
Sejauh ini keadaan mulai terkendali. Anak-anak itu sama sama sekali tidak mendapatkan serangan balik dari Do Yen Sae atau yang lainnya. Sejak kembali ke akademi sihir Mooneta dan melakukan pembersihan tempat serta energi, semuanya seperti kembali layaknya semula. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Mereka berhasil bertahan hidup melewati musim dingin yang tidak mudah ini. Dan yang terpenting, anak-anak itu berhasil hidup dengan aman dan damai selama sisa musim dingin. Untuk pertama kalinya hal tersebut terjadi dalam sejarah musim dingin Mooneta. Mereka berharap agar kedepannya tidak terjadi hal buruk lagi. Musim dingin sudah cukup memberikan banyak memori kelam yang sama sekali tidak baik untuk diingat.
Sejak hari pertama mereka kembali menginjakkan kaki di sini setelah berhari-hari pergi, Eun Ji Hae mulai curiga. Tidak hanya soal salju abadi saja. Ia bahkan mulai merasa curiga dengan setiap hal yang terjadi sepanjang musim dingin lalu. Eun Ji Hae yakin betul jika peristiwa-peristiwa itu memiliki sangkut paut satu sama lain. Pasti diam-diam ada seseorang yang sudah mengatur semuanya dengan sedemikian rupa. Siapa pun itu, yang jelas ia pasti sangat hebat. Sehingga sejauh ini belum ada seorang pun yang tahu siapa pelakunya.
“Apakah Do Yen Sae sama sekali tidak memiliki keinginan untuk balas dendam?” tanya Vallery.
“Kenapa kau berkata begitu?” tanya Bibi Ga Eun balik.
“Katakan saja hal-hal baik untuk mengawali awal musim yang baru ini,” lanjutnya.
Saat ini mereka sedang berada di meja makan. Berkumpul bersama yang lainnya di tempat biasa. Sebelum memulai kelas, mereka harus mengisi energi dulu agar bisa menaruh perhatiannya secara penuh saat pelajaran sedang berlangsung.
Ya, belakangan ini mereka memang selalu melaksanakan kelas saat matahari mulai terbenam. Bahkan akademi sihir Mooneta sudah menerapkan sistem terbarunya sejak awal musim dingin. Kelas pagi sudah ditiadakan sejak lama. Semua kelas beralih ke malam hari. Sampai hari ini tidak ada yang tah upasti apa penyebabnya. Mereka selalu bungkam. Terutama para staff pengajar serta petinggi sekolah yang lainnya.
Sejak awal keputusan tersebut ditetapkan, mereka tidak pernah buka suara sama sekali. Selain itu, para siswa juga tidak merasa keberatan. Secara tidak langsung, semua pihak yang berada di sini sudah setuju. Jadi tidak perlu ada penjelasan lebih lanjut. Tidak ada yang menuntut soal hal itu. kalau pun suatu saat nanti ada salah satu dari mereka yang menuntut kejelasan akan hal tersebut, sudah jelas mereka akan memberikan jawabannya.
Karena untuk sementara waktu kejadian seperti itu tidak ditemukan sama sekali, jadi mereka tidak perlu mengatakan apa-apa. Tidak ada yang perlu disembunyikan di sini.
***
Jamuan makan malam hari ini berlangsung seperti malam-malam sebelumnya. Tidak ada yang aneh, luar biasa atau semacamnya. Sungguh biasa. Tidak istimewa juga.
Beberapa hari terakhir menjelang akhir musim dingin, semuanya kembali baik-baik saja. Tidak sepenuhnya normal, namun setidaknya sudah jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Mereka tidak lupa. Hanya berusaha untuk sembuh dari luka. Beberapa mulai tertawa. Sisanya tak tahu harus apa.
__ADS_1
Semua butuh proses. Tidak semudah itu untuk mengembalikan keadaan. Andai saja semesta sedang memihak kepada mereka saat ini. Pasti segalanya jauh lebih mudah. Seolah kau adalah insan yang paling beruntung di muka bumi ini.
Omong-omong soal jamuan makan malam, hari ini Eun Ji Hae tidak bergabung di bersama anggota keluarganya lagi. Sebenarnya bukan hanya hari ini saja. Sudah sejak beberapa hari yang lalu dia bersikap seperti ini. Tidak ada yang tahu apa alasannya. Eun Ji Hae juga tak memberikan alasan apa-apa.
Gadis itu menghindari seluruh anggota keluargaya. Hubungan mereka belum kunjung membaik sampai saat ini. Jadi, Eun Ji Hae memang sengaja menjaga jarak. Menurutnya tidak perlu ada terlalu banyak interaksi. Hanya akan menimbulkan masalah baru nantinya.
Eun Ji Hae sekarang lebih mirip seperti Nhea. Sama-sama tak ingin dianggap sebagai anggota keluarga dan memilih untuk menghindar. Hanya saja, kedua kakak adik itu sama sekali tidak dekat. Mungkin mereka saling mengenal satu sama lain, tapi hubungannya tidak terlalu akrab.
Hubungan keluarga ini sedang tidak baik-baik saja untuk sekarang. Nyaris seperti tidak ada ikatan keluarga di sini. Eun Ji Hae bahkan mulai menjaga jarak dengan Vallery. Ia tidak akan pernah datang ke wanita itu jika tidak ada urusan yang benar-benar penting. Vallery tak pernah tahu apa penyebabnya kenapa Eun Ji Hae ikut melakukan itu kepadanya. Pada awalnya ia sempat mengira jika dirinya termasuk pengecualian. Ternyata tidak.
Tapi, sebagai asisten kepala sekolah, mau tidak mau ia tetap harus berhubungan dengan Bibi Ga Eun. Salah satu alasan kenapa mereka sering bertemu adalah karena urusan pekerjaan. Jika tidak, Eun Ji Hae tidak akan pernah sudi untuk menemui mereka semua.
***
Tepat setelah jamuan makan malam selesai, seluruh siswa membubarkan diri dari ruangan tersebut. Bukan hanya siswa saja sebenarnya. Melainkan mereka semua yang ada di dalam ruang makan beranjak pergi dari sana setelah acara resmi dibubarkan. Hingga hanya tersisa para orang-orang dapur saja.
“Apa menurut kalian Do Yen Sae akan kembali?” tanya Jang Eunbi.
“Tidak ada yang tidak mungkin,” ujar Jongdae.
“Do Yen Sae pasti sedang sibuk untuk menyusun rencana di sana. Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk merealisasikan semua rencananya,” jelas pria itu dengan panjang lebar.
“Mungkin saja ia sedang menunggu kepulangan orang tuanya,” timpal Oliver.
Kini semua mata tertuju ke arahnya. Menatap gadis itu dengan sorot mata tajam seolah menuntut jawaban. Dahi mereka pun ikut berkerut mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh gadis itu. Seolah tahu dengan maksud teman-temannya yang lain, Oliver langsung berinisiatif untuk buka suara. Bahkan sebelum mereka sempat mengajukan pertanyaan, gadis ini telah membabat habis semuanya.
__ADS_1
“Yang benar saja, apa dia bisa membaca isi kepala kami saat ini?” batin Nhea di dalam hati.
Dia tidak tahu apakah benar Oliver memiliki kemampuan seperti itu atau tidak. Entah dari mana gadis itu mempelajarinya.
“Aku sempat mendengar percakapan antara Nyonya kepala sekolah dengan Do Yen Sae. mereka berdua berbincang tepat di depanku saat itu. Katanya, orang tua Do Yen Sae sedang melakukan perjalanan dengan kapal layar ke benua Eropa. Sepertinya ada urusan yang cukup penting,” jelas Oliver dengan panjang lebar.
“Kapan mereka pergi?” tanya Nhea.
“Beberapa hari sebelum kita sampai. Tidak terlalu lama,” jawab gadis itu.
“Perjalanannya pasti akan memakan cukup banyak waktu. Dan bisa jadi sekarang mereka belum kemali ke Reodal sama sekali,” lanjutnya.
“Atau mungkin tidak akan pernah kembali,” final gadis itu. Ia memberikan penekanan lebih di dalam kalimat terakhir.
“Kenapa Do Yen Sae tidak bergerak sendiri?” tanya Jang Eunbi.
“Dia terlalu lemah. Do Yen Sae tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa dukungan dari orang tuanya,” beber Oliver.
“Huh! Orang seperti dia mana bisa bertahan hidup di dunia yang kejam ini,” cicit Jongdae.
“Reodal pasti tidak akan baik-baik saja jika terus di bawah pimpinannya,” sambung Jang Eunbi yang ikut mengangguki perkataan pria itu tadi.
“Dia harus banyak belajar soal kepemimpinan kepada Kakak Ji. Dia lumayan hebat dalam segala hal. Termasuk yang satu itu,” ujar Jongdae.
“Omong-omong soal Kakak Ji, aku sempat mendengar desas-desus jika Eun Ji Hae bukan anak kandung dari Nyonya Vallery,” beber Oliver.
__ADS_1
“Apakah itu benar?” tanya gadis itu dengan penuh penekanan.
Kali ini, tidak sembarang orang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Hanya Nhea yang berhak. Dia tahu banyak soal sejarah keluarganya sendiri. Setidaknya soal Eun Ji Hae. Omong kosong jika katanya ia tidak mengenal siapa saja keluarganya. Meskipun Nhea dibesarkan oleh Bibi Ga Eun, wanita itu juga pasti banyak bercerita tentang keluarganya.