Mooneta High School

Mooneta High School
Stared


__ADS_3

Pada dasarnya, meramal bukan hanya tentang masa depan. Tidak


harus selalu tentang hal yang belum terjadi. Bahkan masa lalu juga bisa


diramal. Terlepas dari dimensi waktunya, kita bisa mengetahui apa saja dari


ramalan.


Mengkaitkan berbagai tanda yang diberikan oleh alam semesta,


serta mendengarkan isi hati kita. Itu adalah prinsip utamanya.


Gadis itu kemudian memejamkan kedua kelopak matanya.


Menikmati semilir angina malam yang bertiup dari arah selatan. Sejak tadi pagi


ia membiarkan rambutnya terurai begitu saja. Ternyata sama sekali tidak


berantakan. Selama ini yang membuat Nhea tetap mengikat rambutnya sepanjang


hari adalah hal tersebut. Ia tidak mau tampil berantakan. Tapi, terkadang


setiap hal tidak harus sempurna. Perlu sedikit kesalahan agar kau tampak


normal.


Mungkin atap asrama akan menjadi tempat kedua yang sering ia


kunjungi ketika suasana hatinya sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


Ruang penyimpanan tetap menjadi tempat yang paling aman untuk bersembunyi dari


orang-orang. Namun, sepertinya suasana di atap akan terasa jauh lebih


menenangkan.


Tidak perlu banyak bicara. Bukan hanya Nhea seorang yang


mengakui hal tersebut. Namun, Oliver juga merasakan hal yang sama. Sudah


beberapa kali mereka berkunjung kemari. Masih dengan alasan serta tujuan yang


sama. Jika biasanya mereka menikmati suasana atap bersama, maka kali ini Nhea


pergi ke sana sendirian. Bukan karena memiliki sikap egois yang tinggi. Tapi,


pada dasarnya setiap orang memang perlu waktu untuk berbicara dengan dirinya


sendiri.


“Hei!” sahut seseorang.


Nhea yang sedang memejamkan matanya dan berusaha untuk


menyatu dengan alam, sontak membuka kedua kelopak matanya secara tiba-tiba.


Padahal ia hampir mencapai titik paling tenang di dalam dirinya. Gadis itu


terlonjak kaget.


Bagaimana bisa ada oranglain di sini. Padahal hanya Nhea dan


Oliver yang mengetahui akses menuju atap. Sebelumnya, malah hanya Oliver saja.


Tidak ada orang lain yang bisa memasuki bangunan asrama putri kecuali


penghuninya. Jika diperhatikan sekali lagi, suara barusan memang terdengar


seperti suara seorang wanita. Dari nada bicaranya cukup meyakinkan jika ia sama


dengan Nhea. Namun, dugaan hanya akan tetap menjadi sebuah asumsi tanpa


pembuktian. Nhea perlu memastikan dugaannya apakah benar atau tidak.


Dengan sigap ia bangkit dari posisinya saat ini. Sempat


hampir terjatuh dari ketinggian, karena kehilangan keseimbangan saat berusaha

__ADS_1


berdiri. Untungnya hal buruk seperti itu tidak sempat terjadi. Nhea buru-buru


membenarkan posisinya. Naluri alami untuk menyelamatkan dirinya sendiri telap


aktif. Bahkan sejak pertama kali ia terlahir ke bumi. Karena pada dasarnya


semua manusia pasti memiliki naluri bertahan hidup yang sama. Termasuk gadis


ini juga.


“Siapa kau?!” seru Nhea dengan nada bicara yang jauh lebih tinggi


dari biasanya.


Gadis itu berseru balik ketika mendapati seorang wanita


dengan gaun tidak terlalu panjang berada tepat di depannya. Ia tampak begitu


menyatu dengan langit malam kala itu. Sebab, warnanya sama-sama hitam, namun


tetap menonjolkan kesan elegan.


Ada dua kemungkinan kenapa ia bisa seperti itu. Pertama,


karena Nhea ingin menggertak sekaligus berusaha untuk mengintimidasi lawan


bicaranya. Kemungkinan kedua adalah karena kaget. Keduanya terasa memiliki


presentase yang sama besar untuk terjadi. Mungkin saja kedua opsi tersebut


benar.


Hanya Nhea yang tahu kebenarannya. Sebab, ia yang merasakan


secara langsung. Hanya Nhea yang tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya


serta apa yang ia rasakan.


Terlepas dari segala kemungkinan tersebut, di sisi lain


apa maknanya. Yang jelas bukan pertanda baik.


Mendadak perasaaannya kembali merasa cemas. Padahal sebelumnya


sudah jauh lebih membaik. Sepertinya semesta sungguh tidak akan memberikan jeda


kepadanya. Tidak ada waktu luang yang bisa ia nikmati. Ringkasnya, pasti selalu


ada saja masalah yang menghampirinya setiap waktu.


“Masalah macam apa lagi kali ini?” batin Nhea dalam hati.


Ia pribadi sudah merasa sangat muak. Sebab, nyaris setiap


hari pasti selalu ada saja masalah. Dalam satu hari saja bisa terhitung hingga


beberapa kali. Nhea sama sekali tidak habis pikir. Sebenarnya seperti apa


takdir yang dituliskan untuknya. Sampai-sampai ia harus berusaha dengan sedemikian


rupa untuk bertahan.


Masalah yang satu saja belum sempat terselesaikan. Kini lihat


saja bagaimana masalah lainnya datang. Sungguh tidak terduga. Waktunya sangat


tidak tepat.


“Siapa kau?” tanya Nhea sekali lagi.


Kali ini nada bicaranya terdengar sedikit lebih santai dari


pada yang sebelumnya. Nhea mulai merasa aman. Dirinya sudah tidak dalam posisi


yang terancam lagi sekarang. Namun, tetap saja ia harus tetap berhati-hati agar


tetap aman.

__ADS_1


Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu. Sama sekali tidak


ada jawaban yang pasti darinya. Jangankan jawaban. Ia bahkan tidak mau bukan


suara sama sekali untuk mengucapkan sepatah kata pun. Sepertinya Nhea yang


terlalu u berharap lebih kepadanya.


“Baiklah, jika kau tidak ingin memberi tahu siapa dirimu


yang sebenarnya,” ucap gadis itu dengan pasrah.


Kali ini dia tidak bisa memaksa.


“Aku menghargai privasimu!” tukasnya.


Lagi-lagi, ia kembali menghela napasnya dengan kasar. Kali ini


Nhea sudah benar-benar merasa kewalahan dengan setiap masalah yang disuguhkan


semesta. Bahkan lutunya sudah lemas ketika mengetahui jika dirinya akan kembali


menghadapi masalah baru lagi.


“Tapi, paling tidak beri tahu aku apa tujuanmu kemari!” titah


Nhea.


Dia sudah tidak tertarik untuk berbasa-basi lagi. Jadi, mari


langsung ke intinya saja. Lagipula ini bukan saat yang tepat untuk


berbasa-basi. Tidak sama sekali. Nhea sungguh tidak akan melakukannya sekarang.


“Jadi, kau sungguh merasa penasaran denganku ya?” tanya


wanita bergaun hitam tersebut.


Akhirnya ia membuka suara juga. Jadi, Nhea tidak perlu


memutar otak lagi untuk mencari cara agar ia mau berbicara. Ini adalah sesuatu


yang terasa cukup melegakan baginya pribadi.


“Terserahmu saja!” balas Nhea acuh tak acuh. Kemudian gadis


itu berdecak sebal.


Sementara itu, wanita tersebut kembali memasang senyumnya. Masih


sama dengan yang sebelumnya. Sepertinya cara ia tersenyum memang seperti itu.


Hal tersebut sudah menjadi ciri khasnya sejak awal.


“Baiklah, karena berhubung aku juga tidak memiliki banyak


waktu di sini, maka aku akan memberi tahu semua hal yang perlu kusampaikan


kepadamu,” jelas wanita tersebut dengan panjang lebar.


Tanpa memberikan reaksi apa pun, Nhea membiarkannya untuk


melanjutkan kembali kalimat yang sempat tertunda sebelumnya.


“Kau harus tahu jika aku merupakan bagian penting dari


akademi sihir ini. Hanya saja mereka tidak menganggap keberadaanku. Hal tersebut


membuatku merasa sakit hati lalu pergi begitu saja. Kurang lebih sama seperti


yang kau lakukan hari ini. Tapi, aku jauh lebih buruk lagi,” bebernya dengan


panjang lebar.


Nhea sungguh tidak habis pikir. Bagaimana


bisa ia tahu tentang kejadian hari ini?

__ADS_1


__ADS_2