
Masih tersisa beberapa menit lagi sebelum jarum jam
menunjukkan pukul dua belas malam tepat. Nhea berencana untuk kembali lebih
awal sebenarnya. Tapi, ternyata kali ini rencananya tidak bisa berjalan semulus
itu. Selalu ada saja hal yang membuatnya terpaksa menunda sesuatu. Malam ini,
seseorang yang ia kenal baik telah mengacaukan semuanya. Tapi, Nhea tidak ingin
ambil pusing. Dia tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, meski tidak bisa
dipungkiri jika ia sempat merasa kesal pada awalnya.
Tepat di hadapannya saat ini terdapat dua orang yang
sebelumnya sempat memberikan kesan yang tidka terlalu baik kepada gadis ini.
Nhea sempat menyayangkan hal tersebut. Tapi itu dulu. Sekarang bahkan bukan
sebuah masalah sama sekali.
Suasana semakin sunyi ketika ketukan suara sepatu itu mulai
menghilang. Bersamaan dengan berhentinya pergerakan Nhea yang berakhir dengan
mendaratkan bokongnya pada salah satu tempat duduk yang masih kosong di sekitar
mereka.
Keheningan kian meraja lela. Mengambil alih tempat ini
seutuhnya. Mereka tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Setelah kejadian yang
tidak disangka-sangka kemarin, entah kenapa semuanya ikut berubah. Bukan
seperti ini situasi yang mereka inginkan.
“Jadi, kenapa kalian memanggilku?” tanya Nhea secara
tiba-tiba.
Untuk yang kesekian kalinya, gadis itu kembali memecahkan
keheningan suasana di antara mereka. Lagipula awalnya ia sama sekali tidak
bermaksud seperti itu. Nhea hanya ingin tahu apa alasan mereka sampai menahan
gadis itu agar tetap berada di sini sampai hampir tengah malam. Jika alasannya
cukup penting dan masuk akal, maka Nhea sama sekali tidak keberatan untuk
menghabiskan waktunya di tempat ini sampai kapan pun. Jika sebaliknya, maka
kemungkinan Nhea akan mempertimbangkan alasan tersebut terelebih dahulu. Dia
tidak ingin membuang-buang waktunya untuk hal yang tidak penting.
Matanya menyoroti orang-orang yang tengah berada di depannya
secara bergantian. Kali ini jauh lebih santai daripada sebelumnya. Harusnya
mereka segera memikirkan jawaban yang tepat dengan cepat. Mereka tahu jika Nhea
bukan orang yang suka menunggu terlalu lama. Dia juga tidak pernah membuat
orang lain menunggu dirinya.
Kini tatapannya terasa jauh lebih dalam. Manik matanya
berkilau karena pantulan sinar kejinggaan dari lentera yang memenuhi setiap
sudut ruangan. Jika mereka tidak bodoh, harusnya tahu jika Nhea sedang menuntut
__ADS_1
jawaban atas pertanyaannya tadi. Dia tidak bisa menunggu terlalu lama.
“Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan kepadamu,” ujar Jang
Eunbi dengan hati-hati. Dia harus menjaga ucapannya kali ini. Perasaan Nhea
pasti menjadi jauh lebih sensitif setelah kejadian tak mengenakkan di antara
mereka beberapa hari yang lalu.
“Katakan saja,” balas gadis itu secara gamblang.
“Aku tidak memliki banyak waktu. Sebelum tengah malam aku
harus sudah sampai di kamar asrama,” jelas Nhea kemudian.
“Baiklah,” balas Jang Eunbi.
Mereka sempat saling melempar pandangan satu sama lain untuk
beberapa saat. Jang Eunbi berdeham pelan untuk mengurangi rasa gugupnya
sekaligus menetralisir atmosfir sekitar. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
“Omong-omong soal kejadian kemarin, aku minta maaf karena
telah menyakiti perasaanmu. Aku sungguh tidak menduga jika akhirnya akan
seperti ini,” ujar gadis itu yang kemudian ikut diangguku oleh Jongdae.
“Aku juga ingin meminta maaf kepadamu atas semua kesalahan
yang pernah kuperbuat kepadamu. Tidak sebatas yang kemarin saja,” balas
Jongdae.
“Sepertinya aku telah banyak melukai perasaaanmu sejak awal
Nhea tidak langsung membalas perkataan mereka barusan.
Diperhatikannya sepasang bola mata Jang Eunbi dan juga Jongdae secara
bergantian. Usahanya untuk mencari kebohongan yang kemungkinan terselip
ternyata nihil. Dia tidak bisa menemukan apa-apa di sana. Binar mata keduanya
benar-benar menunjukkan ketulusan. Mereka tidak sedang berbohong dengan
ucapannya barusan. Walaupun sebenarnya Nhea tidak terlalu percaya dengan semua
itu. Tapi, mata tidak bisa berbohong. Kini tidak ada alasan lagi bagi gadis itu
untuk tidak mempercayai mereka.
Ia mengela napasnya sebentar. Mencoba untuk melepaskan semua
beban perasaan yang selama ini ia pendam. Nhea cukup ahli dalam menyembunyikan
sesuatu. Menyimpan semuanya dengan apik, sehingga tidak ada seorang pun yang
menyadari hal tersebut.
“Aku sudah memaafkan kalian sejak awal,” ungkap Nhea.
“Jadi, tidak perlu berlarut-larut dalam rasa bersalah,”
tukasnya.
Jang Eunbi dan Jongdae langsung melempar pandangan selama
beberala detik, sebelum mengalihkan perhatiannya kembali kepada Nhea. Raut
wajah mereka menujukkan beragam ekspresi yang menjadi satu. Yang jelas semua
__ADS_1
itu adalah sebuah reaksi dari emosi positif.
“Perkataanmu yang tadi itu sungguh-sungguh kan?” tanya Jang
Eunbi sekali lagi untuk memastikan jika telinganya tidak salah dengar. Ia
berharap seperti itu.
Untuk yang kesekian kalinya, Nhea kembali menghela napasnya
kasar. Ia tahu ini melelahkan. Namun, mau tak mau ia tetap harus menjelaskan
lagi supaya tidak ada kesalahpahaman yang malah akan berbuntut panjang lagi
nantinya.
“Memangnya sejak kapan aku main-main?” tanya Nhea balik.
Otaknya masih menolak untuk percaya. Tidak peduli seberapa
sering mereka mencoba untuk myakinkan dirinya sendiri. Tapi, hasilnya tetap
saja sama seperti yang sebelumnya. Tidak ada perubahan berarti.
Kata-kata Nhea tadi sungguh sulit untuk diterima oleh akal
sehat. Bagaimana bisa gadis itu bersikap begitu santai dan memberikan maaf
kepada mereka secara cuma-cuma. Seolah ia sama sekali tidak mempermasalahkan hal
tersebut. Seolah yang kemarin itu bukan apa-apa.
Bagaiamana bisa ada manusia seperti dirinya. Sungguh sulit
dipercaya. Tunggu dulu. Dia bukan manusia seutuhnya. Hampir delapan puluh
persen darah yang mengalir di dalam tubuhnya berasal dari kaum kegelapan. Dan
hanya tersisa sebagian kecil darah manusia di dalamnya. Meski begitu, ia tetap
bersikap seperti manusia pada umumnya. Bahkan rasa kemanusiaannya jauh lebih besar
dari pada manusia pada umumnya.
Setelah dirasa tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi,
Nhea buru-buru menyudahi percakapan mereka malam ini. Seperti yang sudah
dikatakan oleh gadis ini sebelumnya, jika ia tidak bisa berlama-lama. Kemarin
jam tidurnya sempat berantakan. Selain karena Eun Ji Hae, cahaya bulan purnama
yang mencuat malam itu juga membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang. Entah
kenapa alasannya. Jadi, mala mini Nhea memutuskan untuk tidur lebih cepat. Dia
tidak ingin terjaga sepanjang malam lagi seperti kemarin.
Sebenarnya Nhea masih belum bisa mempercayai teman-temannya
yang satu itu. Ada dua alasan yang memungkinkan kenapa mereka memutuskan untuk
meminta maaf kepadanya. Yang pertama, mereka meungkin memang benar-benar merasa
bersalah dan telah menyesali perbuatannya. Yang kedua, karena bisa jadi kemarin
Oliver tidak sengaja melihatnya pergi meninggalkan gedung sekolah bersama Eun
Ji Hae setelah jam belajar selesai. Bisa disimpulkan jika mereka tidak mau
terkena masalah dengan orang yang bernama Eun Ji Hae itu. Karena pasti tidak
akan mudah untuk melepaskan diri dari semua jeratannya.
__ADS_1