Mooneta High School

Mooneta High School
Sunrise


__ADS_3

Eun Ji Hae adalah orang  terakhir yang masih tetap terjaga hingga fajar menyingsing dari balik


pegunungan yang mulai membeku itu. Ia sama sekali tidak merasa mengantuk atau


apa pun. isi pikirannya terasa jauh lebih penting dari pada sekedar rasa kantuk


yang hanya membuat kepuasan sesaat dan membuang banyak waktu. Padahal sudah


beberapa hari ini Eun Ji Hae memotong jam tidurnya sendiri menjadi jauh lebih


singkat. Ini bukan kemauanya. Melainkan sebuah keharusan yang mau tak mau harus


ia lakukan. Eun Ji Hae telah mengorbankan begitu banyak hal untuk kepentingan


semua orang. Mungkin mereka sama sekali tidak menyadari soal hal tersebut.


Matahari sudah tampak keluar dari sarangnya. Perlahan naik


hingga menunjukkan bentuk sempurnanya. Ia menyatakan bahwa hari baru telah


dimulai. Sang surya mengusik semua orang yang tengah terlelap dengan sapuan


sinar hangat kejinggaan miliknya.


Badai sudah reda beberapa saat yang lalu. Hampir mendekati


pagi lebih tepatnya. Eun Ji Hae menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya


sendiri. Gadis itu terjaga sepanjang malam. Jadi sudah pasti jika ia mengetahui


setiap hal yang terjadi kemarin malam di saat semua orang tengah terlelap.


Beberapa orang mulai tampak bangun dari tidurnya


masing-masing. Dengan kondisi yang masih setengah sadar, mereka mencoba untuk


bangkit dan mengumpulkan tenaga. Salah satu tangannya mengusap-usap kelopak


mata yang masih terasa berat untuk terbuka.


Hari ini mereka harus kembali melanjutkan perjalanan lagi.


Tapi, sebelum melakukan semua itu ada baiknya jika mereka makan sesuatu.


Perjalanannya masih cukup jauh. Butuh banyak tenaga untuk sampai ke sana dengan


tepat waktu.


“Ternyata kau sudah bangun lebih dulu,” gumam Bibi Ga Eun.


Yang ia maksud di sini adalah Eun Ji Hae. Karena gadis itu adalah objek yang


pertama kali berhasil ditangkap oleh kedua indera pengelihatannya hari ini.


Eun Ji Hae mengangguk-anggukkan kepalanya untuk mengiyakan


perkataan wanita itu barusan. Anggap saja kalimatnya yang barusan sebagai


bentuk sapaan.


Beberapa orang yang telah bangun lebih dulu, mengambil jatah


sarapan mereka lebih dulu. Hal tersebut sengaja dilakukan untuk mencegah


penumpukan massa. Makanan yang disediakan hari ini juga tidak sekomplit masakan


untuk perjamuan di sekolah seperti biasanya. Mereka harus mulai bisa


menyesuaikan keadaan dengan situasi yang terjadi saat ini. Sekarang sedang

__ADS_1


darurat dan serba sulit. Jadi, roti gandum adalah satu-satunya makanan yang


bisa mereka konsumsi di sini.


Semua orang mengurus dirinya masing-masing di sini. tidak


ada lagi seorangpun yang bisa diharapkan. Orag lain tentu tak mau melakukan


berbagai pekerjaan bodoh itu hanya untuk melayani para siswa sekolah. Banyak


staff kebersihan serta koki sekolah yang dipulangkan ke rumahnya masing-masing.


Bahkan beberapa staff pengajar juga ikut melakukan hal yang sama.


Semua ini terjadi karena kemauan dari diri mereka sendiri. Ada


sebuah dorongan besar dari hatinya masing-masing yang melahirkan sebuah


keputusan final, tanpa bisa diganggu gugat sama sekali. Mereka berhak untuk


menentukan setiap hal kecil sampai besar sekalipun di dalam kehidupan mereka. Bukan


hanya sebatas orang-orang tertentu saja. Tapi, pada hakikatnya setiap manusia


memiliki hak yang sama.


Nhea barus saja bangun dari tidurnya ketika hampir separuh


dari total orang-orang yang berkumpul di tempat ini sudah bangun. Wajar saja.


kemarin ia termasuk kepada salah satu orang yang tidur pada jam-jam terakhir. Di


saat semua orang telah terlelap, Nhea dan beberapa orang lainnya masih terjaga.


Gadis itu tidak langsung bangkit dari posisinya dan mengambil


seluruh penjuru tempat ini. Mengamati setiap inchi objek yang berhasil ia


temukan pada saat itu, meski sebenarnya pandangannya masih terasa sangat kabur.


Nhea juga tengah berusaha untuk menemukan titik fokus dari pandangannya. Akan sangat


tidak lucu jika sampai ia harus berjalan dengan sempoyongan dan berakhir dengan


menabrak orang. Bagaimana jika ada kecelakaan yang jauh lebih besar akibat hal


tersebut. Hanya karena masalah sepele. Tapi dampaknya sama sekali tidak bisa


diremehkan.


“Cepat bersiap!” perintah Wilson.


“Kita akan segera melanjutkan perjalanan. Pastikan tidak ada


satupun hal yang tertinggal di tempat ini. Baik itu orang maupun benda lainnya,”


jelas pria itu dengan panjang lebar.


Mendengar hal tersebut, semua orang langsung melakukan


setiap pekerjaan mereka dengan jauh lebih cepat. Tidak ada yang ingin


ditinggalkan di tempat seperti ini. Bahkan mereka sampai membangunkan


teman-temannya yang masih tidur.


“Mau ku ambilkan sesuatu untuk sarapanmu hari ini?” tawar


Chanwo kepada Hwang Ji Na.

__ADS_1


Gadis itu mengangguk sebagai respon atas pertanyaan pria itu


barusan.


Setelah mendapatkan jawaban yang ia inginkan, Chanwo segera


beranjak dari tempat duduknya untuk mengambilkan dua buah roti gandum dari


dalam karung. Satu untuk Chanwo dan satunya lagi tentu saja untuk Hwang Ji Na.


Sejauh ini ia masih aman-aman saja. Tidak ada satupun orang


yang curiga jika ia bukan manusia biasa. Chanwo bakan tidak bernapas sama


sekali. Tapi untungnya, mereka tidak memperhatikan tanda-tanda tersebut. Mereka


masih kurang teliti. Sementara itu, Wilson sepertinya juga mulai mengacuhkan


kehadiran anggota klan tersebut. Meskipun ia sadar jika beberapa hari


belakangan ini anggota klan selalu berada di sekitarnya. Tapi, sama sekali


tidak ada masalah atau bahkan hal buruk yang terjadi karena Chanwo. Hal tersebut


berhasil memanipulasi pikiran Wilson. Ia berasumsi jika anggota klan sama


sekali tidak mengancam. Kehadiran mereka di sini sama sekali tidak berarti


apa-apa selain hanya mengusik ketenangan.


“Ini!” ujar Chanwo sambil menyodorkan sepotong roti gandum


yang sengaja ia sisihkan untuk Hwang Ji Na.


Gadis itu tidak bisa pergi kemana-mana dulu sementara ini. Dia


tidak oleh jauh dari Chanwo. Apa lagi sampai hilang dari pengawasannya. Chanwo


tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.


Hwang Ji Na bisa menarik perhatian umum jika sampai terlalu


sering bergerak. Jati dirinya bisa terungkap. Mereka pasti akan langsung sadar


jika Hwang Ji Na bukan salah satu dari siswa Mooneta. Insting para manusia yang


berada di sini terkadang cukup bisa diandalkan, tapi tak jarang juga malah


sebaliknya.


Hwang Ji Na harus bisa menjaga dirinya baik-baik jika tidak


ingin menerima semua konsekuensi buruk itu. Satu-satunya orang yang bisa ia


percaya di sini hanyalah Chanwo. Eun Ji Hae sama sekali belum tahu jika Hwang


Ji Na berada di sekitarnya selama ini. Ada terlalu banyak orang yang berkumpul


di satu tempat yang sama. Eun Ji Hae pasti akan merasa kewalahan jika harus


mencari gadis itu di antara ratusan orang lainnya. Apa lagi pada saat situasi


seperti ini, ia sama sekali tidak memiliki waktu untuk melakukan hal tersebut. Sampai


di Reodal dengan cepat jauh lebih penting untuk sekarang. Itu adalah tujuan


utamanya. Mereka tidak bisa beralama-lama di luar ruangan jika tidak ingin mati


sia-sia.

__ADS_1


__ADS_2