
Makan siang sudah hampir dimulai. Kali ini Eun Ji Hae
kembali meminta para staff dapur untuk membawakan mereka makan siang. Tidak
usah terlalu lengkap. Cukup roti lapis dengan isian telur dan sayur di
dalamnya. Tidak lupa dengan air putih juga. Semua itu sudah lebih ari cukup
rasanya.
“Kemana Nhea? Kenapa gadis itu belum kembali juga sampai
saat ini?” gumam Oliver.
Diam-diam ia mulai mencemaskan Nhea yang tak kunjung
kembali. Terakhir kali ia izin ingin pergi ke kamar mandi.Padahal setahunya
kamar mandi tidak terlalu jauh. Ia bisa menyelesaikan segala urusannya dan
kembali lagi dalam waktu kurang dari lima belas menit. Sungguh aneh.
Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia perlu mencari tahu
kemana gadis itu pergi. Oliver perlu mencari tahu sebenarnya apa yang dilakukan
gadis itu di dalam sana sampai memakan waktu selama itu. Masalahnya, mereka tidak
memiliki cukup banyak waktu untuk bersantai. Setelah selesai makan malam, hasil
urutannya akan segera diumumkan.
Tanpa pikir panjang lagi, Oliver segera beranjak dari sana.
Meninggalkan tenda kamp. Padahal teman-temannya yang lain sudah mulai berkumpul
merapat untuk menikmati makan siang mereka. Namun, Oliver malah melakukan hal
lain. Ia sedang mencoba untuk melawan arus.
“Ayolah! Kemana lagi ia pergi sekarang?!” gerutu Oliver.
Tidak, ia tidak sebal sama sekali dengan Nhea. Gadis itu
hanya terlalu mengkhawatirkan Nhea secara berlebihan. Meskipun sebenarnya pada
saat ini tidak bisa dipungkiri jika ia sedang tidak baik-baik saja. sudah lebih
dari tiga puluh menit yang lalu Nhea terjebak dalam masalah. Bukan hanya
sekedar masalah yang bisa selesai dalam hitungan detik saja. Namun, lebih dari
itu.
“Baiklah, pertama-tama aku akan pergi mengeceknya ke kamar
mandi terlebih dahulu,” ucap Oliver untuk meyakinkan dirinya sendiri.
“Dia pasti pergi ke kamar mandi yang ada di belakang tribun,”
lanjutnya.
“Hanya itu satu-satunya tempat yang paling dekat dari sini!”
tukas Oliver sembari mempercepat langkah kakinya. Ia harus menyelesaikan
semuanya dengan cepat. Lebih cepat lebih baik.
Sekarang giliran Oliver yang harus bertindak. Mau tak mau ia
akan berloba cepat dengan waktu yang terus memburu. Jika Oliver berhasil
menemukan Nhea sebelum menu makan siang mereka datang. Dengan begitu tidak akan
ada yang merasa curiga. Padahal sebenarnya Nhea baru saja mendapatkan masalah.
__ADS_1
Tapi, ia yakin jika gadis itu bukan tipikal orang yang suka membagi masalahnya
dengan orang lain.
Dengan langkah yang tergesa-gesa, Oliver berusaha untuk
mencapai kamar mandi dengan secepat mungkin. Ia bhkan nyaris seperti berlari.
Kemudian langkahnya mendadak berhenti di ambang pintu utama kamar mandi.
“Kamar mandi sedang rusak.”
Oliver sedang berusaha untuk mengeja setiap kata yang
tertera di sana. Terpampang jelas di depan pintu masuk. Selain itu, pintu utama
juga tampaknya sedang dikunci dari luar. Sehingga cukup meyakinkan memang jika
kamar mandi umum ini sedang benar-benar rusak. Memangnya siapa yang berada di
dalam dan menggunakannya secara normal.
“Pantas saja!” Oliver berdecak sebal.
“Nhea pasti mencari kamar mandi lain karena yang satu ini
rusak dan tidak bisa digunakan sama sekali,” gumamnya kemudian.
Sejauh ini Oliver sudah membuat kesimpulan yang salah. Apa
yang terjadi sama sekali tidak seperti yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
Gadis itu terlalu mudah untuk percaya. Tanpa ingin mencari tahu apa yang
sebenarnya sedang terjadi di sekitar.
“Tolong!”
Baru saja Oliver akan beranjak pergi dari sana untuk kembali
menggunakan toilet lain yang berada di sekitar sini. Namun, baru beranjak
beberapa langkah, ia sudah kembali berhenti. Oliver bahkan belum sempat
meninggalkan tempat itu seutuhnya.
“Apa aku baru saja mendengar sesuatu?” tanya gadis itu pada
dirinya sendiri. Tampaknya Oliver mulai meragukan kemampuan telinganya sendiri.
“Tapi, siapa yang meminta tolong?” lanjutnya.
Ia merasa aneh. Ada sesuatu yang tidak beres. Oliver
bertanya-tanya, dari mana seumber suara lirih tersebut berasal. Tidak mungkin
dari dalam bilik kamar mandi. Sudah jelas-jelas jika di sana tertulis kalau
tempat ini sedang rusak. Pintunya juga tampak terkunci dari luar. Cukup
meyakinkan bagi Oliver jika di dalamnya tidak ada orang.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah.
Menyapu setiap objek yang berhasil ditangkap oleh indera pengelihatannya. Namun,
hasilnya nihil. Tidak ada siapa-siapa di sana yang menarik perhatiannya. Semua
orang bertingkah normal. Mereka tampak baik-baik saja.
“Tolong!” sahut suara tersebut sekali lagi.
Untuk yang kesekian kalinya Oliver kembali menatap pintu
besi berwarna maroon tersebut. Otaknya masih sibuk mencerna setiap informasi
__ADS_1
yang berhasil ia terima. Rasanya begitu membingungkan. Tidak ada yang
benar-benar masuk akal.
Merasa mulai mendapatkan satu petunjuk menuju titik terang,
sepertinya ia tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Tanpa pikir panjang lagi,
Oliver berinisiatif untuk menempelkan telinganya pada pintu tersebut. Ia yakin
jika suara dari dalam sana tidak akan teredam dan masih bisa terdengar dengan
jelas. Sebab, pintu ini terbuat dari besi. Bukan kayu jati tebal.
“Apa ada seseorang di dalam?!” sahut Oliver dari luar.
“Siapa pun di luar sana tolong bantu aku untuk keluar dari
ini!” balas seseorang dari dalam.
Mendengar jawaban tersebut, membuat Oliver semakin yakin
jika ada seseorang yang masih terjebak di dalam sana sekarang. Kali ini ia
yakin jika dirinya tidak salah dengar. Gadis itu sudah memastikan setiap hal
yang selama ini menjadi penyebab keraguannya.
“Tetaplah bertahan di sana! Aku akan segera mengeluarkanmu!”
seru Oliver dari luar.
Gadis itu melepaskan telinganya dari permukaan pintu. Ia
mundur beberapa langkah untuk mengamati benda tersebut secara keseluruhan. Tidak
ada waktu untuk menemui pengelola tempat ini sekarang. Ia bahkan tidak tahu
siapa orangnya.
Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan mencari
celah kecil yang bisa dimanfaatkan. Atau mungkin merusak kuncinya. Oliver
mungkin akan disalahkan atas semua itu nantinya. Akibat dari tindakannya memang
ada. Tapi, untuk saat ini Oliver tidak terlalu memikirkan hal tersebut.
Baginya membantu orang yang sedang kesulitan adalah sebuah
hal baik. Tidak masalah jika ia harus disalahkan karena melakukan hal baik
sekali pun.
Tanpa pikir panjang lagi, Oliver segera berusaha untuk
merusak gemboknya dengan menggunakan batu. Beberapa kali benda padat tersebut
tampak menghantam permukaan pintu, namun sama sekali tidak merusak struktur
gemboknya.
Merasa usahanya tidak menghasilkan pengaruh apa pun, Oliver
lantas memutar otaknya untuk mendapatkan cara baru yang jauh lebih efektif ia
rasa.
“Bagaimana jika aku menggunakan sihir perusak benda?” gumam
Oliver.
Untuk beberapa saat di awal ia masih tampak tidak terlalu
yakin. Namun, pada akhirnya Oliver tetap melakukan hal tersebut.
__ADS_1