
Sepertinya akhir-akhir ini beberapa orang memang disibukkan
dengan kegiatan mereka masing-masing. Sungguh Bergama. Di antara semua itu,
yang paling terlihat tidak sibuk sama sekali hanya Nhea. sebenarnya bukan hanya
dia satu-satunya orang yang santai. Masih banyak. Bahkan hampir separuh dari
total para siswa yang berada di akademi ini.
Sekarang sudah dua jam berlalu sejak matahari terbenam. Kini
rembulan bertugas untuk mengambil alih angkasa. Ditemani oleh beberapa benda
langit lainnya, menambah kesan indah pada malam itu. Gemerlap bintang yang
membentang di padang gulita tampak berpadu apik dengan cuaca hari itu. Temperaturnya
tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin. Sungguh bersahabat. Momen
yang tepat untuk menikmati suasana dan meresapinya.
Nhea dan Oliver masih bersiap di dalam kamarnya. Seragam
khusus akademi sihir Mooneta telah melekat di tubuh mereka. Namun, kedua gadis
ini belum kunjung beranjak dari dalam ruangan. Mereka masih sibuk untuk
memperbaiki penampilan mereka. Padahal agenda kegiatan malam hari ini hanya
jamuan makan malam, kemudian dilanjut dengan kelas seperti biasanya. Tidak ada
yang berbeda sama sekali.
Surai hitam Nhea dibiarkan terrain begitu saja. Kali ini ia ingin
tampil berbeda dengan tidak mengikat rambutnya. Sepertinya tidakn akan menjadi
masalah sama sekali. Lagipula rambut gadis ini tidak terlalu panjang. Namun,
juga tidak bisa dikatakan pendek. Jadi, tidak akan mengganggu saat beraktivitas
nanti.
Semua urusannya telah selesai. Sekarang tinggal memakai
sepatu pantofel hitam miliknya yang ia simpan di bawah tempat tidur. Ini adalah
hal yang terlihat sepele, sekaligus palign penting. Tanpa sepatu pantofel
hitam, kau tidak akan bisa masuk kelas. Akademi sihir Mooneta memang cukup disiplin.
Terutama soal seragam.
“Aku penasaran dengan menu makan malam kita hari ini,”
ungkap Oliver tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali. Gadis itu hanya fokus
kepada pantulan dirinya yang ada di cermin saja.
“Kita akan segera tahu nanti begitu sampai ke sana,” balas
Nhea dengan tenang.
Ia segera bangkit dari posisinya, tepat setelah urusan alas
kakinya selesai. Kini penampilan Nhea sudah sempurna dari ujung kepala sampai
ujung kaki. Tinggal berangkat menuju gedung utama saja. Pasti sudah banyak
__ADS_1
orang yang sampai di sana lebih dulu. Mungkin, sekarang lebih dari separuh kapasitas
ruangan telah terisi.
Tenang saja, mereka belum terlambat. Masih ada banyak sisa
waktu. Tidak ada kata terlambatt, sebelum mereka sampai di antrian terakhir.
‘CEKLEK!’
Sebelum bepergian, pastikan pintu kamar selalu terkunci. Itu
adalah hal yang paling utama di sini. Meski mereka tengah berada di dalam
kawasan akademi sihir Mooneta, bukan berarti mereka tidak bisa mengalami hal
buruk. Jika diingat-ingat kembali saja, sudah lebih dari tiga kali hal buruk
yang terjadi dalam kurun waktu belakangan ini. Bukan sesuatu yang mengejutkan
lagi memang. Bahaya bisa mengancam kapan saja dan dimana saja. Tidak ada
salahnya untuk selalu berjaga-jaga. Setidaknya waspada akan membuatmu aman.
Sesuai dengan dugaan sebelumnya, mereka sama sekali belum
terlambat. Bahkan para anggota keluarga saja masih sibuk mengantri. Itu
artinya, mereka masih memiliki banyak sisa waktu. Tanpa pikir panjang, Nhea dan
Oliver segera memasuki barisan untuk mngantri sama seperti biasanya. Mereka
perlu mengantri terlebih dahulu untuk mendapatkan jatah makanannya. Tidak
peduli seberapa tinggai jabatannya di akademi ini. Mereka tetap harus melakukan
hal yang sama. Tidak ada perlakuan khusus di sini.
diri pada barisan ini. Sebenarnya, Nhea dan Oliver tidak mendapatkan urutan
paling akhir. Tapi, tetap saja mereka tetap harus menunggu untuk bisa sampai ke
depan dan mengambil makanan mereka segera bergiliran. Semua itu tidak sebentar.
Tak ingin terlalu memikirkan hal tersebut, Nhea lantas
melemparkan pandangannya ke segala arah. Mencari sesuatu yang kira-kira bisa
mengusir rasa bosannya kelak. Pandangannya mengedar ke seluruh pnejuru ruangan.
Menyapu setiap objek yang ada di tempat ini. Tidak ada satu pun yang lolos
begitu saja dari pandangannya.
Nhea kembali memperhatikan desain interior bagunan ini yang
mengusung tema klasik. Lebih tepatnya seperti kebanyakan bangunan pada era
victoria. Ada beberapa lukisan di yang dipajang di dalam ruangan ini.
Perabotannya juga tidak terlalu banyak. Hanya beberapa meja besar dan juga
kursi-kursi panjang yang mendomiasi ruangan ini.
Seluruh tembok bagian dalam dan luar di selimuti oleh cat
berwarna putih gading. Warna netral yang tidak terlalu mencolok di mata. Sehingga
siapa saja akan betah memandanginya lama-lama.
__ADS_1
Jika dipikir-pikir, entah bagaimana ia bisa sampai ke sini.
Awalnya, Bibi Ga Eun yang mengajaknya untuk pindah dari kota. Nhea sudah tidak
begitu menikmat suasana di sekolah lamanya. Begitu katanya, sebelum memutuskan
permohonan untuk pindah sekolah kepada Bibi Ga Eun.
Nhea sama sekali tidak habis pikir waktu itu jika Bibi Ga
Eun akan membawanya ke akademi sihir Mooneta. Tampat yang bahkan selama ini ia
tidak pernah tahu jika ada akademi sihir seperti itu. Tempat ini bukan tempat
biasa. Tidak Normal. Sama seperti para manusia yang berada di dalamnya.
Termasuk Nhea tentu saja.
Ada banyak misteri yang terkubur oleh waktu di tempat ini.
Hanya tinggal bagaimana cara mereka untuk membongkarnya. Sejauh ini, Nhea telah
mengetahui beberapa informasi penting. Bahkan beberapa di antaranya bersifat
rahasia. Tidak sembarang orang bisa tahu. Karena ia merupakan anggota keluarga,
maka itu adalah sebuah kunci untuk membuka akses tak terhingga.
“Hei!” sahut Oliver yang bediri tepat di belakangnya sambil
menepuk pundak gadis itu.
Sontak Nhea langsung tersadar dari lamunannya seketika. Isi
pikirannya mendadak buyar. Ia tidak tahu jika lagi-lagi dirinya kembali
melamun. Nhea sama sekali tidak memperkirakan hal tersebut tadinya. Apalagi
sampai tenggelam ke dalam pikirannya sendiri.
“Kau bisa mau beberapa langkah,” ujar Oliver.
Bagaimana bisa Nhea baru menyadari hal tersebut. Dia sudah
membiarkan jarak terbentang begitu saja. Seharusnya dia tidak melamun tadi. Terutama
pada saat mengantri seperti ini. Tanpa pikir panjang lagi, Nhea segera
melangkah maju. Mengisi kekosongan tersebut. Entah apa yang dipikirkannya,
sampai tidak memperhatikan antrian seperti ini. Beruntung tidak ada satu pun
dari mereka yang ingin memotong antrean.
Hanya tinggal tersisa beberapa orang lain, sebelum Nhea
mendapatkan giliran untuk mengambil jatah makan malamnya. Yang jelas, anggota
keluarga yang lain tentu sudah siap lebih dulu. Mereka bahkan sudah menempati
kursinya masing-masing. Berbincang ringan sembari menunggu semuanya berkumpul.
“Apa kau mau sup?” tawar salah satu penjaga makanan.
“Boleh juga,” balas Nhea sambil tersenyum tipis.
Tidak bisa dipungkiri jika udara
malam ini terbilang cukup sejuk. Hampir mendekati dingin. Jadi, tidak ada
__ADS_1
salahnya jika Nhea mangonsumsi sup agar tubuhnya tetap hangat.