Mooneta High School

Mooneta High School
Way Back Home


__ADS_3

Secara misterius Nhea menemukan sebuah kalung melingkar di


lehernya. Ia bahkan tidak tahu sudah sejak kapan benda itu berada di sana dan


siapa yang meletakkannya. Seingatnya, tidak ada orang yang menyentuh daerah


sekitar kepalanya. Beberapa orang yang ia temui hari ini juga tidak menunjukkan


gerak-gerik yang aneh sama sekali.


Mereka terlihat normal. Meski beberapa memiliki niat buruk


di baliknya. Tapi, jika ada orang yang memasangkah kalung tersebut di lehernya,


Nhea pasti akan langsung menyadarinya. Kecuali jika ia tengah tertidur pulas


sebelumnya. Maka sudah jelas jika Nhea tidak akan mengetahui apa pun selama


terlelap. Gadis itu terlalu sibuk untuk mengurusi hal-hal demikian di dalam


hidupnya.


Bukan hanya soal kedatangan kalung yang tiba-tiba muncul


secara misterius itu saja yang menjadi masalahnya. Ada hal lain yang juga patut


untuk dijadikan sorotan di sini. Nhea sendiri sudah menyadari hal tersebut


sejak awal. Dan rasanya, ini merupakan bagian terpentingnya.


Kalung yang saat ini ia temukan berada di lehernya masupakan


kalung yang sama dengan yang ia temukan di nakas kamar asrama beberapa waktu


lalu. Entah bagaimana caranya benda itu bisa berada padanya sekarang.


Seingatnya, ia sama sekali tidak pernah menggunakan kalung itu. Jangankan


memakainya, menyentuhnya saja tidak sudi. Nhea sungguh tidak pernah menyentuh


kalung tersebut lagi tepat setelah menemukannya. Gadis itu menyimpan benda


tersebut di dalam nakas. Dan seharusnya, sekarang masih tetap berada di sana.


“Bagaimana bisa kelung ini bisa berada di tanganku?” batin


Nhea dalam hati.


Sungguh tidak masuk akal. Entah bagaimana semua ini bisa


terjadi. Nhea sudah memutar otaknya untuk mendapatkan cara berpikir paling


logis yang mungkin saja bisa dijadikan acuan untuk membuat asumsi berikutnya. Namun,


hal tersebut sepertinya sia-sia saja. Karena, Nhea sendiri tidak akan pernah


bisa mendapatkan kesimpulan dari peristiwa ini dengan semudah itu.


Nhea sungguh tidak habis pikir. Anggaplah jika memang di


sini tempatnya bagi kejadian di luar nalar kerap terjadi. Bukan sesuatu yang


mengejutkan lagi memang. Namun, dari sekian banyak kejadian di luar nalar yang


terjadi, hanya yang satu ini yang paling tidak masuk akal rasanya.


“Kekuatan gaib macam apalagi ini?” batin Nhea sambil


menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan pulang, Nhea terus saja memikirkan hal


tersebut. Ia tidak bisa melepaskannya dari dalam kepala dengan begitu saja.


Tidak semudah itu. Tidak peduli sekeras apa usahanya untuk mengalihkan


perhatiannya sendiri, pada akhirnya hasilnya tetap saja sama. Nihil.


Jalanan kota menuju akademi sihir Mooneta mendadak menjadi


ramai karena mereka lewat. Padahal, biasanya sepi. Tidak ada orang yang lalu


lalang di sekitar sana. Sehingga, jika kau melalui jalanan itu sendirian, maka


suasananya pasti berbeda.


“Untung saja kita pulang bersama-sama dengan seisi sekolah


hari ini. Jika tidak, mungkin aku tidak akan melewati jalanan yang satu ini


untuk sampai ke akademi,” ungkap Oliver sambil sedikit berbisik ke arah Nhea.


“Kenapa kau harus takut?” tanya Nhea secara gamblang.


“Sepertinya kau harus merasakan bagaimana rasanya melalu


jalanan ini di tengah malam tanpa ada siapa pun di sisimu,” jawab Oliver dengan


panjang lebar.


Sementara itu, sosok yang diajak bicara hanya bisa memutar


bola matanya dengan malas. Ia sedang tidak ingin memikirkan soal hantu atau apa


pun itu. Bukannya tidak percaya dengan hal-hal demikian. Hanya saja, otaknya


sudah terlalu lelah rasanya untuk memikirkan hal tersebut.


ada lagi ruang yang tersisa di dalam kepalanya. Untuk hari ini otak gadis itu


sudah bekerja secara optimal. Nhea bahkan sengaja memaksa dirinya untuk bisa melawan


batas normalnya sendiri.


“Kau tidak akan percaya dengan apa yang kukatakan jika belum


merasakannya sendiri,” ujar Oliver.


“Aku tidak perlu keluar tengah malam dan berjalan melalui


jalanan ini sendirian untuk merasakan sensasi yang sama,” cicit Nhea.


“Mendengarkan ceritamu saja sudah berhasil membawa suasana


yang sama,” tukas gadis itu kemudian.


Oliver berdecak sebal mendapati balasan demikian dari


temannya. Tapi, jangan salah sangka dulu. Ia tidak benar-benar sedang sebal


kepada gadis itu sekarang.


“Bilang saja jika kau sudah takut lebih dulu untuk


melakukannya karena mendengar ceritaku,” ledek Oliver sambil menepuk pundak


gadis itu pelan.


“Tidak begitu juga konsepnya!” dalih Nhea.

__ADS_1


Enak saja. Mana mungkin seorang gadis seperti Nhea takut


dengan hal-hal seperti itu. Hantu atau bahkan mahluk seperti apa pun itu, akan


ia hadapi. Tapi, dengan satu syarat. Selama mereka tidak mengganggu Nhea secara


langsung, maka gadis itu tidak akan pernah mengusiknya. Percayalah. Nhea bukan


seseorang yang usil. Dia tidak suka mengganggu ketentraman mahluk hidup lain


yang hidup berdampingan dengannya. Sebab, di sisi lain Nheajuga tidak ingin


diusik ketenangannya oleh siapa pun.


Dalam hidup ini semua hal akan saling berkaitan. Hukum timbal


balik dari semesta itu nyata adanya. Tidak perlu diragukan lagi. Pada prinsip


sederhananya, kau tidak akan ditindas jika kau tidak menindas. Jadi, hal


terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan cara tidak saling menindas.


“Aku bukan tipikal orang yang suka mencari masalah seperti


itu,” ungkap Nhea secara terang-terangan.


“Tapi, anehnya kenapa orang-orang selalu saja ingin mencari


masalah denganku. Sebenarnya kesalahan macam apa lagi yang sudah kulakukan.


Sepertinya aku sudah mengikuti setiap peraturan semesta dengan baik. Tidak ada


yang kulanggar sejauh ini,” celotehnya dengan panjang lebar kepada Oliver.


Sekarang, gadis itu selalu menggerutu, berceloteh dan bahkan


sampai mengadu kepada Oliver. Ia sudah menganggap gadis itu lebih dari sekedar


teman dekatnya saja. Atau bahkan teman satu asrama.


“Mungkin, kau adalah orang yang tepat untuk dijadikan


sebagai masalah,” ucap Oliver dengan nada sedikit meledek.


Spontan, Nhea langsung membulatkan kedua bola matanya secara


sempurna. Salah satu tangannya meraih pundah gadis itu. Kemudian tanpa


basa-basi lagi, ia segera mencubit Oliver tepat pada saat itu juga. Nhea


berhasil melakukannya dengan cepat. Sehingga, tidak ada waktu lagi bagi gadis


itu untuk mencegah atau bahkan mengelak.


“Kau adalah salah satu dari mereka yang suka mencari masalah


denganku!” celetuknya.


Nhea merutuki temannya sendiri di dalam hati. Tapi, itu


bukan berarti jika ia sungguhan membenci Oliver. Perasaan sebal tersebut hanya


akan berlangsung selama beberapa saat saja. Besok juga akan kembali seperti


semula lagi. Mereka berdua akan kembali berbaikan dalam waktu kurang dari dua


jam. Jadi, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan sama sekali.


Hubungan mereka berdua akan tetap baik-baik saja. Bahkan,

__ADS_1


pertengkaran yang terjadi akibat hal kecil tidak akan berdampak apa-apa. Nhea dan


Oliver sudah banyak diuji sejauh ini.


__ADS_2