
Kemarin malam, badai salju sempat berhenti selama beberapa
jam. Nhea menyaksikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri. Ia tidak tidur
semalaman. Gadis itu sengaja memotong jam tidurnya hingga hanya menjadi dua jam
saja. Taspi sekarang ia bahkan tidak mengantuk sama sekali. Neha tetap bangun
tepat waktu. Bersikap seola kemarin tidak ada apa-apa.
“Ayo kita sarapan!” ajak Oliver.
“Tunggulah di luar saja, aku akan segera memberskan semua
ini,” balas Nhea.
Gadis itu masih sibuk membereskan tempat tidurnya yang
berantakan sejak tadi. Tidka perlu waktu lama bagi Nhea untuk merapihkannya. Hanya
menyota waktu kuran dari dua menit saja. Setelah selesai, ia langsung melangkah
keluar ruangan untuk menemui Oliver yang sudah menunggunya sejak tadi di depan.
Hari ini salju kembali turun, tapi tidak selebat kemarin. Semua
orang bisa melihat dengan jelas seberapa besar kekacauan yang ditimbulkan badai
kemarin. Sekarang ketebalan salju bahkan sudah mencapai setinggi pintu lantai
dasar. Mereka tidak akan bisa keluar kemana-mana lagi.
Nhea dan Oliver berjalan beriringan melewati setiap lorong
yang mulai padat itu. Semua murid keluar dari kamarnya masing-masing untuk menghadiri
jamuan makan di gedung utama. Mereka pasti selalu pergi ke sana sebanyak tiga
kali dalam sehari untuk mengisi ulang energinya.
“Apakah mereka belum menemukan solusinya?” tanya Nhea.
“Seperti yang kau tahu jika rapat kemarin sama sekali tidak
menghasilkan solusi apa pun. Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini,”
papar Oliver dengan panjang lebar.
“Tidakkah sebaiknya jika kita mengadakan rapat lagi?” balas
gadis itu.
“Mau sampai kapan kita hanya menunggu seperti ini?”
lanjutnya.
Sebenarnya apa yang dikatakan oleh gadis itu tidak ada
salahnya sama sekali. Namun juga tidak sepenuhnya benar. Tidak ada salahnya
jika mereka mendengarkan masukan dari Nhea untuk menggelar rapat sekali lagi. Siapa
tahu ada solusi baru yang bisa muncul dari rapat kali ini.
“Kita pikirkan itu nanti saja. Sekarang mari nikmati
sarapanmu!” ujar Oliver sembari menyodorkan sebuah tatakan makan kepada gadis
itu.
__ADS_1
Mereka harus mengantri lebih dulu untuk mengambil
makanannya, sebelum kembali ke mejanya masing-masing dan memulainya
bersama-sama. Tidak ada yang boleh makan lebih dulu sebelum semua orang duduk
di tempatnya masing-masing. Bahkan para keluarga inti dan juga petinggi sekolah
tidak dibiarkan untuk makan lebih dulu. Sejak dulu, mereka telah membangun
serta memupuk rasa kekeluargaan ini.
“Kenapa sedikit sekali porsi hari ini?” tanya salah satu
murid yang sedang mengantri tepat di depan Oliver.
Bukan hanya gadis itu saja. Tapi semua orang juga
mempertanyakan hal yang sama. Porsi makan mereka hari ini sedikit dikurangi
dari pada yang seharusnya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini. Kenapa
harus sampai melakukan pengurangan seperti ini.
Nhea mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Dia
memperhatikan piring yang dibawa setiap orang. Semua porsinya sama saja. Tidak
ada yang diperlakukan secara khusus di sini. bahkan anggota keluarga serta
beberapa orang lainnya juga mendapatkan porsi yang sama. Itu artinya tidak ada
yang berlaku curang di sini.
Tapi meski pun begitu, tetap harus ada alasan yang melandasi
semua ini terjadi. Belakangan ini terlalu banyak hal yang terjadi tanpa alasan
masalahnya.
Isi pikirannya kembali buyar begitu seseorang yang mengantri
tepat di belakangnya menyuruh gadis itu untuk maju. Sekarang adalah gilirannya.
Bagaimana bisa ia melamun di saat seperti ini.
“Apakah persediaan bahan makanan kita masih cukup untuk
sepanjang musim ini?” tanya Nhea sembari menyodorkan tempat makannya.
Seorang pramusaji yang berdiri tepat di depannya tidak bisa
memberikan jawaban apa-apa selain menggeleng-gelengkan kepalanya. Yang itu
artinya adalah tidak.
Pantas saja jika porsi makan mereka dikurangi untuk saat ini
dan mungkin akan tetap sama sampai seterusnya. Semua demi mempertahankan
kelangsungan hidup mereka. Tidak ada yang bisa keluar untuk mencari tambahan
stok bahan makanan pada situasi seperti ini. Di luar salju sudah sangat tebal. Tidak
ada jalan untuk pergi keluar. Mereka akan tetap terjebak di sini setidaknya
sampai musim dingin selesai. Itu pun jika ini benar hanya badai biasa. Tapi jika
yang kemarin adalah salju abadi, maka mungkin mereka akan terjebak selamanya di
__ADS_1
sini dan tidak bisa pergi kemana-mana lagi.
Nhea segera menyusul langkah Oliver dari belakang. Kemudian mengambil
tempat duduk tepat di sampingnya. Mereka masih harus menunggu sampai semua
orang duduk. Jadi masih ada waktu untuk mengobrol sebentar.
“Tidakkan kita harus mencari jalan keluar dari tempat ini?”
tanya Nhea kepada seorang gadis yang tengan duduk di sebelahya.
Ia sengaja berbicara dengan volume suara rendah. Dia tidak
ingin orang lain sampai mendegarkan isi pembicaraan mereka. Bisa-bisa ada orang
yang malah menyalah gunakan kejadian ini. Padahal Nhea hanya ingin menyalurkan
pendapatnya saja. Tidak bisa dipungkiri jika ada beberapa orang yang menyimpar
rasa dengki satu sama lain. Mereka berusaha untuk saling menjatuhkan. Hal tersebut
tidak bisa dicegah, meski pun mereka telah memegang prinsip kekeluargaan.
“Kita tidak bisa melakukan apa-apa tanpa persetujuan dari
pihak tertinggi sekolah terlebih dahulu,” jelas Oliver.
“Kita akan dicap sebagai pemberontak jik a melanggar
peraturan,” timpalnya.
Nhea juga tahu soal hal itu. Tapi mereka juga tidak bisa
hanya diam dan berpangku tangan seperti ini saja. Kecuali jika mereka semua
memang sudah tidak memiliki harapan untuk hidup lagi dan hanya tinggal menunggu
ajalnya saja. Tapi Nhea sendiri sama sekali tidak pernah berpikiran seperti
itu. Dia memiliki ambisi yang besar untuk tetap bertahan hidup. Bagaimana pun
itu caranya akan tetap ia perjuangkan.
Selama ini gadis itu telah berusaha keras untuk tetap
bertahan hidup di tengah kerasnya dunia. Melawan segala kekejaman yang terjadi
di muka bumi dengan segala ketidak beruntungan yang ia miliki. Ia tidak ingin
kerja kerasnya itu berakhir sia-sia begitu saja. Meski pun pada akhirnya ia
tetap akan mati, gadis ini sama sekali tidak ingin mati dengan cara konyol
seperti ini.
“Kalau begitu, aku yang akan membicarakan hal ini kepada
bibi secara langsung,” batinnya dalam hati.
Jika tidak ada yang ingin bertindak sama sekali, lantas
bagaimana mereka akan menentukan langkah pertama seperti apa yang paling
pantas. Tidak ada yang mau bekerja susah payah untuk menyelamatkan mereka semua
kecuali dirinya sendiri. Mereka tidak bisa percaya atau bahkan mengandalkan
orang lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Hidup memang kejam. Jika tidak
__ADS_1
kejam, maka bukan hidup namanya. Hidup selalu penuh dengan seleksi alam.