
Tidak ada yang tahu pasti papa penyebabnya. Mereka semua
hanya bisa menebak, tanpa pernah tahu alasan pastinya di balik semua kejadian
ini. Runtutan peristiwanya saja sudah tidak jelas mau kemana arahnya. Semua hal
ini seolah terjadi secara misterius. Tanpa diketahui apa penyebab pastinya atau
asal-sul lainnya yang bisa mendasari argument tersebut. Tidak ada satu hal pun
yang terasa cukup masuk akal di sini. semuanya terjadi di luar akal sehat
manusia. Sungguh tidak logis.
Memang banyak hal tidak logis yang terjadi di dalam dunia
sihir. Tapi bukan berarti jika mereka tidak pernah berpikir logi sama sekali. Setidaknya,
merka harus tetap bersikap realistis di kehidupan sehari-hari. Terlepas dari
semua pengaruh sihir yang selama ini melekat kuat dalam kehidupan mereka.
Tidak semua hal bisa disama ratakan. Beberapa kondisi bahkan
tidak bisa ditoleran lagi. kita harus pandai-pandai dalam menyesuaikan keadaan.
“Apa yang harus kita lakukan dengannya?” tanya salah satu
siswa.
Ia memutuskan untuk buka suara dan memecah keheningan
suasana.
“Kita pindahkan saja dia ke ruangan perawatan. Tapi jangan
pernah biarkan lapisan es tersebut bersentuhan dengan kulit kalian secara langsung,”
jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.
Di saat orang lain tidak mampu berbuat apa-apa lagi, maka
Eun Ji Hae lah yang harus turun tangan. Mereka tidak bisa selamanya hanya
mengandalkan para tetua di sekolah ini saja. Yang mudah juga harus belajar
untuk mengendalikan situasi. Karena suatu hari nanti, mereka tetap akan
merasakan posisi tersebut. Mereka akan menjadi para penerus tetua hari ini.
“Pakai sarung tangan kalian untuk mencegah hal tersebut
terjadi,” timpal Bibi Ga Eun beberapa saat kemudian.
Tanpa pikir panjang lagi, beberapa siswa segera berinisiatif
untuk membantu tanpa harus disuruh terlebih dahulu. Iniah yang selama ini
mereka semua harapkan. Yaitu kesadaran dari dalam diri mereka masing-masing.
Jika semua orang saling membantu seperti ini, maka kemungkinan besar masalahnya
akan segera selesai. Kuncinya hanya satu, yaitu bekerja sama.
“Yang lain, silahkan kembali ke ruangannya masing-masing!”
ujar Vallery.
__ADS_1
Wanita itu sengaja membubarkan mereka semua. Lagi pula tidak
ada gunanya jika mereka berkerumun di sini. Tidak perlu waktu lama bagi Vallery
untuk melihat tempat ini kosong. Hanya dalam hitungan menit saja, sudah tidak
ada siapa-siapa lagi di tempat ini kecuali beberapa orang. Salah satunya
termasuk Nhea. Ia masih sibuk mengamati jejak kaki tikus-tikus itu dari balik
jendela. Yang bahkan sudah tidak terlihat lagi saat ini karena tertimbun oleh
salju lainnya. Ia hanya melakukan pekerjaan yang sia-sia.
“Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Eun Ji Hae.
“Bukan apa-apa,” dalih Nhea.
Gadis itu segera berbalik menghadap semua orang yang sedang
menatapnya dengan aneh saat ini.
“Kalau begitu kembali lah ke kamar mu!” perintah Eun Ji Hae.
Nhea hanya bisa berdecak sebal sambil memutar bola matanya
malas. Mau tidak mau ia harus menuruti perkataan gadis ini lagi. Eun Ji Hae
bukan tipikial orang yang suka dibantah ucapannya. Tapi, bukan itu satu-satunya
hal yang membuat Nhea merasa kesal. Ada alasan lain yang baginya terasa jauh
lebih menjengkelkan. Memangnya apa lagi jika bukan nada bicaranya. Entah apa
yang salah dengan Eun Ji Hae. Gadis itu selalu terlihat sentimental sekali
Bukan Eun Ji Hae namanya jika nada bicaranya tidak terdengar
menyebalkan seperti akan mencari masalah terhadap orang lain. Padahal ia memang
sudah begitu sejak dulu. Entah apa alasannya kenapa nada bicara Eun Ji Hae bisa
terkesan ketus seperti itu. Ia sendiri
bahkan tidak tahu. Meski menurut orang lain itu terlalu ketus dan tidak
bersahabat sama sekali, namun baginya itu adalah cara paling normal untuk
berbicara. Eun Ji Hae sampai tidak tahu lagi harus berbuat seperti apa untuk
memenuhi ekspektasi semua orang. Gadis itu memutuskan untuk menjadi dirinya
sendiri saja saat ini dan seterusnya. Tidak ada yang perlu dirubah sama sekali
darinya.
Setelah Nhea pergi dari sana, kini hanya tersisa keluarga
inti saja. Mereka amsih berdisi di tegah-tengah ruangan aula tersebut. Saling melempar
tatapan satu sama lain. Entah apa maknanya. Hal tersebut terjadi selama
beberapa detik. Membuat suasana kembali menjadi hening seketika.
Begitu Nhea pergi hanya ada empat orang lagi di sana. Di
antaranya adalah Bibi Ga Eun, Eun Ji Hae, Vallery dan juga tentu saja Wilson. Mereka
__ADS_1
adalah orang yang paling penting di sekolah ini. Jauh lebih penting dari apa
pun. Sekaligus merupakan orang yang paling sibuk. Mereka memiliki tanggung
jawab besar untuk menjaga seluruh bagian dari sekolah ini. Baik itu mahluk
hidup atau bukan. Selama ia masih menjadi bagian dari sekolah ini, meski berada
di sudut terkecil sekali pun, itu tetap menjadi tanggung jawab mereka. Mereka tidak
bisa lepas dari tanggung jawabnya begitu saja. Itu sebabnya kenapa mereka
menjadi orang yang paling pusing dari semua orang yang ada. Mereka tidak boleh
menunjukkan rasa khawatirnya sama sekali, meski tidak bisa dipungkiri jika
mereka tetap merasakan hal tersebut. Jika mereka saja ketakutan, bagaimana
dengan yang lain. Apa yang akan mereka katakan kepada siswa lainnya.
Sejauh ini hanya ada satu cara untuk tetap bertahan hidup. Yaitu
dengan tetap tenang. Mereka berempat memegang sebuah kunci besar untuk lepas dari
segala kesulitan yang ada saat ini. Hanya mereka yang bisa menggunakan kunci
tersebut secara tepat. Tidak ada yang lain. Juga tidak bisa ditawar. Oleh sebab
itu, kenapa mereka harus tetap tenang. Tentu saja agar mereka bisa berpikir
dengan jernih.
“Kalau begitu, aku juga akan kembali ke kamarku,” pamit Eun
Ji Hae.
Dia merasa perlu untuk mengistirahatkan tubuhnya. Padahal mereka
baru saja selesai sarapan. Tapi entah kenapa tubuhnya sudah begitu letih. Ia bahkan
belum melakukan apa-apa.
“Tetaplah di sana sampai sesuatu memanggilmu keluar,” ujar
Wilson.
Eun Ji Hae hanya mengangguk-anggukkan kepalanya untuk
mengiyakan perkataan pria itu. Merasa tidak ada yang perlu ditunggu lagi, Eun
Ji Hae segera bergegas untuk kembali ke kamarnya. Dia perlu memberikan jeda
untuk pikirannya sendiri. Mungkin itu adalah satu-satunya cara untuk membuatnya
tetap bisa bisa berpikir secara logis di sini. Mereka perlu untuk segera
memecahkan masalahnya. Tidak ada waktu lagi. Mereka ahrus bertindak cepat jika
ingin selamat.
“Sepertinya aku mulai tidak waras,” gumam Eun Ji Hae saat
dalam perjalanan kembali ke kamarnya.
Ia memijat pelipisnya dengan lembut. Rasanya otaknya telah
terbakar. Mungkin kepalanya akan meledak sekarang juga. Gadis itu sungguh tak habis pikir
__ADS_1
dengan semuua hal yang terjadi di sini hari ini.