
Tidak ada siapa-siapa di tempat ini. Bayangkan, hanya ada
Nhea seorang diri di dalamnya. Ia berjalan menyusuri sebuah lorong kecil yang
langsung menghadap ke deretan bilik kamar mandi yang berjejer rapih di sisi
ruangan.
Tenang saja, ia tidak takut sama sekali. Meskipun sekarang
sudah lewat dari tengah malam. Ia belum pernah bertemu dengan hantu atau
sejenisnya selama ini. Nhea juga tak pernah mengalami gangguan supranatural
seperti yang selama ini ia lihat di film-film horror. Hal tersebutlah yang membuatnya
tidak terlalu percaya dengan keberadaan mereka.
Bukan hantu yang paling ia takutkan saat berkeliaran di
tengah malam seperti ini. Namun, ia jauh lebih takut ketika seseorang
mendapatinya masih berkeliaran di gedung asrama. Padahal yang lain tengah sibuk
terlelap. Tapi, kali ini ia tidak perlu khawatir jika kejadian seperti itu akan
kembali terulang. Semua orang tengah terlelap. Biasanya Oliver yang sering
melakukan pengawasan tengah malam. Sebab, ia adalah ketua asramanya.
Tidak bisa dibayangkan jika Nhea naik untuk menggantikan
posisi Oliver dan juga Jongdae. Ia akan mengepalai seluruh asrama. Hal tersebut
berarti jika gadis itu tidak hanya menanggung jawabi satu asrama saja. Nhea
akan menjadi pemimpin baru bagi asrama pria dan wanita.
Membayangkannya saja rasanya sudah membuat kepala Nhea
pusing. Bagaimana bisa orang-orang itu memutuskan sesuatu secara tiba-tiba.
Mereka tidak bisa menjadikan Nhea sebagai ketua untuk seluruh asrama, sedangkan
ia saja tak mampu mengurus dirinya sendiri. Lantas, bagaimana ia akan
menanggung jawabi orang banyak.
Hanya karena Nhea merupakan satu-satunya orang yang berasal
dari generasi pertama, bukan berarti dia bisa melakukan segalanya. Salah besar
jika mereka menganggap Nhea hebat dan multi talenta. Ia tidak bisa melakukan
semua yang mereka pikirkan. Bagaimanapun juga, ia pernah hidup menjadi seorang
manusia biasa. Jadi, jangan pikir jika beradaptasi itu pekara mudah. Dia tidak
pernah bisa melakukan hal tersebut dengan mudah.
Beradaptasi dengan lingkungan baru merupakan salah satu hal
yang paling ia benci. Rasanya sangat sulit untuk melakukan hal tersebut. Entah
kenapa. Ia bahkan tidak pernah tahu apa alasannya. Menurut Nhea, bersosialisasi
mampu menghabiskan seluruh energinya. Sehingga ia mudah merasa lelah jika berada
di luar seharian penuh. Pulang-pulang, ia akan tampak seperti mayat hidup.
Hal tersebut benar adanya. Nhea kembali mengalami fase
tersebut saat sudah berada di sekolah barunya. Ia baru saja lulus dari sekolah
__ADS_1
menengah pertama, lalu kembali melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih
tinggi. Masa-masa transisis memang bukan masa yang mudah bagi kebanyakan orang.
Pasalnya, ada banyak perubahan yang terjadi.
***
‘SYUR!!!’
Untuk mengakhiri kegiatannya selama berada di tempat ini,
Nhea memutuskan untuk membasuh tangannya sebelum kembali ke kamar. Ia memang
sengaja menyalakan keran. Kebisingan yang ia ciptakan berhasil menggema di
seluruh penjuru ruangan. Sehingga diyakini siapa saja yang berada di tempat ini
bisa mendengar suaranya dari berbagai titik.
Setelah mencuci tangan, ia tidak langsung kembali. Melainkan
menatap bayangan dirinya yang berada pada cermin. Sesekali ia mencoba untuk
merapihkan kembali penampilannya. Terutama pada surai hitam milikinya yang
sudah berantakan. Percuma saja jika ia merapihkannya sekarang. Toh, setelah ini
Nhea akan kembali melanjutkan tidurnya
yang sempat tertunda.
‘KRIETT!!!’
Suara deritan yang timbul dari gesekan engsel pintu tersebut
berhasil mengalihkan perhatian Nhea seutuhnya. Ia kira Oliver akan berkeliling
lagi malam ini dan menemukannya di dalam kamar mandi akibat suara berisik yang
Tidak ada siapa-siapa di sana. Baik Oliver maupun teman satu
asramanya yang lain. Hal tersebut sontak membuat Nhea mengerutkan dahinya.
Bagaimana bisa timbul suara seperti itu jika tidak ada orang yang menggerakkan
pintunya. Mustahil jika itu angin. Tidak ada akses masuk bagi benda berbentuk
gas itu untuk masuk ke dalam bangunan ini. Setiap pintu dna jendela yang ada
sudah tertutup sejak petang tadi.
Bukannya merasa takut, ia malah bertindak sebaliknya. Rasa
penasaran gadis ini kian memuncak dan tak bisa terbendung. Ia perlu tahu apa
yang sebenarnya terjadi di sana. Paling tidak, ia harus tahu apa penyebab utama
pintu itu bergerak. Padahal sudah jelas-jelas jika sedang tidak ada siapa-siapa
di sana kecuali dirinya seorang. Sungguh tidak masuk akal. Kepalanya mulai
memunculkan beberapa asumsi yang rasanya jauh lebih logis ketimbang hembusan angin.
Dengan langkah yang tampak meyakinkan, Nhea mulai bergerak
mendekati pintu. Ia begitu hati-hati saat mengetahui jika jaraknya sudah tidak
terlalu jauh lagi. Bisa saja ada seorang penyusup yang mendadak datang tanpa
diundang ke tempat ini. Tidak ada yang tidak mungkin. Setiap hal memiliki
potensi yang sama besar untuk terjadi.
__ADS_1
“Ada siapa di sana?!” sahut Nhea dengan suara yang tidak
terlalu kuat.
Meski ia sedang berada di lantai dasar pada saat ini, tetap
saja tidak menutup kemungkinan jika suaranyaakan terdengar sampai ke lantai
tiga. Pada malam hari seperti ini, biasanya orang-orang menjadi lebih sensitif dari
pada siang hari. Suara-suara yang terdengar normal di siang hari akan terasa
sebaliknya jika kesunyian malam mulai mencekik.
Merasa belum dapat menemukan apa pun sejauh ini, Nhea
memutuskan untuk pergi lebih jauh lagi. Kini ia sudah sampai di ambang pintu
yang tengah terbuka. Namun, tetap saja hasilnya nihil. Sekali lagi ia harus
meyakinkan dirinya sendiri, jika tidak ada siapa-siapa di sana. Otaknya menolak
untuk percaya. Begitu pula dengan hatinya. Tidak peduli keberpa sering ia
mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Nhea berhasil menangkap jika ada sesuatu yang janggal di
sini. Bagaimana bisa pintunya bergerak sendiri jika tidak ada seorang pun yang
menggerakkannya. Sekali lagi, mustahil jika itu adalah angin. Keadaan di luar
saat ini sedang tidak berangin. Pohon-pohon tampak cukup tenang.
Seharusnya jika penyebabnya benar karena angin, maka di luar
sana setidaknya keadaan harus benar-benar kacau. Pintu ini cukup berat karena
terbuat dari kayu jati pilihan. Hanya kekuatan manusia yang mampu membuatnya
begerak. Sebenarnya, bisa saja jika itu adalah hewan. Namun, ia juga harus
memiliki kekuatan yang setara dengan manusia agar berhasil mendorong pintu
tersebut. Hewan seperti tikus, kucing atau burung hantu tidak termasuk ke dalam
kategori tersebut. Mereka cukup lemah untuk melakukan pekerjaan sederhana
seperti ini.
Kecurigaan Nhea semakin besar. Tapi, ia tidak tahu kepada
siapa ia harus melampiaskan rasa tersebut. Pasalnya, tidak ada siapa pun di
sini kecuali dirinya seorang. Jangankan pelaku, ia bahkan belum bisa
menyimpulkan siapa tersangkanya.
Kedua manik mata gadis inii mengedar ke seluruh ruangan. Berusaha
untuk menemukan sesuatu yang bisa dijadikan sebagai landasan atas kecurigaannya
selama ini. Seperti yang semua orang tahu, jika mereka tidak bisa asal menuduh
tanpa disertai bukti yang kuat.
Siapa pun itu pelakunya, yang jelas ia bukan angin. Orang itu
pasti sangat berbakat. Ini bukan yang pertama kalinya ia menghadapi situasi
serupa. Bahkan orang tersebut berhasil bergerak tanpa meninggalkan jejak
sedikit pun. itu adalah satu poin plus baginya. Sehingga Nhea merasa sedikit
__ADS_1
kesulitan untuk menemukan pelakunya.