
Chanwo pasti berpikir jika gadis ini benar-benar payah dan
tidak bisa diandalkan. Hwang Ji Na selalu menjadi yang paling hebat saat berada
di dalam hutan kegelapan bersama dengan para klan vampir dan juga klan
bayangan. Mereka akan tampak kuat jika bersama dan menghimpun kekuatan seperti
itu. Tapi, siapa kira jika Hwang Ji Na malah akan berperilaku sebaliknya saat
bertemu dengan kaumnya sendiri.
“Apa kau sungguh tidak bisa menyelamatkan mereka dari
situasi ini?” tanya Chanwo sekali lagi untuk memastikan.
Hwang Ji Na tidak bisa menjawab pertanyaan itu sekarang.
Lidahnya terasa kelu. Perlu usaha lebih baginya untuk berbicara. Gadis itu kini
tampak seperti seorang pengecut yang akan menyerah pada akhirnya.
Dengan susah payah ia menelan salivanya sendiri. Hwang Ji Na
masih belum mnyerah. Ia tengah berusaha untuk mengumpulkan keberanian yang ia
miliki serta segenap sisa tenaga. Menyerah tidak pernah ada di dalam kamusnya
selama ini. Ia akan tetap maju, meski tidak tahu harus berbuat apa. Setidaknya,
ia tak menyerah tanpa isyarat.
“Kita bisa saja menyelesaikan masalah ini jika hanya berdua
saja!” celetuk Chanwo secara tiba-tiba.
Hwang Ji Na lantas memalingkan pandangannya ke arah pria itu. Ia tampak mengerutkan dahinya.
Menatap wajah pria itu dengan seksama. Menelisik setiap inchi raut wajahnya.
Hwang Ji Na tengah berusaha untuk menerka apa yang sedan ia pikirkan saat ini.
“Apa maksudmu?” tanya Hwang Ji Na. Ia memilih untuk menyerah
dengan usahanya sendiri.
Chanwo berdecak sebal, karena lagi-lagi ia harus menjelaskan
setiap detail permasalahannya kepada gadis itu. Sepertinya cuaca yang tidak
bersahabat seperti ini akan mengganggu kinerja otaknya, sehingga ia tidak bisa
memproses apa pun.
“Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk menghadapi mereka?”
usul Chanwo.
“Tapi, bagaimana caranya?” tanya
gadis itu balik.
“Kau hanya perlu berubah menjadi seekor serigala seperti
biasanya, ambil alih mereka. Sementara aku akan mengurus sisanya,” jelas Chanwo
dengan panjang lebar.
Tampak jelas keraguan tergambar di raut wajah gadis itu. Ia
tak benar-benar yakin soal rencana yang diusulkan oleh sang raja. Mereka berdua
sama-sama pemimpin. Harusnya, semua ini bisa berada di dalam kendali mereka
hanya dalam waktu kurang dari satu jam.
__ADS_1
“Kau adalah pemimpinnya,” ujar pria itu.
“Kau terlahir sebagai seekor serigala alpha. Klan yang
memiliki kasta tertinggi dalam sejarah werewolf,” paparnya kemudian.
Hwang Ji Na dan Chanwo saling melempar pandangan satu sama
lain untuk beberapa saat. Chanwo akan melakukan segala cara untuk meyakinkan
gadis itu. Pasalnya, hanya Hwang Ji Na sat-satunya orang yang bisa mengatasi
semua ini. Dia adalah orangnya. Tidak ada yang lain lagi. Chanwo paham betul
jika mereka tidak bisa mengandalkan siapa pun selain Hwang Ji Na pada situasi
genting seperti ini.
Chanwo mungkin bisa membantu, tapi ia tidak bisa berbuat
banyak. Ia hanya bisa mencegah keadaan agar tidak semakin memburuk. Pria itu
tidak bisa mengatasinya. Berbeda lagi ceritanya jika Hwang Ji Na yang bertindak
dan turun tangan secara langsung.
“Kau terlahir sebagai seorang pemimpin,” ucap Chanwo dengan
penuh penekanan.
Hwang Ji Na mengangguk, mengiyakan perkataan pria itu. Tak
bisa dipungkiri, jika kali ini mereka sependapat. Hwang Ji Na setuju dengan apa
yang baru saja dikatakan oleh pria itu.
“Aku percaya jika kita bisa melakukannya,” ujar Hwang Ji Na
dengan penuh keyakinan.
Semangat yang ada di dalam dirinya kembali membara karena
“Sebaiknya kau mulai bersiap dari sekarang, karena kita akan
segera memulai permainannya,” ungkap Chanwo.
Tanpa pikir panjang lagi, sosok pria bertubuh jenjang yang
semula berdiri di sebelah Hwang Ji Na mendadak menghilang. Ia pergi ke barisan
paling depan untuk menghadapi para serigala menyebalkan itu. Chanwo tidak akan
ketahuan oleh siapa pun jika ia terlibat kali ini. Mereka akan bermain secara
elegan kali ini. Kemudian membuat kemenagan dengan kejam.
Chanwo menggunakan kemampuannya untuk berkamuflase di balik
bayangan orang lain, bahkan benda sekalipun. Pria itu bertugas untuk menyerap
tenaga dari para serigala dengan bersembunyi di balik bayangan mereka. Dengan
begitu, tentu tenaganya akan terkuras. Kawanan serigala itu tidak akan banyak
melakukan perlawanan saat Hwang Ji Na maju nanti.
“Buat portal untuk melindungi kita semua!” seru Vallery dari
barisan paling depan.
Semua orang langsung melakukan perintah darinya dengan
segera. Tidak ada pilihan lain lagi. Untuk sementara waktu, setidaknya mereka
bisa berlindung di balik portal buatan sampai menemukan jalan keluarnya. Dengan
__ADS_1
begitu, mereka akan tetap aman. Kawanan serigala tidak bisa menembus portal
tersebut. Hal tersebut terlalu mustahil untuk mereka lakukan.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Bibi Ga Eun kepada
Wilson selaku pemimpin rombongan.
“Kita harus mencari jalan keluarnya,” jawab Wilson.
Mereka tidak bisa terus-terusan berlindung di baliknya.
Portal akan memudar seiring dengan melemahnya energi yang menyokongnya. Cepat
atau lambat, portal buatan ini pasti akan lenyap juga. Tidak akan bertahan
lama. Mereka tidak bisa mengandalkan yang satu ini sebagai senjata utama.
Mau tak mau, mereka harus memutar otak untuk menemukan calan
keluarnya. Saat ini semua orang tengah berpacu dengan waktu. Jika sampai
terlambat dalam mengambil langkah sedetik saja, pasti nyawa yang akan menjadi
taruhannya.
“Kita harus maju dan mulai menghadapi mereka!” celetuk Eun
Ji Hae.
Kini semua mata kembali tertuju kepadanya. Entah sejak kapan
ia datang dan menyimak semua percakapan Wilson dengan wanita itu.
“Apa kau sudah gila?!” sarkas Bibi Ga Eun.
“Sama seperti naga yang ada di danau itu tadi, kita juga
harus menghadapi mereka,” ujar Eun Ji Hae.
“Kalian tidak akan selamat jika hanya diam seperti ini,”
lanjutnya.
“Lebih baik mati saat bertarung dari pada harus berakhir
sia-sia sebagai pengecut!” tukas gadis itu.
Ia terlihat begitu serius dengan ucapannya barusan. Eun Ji
Hae tidak sedang main-main. Gadis itu memang tidak pernah bercanda dalam
situasi yang tidak tepat.
“Jika kalian terlalu takut untuk menghadapinya, maka aku
yang akan membereskan mereka semua sendirian!” cicit Eun Ji Hae.
Mereka hanya membuang-buang waktu dengan terlalu banyak
berpikir seperti ini. Semakin tipis sisa waktu yang dimiliki. Bagaimana bisa
seorang pemimpin seperti Bibi Ga Eun dan juga Wilson terlalu takut dalam
mengambil keputusan.
“Aaaauuuuumm!!!”
Jarak beberapa langkah setelah
Eun Ji Hae beranjak dari tempat ia berdiri semula, tiba-tiba terdengar suara
lolongan serigala. Tapi, kali ini bukan dari salah satu kawanan serigala yang
berada di depan. Mereka sangat yakin soal hal tersebut. Jika diperhatikan
__ADS_1
dengan baik-baik, sepertinya berasal dari arah yang berlawanan dengan pandangan
mereka saat ini.