Mooneta High School

Mooneta High School
Rapat


__ADS_3

Setelah semua pekerjaan selesai, kini mereka tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Para petugas sekokah melarang para siswa untuk keluar dari gedung asramanya. Mereka akan tetap berada di sana selama beberapa hari. Atau mungkin beberapa minggu, sampai sutuasi membaik.


Sementara yang lain sedang berisirahat di kamar asramanya masing-masing, ketiga orang ini malah tidak bisa bersantai sama sekali. Siapa lagi jika bukan Nhea, dan teman-temannya. Oliver dan Jongdae. Kedua kakak beradik itu turut serta dalam rapat darurat bersama Nhea dan petinggi sekolah lainnya.


Mereka termasuk orang penting yang harus dilibatkan dalam diskusi kali ini. Eun Ji Hae juga berada di sana. Mereka semua sengaja dikumpulkan di tempat ini untuk memecahkan masalah yang baru saja terjadi semua orang tahu persis apa yang sedang terjadi di tempat ini. Sebuah masalah baru saja muncul dan sekarang mau tak mau mereka harus berpikir keras serta memutar otak untuk mencari penyelesaian dari masalah tersebut.


"Apakah semua orang sudah berkumpul di sini?" tanya Bibi Ga Eun.


Wanita itu bertugas untuk memimpin rapat kali ini. Semua orang langsung melemparkan pandangan satu sama lain. Memastikan apakah semua irang telah datang dan duduk di tempatnya masing-masing.


"Baiklah, kalau semua orang telah hadir di sini, itu artinya kita sudah bisa memulainya!" ujar Bibi Ga Eun.


Wanita itu sudah terbiasa untuk memimpin rapat-rapat besar seperti ini. Meskipun hal tersebut bukan berarti Wilson dan Vallery tidak bisa melakukannya. Hanya saja mereka lebih mempercayakan hal tersebut kepada wanita itu. Mereka percaya jika Ga Eun bisa mengatasi segalanya.


"Baiklah, kalau gitu mari kita mulai rapatnya!" seru Bibi Ga Eun.


Semua orang langsung bersiap begitu wanita tersebut memberikan instruksi.


"Seperti yang kalian ketahui sebelumnya, jika di lingkungan sekolah kita telah turun salju abadi. Namun itu masih dugaan sementaranya. Kita belun tahu pasti apakah itu benar salju abadi atau hanya salju biasa saja," jelas Bibi Ga Eun dengan panjang lebar.

__ADS_1


Jika menurut siklus utama salju abadi, harusnya sekarang memang sudah waktunya salju tersebut untuk turun. Tapi masalahnya, mereka tidak tahu persis dimana tempatnya. Karena setiap siklusnya, salju akan turun di tempat yang berbeda.


Apa yang dikatakan oleh Bibi Ga Eun tadi sama sekali tidak salah. Tapi juga tidak bisa dikatakan sebagai pernyataan yang benar. Pasalnya saat ini musim dingin tengah melanda seluruh penjuru negeri. Salju turun dimana-mana dan membuat seluruh tempat terselimuti oleh butiran salju yang kian menebal.


Satu-satunya hal yang membuat mereka semua merasa curiga jika fenomena alam kali ini bukan salju biasa, adalah suara berisik dari para griffin. Perilaku mereka mendadak berubah begitu hujan turun. Untuk sementara waktu, semua orang akan tetap berada di dalam gedung sekolah ini. Tidak ada yang boleh keluar dari sini, sampai mereka benar-benar bisa memastikan jika itu bukan salju abadi.


Pada dasarnya, kita tidak bisa membedakan antara salju biasa dan juga salju abadi. Keduanya memiliki ciri yang sama. Tidak ada perbedaan sedikitpun.


"Apakah ada seseorang yang bisa memberikan pendapatnya soal kejadian kali ini dan apa yang harus kita lakukan?" tanya Bibi Ga Eun.


"Saya akan sangat menghargai pendapat kalian. Usulan dari kalian akan sangat membantu untuk saat ini," jelas wanita itu di kemudian.


Suasana kembali hening setelah Bibi Ga Eun menyelesaikan ucapannya barusan. Tidak ada seorangpun yang berani membuka suara untuk memberikan opininya. Mereka tidak bisa berkutik sama sekali. Karena pada dasarnya, mereka memang tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini. Semuanya masih belum jelas. Bagaimana mereka mau memberikan pendapatnya jika situasinya saja tidak paham.


Tapi tetap saja, tidak ada yang berubah.


"Bukankah kau tahu banyak soal salju abadi dan sejarah lainnya? Kenapa tidak mengacubgkan tangan?" tanya Nhea kepada Oliver.


Gadis yang dimaksud hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pasrah. Untuk kali ini Oliver tidak akan memberikan pendapat apapun. Dia tetap akan diam seperti yang lainnnya dan menyimak semua informasi yang disampaikan dari awal hingga akhir rapat. Sepanjang rapat berlangsung, Oliver hanya memilih untuk menjadi pendengar saja. Ia merasa tidak memiliki ilmu yang cukup untuk menguatkan pendapatnya. Jika para guru dan petinggi yang lainnya saja tidak mampu bersuara, bagaimana ia akan menyuarakan pendapatnya sendiri. Melihat hal tersebut sudah membuat dirinya merasa pesimis.

__ADS_1


Sepertinya ia memang tidak perku huka suara untuk kali ini. Dia tahu jika pendapatnya tidak akan membantu sama sekali. Ini adalah forum diskusi besar yang membahas masalah penting. Dibutuhkan orang yang telah ahli dan berpengalaman di dalam bidangnya. Bukan seorang murid biasa seperti dirinya ini. Bahkan ja sendiri tidak tahu apa tujuannya mereka turut diundang kemari. Padahal ranahnya tidak di situ. Mereka tidak tahu apa-apa soal kejadian yang sedang heboh belakangan ini.


Situasi di ruangah ini masih tetap sama, sampai pada akhirnya Eun Ji Hae berhasil memecah keheningan suasana dengan cara buka suara. Dia adalah orang pertama yang akhirnya berkomentar. Selama ini merea telah menunggu orang deperri Eun Ji Hae untuk menyampaikan pendapatnya. Mungkin setelah itu, mereka akan mendapatkan pencerahan. Dan yang lebih penting adalah solusi untuk masalah ini.


"Izin, saya akan akan memberikan pendapat saya dalam diskusi kali ini!" celetuk Eun Ji Hae sambil berdiri.


Semua orang harus berbicara seperti ini agar di dengar oleh seluruh peserta rapat. Ia harus cukup menarik atensi orang-orang sebelum menyampaikan pesannya.


"Silahkan Eun Ji Hae!" persilahkan Bibi Ga Eun.


"Baiklah, terima kasih sebelumnya atas kesempatan yang sudah diberikan kepada saya," ucapnya.


"Pertama-tama, bukankah kita harus memastikan terlebih dahulu apakah fenomena kali ini benar salju abadi atau bukan," jelas Eun Ji Hae.


"Tapi masalahnya bagaimana cara kita untuk menentukan hak tersebut?" celetuk salah seorang peserta rapat.


Eun Ji Hae sempat berdecak sebal karena orang tersebut telah memotong perkataannya lebih dulu, sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya barusan. Orang itu bahkan tidak memberinya waktu untuk berbicara sama sekali. Lantas bagaimana ia akan menjelaskan semuanya jika begini caranya. Benar-benar menyebalkan.


"Bisakah berikan aku waktu untuk berbucafa?" tanya Eun Ji Hae kepada seluruh peserta rapat.

__ADS_1


Sekali lagi harus ia ingatkan, agar tidak ada yang mengusiknya. Setidaknya mereka harus membiarkan Eun Ji Hae samoai selesai berbicara. Baru setelah itu terserah mereka mau memotongnya atau menambahi ucapan gadis itu.


Bukankah tadi tidak ada yang ingin buka suara sama sekali. Lantas kenapa mendadak mereka semua ingin menyela Eun Ji Hae saat gadis itu sedang berbicara. Dimana rasa menghargai itu.


__ADS_2