Mooneta High School

Mooneta High School
Trip


__ADS_3

Nhea hampir tidak bisa merasakan tangannya lagi karena


sedang salah satu jarinya sudah nyaris membeku. Kelingkingya mati rasa. Jari


yang satu itu sudah membiru, darahnya tak bisa mengalir dengan normal lagi. Terkadang,


tetap saja hal itu membuatnya merasa risih. Dia tidak bisa bergerak dengan


bebas hanya karena sebagian kecil dari tubuhnya nyaris membeku.


Jika saja Nhea terlahir sebagai anggota klan seutuhnya,


tanpa memiliki darah manusia sedikitpun. Pasti sekarang ia tidak akan pernah


bisa merasakan efek samping dari salju abadi tersebut. Memang lebih baik jika


langsung membeku begitu saja, dari pada harus tersiksa seperti ini. Jika saja


ada jalan keluarnya, maka ia bersedia untuk melakukan hal tersebut tanpa


diminta sama sekali.


Kondisinya semakin melemah sejak kemarin. Sepertinya merkea


harus segera sampai ke Reodal. Nhea tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Gadis


itu butuh pertolongan dengan segera. Bagaimanapun juga, hal buruk pasti akan


terjadi jika ia tetap dibiarkan dalam kondisi yang seperti ini.


Sejauh ini baru Hwang Ji Na saja yang menyadari soal bahaya


yang sedang mengancam gadis itu sekarang. Dia adalah orang pertama yang


menyadari jika ada sesuatu yang tak beres dengan Nhea. Harus diakui jika


intuisinya memang cukup kuat. Sehingga Hwang Ji Na termasuk orang yang tidak


mudah untuk dimanipulasi. Hal tersebut sama sekali tidak berlaku baginya. Lawan


akan merasa kesulitan saat harus berhadapan dengan Hwang Ji Na. Selain itu, ia


juga memiliki sikap yang cepat tanggap juga pemikir. Nyaris sempurna. Karena


pada dasanya memang tidak ada satu hal pun di dunia ini yang sempurna.


Sepanjang jalan, hanya terdapat hamparan es putih yang kian


meluas. Sejauh mata memandang, hanya ada salju di sepanjang jalan. Sepertinya


mereka tengah berjalan melalui padang hampa yang kini diselimuti salju. Tepat


di depan mereka ada sebuah danau yang telah membeku. Tidak diketahui seberapa


tebal es yang melapisi perairan tersebut.


Eun Ji Hae mengambil sebuah tongkat yang terbuat dari besi


sepanjang kira-kira satu meter. Dengan sekuat tenaga, ia mengayunkan benda


tersebut hingga menghantam permukaan es. Tentu saja hal tersebut membuat


lapisan esnya menjadi retak. Namun meski begitu, tetap tidak pecah sama sekali.


Hanya retak rambut. Antara lempengan es yang satu dengan lainnya sama sekali


belum berpisah satu sama lain.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Bibi Ga Eun dengan nada bicara


yang terdengar jauh lebih tinggi dari pada biasanya.

__ADS_1


Alih-alih bertanya, kalimat yang diucapkan oleh wanita itu


barusan jauh lebih terdengar seperti bentuk ketidak setujuan. Bibi Ga Eun


tengah protes secara tidak langsung kepada Eun Ji Hae atas perbuatan gadis itu


barusan.


“Kenapa kau merusak lapisan esnya?” tanya wanita itu lagi,


sebelum Eun Ji Hae sempat untuk menjawab pertanyaan yang sebelumnya.


“Padahal kita bisa menggunakannya untuk menyebrang dan


mempersingkat perjalanan kita!” tukas Bibi Ga Eun.


Di sisi lain, Eun Ji Hae hanya bisa menghela napasnya dengan


berat. Ternyata dewasa tak menjamin apa-apa. Termasuk kemajuan daya nalar.


Dewasa hanya soal usia dan angka, bukan tentang tuntutan sikap serta cara


berpikir. Tidak banyak yang bisa kita harapkan dari usia dewasa. Karena pada


dasarnya, usia tidak menjadi tolak ukur bagi seseorang untuk menyatakan


kedewasaannya. Ada banyak hal yang jauh lebih akurat.


Buktinya saja, Bibi Ga Eun sama sekali tidak tahu apa yang


sedang dipikirkan oleh gadis ini. Dia hanya terlalu fokus pada ambisinya saja.


Bahkan sampai melupakan salah satu hal paling penting yang bisa menyelamatkan


hidupnya juga hidup semua orang.


“Apa bibi barusan memarahiku?” tanya Eun Ji Hae dengan


begitu santai.


ungkapnya.


Eun Ji Hae bahkan tidak memberikan kesempatan sedikitpun


bagi wanita itu untuk buka suara. Jangankan orang lain, Bibi Ga Eun saja


enggan.


Semua orang tampak bingung. Tidak ada seorangpun yang


berhasil menangkap maksud dari perkataan Eun Ji Hae barusan. Susunan katanya


memang tampak sederhana. Tapi, pada kenyataannya akan sulit bagi kita untuk


menemukan poin penting yang tengah menjadi sorotan sekarang.


Sepertinya Eun Ji Hae menyadari hal itu lebih dulu. Dia tahu


jika tidak ssemua orang bisa mengerti dengan maksud dari perkataannya barusan. Dengan


senang hati, gadis itu berniat untuk menjelaskan kembali sekaligus mempertegas


kata-kata yang ia gunakan sebelumnya.


“Kalian lihat betapa tipisnya lapisan es yang terbentuk,”


ujar Eun Ji Hae sambil menunjuk ke arah yang terdapat retakan.


“Jika kita melintasi danau ini secara sekaligus dalam jumlah


yang sebesar ini, mungkin lapisan esnya akan rusak,” jelas gadis itu di kemudian.

__ADS_1


Meski belum benar-benar paham, tapi mereka mulai bisa untuk


mendapatkan gambaran tentang peristiwa buruk yang akan terjadi ke depannya. Belum


tentu jika prediksi Eun Ji Hae akan tepat seratus persen. Tapi, tidak ada


salahnya juga jika kita mengantisipasi terlebih dahulu agar kemungkinan


terburuk itu tidak sempat terjadi.


“Danau ini cukup dalam dan luas. Kita akan terjebak di


tengah-tengah dan tidak bisa kemana-mana tentunya,” papar Eun Ji Hae sekali


lagi.


“Jadi, sebaiknya kita memutar arah saja melewati jalur lain,”


usulnya.


“Ada jalan setapak di pinggir danau yang bisa kita gunakan


untuk melewati tempat ini tanpa harus menyeberang danau. Hal itu terlalu


beresiko,” jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar sebelum pada akhirnya ia


menyelesaikan kalimatnya sendiri.


“Pasti akan memakan waktu terlalu banyak jika kita melewati


jalan lain,” ujar Bibi Ga Eun.


“Benar. Kita tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi.


Sudah cukup yang kemarin saja,” timpal Vallery yang ikut menambahi.


Kesabaran Eun Ji Hae benar-benar diuji di sini. Dia bahkan


tidak bisa meluruskan pemikiran kolot itu lagi. Eun Ji Hae hampir menyerah


lebih tepatnya. Ia sampai tak tahu harus berbuat apa lagi untuk membuat para


orang tua yang berada di sini mengerti. Bagaimanapun juga, keselamatan


merupakan hal yang jauh lebih penting dari pada apa pun saat ini. Gadis itu


sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikir orang-orang yang selama ini ia


anggap benar karena telah dewasa. Namun ternyata, yang lebih tua tidak


selamanya benar.


Eun Ji Hae memiliki peran yang terbilang cukup penting dalam


meluruskan persepsi tersebut. Karena bagaimanapun juga, kaum tetua adalah yang


ditiru di sini. Mereka telah menjadi panutan bagi setiap orang. Terutama Eun Ji


Hae sendiri.


Para tetua memiliki dampak serta kontribusi yang cukup besar


terhadap sekolah ini. Baik secara sadar maupun tidak. Hal tersebut tidak bisa


dipungkiri.


“Apa kalian tetap akan menyebrang, meski tahu jika itu


berbahaya?” tanya Eun Ji Hae.


Kali ini nada bicaranya jauh lebih serius dari pada yang

__ADS_1


sebelumnya. Hal tersebut berhasil membuat semua orang menjadi ikut terbawa


suasana setelah ada sedikit perselisihan pendapat tadi.


__ADS_2