
Chanwo tidak langsung menjawab pertanyaan Nhea barusan.
Mereka saling membisu untuk beberapa saat di awal.
“Apa kau ingin meledekku?” tanya Nhea setengah menuduh.
“Memangnya kenapa kau sampai berpikir jika aku akan
melakukan hal seperti itu kepadamu?” tanya pria itu balik.
Pertanyaan Chanwo barusan berhasil membungkan mulutnya. Ia
tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Yang Nhea katakan sebelumnya tadi
hanya refleks. Sebab, kebanyakan orang saat ini pasti sedang menggunjing
timnya. Nhea bisa merasakan hal tersebut. Sejak tadi telinganya menjadi panas
karena mendengar obrolan orang-orang tersebut dari kejauhan.
‘PUK! PUK!’
Secara mengejutkan, tangan pria itu beralih ke kepala Nhea.
Mengusapnya dengan penuh kasih sayang. Ia sama sekali belum pernah mendapatkan
perlakuan seperti ini sebelumnya. Entah dari siapa pun itu. Ini adalah pertama
kalinya Nhea merasakan hal tersebut. Seumur hidup, dunia hanya bisa
menyalahkannya. Tanpa pernah merangkul dirinya untuk sekedar menenangkan diri.
Ia mematung di tempat. Lidahnya mendadak kelu. Ia tidak tahu
harus berbuat apa. Bahkan pada saat seperti ini, otaknya tidak bisa di ajak
bekerja sama.
Belum sempat gadis itu berdamai dengan dirinya sendiri,
lagi-lagi Chanwo bertindak tanpa peringatan sama sekali sebelumnya. Wajar saja
jika Nhea kaget. Pria itu menarik tubuhnya ke dalam dekapannya. Untuk pertama
kalinay pula seseorang mendekapnya tanpa ada rasa hangat sama sekali. Sekujur
tubuh pria ini dingin bak es.
“Kau tidak perlu merasa bersalah atas semua ini. Karena
bagaimanapun juga, yang apa yang terjadi hari ini bukan salahmu,” ujar Chanwo.
Entah kenapa kali ini kalimat darinya terasa begitu
menenangkan. Padahal, biasanya juga tidak pernah. Mungkin rasanya tidak akan
sama jika orang lain yang mengatakannya.
Kedua bola matanya membuat dengan sempurna, ketika Chanwo
menarik dirinya lebih dalam lagi ke dalam pelukannya. Nyaris tidak ada jarak
sama sekali di antara mereka sekarang. Sebuah organ di dalam sana berhasil
meningkatkan tempo secara pasti. Jantungnya bergedup kencang. Ia berharap agar
Chanwo tidak bisa merasakan hal tersebut. Bukankah sangat memalukan jika sampai
ia ketahuan sedang gugup di depan pria itu? Sungguh konyol.
“Mereka juga salah. Kau bukan satu-satunya orang yang salah
di sini,” ungkap pria itu.
“Jika bukan aku seorang yang salah, kenapa mereka hanya bisa
__ADS_1
menyalahkanku saja?” tanya Nhea dengan nada bergetar.
“Dasar cengeng! Kenapa kau harus menangis seperti ini
bodoh!” batin gadis itu dalam hati.
Benar, ia terlalu kerasa terhadap dirinya sendiri. Bahkan
Nhea nyaris tidak memberikan kesempatan sedikit pun kepada dirinya sendiri
untuk jujur. Ringkasnya ia hanya memiliki satu alasan. Nhea tidak ingin dirinya
terlihat lemah di hadapan orang lain. Sebab, musuh pasti akan memanfaatkan
celah tersebut untuk menyerangmu.
Sejak kecil ia tidak pernah bisa mengekspresikan emosinya.
Yang Nhea lakukan selama ini hanya memendamnya. Apakah salah jika ia tidak bisa
menyatakan emosinya dengan baik? Rasanya tidak. Sebab, percuma saja. Tidak akan
ada yang peduli dengan hal tersebut. Bahkan jika Nhea sungguh menunjukkan
emosinya.
Nhea sudah dilatih untuk hidup mandiri. Melakukan apa-apa
sendiri. Padahal ia masih terlalu kecil pada saat itu. Memangnya anak kecil
mana yang bisa mengatasi semua masalah yang timbul di dalam hidupnya dengan
sendirian? Paling tidak mereka pasti membutuhkan bantuan orang dewasa.
“Mereka hanya tidak bisa mengerti perasaanmu. Itu sebabnya
kenapa orang-orang tersebut memperlakukanmu secara tidak adil. Seolah-olah kau
adalah pihak yang paling bersalah di sini,” jelas Chanwo dengan panjang lebar
Sebenarnya, ia tidak pernah melakukan hal semacam ini
sebelumnya. Jangankan menghiibur orang lain, menghibur dirinya sendiri saja
kadang ia tidak bisa. Tapi, ajaibnya untuk kali ini semua itu seperti menjadi
sebuah pengecualian. Chanwo sendiri juga nyaris tidak percaya jika ia berhasil
membuat Nhea merasa aman bersamanya. Setidaknya gadis itu sudah jauh lebih
tenang jika dibandingkan dengan yang sebelumnya.
“Mungkin aku juga tidak bisa mengerti dirimu sepenuhnya.
Namun, aku akan melakukan apa saja yang kau minta. Paling tidak, dengan begitu
mungkin kau akan merasa jauh lebih tenang,” ungkap Chanwo yang kemudian
berakhir dengan sebuah penawaran.
“Mana bisa kau melakukannya!” celetuk gadis itu.
“Kenapa tidak?” tanya Chanwo.
“Saat ini kau butuh seseorang yang bisa percaya kepadamu.
Tidakkah kau sadar jika sekarang semesta tengah menyerangmu?” jelas pria itu
kemudian.
“Kau perlu membela dirimu sendiri!” tegasnya sekali lagi.
Untuk beberapa saat Nhea masih tetap bergeming. Ia tidak
tahu harus membalas bagaimana. Saat ini semua hal terasa begitu membingungkan
__ADS_1
baginya. Ada terlalu banyak hal yang tidak bisa ia mengerti di sini.
“Untuk apa aku membela diriku sendiri, padahal sudah jelas
jika aku bersalah?” tanya Nhea sekali lagi.
“Hal tersebut hanya akan membuatku terlihat semakin konyol
di hadapan semua orang,” lanjutnya.
Gadis itu sudah benar-benar pasrah dengan apa yang akan
terjadi ke depannya. Yang jelas, jika tuduhannya benar, maka ia tidak akan
melakukan pembelaan dalam bentuk apa pun. Hanya seorang pecundangan yang mencoba
lari dari masalahnya sendiri. Nhea tidak ingin dicap seperti itu oleh orang
lain.
Chanwo melepaskan dekapannya. Kemudin kedua tangannya
beralih ke pundak gadis itu. Mencengkramnya dengan kuat, tapi tidak sampai
membuat Nhea merasa tak nyaman. Ia hanya sedang berusaha untuk menguatkannya
saja. Yang dibutuhkan oleh Nhea pada saat ini adalah dukungan. Emosi dan
keadaannya sedang tidak stabil sekarang.
Chanwo tahu jika keluarganya pasti tidak akan ada yang
melakukan hal tersebut. Mungkin hanya Oliver dan beberapa temannya yang lain.
Bahkan anggota tim pasti juga akan menyerangnya. Menuduhnya melakukan
kesalahan, yang padahal tidak pernah ia lakukan sama sekali.
Seperti yang dikatakan di awal tadi, orang-orang hanya akan
melihat hasil. Mereka tidak peduli dengan prosesnya. Manusia memang seegois itu
bukan? Tidak bisa menghargai proses orang lain.
“Mereka tidak akan pernah tahu jika tidak berada di
posisiku,” batin Nhea dalam hati.
Orang-orang itu hanya bisa melemparkan komentar tanpa rasa
bertanggungjawab. Tidak ingin melihat faktanya sama sekali. Atau bahkan
memikirkan perasaan orang lain yang sedang dikomentarinya itu. Mulutmu adalah
harimaumu. Jangan salah! Kau bisa membunuh orang lain secara tidak langsung
hanya dengan mulutmu sendiri. Terdengar tidak masuk akal memang, namun hal
tersebut benar adanya.
“Nhea!” sahut seseorang.
Sontak Nhea langsung membenarkan posisinya. Ia tidak ingin
sampai terjadi salah paham. Mereka bisa berpikir yang aneh-aneh jika Nhea tidak
segera meluruskannya. Begitu pula dengan Chanwo. Pria itu tidak mau mendapatkan
masalah baru.
Sepasang manik mata yang mengkilap itu mengedarkan
pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Mencari arah sumber suara. Chanwo juga
tak diam saja. Ia ikut serta membantu Nhea. Mungkin pengelihatannya akan jauh
__ADS_1
lebih tajam dari pada gadis itu.