
Jika dilihat dari tangannya, kelihatannya ini adalah tangan seorang pria. Terlihat kasar dan ukurannya jauh lebih besar daripada tangan wanita pada umumnya yang terkesan mungil. Rasanya sangat aeh dan tak masuk akal sama sekali. Ia bisa mengingat dengan jelas jika hanya ada ayah dan ibunya saja di sini ketika dirinya tersadar tadi. Tak mungkin ada orang lain di sana kecuali mereka bertiga, kecuali orang itu diam-diam menyusup ke dalam tempat ini sebelum Nhea bangun.
Gadis itu semakin ketakutan di buatnya, jantungnya semakin berdegup kencang. Membayangkannnya saja sudah membuatnya bergidik ngeri. Bagaimana bisa hal semacam ini terjadi begitu saja kepadanya. Gadis ini terus berusaha menerka-nerka siapa kiranya sosok ini, tanpa pernah berani untuk menoleh kebelakang.
Lagi-lagi sebuah tindakan yang dilakukan secara tiba-tiba itu nyaris membuat jantungnya copot. Kini temponya sudah tak beraturan lagi rasanya. Nafasnya terasa begitu memburu, karena dipengaruhi oleh tempo detak jantungnya yang kian cepat juga. Nhea memejamkan matanya kuat-kuat. Gadis itu sungguh tak punya cukup nyali untuk melihat sosok yang ia duga sebagai hantu ini.
Sedetik kemudian, ia bisa merasakan jika ada sebuah tangan yang menyentuh dagunya. Tangan itu terasa sangat dingin, seperti layaknya sedang membeku. Posisi Nhea kini semakin terdesak dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Hantu in telah benar-benar membuatnya mati ketakutan. Gadis ini mulai curiga jika sebenarnya hantu penunggu sekolah ini akan membunuhnya secara perlahan. Penyerahan diri secara terpaksa, adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini.
Tanpa pernah ia duga sebelumnya, kini hantu itu menempelkan wajahnya tepat di depan wajah gadis ini. Nhea sangat yakin jika yang sedang ia hadapi ini adalah hantu, karena gadis itu sama sekali tak bisa merasakan hembusan napasnya sedikitpun. Ia tak tahu apakah orang ini memang sengaja menahan napasnya atau bagaimana. Tapi satu hal yang ia yakini saat ini adalah jika sosok ini bukanlah seorang manusia, melainkan sejenis mahluk gaib yang tak kasat mata.
“Hei, buka matamu…” bisik suara tersebut dengan lembut di telinganya.
Nhea menelan salivanya dengan susah payah, kali ini ia tak tahu harus bagaimana. Sepertinya suara ini masih berasal dari sumber yang sama. Dengan segenap nyali yang ia miliki, gadis itu lantas memberanikan diri untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh sosok itu. Meskipun pada dasarnya ia tak mau melakukan hal itu sama sekali.
Dengan perlahan dan sangat hati-hati, gadis itu berusaha untuk membuka kedua kelopak matanya. Dan yang ia dapati hanyalah seorang pria yang tak terlalu muda, juga tak terlalu tua berdiri di hadapannya. Ia tak tahu jelas mahluk jenis apa ini, yang jelas parasnya sangat rupawan. Terlalu tampan untuk ukuran seorang hantu.
Pria itu berdiri tepat di depannya, dengan jarak yang sangat dekat. Nyaris tak ada jarak sedikitpun diantara mereka berdua saat ini. Kini sosok itu tengah menyudutkan Nhea ke salah satu sisi dinding di ruangan ini. Menatap gadis ini dengan sorot mata lekat dan begitu dalam.
__ADS_1
Setidaknya kini gadis itu bisa bernapas lega, karena pada kenyataannya sosok yang dilihatnya itu tak seburuk yang ia kira. Tapi hantu mana yang memiliki rupa setampan ini. Pria yang diklaim sebagai mahluk astral itu, nyaris saja seperti sempurna.
“Apa kau masih mengingatku?” tanya pria itu dengan suara beratnya yang begitu dalam.
“S-si-siapa?” ucap Nhea yang malah bertanya balik.
Pria itu menjauhkan wajahnya sedikit dari Nhea, kemudian menghela napas panjang. Meskipun sebenarnya gadis ini tak yakin, jiak pria itu benar-benar bisa bernapas layaknya manusia pada umumnya.
“Aku sudah menyelamatkanmu dari tidur panjang ini,” ujar pria itu dengan nada bicara setenang mungkin.
“Kau tak perlu tahu, yang terpenting bagiku saat ini adalah keselamatanmu,” jelas pria tersebut.
“Tapi aku tak pernah mengenal, atau bahkan bertemu denganmu sebelumnya,” ucap Nhea dengan ragu.
Pria itu hanya bisa mendengus sebal, namun hal itu tak berlangsung lama. Kemudian pria itu lantas mundur beberapa langkah, sambil menyeringai tajam yang terkesan licik. Setelah itu pria ini langsung membungkukkan tubuhnya dengan anggun di hadapan gadis ini. Nhea bisa melihat punggung nya yang terlihat begitu elegan, terselimuti oleh jubah hitam yang sepertinya dibuat dari sutra itu. Cahaya jingga pekat dari lilin, menyentuh halus punggung pria ini.
“Perkenalkan, namaku Chanwo dan hanya terdiri dari satu suku kata saja,” ucapnya.
__ADS_1
“Chanwo? Sepertinya aku tak pernah mendengar nama itu sebelumnya,” ujar Nhea dengan apa adanya.
“Terserah padamu saja, aku yakin kau tak akan mengingat pertemuan kita yang tak pernah disengaja itu,” jelas Chanwo.
“Apa kau tak ingin mengucapkan sesuatu kepadaku?” lanjutnya.
Gadis ini semakin dibuat kebingungan oleh pria aneh ini. Soal pertemuan mereka yang diklaim oleh pria itu pernah terjadi saja, rasanya gadis ini masih memiliki beberapa pertanyaan lagi. Sekarang ia sudah diberikan topik baru yang bahkan tak ia mengerti sama sekali. Rasanya kepalanya terlalu cepat untuk berpikir keras, setelah sempat tak sadarkan diri selama beberapa hari.
“Apa maksudnya?” tanya Nhea sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
“Begini, aku sudah menolongmu dengan susah payah. Apakah kau tak ingin berterimakasih kepadaku?” jelas Chanwo dengan begitu sabar.
Sebenarnya tak ada yang pernah tahu, apakah seorang vampir seperti pria ini memiliki kesabaran. Hal semacam itu harusnya hanya dimiliki oleh manusia saja.
__ADS_1