Mooneta High School

Mooneta High School
Penyemangat


__ADS_3

Chanwo tidak langsung menjawab pertanyaan Nhea barusan.


Mereka saling membisu untuk beberapa saat di awal.


“Apa kau ingin meledekku?” tanya Nhea setengah menuduh.


“Memangnya kenapa kau sampai berpikir jika aku akan


melakukan hal seperti itu kepadamu?” tanya pria itu balik.


Pertanyaan Chanwo barusan berhasil membungkan mulutnya. Ia


tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Yang Nhea katakan sebelumnya tadi


hanya refleks. Sebab, kebanyakan orang saat ini pasti sedang menggunjing


timnya. Nhea bisa merasakan hal tersebut. Sejak tadi telinganya menjadi panas


karena mendengar obrolan orang-orang tersebut dari kejauhan.


‘PUK! PUK!’


Secara mengejutkan, tangan pria itu beralih ke kepala Nhea.


Mengusapnya dengan penuh kasih sayang. Ia sama sekali belum pernah mendapatkan


perlakuan seperti ini sebelumnya. Entah dari siapa pun itu. Ini adalah pertama


kalinya Nhea merasakan hal tersebut. Seumur hidup, dunia hanya bisa


menyalahkannya. Tanpa pernah merangkul dirinya untuk sekedar menenangkan diri.


Ia mematung di tempat. Lidahnya mendadak kelu. Ia tidak tahu


harus berbuat apa. Bahkan pada saat seperti ini, otaknya tidak bisa di ajak


bekerja sama.


Belum sempat gadis itu berdamai dengan dirinya sendiri,


lagi-lagi Chanwo bertindak tanpa peringatan sama sekali sebelumnya. Wajar saja


jika Nhea kaget. Pria itu menarik tubuhnya ke dalam dekapannya. Untuk pertama


kalinay pula seseorang mendekapnya tanpa ada rasa hangat sama sekali. Sekujur


tubuh pria ini dingin bak es.


“Kau tidak perlu merasa bersalah atas semua ini. Karena


bagaimanapun juga, yang apa yang terjadi hari ini bukan salahmu,” ujar Chanwo.


Entah kenapa kali ini kalimat darinya terasa begitu


menenangkan. Padahal, biasanya juga tidak pernah. Mungkin rasanya tidak akan


sama jika orang lain yang mengatakannya.


Kedua bola matanya membuat dengan sempurna, ketika Chanwo


menarik dirinya lebih dalam lagi ke dalam pelukannya. Nyaris tidak ada jarak


sama sekali di antara mereka sekarang. Sebuah organ di dalam sana berhasil


meningkatkan tempo secara pasti. Jantungnya bergedup kencang. Ia berharap agar


Chanwo tidak bisa merasakan hal tersebut. Bukankah sangat memalukan jika sampai


ia ketahuan sedang gugup di depan pria itu? Sungguh konyol.


“Mereka juga salah. Kau bukan satu-satunya orang yang salah


di sini,” ungkap pria itu.


“Jika bukan aku seorang yang salah, kenapa mereka hanya bisa

__ADS_1


menyalahkanku saja?” tanya Nhea dengan nada bergetar.


“Dasar cengeng! Kenapa kau harus menangis seperti ini


bodoh!” batin gadis itu dalam hati.


Benar, ia terlalu kerasa terhadap dirinya sendiri. Bahkan


Nhea nyaris tidak memberikan kesempatan sedikit pun kepada dirinya sendiri


untuk jujur. Ringkasnya ia hanya memiliki satu alasan. Nhea tidak ingin dirinya


terlihat lemah di hadapan orang lain. Sebab, musuh pasti akan memanfaatkan


celah tersebut untuk menyerangmu.


Sejak kecil ia tidak pernah bisa mengekspresikan emosinya.


Yang Nhea lakukan selama ini hanya memendamnya. Apakah salah jika ia tidak bisa


menyatakan emosinya dengan baik? Rasanya tidak. Sebab, percuma saja. Tidak akan


ada yang peduli dengan hal tersebut. Bahkan jika Nhea sungguh menunjukkan


emosinya.


Nhea sudah dilatih untuk hidup mandiri. Melakukan apa-apa


sendiri. Padahal ia masih terlalu kecil pada saat itu. Memangnya anak kecil


mana yang bisa mengatasi semua masalah yang timbul di dalam hidupnya dengan


sendirian? Paling tidak mereka pasti membutuhkan bantuan orang dewasa.


“Mereka hanya tidak bisa mengerti perasaanmu. Itu sebabnya


kenapa orang-orang tersebut memperlakukanmu secara tidak adil. Seolah-olah kau


adalah pihak yang paling bersalah di sini,” jelas Chanwo dengan panjang lebar


Sebenarnya, ia tidak pernah melakukan hal semacam ini


sebelumnya. Jangankan menghiibur orang lain, menghibur dirinya sendiri saja


kadang ia tidak bisa. Tapi, ajaibnya untuk kali ini semua itu seperti menjadi


sebuah pengecualian. Chanwo sendiri juga nyaris tidak percaya jika ia berhasil


membuat Nhea merasa aman bersamanya. Setidaknya gadis itu sudah jauh lebih


tenang jika dibandingkan dengan yang sebelumnya.


“Mungkin aku juga tidak bisa mengerti dirimu sepenuhnya.


Namun, aku akan melakukan apa saja yang kau minta. Paling tidak, dengan begitu


mungkin kau akan merasa jauh lebih tenang,” ungkap Chanwo yang kemudian


berakhir dengan sebuah penawaran.


“Mana bisa kau melakukannya!” celetuk gadis itu.


“Kenapa tidak?” tanya Chanwo.


“Saat ini kau butuh seseorang yang bisa percaya kepadamu.


Tidakkah kau sadar jika sekarang semesta tengah menyerangmu?” jelas pria itu


kemudian.


“Kau perlu membela dirimu sendiri!” tegasnya sekali lagi.


Untuk beberapa saat Nhea masih tetap bergeming. Ia tidak


tahu harus membalas bagaimana. Saat ini semua hal terasa begitu membingungkan

__ADS_1


baginya. Ada terlalu banyak hal yang tidak bisa ia mengerti di sini.


“Untuk apa aku membela diriku sendiri, padahal sudah jelas


jika aku bersalah?” tanya Nhea sekali lagi.


“Hal tersebut hanya akan membuatku terlihat semakin konyol


di hadapan semua orang,” lanjutnya.


Gadis itu sudah benar-benar pasrah dengan apa yang akan


terjadi ke depannya. Yang jelas, jika tuduhannya benar, maka ia tidak akan


melakukan pembelaan dalam bentuk apa pun. Hanya seorang pecundangan yang mencoba


lari dari masalahnya sendiri. Nhea tidak ingin dicap seperti itu oleh orang


lain.


Chanwo melepaskan dekapannya. Kemudin kedua tangannya


beralih ke pundak gadis itu. Mencengkramnya dengan kuat, tapi tidak sampai


membuat Nhea merasa tak nyaman. Ia hanya sedang berusaha untuk menguatkannya


saja. Yang dibutuhkan oleh Nhea pada saat ini adalah dukungan. Emosi dan


keadaannya sedang tidak stabil sekarang.


Chanwo tahu jika keluarganya pasti tidak akan ada yang


melakukan hal tersebut. Mungkin hanya Oliver dan beberapa temannya yang lain.


Bahkan anggota tim pasti juga akan menyerangnya. Menuduhnya melakukan


kesalahan, yang padahal tidak pernah ia lakukan sama sekali.


Seperti yang dikatakan di awal tadi, orang-orang hanya akan


melihat hasil. Mereka tidak peduli dengan prosesnya. Manusia memang seegois itu


bukan? Tidak bisa menghargai proses orang lain.


“Mereka tidak akan pernah tahu jika tidak berada di


posisiku,” batin Nhea dalam hati.


Orang-orang itu hanya bisa melemparkan komentar tanpa rasa


bertanggungjawab. Tidak ingin melihat faktanya sama sekali. Atau bahkan


memikirkan perasaan orang lain yang sedang dikomentarinya itu. Mulutmu adalah


harimaumu. Jangan salah! Kau bisa membunuh orang lain secara tidak langsung


hanya dengan mulutmu sendiri. Terdengar tidak masuk akal memang, namun hal


tersebut benar adanya.


“Nhea!” sahut seseorang.


Sontak Nhea langsung membenarkan posisinya. Ia tidak ingin


sampai terjadi salah paham. Mereka bisa berpikir yang aneh-aneh jika Nhea tidak


segera meluruskannya. Begitu pula dengan Chanwo. Pria itu tidak mau mendapatkan


masalah baru.


Sepasang manik mata yang mengkilap itu mengedarkan


pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Mencari arah sumber suara. Chanwo juga


tak diam saja. Ia ikut serta membantu Nhea. Mungkin pengelihatannya akan jauh

__ADS_1


lebih tajam dari pada gadis itu.


__ADS_2