
Suasana di tempat ini sudah benar-benar sepi. Kelihatannya semua
orang telah tertidur dengan pulas. Lagi pula memangnya siapa yang masih terjaga
pada pukul segini. Sekarang sudah hampir pukul tiga pagi. Beberapa jam lagi
matahari akan segera keluar dari sangkarnya di ufuk timur.
Mendadak Oliver terjaga dari tidurnya karena terdapat
desakan ingin buang air kecil dari dalam dirinya. Mau tak mau ia harus bangun. Padahal
matanya masih sangat mengantuk rasanya. Ia bahkan tidak bisa mengangkat kelopak
matanya sama sekali. Gadis itu harus segera beranjak dari sini jika tidak ingin
air urinnya membasahi kasur miliknya. Lagi pula ini musim dingin. Akan sulit
untuk membersihkannya.
“Aih!!! Kenapa harus sekarang?!” gerutunya sebal.
Dengan kondisi yang masih setengah sadar dan kelopak mata
yang bahkan belum berbuka sama sekali, Oliver beranjak pergi dari kasurnya. Ia menentukan
jalanan berdasarkan sesuatu yang berhasil ia raba. Ia terpaksa harus tetap
melekat pada tembok agar tidak salah jalan. Rasa kantuk yang menyelimutinya
sejak tadi, membuat gadis ini sulit untuk membuka matanya. Bahkan terbuka
sebagian saja tidak bisa.
Untungnya kamar mandinya masih berada di lantai yang sama
dengan kamar tempat ia tidur tadi. Jadi, akan lebih mudah untuk menjangkaunya
dan tidak perlu bersusah payah menuruni tangga malam-malam seperti ini. Merepotkan
saja.
Sebenarnya bagunan ini telah dirancang dengan sedemikian
rupa. Mereka sengaja meletakkan paling tidak satu kamar mandi di setiap lantai
pada bangunan ini. Tentu saja dengan tujuan untuk mempermudah hidup setiap
orang yang berada di sini. Alasan yang paling utama di sini adlaah untuk
membuat mereka merasa nyaman saat tinggal di sini. Pasalnya, setiap murid yang
bersekolah di sni diwajibkan untuk tinggal di asrama. Mereka akan diisolasi dari
dunia luar. Mereka tidak bisa berhubungan dengan orang yang berada di luar
sekolan ini.
***
“Akhirnya,” ucap Oliver sambil menghela napas panjang.
Kali ini ia sudah merasa jauh labih baik dari pada
sebelumnya. Dalam hal apa pun itu. Kini ia berhasil mendapatkan kesadarannya
kembali. Tadi Oliver sengaja membasuh mukanya, agar ia tidak perlu kembali ke
__ADS_1
kamarnya denganc ara yang sama seperti tadi. Jika begini kan ia bisa melihat
jalanan di depannya dengan jelas.
Setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, gadis itu
memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya. Lagi pula untuk apa ia berlama-lama
di luar seperti ini. Terlebih sekarang sudah larut malam dan tidak ada
siapa-siapa di sini kecuali dirinya sendiri.
Menatap jalanan dengan pencahayaan yang minim di depannya
saja, sukses membuat bulu kuduk gadis ini meremang. Ia berdigik ngeri
membayangkan berbagai macam hal buruk yang belum tentu akan terjadi. Situasi koridor
saat ini jauh lebih gelap dari pada beberapa jam sebelumnya. itu dikarenakan,
sebagian besar lentera memang sengaja dimatikan saat jam memasuki jam dua belas
malam. Ini adalah salah satu upaya yang bisa mereka lakukan dalam rangka
penghematan. Lagi pula tidak ada gunanya jika dibuat terlalu terang.
Sejauh ini tidak ada sesuatu yang aneh terjadi. Tapi entah
kenapa Oliver terus merasa tidak tenang saat melewati koridor yang satu ini. Padahal
ini bukan pertama kalinya bagi gadis itu untuk melintas di tempat ini pada
malam hari. Bahkan ia pernah lelewati tempat ini pada pukul empat pagi. Saat itu
ia baru saja kembali dari perpustakaan untuk menyelesaikan tugas akhir
‘TAP! TAP! TAP!’
Tempat ini terlalu sepi. Sampai suara langkah kakinya saja
terdengar nyaring seperti menggema di seluruh penjuru ruangan ini. Bahkan suara
telapak sepatu yang sedang beradu dengan lantai saja terasa menyeramkan
baginya. Sukses untuk menambah kesan horror tempat ini.
Ia memang belajar di akademi sihir. Tapi hanya sihir. Tidak dengan
hal-hal supranatural lainnya. Apa lagi jika harus memiliki sangkut paut dengan
mahluk dari alam lain yang sudah berbeda dimensi dengan mereka. Oliver tidak
akan mau melakukan hal tersebut.
“Kenapa hawanya semakin terasa dingin?” gumam gadis itu.
Ia merapatkan baju hangatnya, agar hawa dingin tersebut
tidak menyeruak masuk melalui pori-pori kulitnya. Oliver bisa jatuh sakit
karena hal kecil seperti ini. Bisa-bisa ia malah terserang flu atau bahkan
sampai demam karena suhu udara yang terlalu dingin.
Gadis itu menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk
mengintip ke luar jendela. Memastikan apakah mala mini akan ada badai susulan
__ADS_1
atau tidak. Pasalnya, ia merasa jika suhunya mendadak turun. Tapi setelah
dilihat, tidak ada apa-apa yang terjadi di luar sana. Tidak ada badai atau apa
pun itu. Semuanya terasa tenang dan lengang. Bahkan tidak ada salju yang turun malam
ini.
‘BRAK!!!’
Oliver spontan mundur beberapa langkah, sampai tubuhnya
menghantam tembok. Tempo detak jantungnya melonjak naik dengan cepat. Kini organ
yang satu itu tengah berpacu untuk memompa darah lebih cepat lagi. Gadis itu
tidak bisa berkata-kata. Napasnya terasa begitu memburu. Bahkan tangannya
bergetar dengan hebat saat ini.
Ia sama skeali tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia
lihat saat ini. Otaknya menolak untuk percaya. Oliver sudah mati ketakutan di
tempat ini. Tenaganya habis. Ia mendadak lemas tak berdaya. Bahkan untuk
sekedar berteriak ketakutan saja tidak bisa. Jantungnya hampir copot tadi.
Bagaimana ia tidak keget coba. Tiba-tiba saja seekor burung
gagak menghantam kaca jendela yang sedang ditatap oleh Oliver pada saat itu. Bukan
hanya sampai di situ saja. Masih ada hal lain yang jauh lebih mengejutkan lagi. Burung itu penuh akan
darah, karena tubuhnya tertancap oleh sebuah panah yang entah dari mana
datangnya. Hal tersebut membua seluruh permukaan kaca jendela itu menjadi
berwarna merah karena berlumuran darah.
Masalahnya, dari mana datangnya anak panah itu. Siapa yang
memanah seekor burung pada jam segini. Terlebih yang ia panah saat ini adalah
seekor burung gagak sungguh tidak masuk akal sama sekali. Bagaimana bisa semua
ini terjadi.
Tanpa pikir panjang lagi, Oliver segera berlari dengan sekencang-kencangnya.
Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Meski pun kakinya sudah
terasa lemas, ia tetap memaksakan dirinya untuk segera pergi dari sana. Setelah
melihat kejadian tadi, membuat gadis itu tidak mau berlama-lama berada di sana.
Ada yang tidak beres. Dan ini bukan masalah biasa. Bahkan akal sehat manusia
saja tidak mampu untuk menjelaskan semua yang terjadi barusan.
Oliver nyaris menjadi
gila karena kejadian barusan. Begitu sampai di dalam kamar, ia langsung menutup
pintunya rapat-rapat. Bahkan gadis itu menutupnya dengan sangat kencang, hingga
menimbulkan suara debaman. Benda-benda yang berada di sekitarnya ikut bergetar
__ADS_1
pelan.