
Pada dasarnya, meramal bukan hanya tentang masa depan. Tidak
harus selalu tentang hal yang belum terjadi. Bahkan masa lalu juga bisa
diramal. Terlepas dari dimensi waktunya, kita bisa mengetahui apa saja dari
ramalan.
Mengkaitkan berbagai tanda yang diberikan oleh alam semesta,
serta mendengarkan isi hati kita. Itu adalah prinsip utamanya.
Gadis itu kemudian memejamkan kedua kelopak matanya.
Menikmati semilir angina malam yang bertiup dari arah selatan. Sejak tadi pagi
ia membiarkan rambutnya terurai begitu saja. Ternyata sama sekali tidak
berantakan. Selama ini yang membuat Nhea tetap mengikat rambutnya sepanjang
hari adalah hal tersebut. Ia tidak mau tampil berantakan. Tapi, terkadang
setiap hal tidak harus sempurna. Perlu sedikit kesalahan agar kau tampak
normal.
Mungkin atap asrama akan menjadi tempat kedua yang sering ia
kunjungi ketika suasana hatinya sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Ruang penyimpanan tetap menjadi tempat yang paling aman untuk bersembunyi dari
orang-orang. Namun, sepertinya suasana di atap akan terasa jauh lebih
menenangkan.
Tidak perlu banyak bicara. Bukan hanya Nhea seorang yang
mengakui hal tersebut. Namun, Oliver juga merasakan hal yang sama. Sudah
beberapa kali mereka berkunjung kemari. Masih dengan alasan serta tujuan yang
sama. Jika biasanya mereka menikmati suasana atap bersama, maka kali ini Nhea
pergi ke sana sendirian. Bukan karena memiliki sikap egois yang tinggi. Tapi,
pada dasarnya setiap orang memang perlu waktu untuk berbicara dengan dirinya
sendiri.
“Hei!” sahut seseorang.
Nhea yang sedang memejamkan matanya dan berusaha untuk
menyatu dengan alam, sontak membuka kedua kelopak matanya secara tiba-tiba.
Padahal ia hampir mencapai titik paling tenang di dalam dirinya. Gadis itu
terlonjak kaget.
Bagaimana bisa ada oranglain di sini. Padahal hanya Nhea dan
Oliver yang mengetahui akses menuju atap. Sebelumnya, malah hanya Oliver saja.
Tidak ada orang lain yang bisa memasuki bangunan asrama putri kecuali
penghuninya. Jika diperhatikan sekali lagi, suara barusan memang terdengar
seperti suara seorang wanita. Dari nada bicaranya cukup meyakinkan jika ia sama
dengan Nhea. Namun, dugaan hanya akan tetap menjadi sebuah asumsi tanpa
pembuktian. Nhea perlu memastikan dugaannya apakah benar atau tidak.
Dengan sigap ia bangkit dari posisinya saat ini. Sempat
hampir terjatuh dari ketinggian, karena kehilangan keseimbangan saat berusaha
__ADS_1
berdiri. Untungnya hal buruk seperti itu tidak sempat terjadi. Nhea buru-buru
membenarkan posisinya. Naluri alami untuk menyelamatkan dirinya sendiri telap
aktif. Bahkan sejak pertama kali ia terlahir ke bumi. Karena pada dasarnya
semua manusia pasti memiliki naluri bertahan hidup yang sama. Termasuk gadis
ini juga.
“Siapa kau?!” seru Nhea dengan nada bicara yang jauh lebih tinggi
dari biasanya.
Gadis itu berseru balik ketika mendapati seorang wanita
dengan gaun tidak terlalu panjang berada tepat di depannya. Ia tampak begitu
menyatu dengan langit malam kala itu. Sebab, warnanya sama-sama hitam, namun
tetap menonjolkan kesan elegan.
Ada dua kemungkinan kenapa ia bisa seperti itu. Pertama,
karena Nhea ingin menggertak sekaligus berusaha untuk mengintimidasi lawan
bicaranya. Kemungkinan kedua adalah karena kaget. Keduanya terasa memiliki
presentase yang sama besar untuk terjadi. Mungkin saja kedua opsi tersebut
benar.
Hanya Nhea yang tahu kebenarannya. Sebab, ia yang merasakan
secara langsung. Hanya Nhea yang tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya
serta apa yang ia rasakan.
Terlepas dari segala kemungkinan tersebut, di sisi lain
apa maknanya. Yang jelas bukan pertanda baik.
Mendadak perasaaannya kembali merasa cemas. Padahal sebelumnya
sudah jauh lebih membaik. Sepertinya semesta sungguh tidak akan memberikan jeda
kepadanya. Tidak ada waktu luang yang bisa ia nikmati. Ringkasnya, pasti selalu
ada saja masalah yang menghampirinya setiap waktu.
“Masalah macam apa lagi kali ini?” batin Nhea dalam hati.
Ia pribadi sudah merasa sangat muak. Sebab, nyaris setiap
hari pasti selalu ada saja masalah. Dalam satu hari saja bisa terhitung hingga
beberapa kali. Nhea sama sekali tidak habis pikir. Sebenarnya seperti apa
takdir yang dituliskan untuknya. Sampai-sampai ia harus berusaha dengan sedemikian
rupa untuk bertahan.
Masalah yang satu saja belum sempat terselesaikan. Kini lihat
saja bagaimana masalah lainnya datang. Sungguh tidak terduga. Waktunya sangat
tidak tepat.
“Siapa kau?” tanya Nhea sekali lagi.
Kali ini nada bicaranya terdengar sedikit lebih santai dari
pada yang sebelumnya. Nhea mulai merasa aman. Dirinya sudah tidak dalam posisi
yang terancam lagi sekarang. Namun, tetap saja ia harus tetap berhati-hati agar
tetap aman.
__ADS_1
Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu. Sama sekali tidak
ada jawaban yang pasti darinya. Jangankan jawaban. Ia bahkan tidak mau bukan
suara sama sekali untuk mengucapkan sepatah kata pun. Sepertinya Nhea yang
terlalu u berharap lebih kepadanya.
“Baiklah, jika kau tidak ingin memberi tahu siapa dirimu
yang sebenarnya,” ucap gadis itu dengan pasrah.
Kali ini dia tidak bisa memaksa.
“Aku menghargai privasimu!” tukasnya.
Lagi-lagi, ia kembali menghela napasnya dengan kasar. Kali ini
Nhea sudah benar-benar merasa kewalahan dengan setiap masalah yang disuguhkan
semesta. Bahkan lutunya sudah lemas ketika mengetahui jika dirinya akan kembali
menghadapi masalah baru lagi.
“Tapi, paling tidak beri tahu aku apa tujuanmu kemari!” titah
Nhea.
Dia sudah tidak tertarik untuk berbasa-basi lagi. Jadi, mari
langsung ke intinya saja. Lagipula ini bukan saat yang tepat untuk
berbasa-basi. Tidak sama sekali. Nhea sungguh tidak akan melakukannya sekarang.
“Jadi, kau sungguh merasa penasaran denganku ya?” tanya
wanita bergaun hitam tersebut.
Akhirnya ia membuka suara juga. Jadi, Nhea tidak perlu
memutar otak lagi untuk mencari cara agar ia mau berbicara. Ini adalah sesuatu
yang terasa cukup melegakan baginya pribadi.
“Terserahmu saja!” balas Nhea acuh tak acuh. Kemudian gadis
itu berdecak sebal.
Sementara itu, wanita tersebut kembali memasang senyumnya. Masih
sama dengan yang sebelumnya. Sepertinya cara ia tersenyum memang seperti itu.
Hal tersebut sudah menjadi ciri khasnya sejak awal.
“Baiklah, karena berhubung aku juga tidak memiliki banyak
waktu di sini, maka aku akan memberi tahu semua hal yang perlu kusampaikan
kepadamu,” jelas wanita tersebut dengan panjang lebar.
Tanpa memberikan reaksi apa pun, Nhea membiarkannya untuk
melanjutkan kembali kalimat yang sempat tertunda sebelumnya.
“Kau harus tahu jika aku merupakan bagian penting dari
akademi sihir ini. Hanya saja mereka tidak menganggap keberadaanku. Hal tersebut
membuatku merasa sakit hati lalu pergi begitu saja. Kurang lebih sama seperti
yang kau lakukan hari ini. Tapi, aku jauh lebih buruk lagi,” bebernya dengan
panjang lebar.
Nhea sungguh tidak habis pikir. Bagaimana
bisa ia tahu tentang kejadian hari ini?
__ADS_1