Mooneta High School

Mooneta High School
Find Out You


__ADS_3

Nhea memutuskan untuk langsung mengganti seragamnya setelah


selesai bertanding. Ia tidak akan menggunakan seragam yang satu itu selama


beberapa hari ke depan. Mungkin nanti akan kembali ia kenakan saat bertanding


di babak final. Tapi, itu jika tim panahan dari akademi sihir Mooneta


benar-benar lolos sampai ke tahap itu.


Kecil kemungkinan mereka akan tersingkir. Sejauh ini akademi


sihir Mooneta masih tetap memimpin. Tim mereka masih lengkap. Belum ada yang


tersisih sedikit pun. Mooneta, Orton serta Reodal merupakan tiga akademi


terkuat yang ada di negeri ini. Menggeser posisi mereka dalam situasi apa pun


akan tetap saja terasa sama sulitnya.


Sejak awal peradaban ilmu sihir di negeri ini, mereka sudah


menjadi akademi yang memiliki potensi paling kuat untuk bertahan sampai akhir. Buktinya,


eksistensi mereka masih tetap bertahan hingga saat ini. Tidak bisa diragukan


lagi. Semua orang telah mengakuinya.


***


Gadis itu menyeka keringatnya yang masih tersisa di wajah. Selain


cuaca yang sedang panas, memakai setelan seragam tebal seperti itu juga akan


membuatnya merasa kegerahan. Tubuhnya secara sadar memproduksi keringat jauh


lebih banyak daripada biasanya untuk hari ini.


Setelah selesai dengan semua urusannya, Nhea segera


mengemasi barang-barang miliknya. Kemudian, nanti akan diletakkan bersamaan


dengan tas pada anggota tim lainnya. Mereka baru akan ebnar-benar pulang ke


akademi setelah pertandingan hari ini resmi ditutup.


Nhea melangkah keluar dengan salah satu tangan yang tampak


menenteng seragam lomba miliknya. Ia perlu menjemur yang satu itu agar tidak


terlalu bau apek nantinya ketika disimpan.


Akhirnya pertandingan hari ini selesai juga. Ia bisa kembali


hidup dengan normal setelahnya. Paling tidak, untuk sekarang gadis itu sudah


bisa bernapas dengan lega. Tidak ada yang perlu ia cemaskan lagi hari ini.


Bebannya ssudah berkurang, meski tidak pernah bisa benar-benar menghilang.


“Aku sungguh merasa lega setelah berhasil menyelesaikan


pertandingan tadi,” gumamnya sembari berjalan menuju tempat penyimpanan.


Nhea mengurungkan niatnya untuk menjemur seragam


pertandingannya. Gadis itu sudah terlalu malas untuk melangkah lebih jauh. Dia harus


pergi keluar kamp jika ingin mendapatkan tempat untuk menjemur pakaian. Sebab,


sinar matahari tidak akan bisa menembus langit-langit kamp. Tapi, hal tersebut

__ADS_1


sama sekali tidak berpengaruh bagi suhunya.


Gadis itu memutuskan untuk langsung menyimpannya saja, tanpa


dijemur terlebih dahulu untuk mengurangi bau keringatnya. Kali ini ia sudah


tidak peduli lagi. Baginya, seragam tersebut tidak terlalu penting untuk saat


ini. Ada hal lain yang jauh lebih penting. Yaitu, dirinya sendiri.


Nhea duduk berjongkok di depan tempat penyimpanan. Kemudian ia


merapihkan seluruh barang-barangnya. Termasuk pelindung tangan yang diberikan


oleh Eun Ji Hae tadi. Ia akan menyimpannya juga, bersama dengan baju seragam


miliknya. Untuk saat ini, barang pemberian Eun Ji Hae yang satu itu tidak


terlalu penting lagi. Mungkin saja lukanya sudah sembuh tepat sebelum dirinya


bertanding di babak final nanti.


“Apa aku harus mengucapkan terima kasih kepadanya untuk yang


satu ini?” gumam Nhea sambil mengamati kain pelindung tangannya.


Tak lama kemudian, ia berdecak singkat. Lalu, gadis itu


melemparkan kain tersebut ke dalam tempat penyimpanan miliknya. Ia tidak mau


memusingkan sesuatu yang tidak sepantasnya dipusingkan.


Mungkin saja hari ini adalah hari pertama sekaligus hari


terakhirnya menerima bantuan dari Eun Ji Hae dalam bentuk seperti itu. Tapi,


Nhea sama sekali tidak bisa memastikan kapan lagi ia akan mendapatkan bantuan


***


Sebagian besar dari mereka yang sudah selesai atau akan


bertanding menghabiskan waktunya di dalam kamp. Tidak ada hal lain yang bisa


mereka lakukan selain mengobrol. Bertukar pikiran serta pendapat kepada teman


sesamanya adalah salah satu cara untuk menghabiskan waktu dengan efektif. Nyaris


semua orang pasti meniyukainya.


“Kau di sini ternyata!” sahut Nhea yang tiba-tiba saja


datang sambil menepuk pelan pundak Oliver.


Seseorang yang di ajak bicara tidak tampak menggubris sama


sekali. Sepertinya ia memang tidak memiliki niat demikian. Oliver hanya menoleh


ke arah sumber suara sekilas. Dia bahkan tidak ingin memberikan reaksi lebih


seperti biasanya.


Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut, Nhea langsung


mengambil tempat duduk tepat di sebelah gadis itu. Oliver juga tampaknya tidak


keberatan jika Nhea berada di sisinya. Malah, akan jauh lebih baik jika seperti


itu. Mereka menjadi sangat akrab dan nyaris tidak pernah berpisah tepat setelah


kejadian beberapa hari yang lalu. Keduanya menjadi saling mengandalkan antara

__ADS_1


satu sama lain sekarang.


Berbeda dengan Jongdae dan Jang Eunbi yang malah menjauh. Padahal


Nhea sudah melupakan kejadian tersebut. Sekarang, ia sama sekali tidak masalah


soal rumor yang sempat menyebar ke seluruh penjuru sekolah kemarin.


Nhea sama sekali tidak tahu, apa yang sebenarnya salah di


sini. Terutama kepada dua sahabatnya. Terkadang, dalam diam ia berharap agar


hubungan mereka bisa kembali membaik seperti dulu. Namun, ia sadar akan satu


hal. Tidak semua hal yang sudah sempat rusak sebelumnya, bisa kembali seperti


semula.


Mungkin, situasi tersebut sudah termasuk kepada kondisi


mereka saat ini. Bahkan, berada di tim yang sama dengan Jang Eunbi saja tidak


merubah apa pun. Termasuk jarak di antara mereka berdua. Tidak ada yang terjadi


setelahnya. Mereka masih terjebak di dalam kondisi yang sama.


Bukan pekara yang mudah bagi Nhea untuk keluar dari belenggu


tersebut. Sebenarnya jika boleh berkata jujur, maka ia sangat ingin agar


persahabatan mereka kembali seperti sedia kala. Mari lupakan soal permasalahan


masa lalu yang masih menghantui. Memangnya masih sampai kapan kita harus hidup


di dalam ketakutan seperti itu?


“Kemana saja kau tadi?” tanya Oliver yang pada akhirnya


mulai buka suara.


“Ada urusan sebentar dengan Chanwo,” jawab gadis itu dengan


apa adanya. Nhea tidak berusaha untuk menutupi apa pun dari Oliver. Saat ini ia


sungguh sedang berbicara jujur.


“Memangnya kenapa?” tanya Nhea balik.


“Tidak apa-apa,” balas Oliver dengan nada datar.


Setelah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Oliver,


suasana di antara mereka berdua kembali menjadi hening. Sama seperti


sebelumnya, ketika Nhea belum datang kemarin. Sebab, gadis itu memang selalu


sendirian saja sejak tadi. Tidak ada seorang pun yang bisa ia ajak bicara di


sini.


Nhea sengaja berdeham beberapa kali untuk menetralisir


atmosfir antara mereka berdua. Untuk pertama kalinya ia merasa canggung


terhadap Oliver. Padahal, ini bukan pertama kalinya mereka bertemu. Apalagi mengobrol.


Keduanya sudah sering bertemu. Nyaris selama dua puluh empat jam.


Pada akhirnya, gadis itu memutuskan untuk memcahkan


keheningan suasana dengan cara buka suara lebih dulu. Ia tidak bisa terus

__ADS_1


membiarkan situasinya menjadi seperti ini.


__ADS_2