Mooneta High School

Mooneta High School
Trap Again


__ADS_3

Sementara Oliver menunggu di luar sana, Nhea harus segera


mengembalikan kunci ini secepat yang ia bisa. Gunanya agar tidak mengundang


perhatian orang banyak. Seperti yang mereka tahu jika telinga beberapa manusia


bisa jadi sangat sensitif pada malam hari. Bahkan sangking sensitifnya, mereka


bisa mendengar suara dengan volume paling rendah sekali pun.


Oleh sebab itu Nhea harus tetap berhati-hati dalam melakukan


aksinya. Eun Ji Hae mungkin saja masih berkeliling di sekitar bangunan ini.


Tidak ada yang bisa memastikan jika ia benar-benar terlelap. Tidak berada di


ruangan Bibi Ga Eun, tidak selamanya berarti jika gadis itu kembali ke kamarnya


untuk beristirahat.


Eun Ji Hae menjadi sangat sibuk akhir-akhir ini. Lebih


tepatnya setelah ia bertanggung jawab atas sebagian besar tugas yang diberikan


Bibi Ga Eun kepadanya. Mau tak mau, gadis itu harus rela menggadai jam


tidurnya. Meski tidak ada keuntungan yang bisa ia peroleh dari hal tersebut


dalam waktu dekat.


“Ini adalah bagian


dari proses. Kau tidak bisa mendapatkan apa pun dengan cara yang instan meski


kau memilikii kekuasaan dan relasi.”


Eun Ji Hae pernah mengatakan hal tersebut kepada dirinya


sendiri. Meski orang-orang selalu mengatakan jika yang terpenting adalah


kekuasaan dan relasi, hal tersebut tidak selamanya benar. Mungkin memang benar


jika sebagian besar orang akan mendengarkan mereka yang berkuasa. Dunia akan


memihak kepadanya secara otomatis. Tapi, sebgaian besar tidak berarti semua.


Kau harus menjadi yang paling berkuasa untuk mengendalikan semua orang. Perjalanan


untuk mencapai titik tersebut adalah proses.


***


Nhea melepas kedua alas kakinya dengan alasan keamanan. Ia


tidak ingin orang-orang di sekitarnya menjadi terjaga hanya suara berisik yang


ia ciptakan sendiri. Ketika alas sepatunya menghantam permukaan lantai, maka


suara yang tercipta pada bidang tersebut akan cukup kuat. Bahkan tidak menutup


kemungkinan akan menggema di sepanjang lorong. Terlebih suasana tengah malam


selalu identik dengan sunyi.


Daripada tertangkap dan hal buruk terjadi kepadanya, akan


jauh lebih baik jika Nhea mencegahnya. Gadis itu bahkan sudah membuat daftar


kemungkinan terburuk di dalam kepalanya. Kemudian, mengurutkannya dari yang


paling beresiko sampai nyaris tidak beresiko sama sekali.


Nhea telah mengatur semuanya dengan sedemikian rupa di dalam

__ADS_1


kepalanya sendiri. Gadis itu cukup teratur dalam melakukan segala hal. Tidak


bisa dipungkiri sama sekali.


‘CEKLEK!’


Sebuah suara klik muncul tepat ketika Nhea berhasil membuka


gerendel pintu tersebut. Padahal ia sudah berusaha untuk melakukannya dengan


sangat hati-hati. Tapi tetap saja usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil


yang berarti.


“Fiuh!”


Akhirnya Nhea bisa bernapas lega ketika pintu tersebut sudah


berhasil terbuka. Tak ingin membuang-buang waktu lebih banyak lagi, Nhea lantas


bergegas masuk ke dalam. Namun, sebelumnya ia perlu memastikan jika tidak ada


hal mencurigakan. Nhea mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.


Sejauh ini sama sekali tidak ada yang menarik perhatiannya.


“Syukurlah jika tidak ada siapa-siapa di sini,” gumam Nhea


sambil menghela napasnya.


Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu segera melangkah masuk


ke dalam ruangan penyimpanan tersebut. Ia mempercepat langkahnya, namun tetap


bergerak dengan hati-hati. Misinya hampir selesai. Nhea hanya perlu menempatkan


kunci cadangan tersebut kembali ke tempatnya. Setelah semuanya beres, ia bisa


langsung kembali ke luar gedung untuk menemui Oliver. Gadis itu pasti sudah


Tidak perlu waktu lama bagi Nhea untuk menemukan tempat


penyimpanan kunci. Sebab, gadis itu sudah pernah beberapa kali kemari


sebelumnya. Jadi, seharusnya ia masih hapal dengan susunan ruangannya jika


tidak ada yang berubah sama sekali.


“Ini dia!” celetuk Nhea.


Gadis itu kemudian segera mengembalikan kunci tersebut. Menempatkan


kembali benda itu ke tempat yang memang sudah ditetapkan sejak awal. Nhea tidak


akan mengubah apa pun di sini. Kecuali jika ia memang ingin mencari masalah


dengan para penghuninya. Terutama Bibi Ga Eun dan Eun Ji Hae.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya yang satu itu, Nhea


langsung berbalik. Ia bergegas untuk keluar dari tempat ini. Tidak ada lagi


alasan untuk ttap berada di dalam ruangan penyimpanan.


Mendadak langkahnya terhenti tepat di depan pintu masuk. Kedua


bola matanya membulat dengan sempurna saat mengetahui jika ada sesuatu yang


salah di sini. Ternyata recana mereka tidak selamanya berjalan dengan mulus. Selalu


ada saja halangan. Sepertinya semesta memang masih menyimpan dendam pribadi


dengannya.

__ADS_1


“Apa-apaan ini?” gumam Nhea dengan penuh penekanan.


Tidak bisa dipungkiri jika saat ini dirinya mulai merasa


panik. Bagaimana bisa ia tetap tenang saat mengetahui jika dirinya tengah


terjebak di dalam ruangan penyimpanan. Pintunya tiba-tiba saja macet. Nhea yakin


jika ini tidak terkunci sama sekali. Ia bisa merasakannya dengan jelas.


Otaknya masih menolak untuk percaya jika ia sungguh terjebak


di dalam ruangan ini. Entah sudah berapa kali ia mengalami hal serupa di hari


yang sama. Sepertinya hari ini sungguh hari kesialan bagi gadis itu.


Nhea berdecak sebal sambil menendang pintu kayu jati


tersebut. Pintunya pasti macet karena memang usianya yang sudah terlalu tua. Mereka


bahkan tidak pernah merawat detail terkecil dari bangunan ini sama sekali. Jika


sudah seperti ini, maka siapa lagi yang susah.


Mengumpat atau bahkan menggerutu tidak akan ada gunanya


untuk saat ini. Semua itu hanya akan membuang-buang tenaganya secara sia-sia.


Nhea berusaha keras memutar otak untuk mecari jalan keluar. Dia


harus melakukan sesuatu. Memangnya siapa yang mau terjebak di tempat seperti


ini. Diam tidak akan membantu. Setidaknya, kita harus melakukan suatu aksi


untuk mendapatkan reaksi yang setimpal.


“Pintu tua ini memang sungguh menguji emosiku,” gerutu Nhea


sebal.


Gadis itu bahkan sampai mengacak-acak rambutnya yang memang


sudah berantakan sejak awal. Malam ini sepertinya ia tidak bisa tidur dengan


tenang. Kembali ke asrama saja belum tentu. Tidak menutup kemungkinan jika ia


akan tetap berada di sini sampai besok pagi. Bagaimanapun juga, Nhea harus siap


untuk kemungkinan terburuknya.


Tidak ingin terlalu cepat menyerah dengan keadaan, Nhea


kembali bangkit. Ia berusaha untuk menarik gagang pintu tersebut dengan sekuat


tenanga. Siapa tahu memang masih bisa terluka. Tapi, sepertinya usahanya


kembali berakhir sia-sia. Hasilnya nihil. Pintu tersebut bahkan tidak bergerak


sama sekali.


Tapi, meski begitu ia tetap tidak menyerah. Nhea terlalu


keras kepala untuk yang namanya menyerah. Bahkan kata-kata tersebut nyaris


tidak tercantum sama sekali dalam kamus prinsip hidupnya. Nhea bukan tipikal


orang yang seperti itu. Ia akan terus bekerja keras dan berusaha sampai akhir. Tidak


peduli sesulit apa ia bertahan.


“Sepertinya dia memang benar-benar sedang menguji


kesabaranku,” gumam Nhea.

__ADS_1


Gadis itu mengepal tangannya kuat-kuat sebagai bentuk


penyaluran emosi.


__ADS_2