan sebagai mahluk hidup hanya sebatas


manusia saja?” balas Nhea.


Kalimat yang dilontarkan oleh gadis itu berhasil membuat


Bibi Ga Eun kehabisan kata-kata. Dia bungkan dan tidak bisa berkutik sedikit


pun.

__ADS_1


__ADS_2