
Nhea hampir tidak bisa merasakan tangannya lagi karena
sedang salah satu jarinya sudah nyaris membeku. Kelingkingya mati rasa. Jari
yang satu itu sudah membiru, darahnya tak bisa mengalir dengan normal lagi. Terkadang,
tetap saja hal itu membuatnya merasa risih. Dia tidak bisa bergerak dengan
bebas hanya karena sebagian kecil dari tubuhnya nyaris membeku.
Jika saja Nhea terlahir sebagai anggota klan seutuhnya,
tanpa memiliki darah manusia sedikitpun. Pasti sekarang ia tidak akan pernah
bisa merasakan efek samping dari salju abadi tersebut. Memang lebih baik jika
langsung membeku begitu saja, dari pada harus tersiksa seperti ini. Jika saja
ada jalan keluarnya, maka ia bersedia untuk melakukan hal tersebut tanpa
diminta sama sekali.
Kondisinya semakin melemah sejak kemarin. Sepertinya merkea
harus segera sampai ke Reodal. Nhea tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Gadis
itu butuh pertolongan dengan segera. Bagaimanapun juga, hal buruk pasti akan
terjadi jika ia tetap dibiarkan dalam kondisi yang seperti ini.
Sejauh ini baru Hwang Ji Na saja yang menyadari soal bahaya
yang sedang mengancam gadis itu sekarang. Dia adalah orang pertama yang
menyadari jika ada sesuatu yang tak beres dengan Nhea. Harus diakui jika
intuisinya memang cukup kuat. Sehingga Hwang Ji Na termasuk orang yang tidak
mudah untuk dimanipulasi. Hal tersebut sama sekali tidak berlaku baginya. Lawan
akan merasa kesulitan saat harus berhadapan dengan Hwang Ji Na. Selain itu, ia
juga memiliki sikap yang cepat tanggap juga pemikir. Nyaris sempurna. Karena
pada dasanya memang tidak ada satu hal pun di dunia ini yang sempurna.
Sepanjang jalan, hanya terdapat hamparan es putih yang kian
meluas. Sejauh mata memandang, hanya ada salju di sepanjang jalan. Sepertinya
mereka tengah berjalan melalui padang hampa yang kini diselimuti salju. Tepat
di depan mereka ada sebuah danau yang telah membeku. Tidak diketahui seberapa
tebal es yang melapisi perairan tersebut.
Eun Ji Hae mengambil sebuah tongkat yang terbuat dari besi
sepanjang kira-kira satu meter. Dengan sekuat tenaga, ia mengayunkan benda
tersebut hingga menghantam permukaan es. Tentu saja hal tersebut membuat
lapisan esnya menjadi retak. Namun meski begitu, tetap tidak pecah sama sekali.
Hanya retak rambut. Antara lempengan es yang satu dengan lainnya sama sekali
belum berpisah satu sama lain.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Bibi Ga Eun dengan nada bicara
yang terdengar jauh lebih tinggi dari pada biasanya.
__ADS_1
Alih-alih bertanya, kalimat yang diucapkan oleh wanita itu
barusan jauh lebih terdengar seperti bentuk ketidak setujuan. Bibi Ga Eun
tengah protes secara tidak langsung kepada Eun Ji Hae atas perbuatan gadis itu
barusan.
“Kenapa kau merusak lapisan esnya?” tanya wanita itu lagi,
sebelum Eun Ji Hae sempat untuk menjawab pertanyaan yang sebelumnya.
“Padahal kita bisa menggunakannya untuk menyebrang dan
mempersingkat perjalanan kita!” tukas Bibi Ga Eun.
Di sisi lain, Eun Ji Hae hanya bisa menghela napasnya dengan
berat. Ternyata dewasa tak menjamin apa-apa. Termasuk kemajuan daya nalar.
Dewasa hanya soal usia dan angka, bukan tentang tuntutan sikap serta cara
berpikir. Tidak banyak yang bisa kita harapkan dari usia dewasa. Karena pada
dasarnya, usia tidak menjadi tolak ukur bagi seseorang untuk menyatakan
kedewasaannya. Ada banyak hal yang jauh lebih akurat.
Buktinya saja, Bibi Ga Eun sama sekali tidak tahu apa yang
sedang dipikirkan oleh gadis ini. Dia hanya terlalu fokus pada ambisinya saja.
Bahkan sampai melupakan salah satu hal paling penting yang bisa menyelamatkan
hidupnya juga hidup semua orang.
“Apa bibi barusan memarahiku?” tanya Eun Ji Hae dengan
begitu santai.
ungkapnya.
Eun Ji Hae bahkan tidak memberikan kesempatan sedikitpun
bagi wanita itu untuk buka suara. Jangankan orang lain, Bibi Ga Eun saja
enggan.
Semua orang tampak bingung. Tidak ada seorangpun yang
berhasil menangkap maksud dari perkataan Eun Ji Hae barusan. Susunan katanya
memang tampak sederhana. Tapi, pada kenyataannya akan sulit bagi kita untuk
menemukan poin penting yang tengah menjadi sorotan sekarang.
Sepertinya Eun Ji Hae menyadari hal itu lebih dulu. Dia tahu
jika tidak ssemua orang bisa mengerti dengan maksud dari perkataannya barusan. Dengan
senang hati, gadis itu berniat untuk menjelaskan kembali sekaligus mempertegas
kata-kata yang ia gunakan sebelumnya.
“Kalian lihat betapa tipisnya lapisan es yang terbentuk,”
ujar Eun Ji Hae sambil menunjuk ke arah yang terdapat retakan.
“Jika kita melintasi danau ini secara sekaligus dalam jumlah
yang sebesar ini, mungkin lapisan esnya akan rusak,” jelas gadis itu di kemudian.
__ADS_1
Meski belum benar-benar paham, tapi mereka mulai bisa untuk
mendapatkan gambaran tentang peristiwa buruk yang akan terjadi ke depannya. Belum
tentu jika prediksi Eun Ji Hae akan tepat seratus persen. Tapi, tidak ada
salahnya juga jika kita mengantisipasi terlebih dahulu agar kemungkinan
terburuk itu tidak sempat terjadi.
“Danau ini cukup dalam dan luas. Kita akan terjebak di
tengah-tengah dan tidak bisa kemana-mana tentunya,” papar Eun Ji Hae sekali
lagi.
“Jadi, sebaiknya kita memutar arah saja melewati jalur lain,”
usulnya.
“Ada jalan setapak di pinggir danau yang bisa kita gunakan
untuk melewati tempat ini tanpa harus menyeberang danau. Hal itu terlalu
beresiko,” jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar sebelum pada akhirnya ia
menyelesaikan kalimatnya sendiri.
“Pasti akan memakan waktu terlalu banyak jika kita melewati
jalan lain,” ujar Bibi Ga Eun.
“Benar. Kita tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi.
Sudah cukup yang kemarin saja,” timpal Vallery yang ikut menambahi.
Kesabaran Eun Ji Hae benar-benar diuji di sini. Dia bahkan
tidak bisa meluruskan pemikiran kolot itu lagi. Eun Ji Hae hampir menyerah
lebih tepatnya. Ia sampai tak tahu harus berbuat apa lagi untuk membuat para
orang tua yang berada di sini mengerti. Bagaimanapun juga, keselamatan
merupakan hal yang jauh lebih penting dari pada apa pun saat ini. Gadis itu
sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikir orang-orang yang selama ini ia
anggap benar karena telah dewasa. Namun ternyata, yang lebih tua tidak
selamanya benar.
Eun Ji Hae memiliki peran yang terbilang cukup penting dalam
meluruskan persepsi tersebut. Karena bagaimanapun juga, kaum tetua adalah yang
ditiru di sini. Mereka telah menjadi panutan bagi setiap orang. Terutama Eun Ji
Hae sendiri.
Para tetua memiliki dampak serta kontribusi yang cukup besar
terhadap sekolah ini. Baik secara sadar maupun tidak. Hal tersebut tidak bisa
dipungkiri.
“Apa kalian tetap akan menyebrang, meski tahu jika itu
berbahaya?” tanya Eun Ji Hae.
Kali ini nada bicaranya jauh lebih serius dari pada yang
__ADS_1
sebelumnya. Hal tersebut berhasil membuat semua orang menjadi ikut terbawa
suasana setelah ada sedikit perselisihan pendapat tadi.