Mooneta High School

Mooneta High School
Halusinasi


__ADS_3

 


 


Oliver menyandarkan tubuhnya pada salah satu sisi ruangan.


Kakinya terasa lemas hingga pada akhirnya badannya harus merosot ke bawah dan


berakhir dengan duduk di lantai. Sekujur tubuhnya terasa tak bertenaga sama


sekali. Bahkan untuk kembali ke tempat tidurnya saja, ia harus merangkak


pelan-pelan. Suara debaman tadi tidak cukup untuk membangunkan orang-orang.


Buktinya, mereka masih tertidur dengan pulas.


Gadis itu berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia tidak akan


bisa tidur jika tetap begini caranya. Kejadian yang tadi cukup mengejutkan


baginya. Sepertinya, Oliver tidak akan melupakan yang satu itu dengan mudah.


“Apakah jangan-jangan ada seseorang di luar sana?” gumam Oliver.


“Jika tidak, dari mana datangnya anak panah tersebut,”


lanjutnya.


Selain merasa terkejut dan ketakutan yang berlebihan, tidak


bisa dipungkiri jika ia juga merasakan penasaran. Sempat terbersit beberapa


pertanyaan di dalam kepalanya. Namun, ini sudah terlalu malam untuk


memikirkannya. Dia harus segera kembali tidur. Sebentar lagi sebuah hari baru


akan segera dimulai.


Oliver memilih untuk menyingkirkan hal tersebut dari dalam


pikirannya untuk sementara waktu. Dia butuh istirahat yang cukup di sini. Gadis


itu menerik selimutnya hingga setinggi dada. Agar hawa dingin tidak bisa keluar


masuk dengan bebas. Selain itu, selimut juga berfungsi untuk menjaga suhu


tubuhnya agar tetap hangat pada situasi seperti ini.


***


Seperti yang dikatakan oleh Bibi Ga Eun kemarin, mereka


harus tetap bangun pagi untuk sarapan dan melakukan beberapa kegiatan laiannya.


Meski kelas baru akan dilaksanakan pada malam hari, mereka tidak bisa


sepenuhnya menjadi mahluk nokturnal yang hanya akan beraktivitas pada malam


hati saja.


“Ayo kita pergi sarapan!” ajak Nhea.


“Baiklah, aku akan mengambil kaos kakiku sebentar,” ujarnya.


Nhea hanya mengangguk-angukkan kepalanya untuk mengiyakan


perkataan gadis itu. Ia memilih untuk menunggu Oliver di depan pintu kamar.


“Tunggu dulu,” gumamnya.


“Nhea!” sahut gadis itu kemudian.


Sontak seseorang yang diajak bicara langsung mnegakkan


kepalanya kembali karena Oliver memanggilnya.


“Ada apa?” tanya Nhea.

__ADS_1


“Apa kau melihat baju hangatku yang satu lagi?” tanya gadis


itu balik.


Nhea tidak langsung menjawab pertanyaan gadis itu. Melainkan


termenung sejenak, sambil mengulang kembali ingatannya dari beberapa hari yang


lalu. Sampai ia menyadari jika Chanwo adalah pelakunya. Malam itu dia


menyelinap masuk ke dalam kamar asrama dengan orang diri dan mengambil baju hangat


miliki gadis itu. Dia bilang akan dikembalikan begitu musim dingin selesai.


Oliver memang sedang tidak membutuhkannya sekarang. Tapi


tetap saja kehilangan benda miliknya seperti menjadi sebuah misteri. Kenapa


belakangan ini ada banyak misteri yang tak terpecahkan. Bnar-benar membuat


mereka bingung saja.


“Hey!” sahut Oliver sembari menepuk bahu gadis itu pelan.


Refleks, Nhea langsung terkesiap dari lamunannya. Ia


berusaha untuk kembali fokus kepada topik yang sedang mereka bicarakan tadi.


“Aku tidak melihatnya,” ujar Nhea secara gamblang.


Gadis itu juga terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya


sebagai bentuk dukungan terhadap ucapannya barusan. Sehingga mereka akan


terlihat sinkron.


“Bukannya kau selalu menempatkan benda yang satu itu di


dalam lemari baju?” cicit Nhea.


“Tapi masalahnya, sekarang aku tidak melihat baju hangatku


“Mungkin kau hanya lupa meletakkannya dimana,” kata Nhea.


“Sudahlah! Ayo kita pergi sarapan! Aku sudah lapar,”


lanjutnya kemudian.


Oliver kemudian mengangguk dan segera bergegas. Dia tidak


ingin membuat gadis itu menunggu terlalu lama.


Untuk menuju ke gedung utama, mereka harus melewati lorong


yang sama dengan yang dilalui oleh Oliver kemarin malam. Hanya itu jalan


satu-satunya untuk menuju tangga penghubung lantai tiga dengan lantai dua.


Kamar mereka berada di lantai paling atas.


Oliver masih mengingat denganjelas setiap detail dari


kejadian itu. Bahkan peristiwa kemarin masih terasa segar di dalam ingatannya.


Dia tidak akan pernah bisa melupakan hal tersebut. Benar-benar membekas di


dalam ingatannya. Pasalnya, baru beberapa jam yang lalu. Bahkan sehari saja


belum ada. Jadi wajar saja jika Oliver tidak pernah bisa menyingkirkan hal


tersebut dari dalam ingatannya.


Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di depan jendela


itu. Persis pada tempat kejadian kemarin malam. Bukan malam lagi. Bahkan sudah


pukul tiga dini hari sekarang. Itu bukan kemarin. Tapi hari ini.

__ADS_1


Oliver masih tetap mematung di tempat yang sama.


Memperhatikan dengan sekesama dari segala sudut. Kaca jendela itu kini mendadak


bersih. Tidak ada sedikit pun noda yang terdapat di sana. Bahkan bercak darah


yang berlumuran di sana sudah tidak ada lagi. Semuanya bersih seperti baru.


Seolah-olah tidak ada apa pun yang terjadi kemarin malam di sini. Sampai


saljunya saja tidak terkena bercak noda. Oliver tidak dapat menemukan apa pun di


sini. Tidak ada jejak yang mereka tinggalkan. Bahkan bangkai burung gagak itu


saja tidak terlihat. Entah kemana semua hal itu menghilang.


Tidak mungkin jika gadis itu mengalami halusinasi atau hal


lain yang sejenisnya. Ia ingat dengan jelas setiap detail kejadiannya. Paling


tidak masuk akal jika ia hanya bermimpi atau bahkan mengigau. Hal itu tidak


masuk akal sama sekali. Semuanya terasa begitu jelas. Terlalu nyata untuk


disebut sebagai sebuah mimpi atau gejalan halusinasi.


“Oliver!” sahut Nhea yang sudah berada beberapa langkah di


depannya.


“Kenapa masih ada di sana?” tanya gadis itu.


Hal tersebut berhasil membuyarkan isi pikirannya pada saat


itu. Oliver refleks langsung menoleh kearah sumber suara. Ternyata langkahnya


sudah tertinggal jauh di belakang. Nhea bahkan sudah sampai di ujung lorong ini


dan akan menuruni tangga. Gadis itu sendiri tidak sadar jika Oliver masih


berada di belakangnya. Selama ini, Nhea mengiri jika gadis itu berada di


sampingnya. Mereka berjalan beriringan. Tapi ternyata dugaannya salah.


“Buruan!” sahut Nhea dari kejauhan.


Tanpa pikir panjang lagi, Oliver segera menganggukkan


kepalanya kemudian bergegas untuk menyusul langkah gadis itu. Tempat ini sudah


mulai terasa sepi. Yang berarti jika lebih dari sebagian orang yang tinggal di lantai


paling atas sudah turun ke bawah semua. Mungkin mereka bahkan sudah sampai di


gedung utama terlebih dahulu. Nhea dan Oliver berpotensi untuk mendapatkan


antrian di posisi paling belakang, karena kemungkinan besar mereka akan menjadi


orang terakhir yang berhasil sampai di tempat itu.


Dugaan Nhea benar. Semua orang ternyata telah berkumpul di


tempat ini. Bahkan nyaris tidak ada lagi tempat duduk yang tersedia. Tapi, Nhea


dan Oliver tidak menjadi orang terakhir yang berhasil sampai di tempat ini.


Masih ada beberapa orang lainnya yang menyusul, tepat setelah mereka mengantri.


“Kita belum terlambat,” ujar Nhea kepada gadis itu.


“Iya,” jawabnya.


Napas keduanya menjadi tersengal-sengal, karena mereka terus


mempercepat langkahnya selama berada di perjalanan tadi. Dengan alasan takut


terlambat. Seperti yang semua orang tahu, jika acara perjamuan makan tidak akan

__ADS_1


dilaksanakan, sebelum semua orang duduk di tempatnya.


__ADS_2