Mooneta High School

Mooneta High School
Stressed


__ADS_3

Tidak ada yang tahu pasti papa penyebabnya. Mereka semua


hanya bisa menebak, tanpa pernah tahu alasan pastinya di balik semua kejadian


ini. Runtutan peristiwanya saja sudah tidak jelas mau kemana arahnya. Semua hal


ini seolah terjadi secara misterius. Tanpa diketahui apa penyebab pastinya atau


asal-sul lainnya yang bisa mendasari argument tersebut. Tidak ada satu hal pun


yang terasa cukup masuk akal di sini. semuanya terjadi di luar akal sehat


manusia. Sungguh tidak logis.


Memang banyak hal tidak logis yang terjadi di dalam dunia


sihir. Tapi bukan berarti jika mereka tidak pernah berpikir logi sama sekali. Setidaknya,


merka harus tetap bersikap realistis di kehidupan sehari-hari. Terlepas dari


semua pengaruh sihir yang selama ini melekat kuat dalam kehidupan mereka.


Tidak semua hal bisa disama ratakan. Beberapa kondisi bahkan


tidak bisa ditoleran lagi. kita harus pandai-pandai dalam menyesuaikan keadaan.


“Apa yang harus kita lakukan dengannya?” tanya salah satu


siswa.


Ia memutuskan untuk buka suara dan memecah keheningan


suasana.


“Kita pindahkan saja dia ke ruangan perawatan. Tapi jangan


pernah biarkan lapisan es tersebut bersentuhan dengan kulit kalian secara langsung,”


jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.


Di saat orang lain tidak mampu berbuat apa-apa lagi, maka


Eun Ji Hae lah yang harus turun tangan. Mereka tidak bisa selamanya hanya


mengandalkan para tetua di sekolah ini saja. Yang mudah juga harus belajar


untuk mengendalikan situasi. Karena suatu hari nanti, mereka tetap akan


merasakan posisi tersebut. Mereka akan menjadi para penerus tetua hari ini.


“Pakai sarung tangan kalian untuk mencegah hal tersebut


terjadi,” timpal Bibi Ga Eun beberapa saat kemudian.


Tanpa pikir panjang lagi, beberapa siswa segera berinisiatif


untuk membantu tanpa harus disuruh terlebih dahulu. Iniah yang selama ini


mereka semua harapkan. Yaitu kesadaran dari dalam diri mereka masing-masing.


Jika semua orang saling membantu seperti ini, maka kemungkinan besar masalahnya


akan segera selesai. Kuncinya hanya satu, yaitu bekerja sama.


“Yang lain, silahkan kembali ke ruangannya masing-masing!”


ujar Vallery.

__ADS_1


Wanita itu sengaja membubarkan mereka semua. Lagi pula tidak


ada gunanya jika mereka berkerumun di sini. Tidak perlu waktu lama bagi Vallery


untuk melihat tempat ini kosong. Hanya dalam hitungan menit saja, sudah tidak


ada siapa-siapa lagi di tempat ini kecuali beberapa orang. Salah satunya


termasuk Nhea. Ia masih sibuk mengamati jejak kaki tikus-tikus itu dari balik


jendela. Yang bahkan sudah tidak terlihat lagi saat ini karena tertimbun oleh


salju lainnya. Ia hanya melakukan pekerjaan yang sia-sia.


“Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Eun Ji Hae.


“Bukan apa-apa,” dalih Nhea.


Gadis itu segera berbalik menghadap semua orang yang sedang


menatapnya dengan aneh saat ini.


“Kalau begitu kembali lah ke kamar mu!” perintah Eun Ji Hae.


Nhea hanya bisa berdecak sebal sambil memutar bola matanya


malas. Mau tidak mau ia harus menuruti perkataan gadis ini lagi. Eun Ji Hae


bukan tipikial orang yang suka dibantah ucapannya. Tapi, bukan itu satu-satunya


hal yang membuat Nhea merasa kesal. Ada alasan lain yang baginya terasa jauh


lebih menjengkelkan. Memangnya apa lagi jika bukan nada bicaranya. Entah apa


yang salah dengan Eun Ji Hae. Gadis itu selalu terlihat sentimental sekali


Bukan Eun Ji Hae namanya jika nada bicaranya tidak terdengar


menyebalkan seperti akan mencari masalah terhadap orang lain. Padahal ia memang


sudah begitu sejak dulu. Entah apa alasannya kenapa nada bicara Eun Ji Hae bisa


terkesan ketus seperti itu.  Ia sendiri


bahkan tidak tahu. Meski menurut orang lain itu terlalu ketus dan tidak


bersahabat sama sekali, namun baginya itu adalah cara paling normal untuk


berbicara. Eun Ji Hae sampai tidak tahu lagi harus berbuat seperti apa untuk


memenuhi ekspektasi semua orang. Gadis itu memutuskan untuk menjadi dirinya


sendiri saja saat ini dan seterusnya. Tidak ada yang perlu dirubah sama sekali


darinya.


Setelah Nhea pergi dari sana, kini hanya tersisa keluarga


inti saja. Mereka amsih berdisi di tegah-tengah ruangan aula tersebut. Saling melempar


tatapan satu sama lain. Entah apa maknanya. Hal tersebut terjadi selama


beberapa detik. Membuat suasana kembali menjadi hening seketika.


Begitu Nhea pergi hanya ada empat orang lagi di sana. Di


antaranya adalah Bibi Ga Eun, Eun Ji Hae, Vallery dan juga tentu saja Wilson. Mereka

__ADS_1


adalah orang yang paling penting di sekolah ini. Jauh lebih penting dari apa


pun. Sekaligus merupakan orang yang paling sibuk. Mereka memiliki tanggung


jawab besar untuk menjaga seluruh bagian dari sekolah ini. Baik itu mahluk


hidup atau bukan. Selama ia masih menjadi bagian dari sekolah ini, meski berada


di sudut terkecil sekali pun, itu tetap menjadi tanggung jawab mereka. Mereka tidak


bisa lepas dari tanggung jawabnya begitu saja. Itu sebabnya kenapa mereka


menjadi orang yang paling pusing dari semua orang yang ada. Mereka tidak boleh


menunjukkan rasa khawatirnya sama sekali, meski tidak bisa dipungkiri jika


mereka tetap merasakan hal tersebut. Jika mereka saja ketakutan, bagaimana


dengan yang lain. Apa yang akan mereka katakan kepada siswa lainnya.


Sejauh ini hanya ada satu cara untuk tetap bertahan hidup. Yaitu


dengan tetap tenang. Mereka berempat memegang sebuah kunci besar untuk lepas dari


segala kesulitan yang ada saat ini. Hanya mereka yang bisa menggunakan kunci


tersebut secara tepat. Tidak ada yang lain. Juga tidak bisa ditawar. Oleh sebab


itu, kenapa mereka harus tetap tenang. Tentu saja agar mereka bisa berpikir


dengan jernih.


“Kalau begitu, aku juga akan kembali ke kamarku,” pamit Eun


Ji Hae.


Dia merasa perlu untuk mengistirahatkan tubuhnya. Padahal mereka


baru saja selesai sarapan. Tapi entah kenapa tubuhnya sudah begitu letih. Ia bahkan


belum melakukan apa-apa.


“Tetaplah di sana sampai sesuatu memanggilmu keluar,” ujar


Wilson.


Eun Ji Hae hanya mengangguk-anggukkan kepalanya untuk


mengiyakan perkataan pria itu. Merasa tidak ada yang perlu ditunggu lagi, Eun


Ji Hae segera bergegas untuk kembali ke kamarnya. Dia perlu memberikan jeda


untuk pikirannya sendiri. Mungkin itu adalah satu-satunya cara untuk membuatnya


tetap bisa bisa berpikir secara logis di sini. Mereka perlu untuk segera


memecahkan masalahnya. Tidak ada waktu lagi. Mereka ahrus bertindak cepat jika


ingin selamat.


“Sepertinya aku mulai tidak waras,” gumam Eun Ji Hae saat


dalam perjalanan kembali ke kamarnya.


Ia memijat pelipisnya dengan lembut. Rasanya otaknya telah


terbakar. Mungkin kepalanya akan meledak sekarang  juga. Gadis itu sungguh tak habis pikir

__ADS_1


dengan semuua hal yang terjadi di sini hari ini.


__ADS_2