Mooneta High School

Mooneta High School
Muse 2


__ADS_3

Sepertinya akhir-akhir ini beberapa orang memang disibukkan


dengan kegiatan mereka masing-masing. Sungguh Bergama. Di antara semua itu,


yang paling terlihat tidak sibuk sama sekali hanya Nhea. sebenarnya bukan hanya


dia satu-satunya orang yang santai. Masih banyak. Bahkan hampir separuh dari


total para siswa yang berada di akademi ini.


Sekarang sudah dua jam berlalu sejak matahari terbenam. Kini


rembulan bertugas untuk mengambil alih angkasa. Ditemani oleh beberapa benda


langit lainnya, menambah kesan indah pada malam itu. Gemerlap bintang yang


membentang di padang gulita tampak berpadu apik dengan cuaca hari itu. Temperaturnya


tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin. Sungguh bersahabat. Momen


yang tepat untuk menikmati suasana dan meresapinya.


Nhea dan Oliver masih bersiap di dalam kamarnya. Seragam


khusus akademi sihir Mooneta telah melekat di tubuh mereka. Namun, kedua gadis


ini belum kunjung beranjak dari dalam ruangan. Mereka masih sibuk untuk


memperbaiki penampilan mereka. Padahal agenda kegiatan malam hari ini hanya


jamuan makan malam, kemudian dilanjut dengan kelas seperti biasanya. Tidak ada


yang berbeda sama sekali.


Surai hitam Nhea dibiarkan terrain begitu saja. Kali ini ia ingin


tampil berbeda dengan tidak mengikat rambutnya. Sepertinya tidakn akan menjadi


masalah sama sekali. Lagipula rambut gadis ini tidak terlalu panjang. Namun,


juga tidak bisa dikatakan pendek. Jadi, tidak akan mengganggu saat beraktivitas


nanti.


Semua urusannya telah selesai. Sekarang tinggal memakai


sepatu pantofel hitam miliknya yang ia simpan di bawah tempat tidur. Ini adalah


hal yang terlihat sepele, sekaligus palign penting. Tanpa sepatu pantofel


hitam, kau tidak akan bisa masuk kelas. Akademi sihir Mooneta memang cukup disiplin.


Terutama soal seragam.


“Aku penasaran dengan menu makan malam kita hari ini,”


ungkap Oliver tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali. Gadis itu hanya fokus


kepada pantulan dirinya yang ada di cermin saja.


“Kita akan segera tahu nanti begitu sampai ke sana,” balas


Nhea dengan tenang.


Ia segera bangkit dari posisinya, tepat setelah urusan alas


kakinya selesai. Kini penampilan Nhea sudah sempurna dari ujung kepala sampai


ujung kaki. Tinggal berangkat menuju gedung utama saja. Pasti sudah banyak

__ADS_1


orang yang sampai di sana lebih dulu. Mungkin, sekarang lebih dari separuh kapasitas


ruangan telah terisi.


Tenang saja, mereka belum terlambat. Masih ada banyak sisa


waktu. Tidak ada kata terlambatt, sebelum mereka sampai di antrian terakhir.


‘CEKLEK!’


Sebelum bepergian, pastikan pintu kamar selalu terkunci. Itu


adalah hal yang paling utama di sini. Meski mereka tengah berada di dalam


kawasan akademi sihir Mooneta, bukan berarti mereka tidak bisa mengalami hal


buruk. Jika diingat-ingat kembali saja, sudah lebih dari tiga kali hal buruk


yang terjadi dalam kurun waktu belakangan ini. Bukan sesuatu yang mengejutkan


lagi memang. Bahaya bisa mengancam kapan saja dan dimana saja. Tidak ada


salahnya untuk selalu berjaga-jaga. Setidaknya waspada akan membuatmu aman.


Sesuai dengan dugaan sebelumnya, mereka sama sekali belum


terlambat. Bahkan para anggota keluarga saja masih sibuk mengantri. Itu


artinya, mereka masih memiliki banyak sisa waktu. Tanpa pikir panjang, Nhea dan


Oliver segera memasuki barisan untuk mngantri sama seperti biasanya. Mereka


perlu mengantri terlebih dahulu untuk mendapatkan jatah makanannya. Tidak


peduli seberapa tinggai jabatannya di akademi ini. Mereka tetap harus melakukan


hal yang sama. Tidak ada perlakuan khusus di sini.


diri pada barisan ini. Sebenarnya, Nhea dan Oliver tidak mendapatkan urutan


paling akhir. Tapi, tetap saja mereka tetap harus menunggu untuk bisa sampai ke


depan dan mengambil makanan mereka segera bergiliran. Semua itu tidak sebentar.


Tak ingin terlalu memikirkan hal tersebut, Nhea lantas


melemparkan pandangannya ke segala arah. Mencari sesuatu yang kira-kira bisa


mengusir rasa bosannya kelak. Pandangannya mengedar ke seluruh pnejuru ruangan.


Menyapu setiap objek yang ada di tempat ini. Tidak ada satu pun yang lolos


begitu saja dari pandangannya.


Nhea kembali memperhatikan desain interior bagunan ini yang


mengusung tema klasik. Lebih tepatnya seperti kebanyakan bangunan pada era


victoria. Ada beberapa lukisan di yang dipajang di dalam ruangan ini.


Perabotannya juga tidak terlalu banyak. Hanya beberapa meja besar dan juga


kursi-kursi panjang yang mendomiasi ruangan ini.


Seluruh tembok bagian dalam dan luar di selimuti oleh cat


berwarna putih gading. Warna netral yang tidak terlalu mencolok di mata. Sehingga


siapa saja akan betah memandanginya lama-lama.

__ADS_1


Jika dipikir-pikir, entah bagaimana ia bisa sampai ke sini.


Awalnya, Bibi Ga Eun yang mengajaknya untuk pindah dari kota. Nhea sudah tidak


begitu menikmat suasana di sekolah lamanya. Begitu katanya, sebelum memutuskan


permohonan untuk pindah sekolah kepada Bibi Ga Eun.


Nhea sama sekali tidak habis pikir waktu itu jika Bibi Ga


Eun akan membawanya ke akademi sihir Mooneta. Tampat yang bahkan selama ini ia


tidak pernah tahu jika ada akademi sihir seperti itu. Tempat ini bukan tempat


biasa. Tidak Normal. Sama seperti para manusia yang berada di dalamnya.


Termasuk Nhea tentu saja.


Ada banyak misteri yang terkubur oleh waktu di tempat ini.


Hanya tinggal bagaimana cara mereka untuk membongkarnya. Sejauh ini, Nhea telah


mengetahui beberapa informasi penting. Bahkan beberapa di antaranya bersifat


rahasia. Tidak sembarang orang bisa tahu. Karena ia merupakan anggota keluarga,


maka itu adalah sebuah kunci untuk membuka akses tak terhingga.


“Hei!” sahut Oliver yang bediri tepat di belakangnya sambil


menepuk pundak gadis itu.


Sontak Nhea langsung tersadar dari lamunannya seketika. Isi


pikirannya mendadak buyar. Ia tidak tahu jika lagi-lagi dirinya kembali


melamun. Nhea sama sekali tidak memperkirakan hal tersebut tadinya. Apalagi


sampai tenggelam ke dalam pikirannya sendiri.


“Kau bisa mau beberapa langkah,” ujar Oliver.


Bagaimana bisa Nhea baru menyadari hal tersebut. Dia sudah


membiarkan jarak terbentang begitu saja. Seharusnya dia tidak melamun tadi. Terutama


pada saat mengantri seperti ini. Tanpa pikir panjang lagi, Nhea segera


melangkah maju. Mengisi kekosongan tersebut. Entah apa yang dipikirkannya,


sampai tidak memperhatikan antrian seperti ini. Beruntung tidak ada satu pun


dari mereka yang ingin memotong antrean.


Hanya tinggal tersisa beberapa orang lain, sebelum Nhea


mendapatkan giliran untuk mengambil jatah makan malamnya. Yang jelas, anggota


keluarga yang lain tentu sudah siap lebih dulu. Mereka bahkan sudah menempati


kursinya masing-masing. Berbincang ringan sembari menunggu semuanya berkumpul.


“Apa kau mau sup?” tawar salah satu penjaga makanan.


“Boleh juga,” balas Nhea sambil tersenyum tipis.


Tidak bisa dipungkiri jika udara


malam ini terbilang cukup sejuk. Hampir mendekati dingin. Jadi, tidak ada

__ADS_1


salahnya jika Nhea mangonsumsi sup agar tubuhnya tetap hangat.


__ADS_2