Mooneta High School

Mooneta High School
Strom?


__ADS_3

Tidak ada siapa-siapa di tempat ini. Bayangkan, hanya ada


Nhea seorang diri di dalamnya. Ia berjalan menyusuri sebuah lorong kecil yang


langsung menghadap ke deretan bilik kamar mandi yang berjejer rapih di sisi


ruangan.


Tenang saja, ia tidak takut sama sekali. Meskipun sekarang


sudah lewat dari tengah malam. Ia belum pernah bertemu dengan hantu atau


sejenisnya selama ini. Nhea juga tak pernah mengalami gangguan supranatural


seperti yang selama ini ia lihat di film-film horror. Hal tersebutlah yang membuatnya


tidak terlalu percaya dengan keberadaan mereka.


Bukan hantu yang paling ia takutkan saat berkeliaran di


tengah malam seperti ini. Namun, ia jauh lebih takut ketika seseorang


mendapatinya masih berkeliaran di gedung asrama. Padahal yang lain tengah sibuk


terlelap. Tapi, kali ini ia tidak perlu khawatir jika kejadian seperti itu akan


kembali terulang. Semua orang tengah terlelap. Biasanya Oliver yang sering


melakukan pengawasan tengah malam. Sebab, ia adalah ketua asramanya.


Tidak bisa dibayangkan jika Nhea naik untuk menggantikan


posisi Oliver dan juga Jongdae. Ia akan mengepalai seluruh asrama. Hal tersebut


berarti jika gadis itu tidak hanya menanggung jawabi satu asrama saja. Nhea


akan menjadi pemimpin baru bagi asrama pria dan wanita.


Membayangkannya saja rasanya sudah membuat kepala Nhea


pusing. Bagaimana bisa orang-orang itu memutuskan sesuatu secara tiba-tiba.


Mereka tidak bisa menjadikan Nhea sebagai ketua untuk seluruh asrama, sedangkan


ia saja tak mampu mengurus dirinya sendiri. Lantas, bagaimana ia akan


menanggung jawabi orang banyak.


Hanya karena Nhea merupakan satu-satunya orang yang berasal


dari generasi pertama, bukan berarti dia bisa melakukan segalanya. Salah besar


jika mereka menganggap Nhea hebat dan multi talenta. Ia tidak bisa melakukan


semua yang mereka pikirkan. Bagaimanapun juga, ia pernah hidup menjadi seorang


manusia biasa. Jadi, jangan pikir jika beradaptasi itu pekara mudah. Dia tidak


pernah bisa melakukan hal tersebut dengan mudah.


Beradaptasi dengan lingkungan baru merupakan salah satu hal


yang paling ia benci. Rasanya sangat sulit untuk melakukan hal tersebut. Entah


kenapa. Ia bahkan tidak pernah tahu apa alasannya. Menurut Nhea, bersosialisasi


mampu menghabiskan seluruh energinya. Sehingga ia mudah merasa lelah jika berada


di luar seharian penuh. Pulang-pulang, ia akan tampak seperti mayat hidup.


Hal tersebut benar adanya. Nhea kembali mengalami fase


tersebut saat sudah berada di sekolah barunya. Ia baru saja lulus dari sekolah

__ADS_1


menengah pertama, lalu kembali melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih


tinggi. Masa-masa transisis memang bukan masa yang mudah bagi kebanyakan orang.


Pasalnya, ada banyak perubahan yang terjadi.


***


‘SYUR!!!’


Untuk mengakhiri kegiatannya selama berada di tempat ini,


Nhea memutuskan untuk membasuh tangannya sebelum kembali ke kamar. Ia memang


sengaja menyalakan keran. Kebisingan yang ia ciptakan berhasil menggema di


seluruh penjuru ruangan. Sehingga diyakini siapa saja yang berada di tempat ini


bisa mendengar suaranya dari berbagai titik.


Setelah mencuci tangan, ia tidak langsung kembali. Melainkan


menatap bayangan dirinya yang berada pada cermin. Sesekali ia mencoba untuk


merapihkan kembali penampilannya. Terutama pada surai hitam milikinya yang


sudah berantakan. Percuma saja jika ia merapihkannya sekarang. Toh, setelah ini


Nhea akan kembali  melanjutkan tidurnya


yang sempat tertunda.


‘KRIETT!!!’


Suara deritan yang timbul dari gesekan engsel pintu tersebut


berhasil mengalihkan perhatian Nhea seutuhnya. Ia kira Oliver akan berkeliling


lagi malam ini dan menemukannya di dalam kamar mandi akibat suara berisik yang


Tidak ada siapa-siapa di sana. Baik Oliver maupun teman satu


asramanya yang lain. Hal tersebut sontak membuat Nhea mengerutkan dahinya.


Bagaimana bisa timbul suara seperti itu jika tidak ada orang yang menggerakkan


pintunya. Mustahil jika itu angin. Tidak ada akses masuk bagi benda berbentuk


gas itu untuk masuk ke dalam bangunan ini. Setiap pintu dna jendela yang ada


sudah tertutup sejak petang tadi.


Bukannya merasa takut, ia malah bertindak sebaliknya. Rasa


penasaran gadis ini kian memuncak dan tak bisa terbendung. Ia perlu tahu apa


yang sebenarnya terjadi di sana. Paling tidak, ia harus tahu apa penyebab utama


pintu itu bergerak. Padahal sudah jelas-jelas jika sedang tidak ada siapa-siapa


di sana kecuali dirinya seorang. Sungguh tidak masuk akal. Kepalanya mulai


memunculkan beberapa asumsi yang rasanya jauh lebih logis ketimbang hembusan angin.


Dengan langkah yang tampak meyakinkan, Nhea mulai bergerak


mendekati pintu. Ia begitu hati-hati saat mengetahui jika jaraknya sudah tidak


terlalu jauh lagi. Bisa saja ada seorang penyusup yang mendadak datang tanpa


diundang ke tempat ini. Tidak ada yang tidak mungkin. Setiap hal memiliki


potensi yang sama besar untuk terjadi.

__ADS_1


“Ada siapa di sana?!” sahut Nhea dengan suara yang tidak


terlalu kuat.


Meski ia sedang berada di lantai dasar pada saat ini, tetap


saja tidak menutup kemungkinan jika suaranyaakan terdengar sampai ke lantai


tiga. Pada malam hari seperti ini, biasanya orang-orang menjadi lebih sensitif dari


pada siang hari. Suara-suara yang terdengar normal di siang hari akan terasa


sebaliknya jika kesunyian malam mulai mencekik.


Merasa belum dapat menemukan apa pun sejauh ini, Nhea


memutuskan untuk pergi lebih jauh lagi. Kini ia sudah sampai di ambang pintu


yang tengah terbuka. Namun, tetap saja hasilnya nihil. Sekali lagi ia harus


meyakinkan dirinya sendiri, jika tidak ada siapa-siapa di sana. Otaknya menolak


untuk percaya. Begitu pula dengan hatinya. Tidak peduli keberpa sering ia


mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Nhea berhasil menangkap jika ada sesuatu yang janggal di


sini. Bagaimana bisa pintunya bergerak sendiri jika tidak ada seorang pun yang


menggerakkannya. Sekali lagi, mustahil jika itu adalah angin. Keadaan di luar


saat ini sedang tidak berangin. Pohon-pohon tampak cukup tenang.


Seharusnya jika penyebabnya benar karena angin, maka di luar


sana setidaknya keadaan harus benar-benar kacau. Pintu ini cukup berat karena


terbuat dari kayu jati pilihan. Hanya kekuatan manusia yang mampu membuatnya


begerak. Sebenarnya, bisa saja jika itu adalah hewan. Namun, ia juga harus


memiliki kekuatan yang setara dengan manusia agar berhasil mendorong pintu


tersebut. Hewan seperti tikus, kucing atau burung hantu tidak termasuk ke dalam


kategori tersebut. Mereka cukup lemah untuk melakukan pekerjaan sederhana


seperti ini.


Kecurigaan Nhea semakin besar. Tapi, ia tidak tahu kepada


siapa ia harus melampiaskan rasa tersebut. Pasalnya, tidak ada siapa pun di


sini kecuali dirinya seorang. Jangankan pelaku, ia bahkan belum bisa


menyimpulkan siapa tersangkanya.


Kedua manik mata gadis inii mengedar ke seluruh ruangan. Berusaha


untuk menemukan sesuatu yang bisa dijadikan sebagai landasan atas kecurigaannya


selama ini. Seperti yang semua orang tahu, jika mereka tidak bisa asal menuduh


tanpa disertai bukti yang kuat.


Siapa pun itu pelakunya, yang jelas ia bukan angin. Orang itu


pasti sangat berbakat. Ini bukan yang pertama kalinya ia menghadapi situasi


serupa. Bahkan orang tersebut berhasil bergerak tanpa meninggalkan jejak


sedikit pun. itu adalah satu poin plus baginya. Sehingga Nhea merasa sedikit

__ADS_1


kesulitan untuk menemukan pelakunya.


__ADS_2