Mooneta High School

Mooneta High School
Midnight Mistery


__ADS_3

Suasana di tempat ini sudah benar-benar sepi. Kelihatannya semua


orang telah tertidur dengan pulas. Lagi pula memangnya siapa yang masih terjaga


pada pukul segini. Sekarang sudah hampir pukul tiga pagi. Beberapa jam lagi


matahari akan segera keluar dari sangkarnya di ufuk timur.


Mendadak Oliver terjaga dari tidurnya karena terdapat


desakan ingin buang air kecil dari dalam dirinya. Mau tak mau ia harus bangun. Padahal


matanya masih sangat mengantuk rasanya. Ia bahkan tidak bisa mengangkat kelopak


matanya sama sekali. Gadis itu harus segera beranjak dari sini jika tidak ingin


air urinnya membasahi kasur miliknya. Lagi pula ini musim dingin. Akan sulit


untuk membersihkannya.


“Aih!!! Kenapa harus sekarang?!” gerutunya sebal.


Dengan kondisi yang masih setengah sadar dan kelopak mata


yang bahkan belum berbuka sama sekali, Oliver beranjak pergi dari kasurnya. Ia menentukan


jalanan berdasarkan sesuatu yang berhasil ia raba. Ia terpaksa harus tetap


melekat pada tembok agar tidak salah jalan. Rasa kantuk yang menyelimutinya


sejak tadi, membuat gadis ini sulit untuk membuka matanya. Bahkan terbuka


sebagian saja tidak bisa.


Untungnya kamar mandinya masih berada di lantai yang sama


dengan kamar tempat ia tidur tadi. Jadi, akan lebih mudah untuk menjangkaunya


dan tidak perlu bersusah payah menuruni tangga malam-malam seperti ini. Merepotkan


saja.


Sebenarnya bagunan ini telah dirancang dengan sedemikian


rupa. Mereka sengaja meletakkan paling tidak satu kamar mandi di setiap lantai


pada bangunan ini. Tentu saja dengan tujuan untuk mempermudah hidup setiap


orang yang berada di sini. Alasan yang paling utama di sini adlaah untuk


membuat mereka merasa nyaman saat tinggal di sini. Pasalnya, setiap murid yang


bersekolah di sni diwajibkan untuk tinggal di asrama. Mereka akan diisolasi dari


dunia luar. Mereka tidak bisa berhubungan dengan orang yang berada di luar


sekolan ini.


***


“Akhirnya,” ucap Oliver sambil menghela napas panjang.


Kali ini ia sudah merasa jauh labih baik dari pada


sebelumnya. Dalam hal apa pun itu. Kini ia berhasil mendapatkan kesadarannya


kembali. Tadi Oliver sengaja membasuh mukanya, agar ia tidak perlu kembali ke

__ADS_1


kamarnya denganc ara yang sama seperti tadi. Jika begini kan ia bisa melihat


jalanan di depannya dengan jelas.


Setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, gadis itu


memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya. Lagi pula untuk apa ia berlama-lama


di luar seperti ini. Terlebih sekarang sudah larut malam dan tidak ada


siapa-siapa di sini kecuali dirinya sendiri.


Menatap jalanan dengan pencahayaan yang minim di depannya


saja, sukses membuat bulu kuduk gadis ini meremang. Ia berdigik ngeri


membayangkan berbagai macam hal buruk yang belum tentu akan terjadi. Situasi koridor


saat ini jauh lebih gelap dari pada beberapa jam sebelumnya. itu dikarenakan,


sebagian besar lentera memang sengaja dimatikan saat jam memasuki jam dua belas


malam. Ini adalah salah satu upaya yang bisa mereka lakukan dalam rangka


penghematan. Lagi pula tidak ada gunanya jika dibuat terlalu terang.


Sejauh ini tidak ada sesuatu yang aneh terjadi. Tapi entah


kenapa Oliver terus merasa tidak tenang saat melewati koridor yang satu ini. Padahal


ini bukan pertama kalinya bagi gadis itu untuk melintas di tempat ini pada


malam hari. Bahkan ia pernah lelewati tempat ini pada pukul empat pagi. Saat itu


ia baru saja kembali dari perpustakaan untuk menyelesaikan tugas akhir


‘TAP! TAP! TAP!’


Tempat ini terlalu sepi. Sampai suara langkah kakinya saja


terdengar nyaring seperti menggema di seluruh penjuru ruangan ini. Bahkan suara


telapak sepatu yang sedang beradu dengan lantai saja terasa menyeramkan


baginya. Sukses untuk menambah kesan horror tempat ini.


Ia memang belajar di akademi sihir. Tapi hanya sihir. Tidak dengan


hal-hal supranatural lainnya. Apa lagi jika harus memiliki sangkut paut dengan


mahluk dari alam lain yang sudah berbeda dimensi dengan mereka. Oliver tidak


akan mau melakukan hal tersebut.


“Kenapa hawanya semakin terasa dingin?” gumam gadis itu.


Ia merapatkan baju hangatnya, agar hawa dingin tersebut


tidak menyeruak masuk melalui pori-pori kulitnya. Oliver bisa jatuh sakit


karena hal kecil seperti ini. Bisa-bisa ia malah terserang flu atau bahkan


sampai demam karena suhu udara yang terlalu dingin.


Gadis itu menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk


mengintip ke luar jendela. Memastikan apakah mala mini akan ada badai susulan

__ADS_1


atau tidak. Pasalnya, ia merasa jika suhunya mendadak turun. Tapi setelah


dilihat, tidak ada apa-apa yang terjadi di luar sana. Tidak ada badai atau apa


pun itu. Semuanya terasa tenang dan lengang. Bahkan tidak ada salju yang turun malam


ini.


‘BRAK!!!’


Oliver spontan mundur beberapa langkah, sampai tubuhnya


menghantam tembok. Tempo detak jantungnya melonjak naik dengan cepat. Kini organ


yang satu itu tengah berpacu untuk memompa darah lebih cepat lagi. Gadis itu


tidak bisa berkata-kata. Napasnya terasa begitu memburu. Bahkan tangannya


bergetar dengan hebat saat ini.


Ia sama skeali tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia


lihat saat ini. Otaknya menolak untuk percaya. Oliver sudah mati ketakutan di


tempat ini. Tenaganya habis. Ia mendadak lemas tak berdaya. Bahkan untuk


sekedar berteriak ketakutan saja tidak bisa. Jantungnya hampir copot tadi.


Bagaimana ia tidak keget coba. Tiba-tiba saja seekor burung


gagak menghantam kaca jendela yang sedang ditatap oleh Oliver pada saat itu. Bukan


hanya sampai di situ saja. Masih ada hal lain yang jauh  lebih mengejutkan lagi. Burung itu penuh akan


darah, karena tubuhnya tertancap oleh sebuah panah yang entah dari mana


datangnya. Hal tersebut membua seluruh permukaan kaca jendela itu menjadi


berwarna merah karena berlumuran darah.


Masalahnya, dari mana datangnya anak panah itu. Siapa yang


memanah seekor burung pada jam segini. Terlebih yang ia panah saat ini adalah


seekor burung gagak sungguh tidak masuk akal sama sekali. Bagaimana bisa semua


ini terjadi.


Tanpa pikir panjang lagi, Oliver segera berlari dengan sekencang-kencangnya.


Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Meski pun kakinya sudah


terasa lemas, ia tetap memaksakan dirinya untuk segera pergi dari sana. Setelah


melihat kejadian tadi, membuat gadis itu tidak mau berlama-lama berada di sana.


Ada yang tidak beres. Dan ini bukan masalah biasa. Bahkan akal sehat manusia


saja tidak mampu untuk menjelaskan semua yang terjadi barusan.


Oliver nyaris  menjadi


gila karena kejadian barusan. Begitu sampai di dalam kamar, ia langsung menutup


pintunya rapat-rapat. Bahkan gadis itu menutupnya dengan sangat kencang, hingga


menimbulkan suara debaman. Benda-benda yang berada di sekitarnya ikut bergetar

__ADS_1


pelan.


__ADS_2