
Chanwo
sedang sibuk bebers di kamarnya sekarang. Ia melakukan hal yang sama dengan
kebanyakan orang, meski barang-barang miliknya tak terlalu banyak. Sebab pria
itu memang tidak membawa barang sama sekali saat pertama kali pindah ke sini.
Ia hanya membawa dirinya sendiri.
Kali ini ia
tidak sendirian. Melainkan bersama dengan Hwang Ji Na. Gadis itu turun dari
langit-langit kamar Chanwo untuk memastikan jika berita yang baru saja
didengarnya itu benar. Pasalnya ada banyak desas-desus yang mengatakan hal
tersebut. Setiap kali orang lewat dan melintasi koridor ini pasti selalu
mengatakan hal yang sama. Jadi ia memutuskan untuk memastikan hal tersebut
sendiri kepada Chanwo. Dia tahu segalanya soal sekolah ini, karena memang telah
menjadi bagian dari Mooneta. Sekarang orang-orang tidak bisa merahasiakan apa pun
darinya. Ia berhak tahu tentang semua hal yang menyangkut soal sekolah ini.
Gadis itu
duduk di atas tempat tidur Chanwo yang tak lagi bertilam. Ia sudah mengemasi
semuanya. Sementara Chanwo masih sibuk dengan semua pekerjaannya yang tak
kunjung selesai. Ini adalah pertama kalinya bagi pria itu melakukan yang
namanya berkemas dan berpindah. Ia tidak pernah melakukan hal tersebut sebelumnya.
Chanwo selalu berada di istana dengan semua pelayanan yang tersedia.
Sekarang situasinya
telah berbeda. Ia juga sedang tidak berada di dalam istana. Tidak ada yang bisa
diandalkannya di sini. Bahkan jika orang itu adalah Hwang Ji Na sekalipun. Gadis
itu tidak akan suka diperintah. Dia cukup keras kepala. Sama kerasnya dengan
Chanwo.
“Sekarang,
kemana kalian akan pergi?” tanya Hwang Ji Na.
“Mereka
bilang kami akan bergabung bersama Reodal,” jawab pria itu dengan apa adanya.
“Reodal?”
gumam Hwang Ji Na.
Sepertinya ia
belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Selama ini hidupnya hanya sebatas
hutan kegelapan. Dia tidak pernah mengetahui apa pun yang berad di luar sana.
lebih tepatnya ini adalah pertama kalinya bagi Hwang Ji Na untuk melangkahkan
kaki keluar dari hutan. Sama seperti Chanwo. Sebenarnya Hwang Ji Na bisa keluar
kapan saja ia mau. Tidak ada keterikatan khusus. Tapi, gadis itu lebih memilih
untuk tetap berada di dalam hutan meski terkadang terasa membosankan.
“Apakah
keadaan di sana baik-baik saja selama aku tidak ada?” tanya Chanwo tanpa
mengalihkan pandangannya sama sekali.
“Seperti
yang kau tahu jika adikmu cukup berbakat untuk mengatur semua itu,” kata Hwang Ji Na.
__ADS_1
“Bahkan
lebih berbakat darimu!” tukasnya.
“Apa kau
mencoba untuk mengejekku?” tanya Chanwo lagi.
“Kau cukup
pintar untuk menganalisis hal itu seharusnya,” balas gadis itu secara gamblang.
Chanwo tahu
jika gadis itu hanya sedang bercanda dengannya. Tidak perlu terlalu dipikirkan.
Mereka sudah biasa untuk bersikap seperti ini. Jadi bukan lagi sesuatu yang
mengejutkan bagi keduanya.
***
Semua orang
diminta untuk langsung pergi ke aula utama pada pukul setengan dua belas malam.
Mereka semua akan berkumpul di sana terlabih dahulu sebelum akhirnya pergi. Tidak
mudah untuk melewati tumpukan salju di luar sana. Mereka tak akan selamat jika
tidak menggunakan bantuan. Paling tidak untuk menghindari salju mematikan itu.
Hwang Ji Na
akan ikut bersama Chanwo kali ini. Ia tidak akan bergerak secara
sembunyi-sembunyi seperti sebelumnya. Lagi pula tidak akan ada seorang pun yang
mencurigainya. Mereka tidak akan pernah tahu jika ada klan alpha yang menyusup
masuk ke sini dan berpura-pura menjadi salah satu bagian dari sekolah.
Keberadaan
Hwang Ji Na tidak akan pernah mengusik siapapun. Dia bukan ancaman bagi
tidak ada yang berusaha untuk membuat masalah.
Sekarang
semua orang telah berkumpul di aula utama telah bersiap untuk berangkat. Menurut
kabar, salju abadi hanya menyebar di sepanjang gedung ini saja. Jadi mereka
tidak boleh menyentuh salju itu sama sekali. Pegasus akan mengantarkannya
sampai melewati pintu gerbang sekolah. Hal tersebut akan menghindari kecelakaan
tak terduga. Kebetulan mala mini salju sedang tidak turun. Jadi setidaknya
mereka bisa merasa jauh lebih aman.
Sementara pegasus
sibuk bekerja untuk mengantarkan semua orang ke tepian, para griffin malah
sibuk mengangkat barang-barang. Mereka benar-benar akan pindah dari sini.
Bersama dengan para pegasus dan juga griffin.
“Sebenarnya
aku bisa saja pergi dari sini terlebih dahulu jika aku mau,” ujar Hwang Ji Na.
“Tapi entah
kenapa aku bersikap terlalu baik sampai enggan untuk meninggalkanmu,” timpalnya
kemudian.
“Apakah aku
juga akan membeku jika menyentuh salju abadi?” tanya Chanwo.
“Mungkin
__ADS_1
tidak,” balas gadis itu.
“Seharusnya
hanya manusia saja yang merasa terancam. Tidak dengan vampir sepertimu!”
tukasnya.
Dengan cepat
pria itu segera membungkam mulut Hwang Ji Na. Bagaimana bisa ia berbicara
dengan begitu tenang. Apakah gadis itu sama sekali tidak tahu jika ia telah
membuat Chanwo nyaris terjebak dalam masalah. Hwang Ji Na melontarkan kalimat
tersebut di tengah-tengah ruangan saat mereka tengah berada di antara ratusan
orang.
Jalan pikirannya
sungguh pendek. Sangat disayangkan. Dia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi
ke depannya jika ia terus bersikap seperti ini.
“Apa kau
berencana ingin membunuhku secara tidak langsung?” ucap Chanwo dengan penuh
penekanan.
“Lepaskan
aku!” seru gadis itu.
Chanwo langsung
menuruti perkataannya. Bukan karena ia tunduk kepada Hwang Ji Na. Melainkan
karena tidak ada pilihan lain. Jika ia terus berusaha untuk menahan gadis itu,
maka mereka akan menjadi pusat perhatian. Masalahnya akan semakin besar nanti.
“Aih!
Lihatlah betapa menyebalkannya dirimu!” umpat Hwang Ji Na.
“Seharusnya
aku yang berkata seperti itu kepadamu!” balas Chanwo yang tak ingin kalah dari
gadis itu.
Hwang Ji Na
memutar bola matanya malas. Menunggu giliran untuk pergi keluar benar-benar
membosankan. Bahkan ia sampai terlibat perkelahian kecil dengan Chanwo. Padahal
ia tak perlu menunggu. Hwang Ji Na bisa langsung keluar tanpa harus takut akan
membeku. Reaksi mengerikan semacam itu tidak akan pernah terjadi kepadanya
selama ia masih memiliki gen dari klan alpha.
Partikel terkecil
dari salju abadi hanya akan menandari dan menyerang sel manusia. Tidak dengan
hewan atau bahkan mahluk dari klan lainnya. Bahkan Eun Ji Hae pun bisa langsung
pergi tanpa perlu menunggu jemputan. Ia akan baik-baik saja. Mengingat jika
sekarang gadis itu bukan lagi seorang manusia biasa. Melainkan memiliki jati
diri sebagai phoenix. Hal tersebut cukup untuk membuktikan jika ia tidak akan
mengalami reaksi serupa.
Ada beberapa
orang yang mendapatkan keistimewaan di sini. Tapi mereka memilih untuk tidak
menggunakannya pada saat genting seperti sekarang. Hal tersebut hanya akan
__ADS_1
mengancam identitasnya.