
Pada akhirnya mereka terpaksa menggunakan sihir memindahkan
barang untuk menurunkan ular tersebut ke bawah agar lebih mudah ditangani
setelahnya. Setidaknya, ia harus mudah untuk dijangkau terlebih dahulu sebelum mereka
melakukan langkah selanjutnya. Tidak ada cara lain untuk membawanya turun
selain dengan menggunakan sihir. Lampu gantung itu terlalu tinggi dari dasar
lantai. Bahkan jika mereka menggunakan bantuan alat sekali pun, tetap saja
tidak akan sampai.
“Ambil karung!” perintah Jongdae.
Saat ini pris itu sedang berusaha untuk menahan ular
tersebut dengan tongkat sihir miliknya. Terutama pada bagian kepala. Dia tidak
bisa membiarkan ular tersebut bergerak. Berkutik sedikit saja, habislah mereka.
Meski pun berukuran kecil, tapi tetap saja berbahaya.
Sementara itu, Oliver segera memberikan karung yang baru
saja ia ambil dari dalam gudang. Untungnya ruangan itu ada di sekitar sini.
jadi ia tidak perlu bersusah payah untuk naik turun tangga.
Setelah dimasukkan ke dalam karung, sekarang mereka akan
memikirkan rencana selanjutnya. Langkah seperti apa yang akan mereka lakukan
berikutnya. Lebih tepatnya kemana mereka harus membuang karung berisikan seekor
ular ini. Harus jauh dari segala hal untun mencegah kemungkinan terburuknya
terjadi. Seandainya ia berhasil melarikan diri dari dalam karung pun, ia tidak
akan kembali ke sekolah. Tapi masalahnya, saat ini sedang musim dingin. Ada
salju dimana-mana. Menutupi seluruh permukaan jalan. Bukan salju biasa.
Melainkan salju abadi.
“Kemana kita akan membuangnya?” tanya Nhea.
“Itu dia yang kupikirkan sejak tadi,” kata Jongdae.
“Kita harus segera menyingkirkannya dari sini,” timpal Jang
Eunbi.
“Apakah menurut kalian ada ular lainnya yang berkeliaran di
tempat ini juga selain yang telah kita tangkap?” tanya Oliver.
Dia sama sekali tidak bermaksud untuk menakut-nakuti.
Melainkan hanya ingin memastikan jika mereka sudah benar-bena aman sekarang.
Mulai hari ini dan seterusnya, semua orang harus lebih berhati-hati lagi dengan
sekitarnya. Waspada akan membuat mereka tetap aman pada situasi seperti ini.
“Ku rasa tidak ada lagi. Ini satu-satunya,” jawab Nhea.
“Baiklah,” balas Oliver.
Mereka terus berusaha untuk memutar otak demi menemukan
jalan keluar dari permaslaahan yang tengah terjadi sekarang. Cepat atau lambat,
mereka harus tetap menyingkirkan ular ini. Tapi masalahnya, bagaimana caranya.
Otak mereka bahkan tidak bisa bekerja pada saat udara dingin mencekam seperti
ini. Organ yang satu itu tampaknya ikut membeku juga akibat udara yang berada
di bawah suhu rata-rata.
“Bagaimana jika kita membakarnya saja?” usul Nhea.
Hanya cara itu yang bisa ia temukan setelah sekian lama
berkutat dengan seluruh isi kepalanya sendiri. Untuk pertama kalinya ia tidak
bisa mengandalkan dirinya sendiri. Benar-benar payah.
Sepertinya semua orang masih tampak ragu. Mereka tidak
terlalu yakin dengan saran yang baru saja diberikan oleh gadis itu. Sepertinya
membakar ular ini bukan jalan yang terbaik untuk menyingkirkannya. Mereka bisa
melakukan cara yang lebih manusiawi.
Jika benar ular itu adalah mata-mata, maka akan sangat tepat
jika mereka langsung menghabisinya dengan cara dibakar. Tapi jika yang berhasil
mereka tangkap kali ini adalah ular biasa, sudah jelas jika menghabisinya
adalah suatu keputusan yang salah. Dia juga mahluk hidup. Sama-sama memiliki
hal untuk hidup. Sama seperti manusia yang lainnya. Meski sebenarnya ia adalah
hewan.
Selama ular ini tidak melakukan kesalahan apa pun,
sepertinya mereka tidak perlu melakukan cara yang sadis seperti itu. Akan
sangat disayangkan jika ia harus mati karena tersesat dan tidak sengaja masuk
ke dalam lingkungan sekolah. Tapi masalahnya, tidak ada seorang pun yang bisa
memastikan apakah ini ular biasa atau ular mata-mata. Bahkan mereka sendiri
sama sekali tidak tahu bagaimana cara membedakannya. Hal tersebut baru akan
dipelajari pada saat kelas akhir. Butuh waktu dua tahun lagu untuk sampai ke
kelas tersebut.
“Harus kita apakan ular ini sekarang?” tanya Jang Eunbi.
“Tidak mungkin jika kita akan membiarkannya begitu saja,”
timpalnya.
“Mau sampai kapan kita seperti ini terus?!” tukas gadis itu.
Bukan hanya Jang Eunbi saja satu-satunya orang yang
kehabisan akal di sini. Tapi yang lainnya juga. Tidak bisakan ia berhenti
mengomel dan ikut berpikir untuk menemikan jalan keluarnya. Mendumal dan
menggerutu tidak akan bisa memecahkan permasalahan yang ada.
“Sebaiknya kita serahkan kepada Bibi Ga Eun saja. Ia pasti
tahu harus berbuat apa,” usul Oliver.
“Benar! Aku setuju!” celetuk Jang Eunbi yang langsung
__ADS_1
menyambar begitu saja.
“Bibi Ga Eun pernah menangani masalah serupa sebelumnya,”
timpal Jongdae.
Saran dari gadis itu terasa jauh lebih baik jika
dibandingkan dengan saran dari Nhea tadi. Apa yang dikatakan olehnya ada
benarnya juga. Bibi Ga Eun pasti tahu bagaimana cara membedakannya dan harus
mereka apakan ular ini.
Mereka berempat sepakat untuk menyerahkan ular yang tak
diketahui asalnya dari mana itu kepada Bibi Ga Eun. Hanya ia satu-satunya orang
yang bisa membantu mereka untuk menyelesaikan masalahnya dengan segera. Tidak
ada orang lain lagi yang terlintas di
dalam kepala mereka selain wanita itu. Bibi Ga Eun adalah harapan mereka untuk sekarang.
Mereka segera bergegas pergi ke gedung utama untuk menemui
Bibi Ga Eun di ruangannya. Wanita itu pasti tengah berada di dalam kemarnya
saat ini. Ia tidak pernah berada di dalam kemar pada saat matahari masih
bersainar. Bahkan di hari libur sekali pun. Bibi Ga Eun selalu menghabiskan
waktunya di luar ruangan. Kecuali ada satu atau dua hal yang membuatnya
terpaksa harus berada di dalam kamar.
Sesampainya di depan pintu ruangan Bibi Ga Eun, mereka tidak
langung masuk ke dalam. Melainkan berunding sebentar.
“Siapa saja yang akan masuk ke dalam?” tanya Nhea.
“Sebaiknya hanya beberapa saja. Ruangan itu pasti akan
langsung terasa penuh dan sesak jika keita berempat memaksa masuk ke dalam sana
secara sekaligus,” jelas Oliver kemudian ikut diangguki oleh yang lainnya.
“Aku akan masuk ke dalam!” celetuk Jongdae.
“Kalau begitu aku akan menemainya,” sambung Oliver.
Mereka semua sepakat jika Jongdae dan Oliver yang akan masuk
ke dalam untuk mewakilkan yang lain.
‘TOK! TOK! TOK!’
“Silahkan masuk!” sahut seseroang dari dalam.
Tentu saja jika itu orang itu adalah Bibi Ga Eun. Setelah
Eun Ji Hae dan yang lainnya meninggalkan ruangan itu beberapa saat yang lalu,
sekarang hanya tinggal tersisa Bibi Ga Eun seorang diri dai dalamnya.
Tak ingin membuang waktu sama sekali, mereka berdua langsung
masuk ke dalam dengan membawa sebua karung berisikan seekora ular itu di tangan
kanannya. Benda itu yang pertama kali berhasil menarik perhatian Bibi Ga Eun.
Kedua bola matanya langsung tertuju kepada karung tersebut begitu keduanya
melangkah masuk.
“Ada apa ini?” tanya Bibi Ga Eun.
Sebelum menjawab pertanyaan wanita itu, mereka mengambil
tempat duduk terlebih dahulu. akan sangat tidak sopan jika mereka menjawab
pertanyaan tersebut sambil berdiri. Etika dan sopan santun tetap berlaku apa
pun situasinya.
“Maaf mengganggu waktu anda nyonya kepala sekolah,” ujar
Jongdae.
Pria itu memutuskan untuk membuka suara lebih dulu.
“Kami tidak sengaja menemukan seekor ular di dekat gedung
sekolah. Dia berada di lampu gantung lantai satu saat kami temukan,” jelas
Oliver kemudian.
Mereka telah membagi tugas dengan sangat baik sejauh ini. Jongdae
membuka percakapannya, sedangkan adiknya Oliver yang menjelaskan semua runtutan
peristiwanya secara lengkap dan detail.
“Ular?” bingun Bibi Ga Eun.
Wanita itu juga tidak percaya dengan apa yang baru saja
didengarnya. Reaksinya kurang lebih sama seperti mereka berdua saat pertama
kali menemukan hewan melata itu berada di dalam gedung ini. Memang tidak masuk
akal. Tapi semua itu nyata.
“Kami telah mengatasinya dan menempatkan ular tersebut di dalam
karung ini untuk sementara waktu,” ungkap Jondae.
“Kemarikan!” perintah Bibi Ga Eun.
Tanpa pikir panjang lagi, pria itu segera menyerahkan sebuah
kantong yang berisikan seekor ular tak ganas tersebut. Bibi Ga Eun berusaha
untuk mengamatinya tanpa membuka simpul karung tersebut. Dia tidak akan
membiarkan mahluk yang satu itu lepas dengan begitu saja setelah bersusah payah
untuk ditangkap.
“Kapan kalian menemukan ular ini?” tanya Bibi Ga Eun.
“Baru saja,” jawab Oliver dengan apa adanya.
“Beberapa saat yang lalu,” tambah Jongdae yang ikut
menimpali.
Setelah mendengar jawaban keduanya, Bibi Ga Eun hanya
mengangguk seolah paham betul dengan apa yang baru saja dikatakan oleh
keduanya.
Bibi Ga Eun tidak langsung menentukan akan berbuat apa.
Melainkan tetap bergeming. Dia masih sibuk mengamati sebuah karung yang tampak
__ADS_1
bergerak di hadapannya sekarang. Ada banyak pertanyaan yang muncul di dalam
benaknya saat ini. Namun ia menahan desakan untuk bertanya itu.
“Ular ini memiliki kekuatan magis,” ungkap Bibi Ga Eun.
Kalimat yang baru saja terlontar dari mulut wanitai tu
berhasil membuat Jongdae dan Oliver terkesiap. Mereka sama sekali tidak
percaya. Tapi ini nyata. Dugaannya soal kecurigaan terhadap ular yang satu itu
benar. Yang mereka temukan tadi bukan ular biasa. Dia memiliki aura magis yang
sangat kental. Menurut penuturan Bibi Ga Eun begitu.
Kedua bola mata Oliver membulat dengan sempurna. Otaknya
masih menolak untuk percaya. Meski ia telah berusaha untuk meyakinkan dirinya
sendiri soal hal itu. Tapi hasilnya tetap saja nihil. Dia terlalu keras kepala.
Entah akan seperti apa reaksi Nhea dan Jang Eunbi begitu
mendenga soal fakta ini nanti. Oliver dan Jongdae saja sudah bereaksi demikian.
Mungkin mereka berdua akan memiliki reaksi yang jauh lebih parah nantinya.
“Apa mungkin ular ini ada kaitannya dengan kematian Shin
Nara yang terjadi secara misterius tadi pagi?” tanya Jongdae dengan hati-hati.
“Bisa jadi,” jawab Bibi Ga Eun dnegan singkat.
Wanita itu tidak mau menjelaskan apa alasannya. Pasalnya, ia
sendiri juga tidak tahu kenapa. Sejauh ini, asumsi itu hanya bersifat
sementara. Tebakan yang berupa hipotesa yang masih perlu diuji lagi soal
kebenarannya.
“Shin Nara masih baik-baik saja tadi pagi. Dia bahkan ikut
sarapan pagi bersama kita,” ungkap Oliver.
Gadis itu duduk persis di seberang Oliver tadi pagi. Bahkan
beberapa kali mata mereka saling bertemu pandang secara tidak sengaja.
“Tolong ambilkan sarang burung itu!” pinta Bibi Ga Eun.
Jari telunjuknya mengacung. Menunjuk ke arah sebuah sangkar
burung tak terpakai yang berada di sudut ruangan. Dulunya ini adalah tempat
tinggal bagi burung hanti peliharaan Bibi Ga Eun. Tapi ia telah mati sejak tiga
tahun yang lalu. Selama itu pula sangkar ini dibiarkan terbengkalai. Bahkan laba-laba
sudah mengambil alih tempat itu sekarang.
Jongdae berinisiatif untuk memenuhi permintaan Bibi Ga Eun. Pria
itu beranjak dari tempat duduknya dan mengambilkan benda yang dimaksud. Bukan
hanya itu. Jongdae bahkan membersihkannya juga. Padahal Bibi Ga Eun sama sekali
tidak memintanya.
“Ini dia nyonya kepala sekolah,” ucap Jongdae sembari
menyodorkan sangkar tersebut.
“Baiklah, terima kasih!” balasnya.
“Dengan sengan hati,” ucapnya kemudian.
Bibi Ga Eun berencana untuk meletakkan ular tersebut di
dalam sana. Agak terasa tidak masuk akal bagi mereka. Hewan itu bisa saja
melarikan diri dengan celah yang begitu besar. Tapi Bibi Ga Eun tidak sebodoh
itu. Dia tahu harus berbuat apa. Pikirannya tidak sependek itu.
Pertama-tama, wanita itu terlihat merapalkan sebuah mantra
terlebih dahulu. Ini adalah mantra paling dasar yang diketahui oleh semua
orang. Mantra tersebut lebih mirip seperti sebuah portal yang membuat tembok
tak kasat mata. Dengan begitu, mahluk tersebut tidak akan bisa melarikan diri
dengan mudah. Tidak akan bisa sampai mantra tersebut berhasil dipatahkan.
Kemudian Bibi Ga Eun memperkuat mantra tersebut dengan
mantra lainnya. Menjadikan kekuatan yang bekerja semakin kuat. Ada pertahanan
berlapis yang akan sulit untuk ditembus begitu saja. Kuncinya ada pada mantra
kedua. Dengan mematahkan mantra kedua, maka mantra pertama akan ikut hancur.
Masalahnya, tidak semudah itu untuk mematahkan mantra kedua.
Tidak bisa sembarang orang yang mengucapkan mantra kebalikannya untuk membuka
kunci tersebut. Hanya orang tertentu saja. Hanya si pengucap mantra yang bisa
membatalkan hal tersebut. Dengan begitu, kuncinya baru terlepas.
Dalam artian lain, orang selain Bibi Ga Eun tidak akan bisa
mematahkan mantra tersebut dengan sembarang. Tidak peduli mau sehebat apa
kemampuan sihirnya. Bahkan jika ia mengucapkan mantra yang benar sekali pun,
tidak akan ada gunanya. Semua hal yang ada di dunia ini telah tersusun
berdasarkan aturan yang berlaku. Aturan ada untuk diikuti dan bukan malah
sebaliknya.
“Buka karungnya dan masukkan ular itu ke dalam sini!”
perintah Bibi Ga Eun.
Untuk sementara waktu, Bibi Ga Eun akan menempatkannya di
sana sampai ia mengetahui langkah apa yang perlu ia lakukan berikutnya. Kemungkinan
besar, Bibi Ga Eun akan membuat orang yang berada di balik kejadian tersebut
berbicara dengan secepat mungkin. Meski belum memiliki bukti atau landasan yang
kuat, tapi Bibi Ga Eun sangat yakin jika ular itu ada hubungannya dengan
peristiwa tadi pagi.
Dia bisa merasakan auranya. Ada
sebuah keterkaitan yang sangat kuat antara satu dengan yang lainnya. Hal itu
tidak bisa dipungkiri. Ini bukan sekedar omong kosong belaka. Tapi benar
adanya. Hanya perlu mencari sedikit lagi bukti yang mungkin terlewat. Setelah mereka
__ADS_1
mendapatkan semua hal yang diperlukan, maka hanya perlu waktu kurang dari satu
menit untuk menarik kesimpulannya.