Mooneta High School

Mooneta High School
Day 2


__ADS_3

Kemarin malam, badai salju sempat berhenti selama beberapa


jam. Nhea menyaksikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri. Ia tidak tidur


semalaman. Gadis itu sengaja memotong jam tidurnya hingga hanya menjadi dua jam


saja. Taspi sekarang ia bahkan tidak mengantuk sama sekali. Neha tetap bangun


tepat waktu. Bersikap seola kemarin tidak ada apa-apa.


“Ayo kita sarapan!” ajak Oliver.


“Tunggulah di luar saja, aku akan segera memberskan semua


ini,” balas Nhea.


Gadis itu masih sibuk membereskan tempat tidurnya yang


berantakan sejak tadi. Tidka perlu waktu lama bagi Nhea untuk merapihkannya. Hanya


menyota waktu kuran dari dua menit saja. Setelah selesai, ia langsung melangkah


keluar ruangan untuk menemui Oliver yang sudah menunggunya sejak tadi di depan.


Hari ini salju kembali turun, tapi tidak selebat kemarin. Semua


orang bisa melihat dengan jelas seberapa besar kekacauan yang ditimbulkan badai


kemarin. Sekarang ketebalan salju bahkan sudah mencapai setinggi pintu lantai


dasar. Mereka tidak akan bisa keluar kemana-mana lagi.


Nhea dan Oliver berjalan beriringan melewati setiap lorong


yang mulai padat itu. Semua murid keluar dari kamarnya masing-masing untuk menghadiri


jamuan makan di gedung utama. Mereka pasti selalu pergi ke sana sebanyak tiga


kali dalam sehari untuk mengisi ulang energinya.


“Apakah mereka belum menemukan solusinya?” tanya Nhea.


“Seperti yang kau tahu jika rapat kemarin sama sekali tidak


menghasilkan solusi apa pun. Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini,”


papar Oliver dengan panjang lebar.


“Tidakkah sebaiknya jika kita mengadakan rapat lagi?” balas


gadis itu.


“Mau sampai kapan kita hanya menunggu seperti ini?”


lanjutnya.


Sebenarnya apa yang dikatakan oleh gadis itu tidak ada


salahnya sama sekali. Namun juga tidak sepenuhnya benar. Tidak ada salahnya


jika mereka mendengarkan masukan dari Nhea untuk menggelar rapat sekali lagi. Siapa


tahu ada solusi baru yang bisa muncul dari rapat kali ini.


“Kita pikirkan itu nanti saja. Sekarang mari nikmati


sarapanmu!” ujar Oliver sembari menyodorkan sebuah tatakan makan kepada gadis


itu.

__ADS_1


Mereka harus mengantri lebih dulu untuk mengambil


makanannya, sebelum kembali ke mejanya masing-masing dan memulainya


bersama-sama. Tidak ada yang boleh makan lebih dulu sebelum semua orang duduk


di tempatnya masing-masing. Bahkan para keluarga inti dan juga petinggi sekolah


tidak dibiarkan untuk makan lebih dulu. Sejak dulu, mereka telah membangun


serta memupuk rasa kekeluargaan ini.


“Kenapa sedikit sekali porsi hari ini?” tanya salah satu


murid yang sedang mengantri tepat di depan Oliver.


Bukan hanya gadis itu saja. Tapi semua orang juga


mempertanyakan hal yang sama. Porsi makan mereka hari ini sedikit dikurangi


dari pada yang seharusnya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini. Kenapa


harus sampai melakukan pengurangan seperti ini.


Nhea mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Dia


memperhatikan piring yang dibawa setiap orang. Semua porsinya sama saja. Tidak


ada yang diperlakukan secara khusus di sini. bahkan anggota keluarga serta


beberapa orang lainnya juga mendapatkan porsi yang sama. Itu artinya tidak ada


yang berlaku curang di sini.


Tapi meski pun begitu, tetap harus ada alasan yang melandasi


semua ini terjadi. Belakangan ini terlalu banyak hal yang terjadi tanpa alasan


masalahnya.


Isi pikirannya kembali buyar begitu seseorang yang mengantri


tepat di belakangnya menyuruh gadis itu untuk maju. Sekarang adalah gilirannya.


Bagaimana bisa ia melamun di saat seperti ini.


“Apakah persediaan bahan makanan kita masih cukup untuk


sepanjang musim ini?” tanya Nhea sembari menyodorkan tempat makannya.


Seorang pramusaji yang berdiri tepat di depannya tidak bisa


memberikan jawaban apa-apa selain menggeleng-gelengkan kepalanya. Yang itu


artinya adalah tidak.


Pantas saja jika porsi makan mereka dikurangi untuk saat ini


dan mungkin akan tetap sama sampai seterusnya. Semua demi mempertahankan


kelangsungan hidup mereka. Tidak ada yang bisa keluar untuk mencari tambahan


stok bahan makanan pada situasi seperti ini. Di luar salju sudah sangat tebal. Tidak


ada jalan untuk pergi keluar. Mereka akan tetap terjebak di sini setidaknya


sampai musim dingin selesai. Itu pun jika ini benar hanya badai biasa. Tapi jika


yang kemarin adalah salju abadi, maka mungkin mereka akan terjebak selamanya di

__ADS_1


sini dan tidak bisa pergi kemana-mana lagi.


Nhea segera menyusul langkah Oliver dari belakang. Kemudian mengambil


tempat duduk tepat di sampingnya. Mereka masih harus menunggu sampai semua


orang duduk. Jadi masih ada waktu untuk mengobrol sebentar.


“Tidakkan kita harus mencari jalan keluar dari tempat ini?”


tanya Nhea kepada seorang gadis yang tengan duduk di sebelahya.


Ia sengaja berbicara dengan volume suara rendah. Dia tidak


ingin orang lain sampai mendegarkan isi pembicaraan mereka. Bisa-bisa ada orang


yang malah menyalah gunakan kejadian ini. Padahal Nhea hanya ingin menyalurkan


pendapatnya saja. Tidak bisa dipungkiri jika ada beberapa orang yang menyimpar


rasa dengki satu sama lain. Mereka berusaha untuk saling menjatuhkan. Hal tersebut


tidak bisa dicegah, meski pun mereka telah memegang prinsip kekeluargaan.


“Kita tidak bisa melakukan apa-apa tanpa persetujuan dari


pihak tertinggi sekolah terlebih dahulu,” jelas Oliver.


“Kita akan dicap sebagai pemberontak jik a melanggar


peraturan,” timpalnya.


Nhea juga tahu soal hal itu. Tapi mereka juga tidak bisa


hanya diam dan berpangku tangan seperti ini saja. Kecuali jika mereka semua


memang sudah tidak memiliki harapan untuk hidup lagi dan hanya tinggal menunggu


ajalnya saja. Tapi Nhea sendiri sama sekali tidak pernah berpikiran seperti


itu. Dia memiliki ambisi yang besar untuk tetap bertahan hidup. Bagaimana pun


itu caranya akan tetap ia perjuangkan.


Selama ini gadis itu telah berusaha keras untuk tetap


bertahan hidup di tengah kerasnya dunia. Melawan segala kekejaman yang terjadi


di muka bumi dengan segala ketidak beruntungan yang ia miliki. Ia tidak ingin


kerja kerasnya itu berakhir sia-sia begitu saja. Meski pun pada akhirnya ia


tetap akan mati, gadis ini sama sekali tidak ingin mati dengan cara konyol


seperti ini.


“Kalau begitu, aku yang akan membicarakan hal ini kepada


bibi secara langsung,” batinnya dalam hati.


Jika tidak ada yang ingin bertindak sama sekali, lantas


bagaimana mereka akan menentukan langkah pertama seperti apa yang paling


pantas. Tidak ada yang mau bekerja susah payah untuk menyelamatkan mereka semua


kecuali dirinya sendiri. Mereka tidak bisa percaya atau bahkan mengandalkan


orang lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Hidup memang kejam. Jika tidak

__ADS_1


kejam, maka bukan hidup namanya. Hidup selalu penuh dengan seleksi alam.


 


__ADS_2