
Sementara Oliver menunggu di luar sana, Nhea harus segera
mengembalikan kunci ini secepat yang ia bisa. Gunanya agar tidak mengundang
perhatian orang banyak. Seperti yang mereka tahu jika telinga beberapa manusia
bisa jadi sangat sensitif pada malam hari. Bahkan sangking sensitifnya, mereka
bisa mendengar suara dengan volume paling rendah sekali pun.
Oleh sebab itu Nhea harus tetap berhati-hati dalam melakukan
aksinya. Eun Ji Hae mungkin saja masih berkeliling di sekitar bangunan ini.
Tidak ada yang bisa memastikan jika ia benar-benar terlelap. Tidak berada di
ruangan Bibi Ga Eun, tidak selamanya berarti jika gadis itu kembali ke kamarnya
untuk beristirahat.
Eun Ji Hae menjadi sangat sibuk akhir-akhir ini. Lebih
tepatnya setelah ia bertanggung jawab atas sebagian besar tugas yang diberikan
Bibi Ga Eun kepadanya. Mau tak mau, gadis itu harus rela menggadai jam
tidurnya. Meski tidak ada keuntungan yang bisa ia peroleh dari hal tersebut
dalam waktu dekat.
“Ini adalah bagian
dari proses. Kau tidak bisa mendapatkan apa pun dengan cara yang instan meski
kau memilikii kekuasaan dan relasi.”
Eun Ji Hae pernah mengatakan hal tersebut kepada dirinya
sendiri. Meski orang-orang selalu mengatakan jika yang terpenting adalah
kekuasaan dan relasi, hal tersebut tidak selamanya benar. Mungkin memang benar
jika sebagian besar orang akan mendengarkan mereka yang berkuasa. Dunia akan
memihak kepadanya secara otomatis. Tapi, sebgaian besar tidak berarti semua.
Kau harus menjadi yang paling berkuasa untuk mengendalikan semua orang. Perjalanan
untuk mencapai titik tersebut adalah proses.
***
Nhea melepas kedua alas kakinya dengan alasan keamanan. Ia
tidak ingin orang-orang di sekitarnya menjadi terjaga hanya suara berisik yang
ia ciptakan sendiri. Ketika alas sepatunya menghantam permukaan lantai, maka
suara yang tercipta pada bidang tersebut akan cukup kuat. Bahkan tidak menutup
kemungkinan akan menggema di sepanjang lorong. Terlebih suasana tengah malam
selalu identik dengan sunyi.
Daripada tertangkap dan hal buruk terjadi kepadanya, akan
jauh lebih baik jika Nhea mencegahnya. Gadis itu bahkan sudah membuat daftar
kemungkinan terburuk di dalam kepalanya. Kemudian, mengurutkannya dari yang
paling beresiko sampai nyaris tidak beresiko sama sekali.
Nhea telah mengatur semuanya dengan sedemikian rupa di dalam
__ADS_1
kepalanya sendiri. Gadis itu cukup teratur dalam melakukan segala hal. Tidak
bisa dipungkiri sama sekali.
‘CEKLEK!’
Sebuah suara klik muncul tepat ketika Nhea berhasil membuka
gerendel pintu tersebut. Padahal ia sudah berusaha untuk melakukannya dengan
sangat hati-hati. Tapi tetap saja usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil
yang berarti.
“Fiuh!”
Akhirnya Nhea bisa bernapas lega ketika pintu tersebut sudah
berhasil terbuka. Tak ingin membuang-buang waktu lebih banyak lagi, Nhea lantas
bergegas masuk ke dalam. Namun, sebelumnya ia perlu memastikan jika tidak ada
hal mencurigakan. Nhea mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
Sejauh ini sama sekali tidak ada yang menarik perhatiannya.
“Syukurlah jika tidak ada siapa-siapa di sini,” gumam Nhea
sambil menghela napasnya.
Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu segera melangkah masuk
ke dalam ruangan penyimpanan tersebut. Ia mempercepat langkahnya, namun tetap
bergerak dengan hati-hati. Misinya hampir selesai. Nhea hanya perlu menempatkan
kunci cadangan tersebut kembali ke tempatnya. Setelah semuanya beres, ia bisa
langsung kembali ke luar gedung untuk menemui Oliver. Gadis itu pasti sudah
Tidak perlu waktu lama bagi Nhea untuk menemukan tempat
penyimpanan kunci. Sebab, gadis itu sudah pernah beberapa kali kemari
sebelumnya. Jadi, seharusnya ia masih hapal dengan susunan ruangannya jika
tidak ada yang berubah sama sekali.
“Ini dia!” celetuk Nhea.
Gadis itu kemudian segera mengembalikan kunci tersebut. Menempatkan
kembali benda itu ke tempat yang memang sudah ditetapkan sejak awal. Nhea tidak
akan mengubah apa pun di sini. Kecuali jika ia memang ingin mencari masalah
dengan para penghuninya. Terutama Bibi Ga Eun dan Eun Ji Hae.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya yang satu itu, Nhea
langsung berbalik. Ia bergegas untuk keluar dari tempat ini. Tidak ada lagi
alasan untuk ttap berada di dalam ruangan penyimpanan.
Mendadak langkahnya terhenti tepat di depan pintu masuk. Kedua
bola matanya membulat dengan sempurna saat mengetahui jika ada sesuatu yang
salah di sini. Ternyata recana mereka tidak selamanya berjalan dengan mulus. Selalu
ada saja halangan. Sepertinya semesta memang masih menyimpan dendam pribadi
dengannya.
__ADS_1
“Apa-apaan ini?” gumam Nhea dengan penuh penekanan.
Tidak bisa dipungkiri jika saat ini dirinya mulai merasa
panik. Bagaimana bisa ia tetap tenang saat mengetahui jika dirinya tengah
terjebak di dalam ruangan penyimpanan. Pintunya tiba-tiba saja macet. Nhea yakin
jika ini tidak terkunci sama sekali. Ia bisa merasakannya dengan jelas.
Otaknya masih menolak untuk percaya jika ia sungguh terjebak
di dalam ruangan ini. Entah sudah berapa kali ia mengalami hal serupa di hari
yang sama. Sepertinya hari ini sungguh hari kesialan bagi gadis itu.
Nhea berdecak sebal sambil menendang pintu kayu jati
tersebut. Pintunya pasti macet karena memang usianya yang sudah terlalu tua. Mereka
bahkan tidak pernah merawat detail terkecil dari bangunan ini sama sekali. Jika
sudah seperti ini, maka siapa lagi yang susah.
Mengumpat atau bahkan menggerutu tidak akan ada gunanya
untuk saat ini. Semua itu hanya akan membuang-buang tenaganya secara sia-sia.
Nhea berusaha keras memutar otak untuk mecari jalan keluar. Dia
harus melakukan sesuatu. Memangnya siapa yang mau terjebak di tempat seperti
ini. Diam tidak akan membantu. Setidaknya, kita harus melakukan suatu aksi
untuk mendapatkan reaksi yang setimpal.
“Pintu tua ini memang sungguh menguji emosiku,” gerutu Nhea
sebal.
Gadis itu bahkan sampai mengacak-acak rambutnya yang memang
sudah berantakan sejak awal. Malam ini sepertinya ia tidak bisa tidur dengan
tenang. Kembali ke asrama saja belum tentu. Tidak menutup kemungkinan jika ia
akan tetap berada di sini sampai besok pagi. Bagaimanapun juga, Nhea harus siap
untuk kemungkinan terburuknya.
Tidak ingin terlalu cepat menyerah dengan keadaan, Nhea
kembali bangkit. Ia berusaha untuk menarik gagang pintu tersebut dengan sekuat
tenanga. Siapa tahu memang masih bisa terluka. Tapi, sepertinya usahanya
kembali berakhir sia-sia. Hasilnya nihil. Pintu tersebut bahkan tidak bergerak
sama sekali.
Tapi, meski begitu ia tetap tidak menyerah. Nhea terlalu
keras kepala untuk yang namanya menyerah. Bahkan kata-kata tersebut nyaris
tidak tercantum sama sekali dalam kamus prinsip hidupnya. Nhea bukan tipikal
orang yang seperti itu. Ia akan terus bekerja keras dan berusaha sampai akhir. Tidak
peduli sesulit apa ia bertahan.
“Sepertinya dia memang benar-benar sedang menguji
kesabaranku,” gumam Nhea.
__ADS_1
Gadis itu mengepal tangannya kuat-kuat sebagai bentuk
penyaluran emosi.