
Secara misterius Nhea menemukan sebuah kalung melingkar di
lehernya. Ia bahkan tidak tahu sudah sejak kapan benda itu berada di sana dan
siapa yang meletakkannya. Seingatnya, tidak ada orang yang menyentuh daerah
sekitar kepalanya. Beberapa orang yang ia temui hari ini juga tidak menunjukkan
gerak-gerik yang aneh sama sekali.
Mereka terlihat normal. Meski beberapa memiliki niat buruk
di baliknya. Tapi, jika ada orang yang memasangkah kalung tersebut di lehernya,
Nhea pasti akan langsung menyadarinya. Kecuali jika ia tengah tertidur pulas
sebelumnya. Maka sudah jelas jika Nhea tidak akan mengetahui apa pun selama
terlelap. Gadis itu terlalu sibuk untuk mengurusi hal-hal demikian di dalam
hidupnya.
Bukan hanya soal kedatangan kalung yang tiba-tiba muncul
secara misterius itu saja yang menjadi masalahnya. Ada hal lain yang juga patut
untuk dijadikan sorotan di sini. Nhea sendiri sudah menyadari hal tersebut
sejak awal. Dan rasanya, ini merupakan bagian terpentingnya.
Kalung yang saat ini ia temukan berada di lehernya masupakan
kalung yang sama dengan yang ia temukan di nakas kamar asrama beberapa waktu
lalu. Entah bagaimana caranya benda itu bisa berada padanya sekarang.
Seingatnya, ia sama sekali tidak pernah menggunakan kalung itu. Jangankan
memakainya, menyentuhnya saja tidak sudi. Nhea sungguh tidak pernah menyentuh
kalung tersebut lagi tepat setelah menemukannya. Gadis itu menyimpan benda
tersebut di dalam nakas. Dan seharusnya, sekarang masih tetap berada di sana.
“Bagaimana bisa kelung ini bisa berada di tanganku?” batin
Nhea dalam hati.
Sungguh tidak masuk akal. Entah bagaimana semua ini bisa
terjadi. Nhea sudah memutar otaknya untuk mendapatkan cara berpikir paling
logis yang mungkin saja bisa dijadikan acuan untuk membuat asumsi berikutnya. Namun,
hal tersebut sepertinya sia-sia saja. Karena, Nhea sendiri tidak akan pernah
bisa mendapatkan kesimpulan dari peristiwa ini dengan semudah itu.
Nhea sungguh tidak habis pikir. Anggaplah jika memang di
sini tempatnya bagi kejadian di luar nalar kerap terjadi. Bukan sesuatu yang
mengejutkan lagi memang. Namun, dari sekian banyak kejadian di luar nalar yang
terjadi, hanya yang satu ini yang paling tidak masuk akal rasanya.
“Kekuatan gaib macam apalagi ini?” batin Nhea sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, Nhea terus saja memikirkan hal
tersebut. Ia tidak bisa melepaskannya dari dalam kepala dengan begitu saja.
Tidak semudah itu. Tidak peduli sekeras apa usahanya untuk mengalihkan
perhatiannya sendiri, pada akhirnya hasilnya tetap saja sama. Nihil.
Jalanan kota menuju akademi sihir Mooneta mendadak menjadi
ramai karena mereka lewat. Padahal, biasanya sepi. Tidak ada orang yang lalu
lalang di sekitar sana. Sehingga, jika kau melalui jalanan itu sendirian, maka
suasananya pasti berbeda.
“Untung saja kita pulang bersama-sama dengan seisi sekolah
hari ini. Jika tidak, mungkin aku tidak akan melewati jalanan yang satu ini
untuk sampai ke akademi,” ungkap Oliver sambil sedikit berbisik ke arah Nhea.
“Kenapa kau harus takut?” tanya Nhea secara gamblang.
“Sepertinya kau harus merasakan bagaimana rasanya melalu
jalanan ini di tengah malam tanpa ada siapa pun di sisimu,” jawab Oliver dengan
panjang lebar.
Sementara itu, sosok yang diajak bicara hanya bisa memutar
bola matanya dengan malas. Ia sedang tidak ingin memikirkan soal hantu atau apa
pun itu. Bukannya tidak percaya dengan hal-hal demikian. Hanya saja, otaknya
sudah terlalu lelah rasanya untuk memikirkan hal tersebut.
ada lagi ruang yang tersisa di dalam kepalanya. Untuk hari ini otak gadis itu
sudah bekerja secara optimal. Nhea bahkan sengaja memaksa dirinya untuk bisa melawan
batas normalnya sendiri.
“Kau tidak akan percaya dengan apa yang kukatakan jika belum
merasakannya sendiri,” ujar Oliver.
“Aku tidak perlu keluar tengah malam dan berjalan melalui
jalanan ini sendirian untuk merasakan sensasi yang sama,” cicit Nhea.
“Mendengarkan ceritamu saja sudah berhasil membawa suasana
yang sama,” tukas gadis itu kemudian.
Oliver berdecak sebal mendapati balasan demikian dari
temannya. Tapi, jangan salah sangka dulu. Ia tidak benar-benar sedang sebal
kepada gadis itu sekarang.
“Bilang saja jika kau sudah takut lebih dulu untuk
melakukannya karena mendengar ceritaku,” ledek Oliver sambil menepuk pundak
gadis itu pelan.
“Tidak begitu juga konsepnya!” dalih Nhea.
__ADS_1
Enak saja. Mana mungkin seorang gadis seperti Nhea takut
dengan hal-hal seperti itu. Hantu atau bahkan mahluk seperti apa pun itu, akan
ia hadapi. Tapi, dengan satu syarat. Selama mereka tidak mengganggu Nhea secara
langsung, maka gadis itu tidak akan pernah mengusiknya. Percayalah. Nhea bukan
seseorang yang usil. Dia tidak suka mengganggu ketentraman mahluk hidup lain
yang hidup berdampingan dengannya. Sebab, di sisi lain Nheajuga tidak ingin
diusik ketenangannya oleh siapa pun.
Dalam hidup ini semua hal akan saling berkaitan. Hukum timbal
balik dari semesta itu nyata adanya. Tidak perlu diragukan lagi. Pada prinsip
sederhananya, kau tidak akan ditindas jika kau tidak menindas. Jadi, hal
terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan cara tidak saling menindas.
“Aku bukan tipikal orang yang suka mencari masalah seperti
itu,” ungkap Nhea secara terang-terangan.
“Tapi, anehnya kenapa orang-orang selalu saja ingin mencari
masalah denganku. Sebenarnya kesalahan macam apa lagi yang sudah kulakukan.
Sepertinya aku sudah mengikuti setiap peraturan semesta dengan baik. Tidak ada
yang kulanggar sejauh ini,” celotehnya dengan panjang lebar kepada Oliver.
Sekarang, gadis itu selalu menggerutu, berceloteh dan bahkan
sampai mengadu kepada Oliver. Ia sudah menganggap gadis itu lebih dari sekedar
teman dekatnya saja. Atau bahkan teman satu asrama.
“Mungkin, kau adalah orang yang tepat untuk dijadikan
sebagai masalah,” ucap Oliver dengan nada sedikit meledek.
Spontan, Nhea langsung membulatkan kedua bola matanya secara
sempurna. Salah satu tangannya meraih pundah gadis itu. Kemudian tanpa
basa-basi lagi, ia segera mencubit Oliver tepat pada saat itu juga. Nhea
berhasil melakukannya dengan cepat. Sehingga, tidak ada waktu lagi bagi gadis
itu untuk mencegah atau bahkan mengelak.
“Kau adalah salah satu dari mereka yang suka mencari masalah
denganku!” celetuknya.
Nhea merutuki temannya sendiri di dalam hati. Tapi, itu
bukan berarti jika ia sungguhan membenci Oliver. Perasaan sebal tersebut hanya
akan berlangsung selama beberapa saat saja. Besok juga akan kembali seperti
semula lagi. Mereka berdua akan kembali berbaikan dalam waktu kurang dari dua
jam. Jadi, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan sama sekali.
Hubungan mereka berdua akan tetap baik-baik saja. Bahkan,
__ADS_1
pertengkaran yang terjadi akibat hal kecil tidak akan berdampak apa-apa. Nhea dan
Oliver sudah banyak diuji sejauh ini.