Mooneta High School

Mooneta High School
Preparation For The Death


__ADS_3

Nhea masih mematung di tempat setelah menerima barang


pemberian Eun Ji Hae. Sementara punggung gadis itu tampak kian menjauh darinya.


Masih dengan sorot mata yang sama, ia berusaha untuk tak terpaku kepada


kakaknya yang satu itu. Namun, hasilnya nihil. Nhea baru mengalihkan


pandangannya saat Eun Ji Hae sudah benar-benar menghilang di batas cakrawala.


Kedua bola matanya beralih kepada sebuah kain putih yang


baru saja diberikan oleh Eun Ji Hae. Entah sejak kapan ia menjadi begitu


perhatian seperti ini. Padahal sebelumnya tidak pernah sama sekali.


“Haha! Sebenarnya roh macam apa lagi yang merauki Eun Ji


Hae?!” sarkasnya.


Ia tidak membuang kain tersebut meski di awal sama sekali


tidak mengharapkannya. Nhea sendiri bahkan tidak tahu bagaimana bisa mereka


mengetahui jika tangannya terluka setelah bertanding kemarin. Padahal


seingatnya tidak ada yang menanyakan tentang kondisinya sama sekali. Mereka


bahkan tidak tahu jika tangan Nhea terluka. Chanwo adalah satu-satunya orang


yang tahu.


“Tunggu dulu!” ucapnya kepada dirinya sendiri.


“Jangan bilang jika Chanwo yang memberitahu semia ini kepada


Eun Ji Hae?” duga Nhea dengan ragu.


Hal tersebut sebenarnya mungkin saja untuk terjadi.


Mengingat hubungan mereka cukup dekat akhir-akhir ini. Keduanya pasti lebih


sering menjalin komunikasi dari pada biasanya. Chanwo akan menceritakan apa


saja yang terjadi hari ini kepada Eun Ji Hae. Begitu pula sebaliknya.


Lagipula Eun Ji Hae pernah berkata begini di awal, “Bahkan


Bibi Ga Eun tidak memintaku untuk melakukan yang satu ini.”


Kalimat tersebut semakin memperkuat asumsi Nhea. Eun Ji Hae


bukan tipikal orang yang akan mengamati sekitarnya dengan teliti. Ada banyak


hal yang harus di urusnya. Dia tidak punya banyak waktu untuk mengurusi seorang


gadis sepertinya. Apalagi jika bukan Bibi Ga Eun yang memintanya. Umumnya Eun


Ji Hae hanya akan melakukan dua macam perintah. Yang pertama dari Bibi Ga Eun


dan yang kedua dari Vallery. Wilson sudah tidak ada lagi di dalam daftarnya


sekarang. Hubungan mereka masih belum membaik. Miris.


Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut, ia langsung


menyingkirkannya dari dalam pikirannya pada saat itu juga. Kemudian bergegas untuk


meninggalkan tempat tersebut dan segera kembali ke kamp. Dia nyaris terlambat


karena ulah Eun Ji Hae. Tapi, di sisi lain ia juga merasa berterima kasih


kepada gadis itu karena telah membantunya. Setidaknya di antara banyaknya

__ADS_1


orang, masih ada satu manusia yang peduli kepadanya. Tidak masalah jika Eun Ji


Hae tidak tulus dalam melakukannya. Sepeti yang pernah ia katakan sebelumnya,


jika Nhea sama sekalli tidak keberatan. Ia sudah cukup terbiasa untuk hidup


tanpa kasih sayang atau bahkan perhatian dari siapa pun.


Melakukan semuanya sendirian jauh lebih baik. Dari pada


harus bekerja sama dengan manusia lainnya. Padahal belum tentu berhasil. Jangan


terlalu bergantung kepada manusia. Mereka tak selalu bisa diandalkan.


“Oh? Kau sudah kembali?” tanya Oliver yang kemudian hanya


dibalas dengan anggukan oleh Nhea.


Di saat semua orang sudah hampir selesai bersiap, ia malah


baru datang. Tampaknya ada banyak hal yang ia lewatkan di sini karena Eun Ji


Hae. Tapi, tidak apa. Ia sedang tak ingin marah. Emosinya harus tetap terjaga


sampai pertandingan selesai. Karena bagaimanapun juga, ia harus tetap fokus.


Tidak ada yang bisa mengganggunya.


“Aku akan bersiap terlebih dahulu,” ujar Nhea kemudian


segera mengambil seragam miliknya.


Di dalam tenda besar ini terdapat beberapa biliki kecil yang


bisa mereka gunakan untuk berganti seragam. Kali ini seluruh anggota dari tim


memanah akan mendapatkan rompi khusus untuk melindungi tubuh mereka. Bukan


hanya itu. Mereka juga akan mendapatkan penutup kepala yang terbuat dari baja.


dari pada sebelumnya. Bahkan bisa dikatakan jika ini jauh lebih berlebihan dari


pada yang sebelumnya. Sebab, mereka akan saling menyerang sekarang. Jika


kemarin mereka hanya akan memanah papan target dengan tingkat kesulitan yang


berbeda-beda, maka saat ini mereka akan membidik manusia sungguhan.


Bisa dikatakan jika pertandingan yang kali ini cukup


ekstrem. Mereka bisa terluka kapan saja. Resiko cedera serta hal buruk lainnya


kian meningkat jika begini caranya. Oleh sebab itu setiap peserta sengaja


diberikan perlindungan lebih untuk mengurangi presentase terluka.


Terutama Nhea. Sepertinya seseorang perlu mengingatkan


kembali kepada gadis itu untuk menjaga dirinya. Dia tidak bisa terus-terusan


bersikap seperti ini. Semakin banyak ia kehilangan darah manusia, maka itu


berarti semakin sedikit kesempatannya untuk menjadi manusia seutuhnya. Dia


tidak boleh sampai kehilangan jati dirinya. Semua orang yakin betul jika ia


belum siap untuk hsl tersebut.


“Kau yakin jika anak panah tidak akan menebus rompi ini?”


ucap Nhea saat memintai pendapat gadis itu. Siapa lagi jika bukan Oliver.


“Rompi ini terbuat dari kulit yang cukup tebal. Bahkan ku

__ADS_1


dengar ada lapisan baja tipis,” ujar Oliver sembari mengamati rompi yang tengah


dipakai oleh temannya.


“Seharusnya itu cukup untuk melindungi tubuhmu dari serangan


anak panah,” tukasnya kemudian.


“Kau benar juga,” balas Nhea yang merasa sependapat dengan


gadis itu.


Namun, meski begitu tetap saja ia harus berhati-hati. Tidak


ada yang tahu kapan kemungkinan terburuknya akan terjadi. Manusia tidak bisa


memastikan apa pun yang akan terjadi di masa depan. Waspada akan membuatmu


tetap aman.


“Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari


serangan anak panah tersebut nantinya,” ujar Nhea dengan optimis.


“Tentu kau harus melakukannya jika tidak ingin skormu


berkurang,” sambung Oliver.


Kemungkinan terburuknya masih sama. Ia bisa saja terkena


serangan bebas. Sebaiknya, Nhea harus mempersiapkan diri untuk terluka. Meski


sebenarnya itu adalah mimpi buruk yang tak ingin ia akui. Apalagi harus sampai


terjadi.


“Jadi, menurutmu bagaimana jika aku kembali terluka lagi


nantinya?” tanya Nhea untuk yang kesekian kalinya.


“Anggap saja jika kali ini lebih parah dari yang kemarin,”


lanjutnya.


“Kau bisa mati kalau begitu karena kehabisan banyak darah,” jawab


Oliveer secara gamblang.


“Apa pernah ada korban serupa di festival sebelumnya?” tanya


Nhea kembali.


“Aku tidak benar-benar ingat peristiwanya. Tapi, pernah ada


dulu,” jawab Oliver dengan apa adanya.


“Kejadiannya sudah lama sekali. Aku bahkan tidak sempat


untuk menyaksikannya secara langsung,” jelas gadis itu kemudian.


“Lalu, bagaimana dengan kelanjutannya?” tanya Nhea.


“Tentu ia dimakamkan dengan layak. Tapi, aku tidak pernah


tertarik untuk mendalami kasusnya secara khusus,” ungkapnya secara


terang-terangan.


Nhea bertanya seperti itu seolah ia tahu persis jika dirinya


akan terluka parah nanti. Tampaknya ada banyak asumsi di dalam kepala gadis


ini. Yang membuatnya telah mempersiapkan diri untuk sema bencana itu secara

__ADS_1


tidak langsung.


__ADS_2