Mooneta High School

Mooneta High School
Siluman Ular


__ADS_3

Pada akhirnya mereka terpaksa menggunakan sihir memindahkan


barang untuk menurunkan ular tersebut ke bawah agar lebih mudah ditangani


setelahnya. Setidaknya, ia harus mudah untuk dijangkau terlebih dahulu sebelum mereka


melakukan langkah selanjutnya. Tidak ada cara lain untuk membawanya turun


selain dengan menggunakan sihir. Lampu gantung itu terlalu tinggi dari dasar


lantai. Bahkan jika mereka menggunakan bantuan alat sekali pun, tetap saja


tidak akan sampai.


“Ambil karung!” perintah Jongdae.


Saat ini pris itu sedang berusaha untuk menahan ular


tersebut dengan tongkat sihir miliknya. Terutama pada bagian kepala. Dia tidak


bisa membiarkan ular tersebut bergerak. Berkutik sedikit saja, habislah mereka.


Meski pun berukuran kecil, tapi tetap saja berbahaya.


Sementara itu, Oliver segera memberikan karung yang baru


saja ia ambil dari dalam gudang. Untungnya ruangan itu ada di sekitar sini.


jadi ia tidak perlu bersusah payah untuk naik turun tangga.


Setelah dimasukkan ke dalam karung, sekarang mereka akan


memikirkan rencana selanjutnya. Langkah seperti apa yang akan mereka lakukan


berikutnya. Lebih tepatnya kemana mereka harus membuang karung berisikan seekor


ular ini. Harus jauh dari segala hal untun mencegah kemungkinan terburuknya


terjadi. Seandainya ia berhasil melarikan diri dari dalam karung pun, ia tidak


akan kembali ke sekolah. Tapi masalahnya, saat ini sedang musim dingin. Ada


salju dimana-mana. Menutupi seluruh permukaan jalan. Bukan salju biasa.


Melainkan salju abadi.


“Kemana kita akan membuangnya?” tanya Nhea.


“Itu dia yang kupikirkan sejak tadi,” kata Jongdae.


“Kita harus segera menyingkirkannya dari sini,” timpal Jang


Eunbi.


“Apakah menurut kalian ada ular lainnya yang berkeliaran di


tempat ini juga selain yang telah kita tangkap?” tanya Oliver.


Dia sama sekali tidak bermaksud untuk menakut-nakuti.


Melainkan hanya ingin memastikan jika mereka sudah benar-bena aman sekarang.


Mulai hari ini dan seterusnya, semua orang harus lebih berhati-hati lagi dengan


sekitarnya. Waspada akan membuat mereka tetap aman pada situasi seperti ini.


“Ku rasa tidak ada lagi. Ini satu-satunya,” jawab Nhea.


“Baiklah,” balas Oliver.


Mereka terus berusaha untuk memutar otak demi menemukan


jalan keluar dari permaslaahan yang tengah terjadi sekarang. Cepat atau lambat,


mereka harus tetap menyingkirkan ular ini. Tapi masalahnya, bagaimana caranya.


Otak mereka bahkan tidak bisa bekerja pada saat udara dingin mencekam seperti


ini. Organ yang satu itu tampaknya ikut membeku juga akibat udara yang berada


di bawah suhu rata-rata.


“Bagaimana jika kita membakarnya saja?” usul Nhea.


Hanya cara itu yang bisa ia temukan setelah sekian lama


berkutat dengan seluruh isi kepalanya sendiri. Untuk pertama kalinya ia tidak


bisa mengandalkan dirinya sendiri. Benar-benar payah.


Sepertinya semua orang masih tampak ragu. Mereka tidak


terlalu yakin dengan saran yang baru saja diberikan oleh gadis itu. Sepertinya


membakar ular ini bukan jalan yang terbaik untuk menyingkirkannya. Mereka bisa


melakukan cara yang lebih manusiawi.


Jika benar ular itu adalah mata-mata, maka akan sangat tepat


jika mereka langsung menghabisinya dengan cara dibakar. Tapi jika yang berhasil


mereka tangkap kali ini adalah ular biasa, sudah jelas jika menghabisinya


adalah suatu keputusan yang salah. Dia juga mahluk hidup. Sama-sama memiliki


hal untuk hidup. Sama seperti manusia yang lainnya. Meski sebenarnya ia adalah


hewan.


Selama ular ini tidak melakukan kesalahan apa pun,


sepertinya mereka tidak perlu melakukan cara yang sadis seperti itu. Akan


sangat disayangkan jika ia harus mati karena tersesat dan tidak sengaja masuk


ke dalam lingkungan sekolah. Tapi masalahnya, tidak ada seorang pun yang bisa


memastikan apakah ini ular biasa atau ular mata-mata. Bahkan mereka sendiri


sama sekali tidak tahu bagaimana cara membedakannya. Hal tersebut baru akan


dipelajari pada saat kelas akhir. Butuh waktu dua tahun lagu untuk sampai ke


kelas tersebut.


“Harus kita apakan ular ini sekarang?” tanya Jang Eunbi.


“Tidak mungkin jika kita akan membiarkannya begitu saja,”


timpalnya.


“Mau sampai kapan kita seperti ini terus?!” tukas gadis itu.


Bukan hanya Jang Eunbi saja satu-satunya orang yang


kehabisan akal di sini. Tapi yang lainnya juga. Tidak bisakan ia berhenti


mengomel dan ikut berpikir untuk menemikan jalan keluarnya. Mendumal dan


menggerutu tidak akan bisa memecahkan permasalahan yang ada.


“Sebaiknya kita serahkan kepada Bibi Ga Eun saja. Ia pasti


tahu harus berbuat apa,” usul Oliver.


“Benar! Aku setuju!” celetuk Jang Eunbi yang langsung

__ADS_1


menyambar begitu saja.


“Bibi Ga Eun pernah menangani masalah serupa sebelumnya,”


timpal Jongdae.


Saran dari gadis itu terasa jauh lebih baik jika


dibandingkan dengan saran dari Nhea tadi. Apa yang dikatakan olehnya ada


benarnya juga. Bibi Ga Eun pasti tahu bagaimana cara membedakannya dan harus


mereka apakan ular ini.


Mereka berempat sepakat untuk menyerahkan ular yang tak


diketahui asalnya dari mana itu kepada Bibi Ga Eun. Hanya ia satu-satunya orang


yang bisa membantu mereka untuk menyelesaikan masalahnya dengan segera. Tidak


ada orang lain lagi  yang terlintas di


dalam kepala mereka selain wanita itu. Bibi Ga Eun adalah harapan mereka  untuk sekarang.


Mereka segera bergegas pergi ke gedung utama untuk menemui


Bibi Ga Eun di ruangannya. Wanita itu pasti tengah berada di dalam kemarnya


saat ini. Ia tidak pernah berada di dalam kemar pada saat matahari masih


bersainar. Bahkan di hari libur sekali pun. Bibi Ga Eun selalu menghabiskan


waktunya di luar ruangan. Kecuali ada satu atau dua hal yang membuatnya


terpaksa harus berada di dalam kamar.


Sesampainya di depan pintu ruangan Bibi Ga Eun, mereka tidak


langung masuk ke dalam. Melainkan berunding sebentar.


“Siapa saja yang akan masuk ke dalam?” tanya Nhea.


“Sebaiknya hanya beberapa saja. Ruangan itu pasti akan


langsung terasa penuh dan sesak jika keita berempat memaksa masuk ke dalam sana


secara sekaligus,” jelas Oliver kemudian ikut diangguki oleh yang lainnya.


“Aku akan masuk ke dalam!” celetuk Jongdae.


“Kalau begitu aku akan menemainya,” sambung Oliver.


Mereka semua sepakat jika Jongdae dan Oliver yang akan masuk


ke dalam untuk mewakilkan yang lain.


‘TOK! TOK! TOK!’


“Silahkan masuk!” sahut seseroang dari dalam.


Tentu saja jika itu orang itu adalah Bibi Ga Eun. Setelah


Eun Ji Hae dan yang lainnya meninggalkan ruangan itu beberapa saat yang lalu,


sekarang hanya tinggal tersisa Bibi Ga Eun seorang diri dai dalamnya.


Tak ingin membuang waktu sama sekali, mereka berdua langsung


masuk ke dalam dengan membawa sebua karung berisikan seekora ular itu di tangan


kanannya. Benda itu yang pertama kali berhasil menarik perhatian Bibi Ga Eun.


Kedua bola matanya langsung tertuju kepada karung tersebut begitu keduanya


melangkah masuk.


“Ada apa ini?” tanya Bibi Ga Eun.


Sebelum menjawab pertanyaan wanita itu, mereka mengambil


tempat duduk terlebih dahulu. akan sangat tidak sopan jika mereka menjawab


pertanyaan tersebut sambil berdiri. Etika dan sopan santun tetap berlaku apa


pun situasinya.


“Maaf mengganggu waktu anda nyonya kepala sekolah,” ujar


Jongdae.


Pria itu memutuskan untuk membuka suara lebih dulu.


“Kami tidak sengaja menemukan seekor ular di dekat gedung


sekolah. Dia berada di lampu gantung lantai satu saat kami temukan,” jelas


Oliver kemudian.


Mereka telah membagi tugas dengan sangat baik sejauh ini. Jongdae


membuka percakapannya, sedangkan adiknya Oliver yang menjelaskan semua runtutan


peristiwanya secara lengkap dan detail.


“Ular?” bingun Bibi Ga Eun.


Wanita itu juga tidak percaya dengan apa yang baru saja


didengarnya. Reaksinya kurang lebih sama seperti mereka berdua saat pertama


kali menemukan hewan melata itu berada di dalam gedung ini. Memang tidak masuk


akal. Tapi semua itu nyata.


“Kami telah mengatasinya dan menempatkan ular tersebut di dalam


karung ini untuk sementara waktu,” ungkap Jondae.


“Kemarikan!” perintah Bibi Ga Eun.


Tanpa pikir panjang lagi, pria itu segera menyerahkan sebuah


kantong yang berisikan seekor ular tak ganas tersebut. Bibi Ga Eun berusaha


untuk mengamatinya tanpa membuka simpul karung tersebut. Dia tidak akan


membiarkan mahluk yang satu itu lepas dengan begitu saja setelah bersusah payah


untuk ditangkap.


“Kapan kalian menemukan ular ini?” tanya Bibi Ga Eun.


“Baru saja,” jawab Oliver dengan apa adanya.


“Beberapa saat yang lalu,” tambah Jongdae yang ikut


menimpali.


Setelah mendengar jawaban keduanya, Bibi Ga Eun hanya


mengangguk seolah paham betul dengan apa yang baru saja dikatakan oleh


keduanya.


Bibi Ga Eun tidak langsung menentukan akan berbuat apa.


Melainkan tetap bergeming. Dia masih sibuk mengamati sebuah karung yang tampak

__ADS_1


bergerak di hadapannya sekarang. Ada banyak pertanyaan yang muncul di dalam


benaknya saat ini. Namun ia menahan desakan untuk bertanya itu.


“Ular ini memiliki kekuatan magis,” ungkap Bibi Ga Eun.


Kalimat yang baru saja terlontar dari mulut wanitai tu


berhasil membuat Jongdae dan Oliver terkesiap. Mereka sama sekali tidak


percaya. Tapi ini nyata. Dugaannya soal kecurigaan terhadap ular yang satu itu


benar. Yang mereka temukan tadi bukan ular biasa. Dia memiliki aura magis yang


sangat kental. Menurut penuturan Bibi Ga Eun begitu.


Kedua bola mata Oliver membulat dengan sempurna. Otaknya


masih menolak untuk percaya. Meski ia telah berusaha untuk meyakinkan dirinya


sendiri soal hal itu. Tapi hasilnya tetap saja nihil. Dia terlalu keras kepala.


Entah akan seperti apa reaksi Nhea dan Jang Eunbi begitu


mendenga soal fakta ini nanti. Oliver dan Jongdae saja sudah bereaksi demikian.


Mungkin mereka berdua akan memiliki reaksi yang jauh lebih parah nantinya.


“Apa mungkin ular ini ada kaitannya dengan kematian Shin


Nara yang terjadi secara misterius tadi pagi?” tanya Jongdae dengan hati-hati.


“Bisa jadi,” jawab Bibi Ga Eun dnegan singkat.


Wanita itu tidak mau menjelaskan apa alasannya. Pasalnya, ia


sendiri juga tidak tahu kenapa. Sejauh ini, asumsi itu hanya bersifat


sementara. Tebakan yang berupa hipotesa yang masih perlu diuji lagi soal


kebenarannya.


“Shin Nara masih baik-baik saja tadi pagi. Dia bahkan ikut


sarapan pagi bersama kita,” ungkap Oliver.


Gadis itu duduk persis di seberang Oliver tadi pagi. Bahkan


beberapa kali mata mereka saling bertemu pandang secara tidak sengaja.


“Tolong ambilkan sarang burung itu!” pinta Bibi Ga Eun.


Jari telunjuknya mengacung. Menunjuk ke arah sebuah sangkar


burung tak terpakai yang berada di sudut ruangan. Dulunya ini adalah tempat


tinggal bagi burung hanti peliharaan Bibi Ga Eun. Tapi ia telah mati sejak tiga


tahun yang lalu. Selama itu pula sangkar ini dibiarkan terbengkalai. Bahkan laba-laba


sudah mengambil alih tempat itu sekarang.


Jongdae berinisiatif untuk memenuhi permintaan Bibi Ga Eun. Pria


itu beranjak dari tempat duduknya dan mengambilkan benda yang dimaksud. Bukan


hanya itu. Jongdae bahkan membersihkannya juga. Padahal Bibi Ga Eun sama sekali


tidak memintanya.


“Ini dia nyonya kepala sekolah,” ucap Jongdae sembari


menyodorkan sangkar tersebut.


“Baiklah, terima kasih!” balasnya.


“Dengan sengan hati,” ucapnya kemudian.


Bibi Ga Eun berencana untuk meletakkan ular tersebut di


dalam sana. Agak terasa tidak masuk akal bagi mereka. Hewan itu bisa saja


melarikan diri dengan celah yang begitu besar. Tapi Bibi Ga Eun tidak sebodoh


itu. Dia tahu harus berbuat apa. Pikirannya tidak sependek itu.


Pertama-tama, wanita itu terlihat merapalkan sebuah mantra


terlebih dahulu. Ini adalah mantra paling dasar yang diketahui oleh semua


orang. Mantra tersebut lebih mirip seperti sebuah portal yang membuat tembok


tak kasat mata. Dengan begitu, mahluk tersebut tidak akan bisa melarikan diri


dengan mudah. Tidak akan bisa sampai mantra tersebut berhasil dipatahkan.


Kemudian Bibi Ga Eun memperkuat mantra tersebut dengan


mantra lainnya. Menjadikan kekuatan yang bekerja semakin kuat. Ada pertahanan


berlapis yang akan sulit untuk ditembus begitu saja. Kuncinya ada pada mantra


kedua. Dengan mematahkan mantra kedua, maka mantra pertama akan ikut hancur.


Masalahnya, tidak semudah itu untuk mematahkan mantra kedua.


Tidak bisa sembarang orang yang mengucapkan mantra kebalikannya untuk membuka


kunci tersebut. Hanya orang tertentu saja. Hanya si pengucap mantra yang bisa


membatalkan hal tersebut. Dengan begitu, kuncinya baru terlepas.


Dalam artian lain, orang selain Bibi Ga Eun tidak akan bisa


mematahkan mantra tersebut dengan sembarang. Tidak peduli mau sehebat apa


kemampuan sihirnya. Bahkan jika ia mengucapkan mantra yang benar sekali pun,


tidak akan ada gunanya. Semua hal yang ada di dunia ini telah tersusun


berdasarkan aturan yang berlaku. Aturan ada untuk diikuti dan bukan malah


sebaliknya.


“Buka karungnya dan masukkan ular itu ke dalam sini!”


perintah Bibi Ga Eun.


Untuk sementara waktu, Bibi Ga Eun akan menempatkannya di


sana sampai ia mengetahui langkah apa yang perlu ia lakukan berikutnya. Kemungkinan


besar, Bibi Ga Eun akan membuat orang yang berada di balik kejadian tersebut


berbicara dengan secepat mungkin. Meski belum memiliki bukti atau landasan yang


kuat, tapi Bibi Ga Eun sangat yakin jika ular itu ada hubungannya dengan


peristiwa tadi pagi.


Dia bisa merasakan auranya. Ada


sebuah keterkaitan yang sangat kuat antara satu dengan yang lainnya. Hal itu


tidak bisa dipungkiri. Ini bukan sekedar omong kosong belaka. Tapi benar


adanya. Hanya perlu mencari sedikit lagi bukti yang mungkin terlewat. Setelah mereka

__ADS_1


mendapatkan semua hal yang diperlukan, maka hanya perlu waktu kurang dari satu


menit untuk menarik kesimpulannya.


__ADS_2