
Nhea masih mematung di tempat setelah menerima barang
pemberian Eun Ji Hae. Sementara punggung gadis itu tampak kian menjauh darinya.
Masih dengan sorot mata yang sama, ia berusaha untuk tak terpaku kepada
kakaknya yang satu itu. Namun, hasilnya nihil. Nhea baru mengalihkan
pandangannya saat Eun Ji Hae sudah benar-benar menghilang di batas cakrawala.
Kedua bola matanya beralih kepada sebuah kain putih yang
baru saja diberikan oleh Eun Ji Hae. Entah sejak kapan ia menjadi begitu
perhatian seperti ini. Padahal sebelumnya tidak pernah sama sekali.
“Haha! Sebenarnya roh macam apa lagi yang merauki Eun Ji
Hae?!” sarkasnya.
Ia tidak membuang kain tersebut meski di awal sama sekali
tidak mengharapkannya. Nhea sendiri bahkan tidak tahu bagaimana bisa mereka
mengetahui jika tangannya terluka setelah bertanding kemarin. Padahal
seingatnya tidak ada yang menanyakan tentang kondisinya sama sekali. Mereka
bahkan tidak tahu jika tangan Nhea terluka. Chanwo adalah satu-satunya orang
yang tahu.
“Tunggu dulu!” ucapnya kepada dirinya sendiri.
“Jangan bilang jika Chanwo yang memberitahu semia ini kepada
Eun Ji Hae?” duga Nhea dengan ragu.
Hal tersebut sebenarnya mungkin saja untuk terjadi.
Mengingat hubungan mereka cukup dekat akhir-akhir ini. Keduanya pasti lebih
sering menjalin komunikasi dari pada biasanya. Chanwo akan menceritakan apa
saja yang terjadi hari ini kepada Eun Ji Hae. Begitu pula sebaliknya.
Lagipula Eun Ji Hae pernah berkata begini di awal, “Bahkan
Bibi Ga Eun tidak memintaku untuk melakukan yang satu ini.”
Kalimat tersebut semakin memperkuat asumsi Nhea. Eun Ji Hae
bukan tipikal orang yang akan mengamati sekitarnya dengan teliti. Ada banyak
hal yang harus di urusnya. Dia tidak punya banyak waktu untuk mengurusi seorang
gadis sepertinya. Apalagi jika bukan Bibi Ga Eun yang memintanya. Umumnya Eun
Ji Hae hanya akan melakukan dua macam perintah. Yang pertama dari Bibi Ga Eun
dan yang kedua dari Vallery. Wilson sudah tidak ada lagi di dalam daftarnya
sekarang. Hubungan mereka masih belum membaik. Miris.
Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut, ia langsung
menyingkirkannya dari dalam pikirannya pada saat itu juga. Kemudian bergegas untuk
meninggalkan tempat tersebut dan segera kembali ke kamp. Dia nyaris terlambat
karena ulah Eun Ji Hae. Tapi, di sisi lain ia juga merasa berterima kasih
kepada gadis itu karena telah membantunya. Setidaknya di antara banyaknya
__ADS_1
orang, masih ada satu manusia yang peduli kepadanya. Tidak masalah jika Eun Ji
Hae tidak tulus dalam melakukannya. Sepeti yang pernah ia katakan sebelumnya,
jika Nhea sama sekalli tidak keberatan. Ia sudah cukup terbiasa untuk hidup
tanpa kasih sayang atau bahkan perhatian dari siapa pun.
Melakukan semuanya sendirian jauh lebih baik. Dari pada
harus bekerja sama dengan manusia lainnya. Padahal belum tentu berhasil. Jangan
terlalu bergantung kepada manusia. Mereka tak selalu bisa diandalkan.
“Oh? Kau sudah kembali?” tanya Oliver yang kemudian hanya
dibalas dengan anggukan oleh Nhea.
Di saat semua orang sudah hampir selesai bersiap, ia malah
baru datang. Tampaknya ada banyak hal yang ia lewatkan di sini karena Eun Ji
Hae. Tapi, tidak apa. Ia sedang tak ingin marah. Emosinya harus tetap terjaga
sampai pertandingan selesai. Karena bagaimanapun juga, ia harus tetap fokus.
Tidak ada yang bisa mengganggunya.
“Aku akan bersiap terlebih dahulu,” ujar Nhea kemudian
segera mengambil seragam miliknya.
Di dalam tenda besar ini terdapat beberapa biliki kecil yang
bisa mereka gunakan untuk berganti seragam. Kali ini seluruh anggota dari tim
memanah akan mendapatkan rompi khusus untuk melindungi tubuh mereka. Bukan
hanya itu. Mereka juga akan mendapatkan penutup kepala yang terbuat dari baja.
dari pada sebelumnya. Bahkan bisa dikatakan jika ini jauh lebih berlebihan dari
pada yang sebelumnya. Sebab, mereka akan saling menyerang sekarang. Jika
kemarin mereka hanya akan memanah papan target dengan tingkat kesulitan yang
berbeda-beda, maka saat ini mereka akan membidik manusia sungguhan.
Bisa dikatakan jika pertandingan yang kali ini cukup
ekstrem. Mereka bisa terluka kapan saja. Resiko cedera serta hal buruk lainnya
kian meningkat jika begini caranya. Oleh sebab itu setiap peserta sengaja
diberikan perlindungan lebih untuk mengurangi presentase terluka.
Terutama Nhea. Sepertinya seseorang perlu mengingatkan
kembali kepada gadis itu untuk menjaga dirinya. Dia tidak bisa terus-terusan
bersikap seperti ini. Semakin banyak ia kehilangan darah manusia, maka itu
berarti semakin sedikit kesempatannya untuk menjadi manusia seutuhnya. Dia
tidak boleh sampai kehilangan jati dirinya. Semua orang yakin betul jika ia
belum siap untuk hsl tersebut.
“Kau yakin jika anak panah tidak akan menebus rompi ini?”
ucap Nhea saat memintai pendapat gadis itu. Siapa lagi jika bukan Oliver.
“Rompi ini terbuat dari kulit yang cukup tebal. Bahkan ku
__ADS_1
dengar ada lapisan baja tipis,” ujar Oliver sembari mengamati rompi yang tengah
dipakai oleh temannya.
“Seharusnya itu cukup untuk melindungi tubuhmu dari serangan
anak panah,” tukasnya kemudian.
“Kau benar juga,” balas Nhea yang merasa sependapat dengan
gadis itu.
Namun, meski begitu tetap saja ia harus berhati-hati. Tidak
ada yang tahu kapan kemungkinan terburuknya akan terjadi. Manusia tidak bisa
memastikan apa pun yang akan terjadi di masa depan. Waspada akan membuatmu
tetap aman.
“Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari
serangan anak panah tersebut nantinya,” ujar Nhea dengan optimis.
“Tentu kau harus melakukannya jika tidak ingin skormu
berkurang,” sambung Oliver.
Kemungkinan terburuknya masih sama. Ia bisa saja terkena
serangan bebas. Sebaiknya, Nhea harus mempersiapkan diri untuk terluka. Meski
sebenarnya itu adalah mimpi buruk yang tak ingin ia akui. Apalagi harus sampai
terjadi.
“Jadi, menurutmu bagaimana jika aku kembali terluka lagi
nantinya?” tanya Nhea untuk yang kesekian kalinya.
“Anggap saja jika kali ini lebih parah dari yang kemarin,”
lanjutnya.
“Kau bisa mati kalau begitu karena kehabisan banyak darah,” jawab
Oliveer secara gamblang.
“Apa pernah ada korban serupa di festival sebelumnya?” tanya
Nhea kembali.
“Aku tidak benar-benar ingat peristiwanya. Tapi, pernah ada
dulu,” jawab Oliver dengan apa adanya.
“Kejadiannya sudah lama sekali. Aku bahkan tidak sempat
untuk menyaksikannya secara langsung,” jelas gadis itu kemudian.
“Lalu, bagaimana dengan kelanjutannya?” tanya Nhea.
“Tentu ia dimakamkan dengan layak. Tapi, aku tidak pernah
tertarik untuk mendalami kasusnya secara khusus,” ungkapnya secara
terang-terangan.
Nhea bertanya seperti itu seolah ia tahu persis jika dirinya
akan terluka parah nanti. Tampaknya ada banyak asumsi di dalam kepala gadis
ini. Yang membuatnya telah mempersiapkan diri untuk sema bencana itu secara
__ADS_1
tidak langsung.