
Eun Ji Hae adalah orang terakhir yang masih tetap terjaga hingga fajar menyingsing dari balik
pegunungan yang mulai membeku itu. Ia sama sekali tidak merasa mengantuk atau
apa pun. isi pikirannya terasa jauh lebih penting dari pada sekedar rasa kantuk
yang hanya membuat kepuasan sesaat dan membuang banyak waktu. Padahal sudah
beberapa hari ini Eun Ji Hae memotong jam tidurnya sendiri menjadi jauh lebih
singkat. Ini bukan kemauanya. Melainkan sebuah keharusan yang mau tak mau harus
ia lakukan. Eun Ji Hae telah mengorbankan begitu banyak hal untuk kepentingan
semua orang. Mungkin mereka sama sekali tidak menyadari soal hal tersebut.
Matahari sudah tampak keluar dari sarangnya. Perlahan naik
hingga menunjukkan bentuk sempurnanya. Ia menyatakan bahwa hari baru telah
dimulai. Sang surya mengusik semua orang yang tengah terlelap dengan sapuan
sinar hangat kejinggaan miliknya.
Badai sudah reda beberapa saat yang lalu. Hampir mendekati
pagi lebih tepatnya. Eun Ji Hae menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya
sendiri. Gadis itu terjaga sepanjang malam. Jadi sudah pasti jika ia mengetahui
setiap hal yang terjadi kemarin malam di saat semua orang tengah terlelap.
Beberapa orang mulai tampak bangun dari tidurnya
masing-masing. Dengan kondisi yang masih setengah sadar, mereka mencoba untuk
bangkit dan mengumpulkan tenaga. Salah satu tangannya mengusap-usap kelopak
mata yang masih terasa berat untuk terbuka.
Hari ini mereka harus kembali melanjutkan perjalanan lagi.
Tapi, sebelum melakukan semua itu ada baiknya jika mereka makan sesuatu.
Perjalanannya masih cukup jauh. Butuh banyak tenaga untuk sampai ke sana dengan
tepat waktu.
“Ternyata kau sudah bangun lebih dulu,” gumam Bibi Ga Eun.
Yang ia maksud di sini adalah Eun Ji Hae. Karena gadis itu adalah objek yang
pertama kali berhasil ditangkap oleh kedua indera pengelihatannya hari ini.
Eun Ji Hae mengangguk-anggukkan kepalanya untuk mengiyakan
perkataan wanita itu barusan. Anggap saja kalimatnya yang barusan sebagai
bentuk sapaan.
Beberapa orang yang telah bangun lebih dulu, mengambil jatah
sarapan mereka lebih dulu. Hal tersebut sengaja dilakukan untuk mencegah
penumpukan massa. Makanan yang disediakan hari ini juga tidak sekomplit masakan
untuk perjamuan di sekolah seperti biasanya. Mereka harus mulai bisa
menyesuaikan keadaan dengan situasi yang terjadi saat ini. Sekarang sedang
__ADS_1
darurat dan serba sulit. Jadi, roti gandum adalah satu-satunya makanan yang
bisa mereka konsumsi di sini.
Semua orang mengurus dirinya masing-masing di sini. tidak
ada lagi seorangpun yang bisa diharapkan. Orag lain tentu tak mau melakukan
berbagai pekerjaan bodoh itu hanya untuk melayani para siswa sekolah. Banyak
staff kebersihan serta koki sekolah yang dipulangkan ke rumahnya masing-masing.
Bahkan beberapa staff pengajar juga ikut melakukan hal yang sama.
Semua ini terjadi karena kemauan dari diri mereka sendiri. Ada
sebuah dorongan besar dari hatinya masing-masing yang melahirkan sebuah
keputusan final, tanpa bisa diganggu gugat sama sekali. Mereka berhak untuk
menentukan setiap hal kecil sampai besar sekalipun di dalam kehidupan mereka. Bukan
hanya sebatas orang-orang tertentu saja. Tapi, pada hakikatnya setiap manusia
memiliki hak yang sama.
Nhea barus saja bangun dari tidurnya ketika hampir separuh
dari total orang-orang yang berkumpul di tempat ini sudah bangun. Wajar saja.
kemarin ia termasuk kepada salah satu orang yang tidur pada jam-jam terakhir. Di
saat semua orang telah terlelap, Nhea dan beberapa orang lainnya masih terjaga.
Gadis itu tidak langsung bangkit dari posisinya dan mengambil
seluruh penjuru tempat ini. Mengamati setiap inchi objek yang berhasil ia
temukan pada saat itu, meski sebenarnya pandangannya masih terasa sangat kabur.
Nhea juga tengah berusaha untuk menemukan titik fokus dari pandangannya. Akan sangat
tidak lucu jika sampai ia harus berjalan dengan sempoyongan dan berakhir dengan
menabrak orang. Bagaimana jika ada kecelakaan yang jauh lebih besar akibat hal
tersebut. Hanya karena masalah sepele. Tapi dampaknya sama sekali tidak bisa
diremehkan.
“Cepat bersiap!” perintah Wilson.
“Kita akan segera melanjutkan perjalanan. Pastikan tidak ada
satupun hal yang tertinggal di tempat ini. Baik itu orang maupun benda lainnya,”
jelas pria itu dengan panjang lebar.
Mendengar hal tersebut, semua orang langsung melakukan
setiap pekerjaan mereka dengan jauh lebih cepat. Tidak ada yang ingin
ditinggalkan di tempat seperti ini. Bahkan mereka sampai membangunkan
teman-temannya yang masih tidur.
“Mau ku ambilkan sesuatu untuk sarapanmu hari ini?” tawar
Chanwo kepada Hwang Ji Na.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk sebagai respon atas pertanyaan pria itu
barusan.
Setelah mendapatkan jawaban yang ia inginkan, Chanwo segera
beranjak dari tempat duduknya untuk mengambilkan dua buah roti gandum dari
dalam karung. Satu untuk Chanwo dan satunya lagi tentu saja untuk Hwang Ji Na.
Sejauh ini ia masih aman-aman saja. Tidak ada satupun orang
yang curiga jika ia bukan manusia biasa. Chanwo bakan tidak bernapas sama
sekali. Tapi untungnya, mereka tidak memperhatikan tanda-tanda tersebut. Mereka
masih kurang teliti. Sementara itu, Wilson sepertinya juga mulai mengacuhkan
kehadiran anggota klan tersebut. Meskipun ia sadar jika beberapa hari
belakangan ini anggota klan selalu berada di sekitarnya. Tapi, sama sekali
tidak ada masalah atau bahkan hal buruk yang terjadi karena Chanwo. Hal tersebut
berhasil memanipulasi pikiran Wilson. Ia berasumsi jika anggota klan sama
sekali tidak mengancam. Kehadiran mereka di sini sama sekali tidak berarti
apa-apa selain hanya mengusik ketenangan.
“Ini!” ujar Chanwo sambil menyodorkan sepotong roti gandum
yang sengaja ia sisihkan untuk Hwang Ji Na.
Gadis itu tidak bisa pergi kemana-mana dulu sementara ini. Dia
tidak oleh jauh dari Chanwo. Apa lagi sampai hilang dari pengawasannya. Chanwo
tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.
Hwang Ji Na bisa menarik perhatian umum jika sampai terlalu
sering bergerak. Jati dirinya bisa terungkap. Mereka pasti akan langsung sadar
jika Hwang Ji Na bukan salah satu dari siswa Mooneta. Insting para manusia yang
berada di sini terkadang cukup bisa diandalkan, tapi tak jarang juga malah
sebaliknya.
Hwang Ji Na harus bisa menjaga dirinya baik-baik jika tidak
ingin menerima semua konsekuensi buruk itu. Satu-satunya orang yang bisa ia
percaya di sini hanyalah Chanwo. Eun Ji Hae sama sekali belum tahu jika Hwang
Ji Na berada di sekitarnya selama ini. Ada terlalu banyak orang yang berkumpul
di satu tempat yang sama. Eun Ji Hae pasti akan merasa kewalahan jika harus
mencari gadis itu di antara ratusan orang lainnya. Apa lagi pada saat situasi
seperti ini, ia sama sekali tidak memiliki waktu untuk melakukan hal tersebut. Sampai
di Reodal dengan cepat jauh lebih penting untuk sekarang. Itu adalah tujuan
utamanya. Mereka tidak bisa beralama-lama di luar ruangan jika tidak ingin mati
sia-sia.
__ADS_1