
Nhea memutuskan untuk langsung mengganti seragamnya setelah
selesai bertanding. Ia tidak akan menggunakan seragam yang satu itu selama
beberapa hari ke depan. Mungkin nanti akan kembali ia kenakan saat bertanding
di babak final. Tapi, itu jika tim panahan dari akademi sihir Mooneta
benar-benar lolos sampai ke tahap itu.
Kecil kemungkinan mereka akan tersingkir. Sejauh ini akademi
sihir Mooneta masih tetap memimpin. Tim mereka masih lengkap. Belum ada yang
tersisih sedikit pun. Mooneta, Orton serta Reodal merupakan tiga akademi
terkuat yang ada di negeri ini. Menggeser posisi mereka dalam situasi apa pun
akan tetap saja terasa sama sulitnya.
Sejak awal peradaban ilmu sihir di negeri ini, mereka sudah
menjadi akademi yang memiliki potensi paling kuat untuk bertahan sampai akhir. Buktinya,
eksistensi mereka masih tetap bertahan hingga saat ini. Tidak bisa diragukan
lagi. Semua orang telah mengakuinya.
***
Gadis itu menyeka keringatnya yang masih tersisa di wajah. Selain
cuaca yang sedang panas, memakai setelan seragam tebal seperti itu juga akan
membuatnya merasa kegerahan. Tubuhnya secara sadar memproduksi keringat jauh
lebih banyak daripada biasanya untuk hari ini.
Setelah selesai dengan semua urusannya, Nhea segera
mengemasi barang-barang miliknya. Kemudian, nanti akan diletakkan bersamaan
dengan tas pada anggota tim lainnya. Mereka baru akan ebnar-benar pulang ke
akademi setelah pertandingan hari ini resmi ditutup.
Nhea melangkah keluar dengan salah satu tangan yang tampak
menenteng seragam lomba miliknya. Ia perlu menjemur yang satu itu agar tidak
terlalu bau apek nantinya ketika disimpan.
Akhirnya pertandingan hari ini selesai juga. Ia bisa kembali
hidup dengan normal setelahnya. Paling tidak, untuk sekarang gadis itu sudah
bisa bernapas dengan lega. Tidak ada yang perlu ia cemaskan lagi hari ini.
Bebannya ssudah berkurang, meski tidak pernah bisa benar-benar menghilang.
“Aku sungguh merasa lega setelah berhasil menyelesaikan
pertandingan tadi,” gumamnya sembari berjalan menuju tempat penyimpanan.
Nhea mengurungkan niatnya untuk menjemur seragam
pertandingannya. Gadis itu sudah terlalu malas untuk melangkah lebih jauh. Dia harus
pergi keluar kamp jika ingin mendapatkan tempat untuk menjemur pakaian. Sebab,
sinar matahari tidak akan bisa menembus langit-langit kamp. Tapi, hal tersebut
__ADS_1
sama sekali tidak berpengaruh bagi suhunya.
Gadis itu memutuskan untuk langsung menyimpannya saja, tanpa
dijemur terlebih dahulu untuk mengurangi bau keringatnya. Kali ini ia sudah
tidak peduli lagi. Baginya, seragam tersebut tidak terlalu penting untuk saat
ini. Ada hal lain yang jauh lebih penting. Yaitu, dirinya sendiri.
Nhea duduk berjongkok di depan tempat penyimpanan. Kemudian ia
merapihkan seluruh barang-barangnya. Termasuk pelindung tangan yang diberikan
oleh Eun Ji Hae tadi. Ia akan menyimpannya juga, bersama dengan baju seragam
miliknya. Untuk saat ini, barang pemberian Eun Ji Hae yang satu itu tidak
terlalu penting lagi. Mungkin saja lukanya sudah sembuh tepat sebelum dirinya
bertanding di babak final nanti.
“Apa aku harus mengucapkan terima kasih kepadanya untuk yang
satu ini?” gumam Nhea sambil mengamati kain pelindung tangannya.
Tak lama kemudian, ia berdecak singkat. Lalu, gadis itu
melemparkan kain tersebut ke dalam tempat penyimpanan miliknya. Ia tidak mau
memusingkan sesuatu yang tidak sepantasnya dipusingkan.
Mungkin saja hari ini adalah hari pertama sekaligus hari
terakhirnya menerima bantuan dari Eun Ji Hae dalam bentuk seperti itu. Tapi,
Nhea sama sekali tidak bisa memastikan kapan lagi ia akan mendapatkan bantuan
***
Sebagian besar dari mereka yang sudah selesai atau akan
bertanding menghabiskan waktunya di dalam kamp. Tidak ada hal lain yang bisa
mereka lakukan selain mengobrol. Bertukar pikiran serta pendapat kepada teman
sesamanya adalah salah satu cara untuk menghabiskan waktu dengan efektif. Nyaris
semua orang pasti meniyukainya.
“Kau di sini ternyata!” sahut Nhea yang tiba-tiba saja
datang sambil menepuk pelan pundak Oliver.
Seseorang yang di ajak bicara tidak tampak menggubris sama
sekali. Sepertinya ia memang tidak memiliki niat demikian. Oliver hanya menoleh
ke arah sumber suara sekilas. Dia bahkan tidak ingin memberikan reaksi lebih
seperti biasanya.
Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut, Nhea langsung
mengambil tempat duduk tepat di sebelah gadis itu. Oliver juga tampaknya tidak
keberatan jika Nhea berada di sisinya. Malah, akan jauh lebih baik jika seperti
itu. Mereka menjadi sangat akrab dan nyaris tidak pernah berpisah tepat setelah
kejadian beberapa hari yang lalu. Keduanya menjadi saling mengandalkan antara
__ADS_1
satu sama lain sekarang.
Berbeda dengan Jongdae dan Jang Eunbi yang malah menjauh. Padahal
Nhea sudah melupakan kejadian tersebut. Sekarang, ia sama sekali tidak masalah
soal rumor yang sempat menyebar ke seluruh penjuru sekolah kemarin.
Nhea sama sekali tidak tahu, apa yang sebenarnya salah di
sini. Terutama kepada dua sahabatnya. Terkadang, dalam diam ia berharap agar
hubungan mereka bisa kembali membaik seperti dulu. Namun, ia sadar akan satu
hal. Tidak semua hal yang sudah sempat rusak sebelumnya, bisa kembali seperti
semula.
Mungkin, situasi tersebut sudah termasuk kepada kondisi
mereka saat ini. Bahkan, berada di tim yang sama dengan Jang Eunbi saja tidak
merubah apa pun. Termasuk jarak di antara mereka berdua. Tidak ada yang terjadi
setelahnya. Mereka masih terjebak di dalam kondisi yang sama.
Bukan pekara yang mudah bagi Nhea untuk keluar dari belenggu
tersebut. Sebenarnya jika boleh berkata jujur, maka ia sangat ingin agar
persahabatan mereka kembali seperti sedia kala. Mari lupakan soal permasalahan
masa lalu yang masih menghantui. Memangnya masih sampai kapan kita harus hidup
di dalam ketakutan seperti itu?
“Kemana saja kau tadi?” tanya Oliver yang pada akhirnya
mulai buka suara.
“Ada urusan sebentar dengan Chanwo,” jawab gadis itu dengan
apa adanya. Nhea tidak berusaha untuk menutupi apa pun dari Oliver. Saat ini ia
sungguh sedang berbicara jujur.
“Memangnya kenapa?” tanya Nhea balik.
“Tidak apa-apa,” balas Oliver dengan nada datar.
Setelah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Oliver,
suasana di antara mereka berdua kembali menjadi hening. Sama seperti
sebelumnya, ketika Nhea belum datang kemarin. Sebab, gadis itu memang selalu
sendirian saja sejak tadi. Tidak ada seorang pun yang bisa ia ajak bicara di
sini.
Nhea sengaja berdeham beberapa kali untuk menetralisir
atmosfir antara mereka berdua. Untuk pertama kalinya ia merasa canggung
terhadap Oliver. Padahal, ini bukan pertama kalinya mereka bertemu. Apalagi mengobrol.
Keduanya sudah sering bertemu. Nyaris selama dua puluh empat jam.
Pada akhirnya, gadis itu memutuskan untuk memcahkan
keheningan suasana dengan cara buka suara lebih dulu. Ia tidak bisa terus
__ADS_1
membiarkan situasinya menjadi seperti ini.