Mooneta High School

Mooneta High School
Forgive Them


__ADS_3

Masih tersisa beberapa menit lagi sebelum jarum jam


menunjukkan pukul dua belas malam tepat. Nhea berencana untuk kembali lebih


awal sebenarnya. Tapi, ternyata kali ini rencananya tidak bisa berjalan semulus


itu. Selalu ada saja hal yang membuatnya terpaksa menunda sesuatu. Malam ini,


seseorang yang ia kenal baik telah mengacaukan semuanya. Tapi, Nhea tidak ingin


ambil pusing. Dia tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, meski tidak bisa


dipungkiri jika ia sempat merasa kesal pada awalnya.


Tepat di hadapannya saat ini terdapat dua orang yang


sebelumnya sempat memberikan kesan yang tidka terlalu baik kepada gadis ini.


Nhea sempat menyayangkan hal tersebut. Tapi itu dulu. Sekarang bahkan bukan


sebuah masalah sama sekali.


Suasana semakin sunyi ketika ketukan suara sepatu itu mulai


menghilang. Bersamaan dengan berhentinya pergerakan Nhea yang berakhir dengan


mendaratkan bokongnya pada salah satu tempat duduk yang masih kosong di sekitar


mereka.


Keheningan kian meraja lela. Mengambil alih tempat ini


seutuhnya. Mereka tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Setelah kejadian yang


tidak disangka-sangka kemarin, entah kenapa semuanya ikut berubah. Bukan


seperti ini situasi yang mereka inginkan.


“Jadi, kenapa kalian memanggilku?” tanya Nhea secara


tiba-tiba.


Untuk yang kesekian kalinya, gadis itu kembali memecahkan


keheningan suasana di antara mereka. Lagipula awalnya ia sama sekali tidak


bermaksud seperti itu. Nhea hanya ingin tahu apa alasan mereka sampai menahan


gadis itu agar tetap berada di sini sampai hampir tengah malam. Jika alasannya


cukup penting dan masuk akal, maka Nhea sama sekali tidak keberatan untuk


menghabiskan waktunya di tempat ini sampai kapan pun. Jika sebaliknya, maka


kemungkinan Nhea akan mempertimbangkan alasan tersebut terelebih dahulu. Dia


tidak ingin membuang-buang waktunya untuk hal yang tidak penting.


Matanya menyoroti orang-orang yang tengah berada di depannya


secara bergantian. Kali ini jauh lebih santai daripada sebelumnya. Harusnya


mereka segera memikirkan jawaban yang tepat dengan cepat. Mereka tahu jika Nhea


bukan orang yang suka menunggu terlalu lama. Dia juga tidak pernah membuat


orang lain menunggu dirinya.


Kini tatapannya terasa jauh lebih dalam. Manik matanya


berkilau karena pantulan sinar kejinggaan dari lentera yang memenuhi setiap


sudut ruangan. Jika mereka tidak bodoh, harusnya tahu jika Nhea sedang menuntut

__ADS_1


jawaban atas pertanyaannya tadi. Dia tidak bisa menunggu terlalu lama.


“Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan kepadamu,” ujar Jang


Eunbi dengan hati-hati. Dia harus menjaga ucapannya kali ini. Perasaan Nhea


pasti menjadi jauh lebih sensitif setelah kejadian tak mengenakkan di antara


mereka beberapa hari yang lalu.


“Katakan saja,” balas gadis itu secara gamblang.


“Aku tidak memliki banyak waktu. Sebelum tengah malam aku


harus sudah sampai di kamar asrama,” jelas Nhea kemudian.


“Baiklah,” balas Jang Eunbi.


Mereka sempat saling melempar pandangan satu sama lain untuk


beberapa saat. Jang Eunbi berdeham pelan untuk mengurangi rasa gugupnya


sekaligus menetralisir atmosfir sekitar. Hanya itu yang bisa ia lakukan.


“Omong-omong soal kejadian kemarin, aku minta maaf karena


telah menyakiti perasaanmu. Aku sungguh tidak menduga jika akhirnya akan


seperti ini,” ujar gadis itu yang kemudian ikut diangguku oleh Jongdae.


“Aku juga ingin meminta maaf kepadamu atas semua kesalahan


yang pernah kuperbuat kepadamu. Tidak sebatas yang kemarin saja,” balas


Jongdae.


“Sepertinya aku telah banyak melukai perasaaanmu sejak awal


Nhea tidak langsung membalas perkataan mereka barusan.


Diperhatikannya sepasang bola mata Jang Eunbi dan juga Jongdae secara


bergantian. Usahanya untuk mencari kebohongan yang kemungkinan terselip


ternyata nihil. Dia tidak bisa menemukan apa-apa di sana. Binar mata keduanya


benar-benar menunjukkan ketulusan. Mereka tidak sedang berbohong dengan


ucapannya barusan. Walaupun sebenarnya Nhea tidak terlalu percaya dengan semua


itu. Tapi, mata tidak bisa berbohong. Kini tidak ada alasan lagi bagi gadis itu


untuk tidak mempercayai mereka.


Ia mengela napasnya sebentar. Mencoba untuk melepaskan semua


beban perasaan yang selama ini ia pendam. Nhea cukup ahli dalam menyembunyikan


sesuatu. Menyimpan semuanya dengan apik, sehingga tidak ada seorang pun yang


menyadari hal tersebut.


“Aku sudah memaafkan kalian sejak awal,” ungkap Nhea.


“Jadi, tidak perlu berlarut-larut dalam rasa bersalah,”


tukasnya.


Jang Eunbi dan Jongdae langsung melempar pandangan selama


beberala detik, sebelum mengalihkan perhatiannya kembali kepada Nhea. Raut


wajah mereka menujukkan beragam ekspresi yang menjadi satu. Yang jelas semua

__ADS_1


itu adalah sebuah reaksi dari emosi positif.


“Perkataanmu yang tadi itu sungguh-sungguh kan?” tanya Jang


Eunbi sekali lagi untuk memastikan jika telinganya tidak salah dengar. Ia


berharap seperti itu.


Untuk yang kesekian kalinya, Nhea kembali menghela napasnya


kasar. Ia tahu ini melelahkan. Namun, mau tak mau ia tetap harus menjelaskan


lagi supaya tidak ada kesalahpahaman yang malah akan berbuntut panjang lagi


nantinya.


“Memangnya sejak kapan aku main-main?” tanya Nhea balik.


Otaknya masih menolak untuk percaya. Tidak peduli seberapa


sering mereka mencoba untuk myakinkan dirinya sendiri. Tapi, hasilnya tetap


saja sama seperti yang sebelumnya. Tidak ada perubahan berarti.


Kata-kata Nhea tadi sungguh sulit untuk diterima oleh akal


sehat. Bagaimana bisa gadis itu bersikap begitu santai dan memberikan maaf


kepada mereka secara cuma-cuma. Seolah ia sama sekali tidak mempermasalahkan hal


tersebut. Seolah yang kemarin itu bukan apa-apa.


Bagaiamana bisa ada manusia seperti dirinya. Sungguh sulit


dipercaya. Tunggu dulu. Dia bukan manusia seutuhnya. Hampir delapan puluh


persen darah yang mengalir di dalam tubuhnya berasal dari kaum kegelapan. Dan


hanya tersisa sebagian kecil darah manusia di dalamnya. Meski begitu, ia tetap


bersikap seperti manusia pada umumnya. Bahkan rasa kemanusiaannya jauh lebih besar


dari pada manusia pada umumnya.


Setelah dirasa tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi,


Nhea buru-buru menyudahi percakapan mereka malam ini. Seperti yang sudah


dikatakan oleh gadis ini sebelumnya, jika ia tidak bisa berlama-lama. Kemarin


jam tidurnya sempat berantakan. Selain karena Eun Ji Hae, cahaya bulan purnama


yang mencuat malam itu juga membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang. Entah


kenapa alasannya. Jadi, mala mini Nhea memutuskan untuk tidur lebih cepat. Dia


tidak ingin terjaga sepanjang malam lagi seperti kemarin.


Sebenarnya Nhea masih belum bisa mempercayai teman-temannya


yang satu itu. Ada dua alasan yang memungkinkan kenapa mereka memutuskan untuk


meminta maaf kepadanya. Yang pertama, mereka meungkin memang benar-benar merasa


bersalah dan telah menyesali perbuatannya. Yang kedua, karena bisa jadi kemarin


Oliver tidak sengaja melihatnya pergi meninggalkan gedung sekolah bersama Eun


Ji Hae setelah jam belajar selesai. Bisa disimpulkan jika mereka tidak mau


terkena masalah dengan orang yang bernama Eun Ji Hae itu. Karena pasti tidak


akan mudah untuk melepaskan diri dari semua jeratannya.

__ADS_1


__ADS_2