Mooneta High School

Mooneta High School
Guess Who


__ADS_3

Makan siang sudah hampir dimulai. Kali ini Eun Ji Hae


kembali meminta para staff dapur untuk membawakan mereka makan siang. Tidak


usah terlalu lengkap. Cukup roti lapis dengan isian telur dan sayur di


dalamnya. Tidak lupa dengan air putih juga. Semua itu sudah lebih ari cukup


rasanya.


“Kemana Nhea? Kenapa gadis itu belum kembali juga sampai


saat ini?” gumam Oliver.


Diam-diam ia mulai mencemaskan Nhea yang tak kunjung


kembali. Terakhir kali ia izin ingin pergi ke kamar mandi.Padahal setahunya


kamar mandi tidak terlalu jauh. Ia bisa menyelesaikan segala urusannya dan


kembali lagi dalam waktu kurang dari lima belas menit. Sungguh aneh.


Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia perlu mencari tahu


kemana gadis itu pergi. Oliver perlu mencari tahu sebenarnya apa yang dilakukan


gadis itu di dalam sana sampai memakan waktu selama itu. Masalahnya, mereka tidak


memiliki cukup banyak waktu untuk bersantai. Setelah selesai makan malam, hasil


urutannya akan segera diumumkan.


Tanpa pikir panjang lagi, Oliver segera beranjak dari sana.


Meninggalkan tenda kamp. Padahal teman-temannya yang lain sudah mulai berkumpul


merapat untuk menikmati makan siang mereka. Namun, Oliver malah melakukan hal


lain. Ia sedang mencoba untuk melawan arus.


“Ayolah! Kemana lagi ia pergi sekarang?!” gerutu Oliver.


Tidak, ia tidak sebal sama sekali dengan Nhea. Gadis itu


hanya terlalu mengkhawatirkan Nhea secara berlebihan. Meskipun sebenarnya pada


saat ini tidak bisa dipungkiri jika ia sedang tidak baik-baik saja. sudah lebih


dari tiga puluh menit yang lalu Nhea terjebak dalam masalah. Bukan hanya


sekedar masalah yang bisa selesai dalam hitungan detik saja. Namun, lebih dari


itu.


“Baiklah, pertama-tama aku akan pergi mengeceknya ke kamar


mandi terlebih dahulu,” ucap Oliver untuk meyakinkan dirinya sendiri.


“Dia pasti pergi ke kamar mandi yang ada di belakang tribun,”


lanjutnya.


“Hanya itu satu-satunya tempat yang paling dekat dari sini!”


tukas Oliver sembari mempercepat langkah kakinya. Ia harus menyelesaikan


semuanya dengan cepat. Lebih cepat lebih baik.


Sekarang giliran Oliver yang harus bertindak. Mau tak mau ia


akan berloba cepat dengan waktu yang terus memburu. Jika Oliver berhasil


menemukan Nhea sebelum menu makan siang mereka datang. Dengan begitu tidak akan


ada yang merasa curiga. Padahal sebenarnya Nhea baru saja mendapatkan masalah.

__ADS_1


Tapi, ia yakin jika gadis itu bukan tipikal orang yang suka membagi masalahnya


dengan orang lain.


Dengan langkah yang tergesa-gesa, Oliver berusaha untuk


mencapai kamar mandi dengan secepat mungkin. Ia bhkan nyaris seperti berlari.


Kemudian langkahnya mendadak berhenti di ambang pintu utama kamar mandi.


“Kamar mandi sedang rusak.”


Oliver sedang berusaha untuk mengeja setiap kata yang


tertera di sana. Terpampang jelas di depan pintu masuk. Selain itu, pintu utama


juga tampaknya sedang dikunci dari luar. Sehingga cukup meyakinkan memang jika


kamar mandi umum ini sedang benar-benar rusak. Memangnya siapa yang berada di


dalam dan menggunakannya secara normal.


“Pantas saja!” Oliver berdecak sebal.


“Nhea pasti mencari kamar mandi lain karena yang satu ini


rusak dan tidak bisa digunakan sama sekali,” gumamnya kemudian.


Sejauh ini Oliver sudah membuat kesimpulan yang salah. Apa


yang terjadi sama sekali tidak seperti yang pernah ia bayangkan sebelumnya.


Gadis itu terlalu mudah untuk percaya. Tanpa ingin mencari tahu apa yang


sebenarnya sedang terjadi di sekitar.


“Tolong!”


Baru saja Oliver akan beranjak pergi dari sana untuk kembali


menggunakan toilet lain yang berada di sekitar sini. Namun, baru beranjak


beberapa langkah, ia sudah kembali berhenti. Oliver bahkan belum sempat


meninggalkan tempat itu seutuhnya.


“Apa aku baru saja mendengar sesuatu?” tanya gadis itu pada


dirinya sendiri. Tampaknya Oliver mulai meragukan kemampuan telinganya sendiri.


“Tapi, siapa yang meminta tolong?” lanjutnya.


Ia merasa aneh. Ada sesuatu yang tidak beres. Oliver


bertanya-tanya, dari mana seumber suara lirih tersebut berasal. Tidak mungkin


dari dalam bilik kamar mandi. Sudah jelas-jelas jika di sana tertulis kalau


tempat ini sedang rusak. Pintunya juga tampak terkunci dari luar. Cukup


meyakinkan bagi Oliver jika di dalamnya tidak ada orang.


Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah.


Menyapu setiap objek yang berhasil ditangkap oleh indera pengelihatannya. Namun,


hasilnya nihil. Tidak ada siapa-siapa di sana yang menarik perhatiannya. Semua


orang bertingkah normal. Mereka tampak baik-baik saja.


“Tolong!” sahut suara tersebut sekali lagi.


Untuk yang kesekian kalinya Oliver kembali menatap pintu


besi berwarna maroon tersebut. Otaknya masih sibuk mencerna setiap informasi

__ADS_1


yang berhasil ia terima. Rasanya begitu membingungkan. Tidak ada yang


benar-benar masuk akal.


Merasa mulai mendapatkan satu petunjuk menuju titik terang,


sepertinya ia tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Tanpa pikir panjang lagi,


Oliver berinisiatif untuk menempelkan telinganya pada pintu tersebut. Ia yakin


jika suara dari dalam sana tidak akan teredam dan masih bisa terdengar dengan


jelas. Sebab, pintu ini terbuat dari besi. Bukan kayu jati tebal.


“Apa ada seseorang di dalam?!” sahut Oliver dari luar.


“Siapa pun di luar sana tolong bantu aku untuk keluar dari


ini!” balas seseorang dari dalam.


Mendengar jawaban tersebut, membuat Oliver semakin yakin


jika ada seseorang yang masih terjebak di dalam sana sekarang. Kali ini ia


yakin jika dirinya tidak salah dengar. Gadis itu sudah memastikan setiap hal


yang selama ini menjadi penyebab keraguannya.


“Tetaplah bertahan di sana! Aku akan segera mengeluarkanmu!”


seru Oliver dari luar.


Gadis itu melepaskan telinganya dari permukaan pintu. Ia


mundur beberapa langkah untuk mengamati benda tersebut secara keseluruhan. Tidak


ada waktu untuk menemui pengelola tempat ini sekarang. Ia bahkan tidak tahu


siapa orangnya.


Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan mencari


celah kecil yang bisa dimanfaatkan. Atau mungkin merusak kuncinya. Oliver


mungkin akan disalahkan atas semua itu nantinya. Akibat dari tindakannya memang


ada. Tapi, untuk saat ini Oliver tidak terlalu memikirkan hal tersebut.


Baginya membantu orang yang sedang kesulitan adalah sebuah


hal baik. Tidak masalah jika ia harus disalahkan karena melakukan hal baik


sekali pun.


Tanpa pikir panjang lagi, Oliver segera berusaha untuk


merusak gemboknya dengan menggunakan batu. Beberapa kali benda padat tersebut


tampak menghantam permukaan pintu, namun sama sekali tidak merusak struktur


gemboknya.


Merasa usahanya tidak menghasilkan pengaruh apa pun, Oliver


lantas memutar otaknya untuk mendapatkan cara baru yang jauh lebih efektif ia


rasa.


“Bagaimana jika aku menggunakan sihir perusak benda?” gumam


Oliver.


Untuk beberapa saat di awal ia masih tampak tidak terlalu


yakin. Namun, pada akhirnya Oliver tetap melakukan hal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2