Mooneta High School

Mooneta High School
Opening Ceremony


__ADS_3

Keadaan di pusat kota saat ini benar-benar ramai. Bahkan


jalanannya saja terasa sesak. Sulit untuk lewat. Tampaknya mereka benar-benar


ingin menyaksikan upacara pembukaan yang diadakan di alun-alun kota.


Kabarnya, Reodal tetap ikut dalam kompetisi tahun ini. Jadi,


formasi akademi sihir tiga besar masih tetap lengkap. Terlepas dari pertikaian


yang sempat terjadi beberapa bulan lalu, mereka akan bertanding secara sportif.


Semoga saja begitu. Pasalnya, besar kemungkinan jika pihak Reodal akan


melakukan balas dendam. Ini adalah sebuah kesempatan yang bagus untuk melakukan


hal tersebut. Semua orang tahu itu.


“Menurutmu, apakah kita akan tetap aman selama berada di


sekitar orang-orang Reodal?” tanya Oliver dengan nada sedikit berbisik.


“Mereka tidak akan bertidak yang aneh-aneh di tempat umum


seperti ini. Tenang saja,” balas Nhea dengan santai.


“Jangan salah paham dulu! Kau belum mengenal bagaimana


Reodal,” ucap Oliver dengan penih penekanan.


Mendengar kalimat tersebut, sontak Nhea langsung mengerutkan


dahinya. Pandangannya yang semula terfokus ke depan, kini berhasil dialihkan


oleh gadis itu. Oliver sukses mencuri atensinya dalam sekejap.


“Apa maksudmu?” tanya Nhea menuntut penjelasan.


Bukannya langsung menjawab pertanyaan dari gadis itu, Oliver


malah menghela napasnya dengan kasar. Kemudian melipat kedua tangannya di depan


dada.


“Mereka bisa melakukan apa saja, kapan saja, dan dimana


saja,” ungkapnya secara mengejutkan.


“Kau tahu jika Do Yen Sae bukan tipikal orang yang mudah


menyerah. Dia akan melakukan cara apa pun untuk mendapatkan tujuannya. Baik itu


dengan cara yang benar atau salah. Do Yen Sae sama sekali tidak peduli tentang


hal itu. Baginya, hasil akhir adalah yang terpenting,” jelas Oliver dengan


panjang lebar.


Ternyata hidup selama lebih dari lima tahun di akademi sihir


tidak berujung sia-sia baginya. Gadis itu mampu memprediksi hal macam apa yang


memiliki potensi paling besar. Ternyata ia tahu banyak soal musuh-musuhnya.


Selama ini anggap saja Oliver sebagai mata-mata. Dia menyimpan segudang


informasi yang bahkan belum tentu diketahui oleh para petinggi akademi juga.


“Kita harus tetap berhati-hati,” peringati Oliver.


“Mereka adalah ancaman paling nyata bagi kita untuk saat ini,”

__ADS_1


lanjutnya kemudian.


Nhea tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Membisu seribu


bahasa. Gadis itu tetap bergeming selama beberapa detik. Ia tidak mengangguk,


atau bahkan menggeleng. Tidak ada yang bisa ia mengerti di sini. Semuanya


terasa begitu membingungkan.


“Sudahlah, tidak perlu terlalu diambil pusing!” celetuk


gadis itu ketika melihat temannya diam tanpa reaksi.


Oliver tidak bermaksud untuk menambah beban pikiran gadis


itu. Mengingat selama beberapa hari ke depan mereka akan terus berhadapan


dengan anak-anak dari Reodal, tidak ada salahnya untuk selalu berhati-hati.


Waspada akan membuatmu tetap aman.


“Pakai topimu! Sebentar lagi acaranya akan resmi dibuka,”


titah Oliver.


Tanpa pikir panjang lagi, Nhea segera mengikuti saran


Oliver. Ia hampir saja lupa jika saat ini mereka tengah menghadiri acara


pembukaan festival sihir tahunan. Jujur, Nhea memang tidak tahu apa-apa saja


yang harus dan tidak boleh dilakukan. Karena ini adalah pertama kalinya bagi


gadis itu untuk menghadiri acara semacam ini. Sebelumnya tidak pernah.


Sudah hampir enam bulan Nhea berada di sini. Tinggal di


tempat tinggalnya selama ini. Ia rasa waktu yang ia habiskan selama ini sudah


cukup membuat dirinya terbiasa dengan dimensi baru. Tetapi ternyata itu bukan


apa-apa. Nhea masih harus terus beradaptasi dengan hal-hal baru yang terus


bermunculan di dalam hidupnya.


Harus ia akui jika dirinya tidak bisa menyesuaikan diri


secepat itu. Beradaptasi bukan pekara yang mudah baginya. Meski sulit, Nhea


tidak pernah berhenti untuk mencoba. Karena, hanya dengan cara itu dia bisa


bertahan hidup. Bukan makanan yang utama. Tapi koneksi.


“Mari kita sambut Tuan Venerald!” seru seorang pemandu acara


dari depan sana.


Sedetik kemudian suasan kembali riuh. Ada banyak suara tepuk


tangan serta sorakan yang memenuhi rongga telinga gadis ini. Nyaris saja ia


tuli jika tidak menutup sebagian dari telinganya.


Venerald adalah pemimpin konferensi sihir terbesar di negeri


ini. Semua orang mengenalnya. Bisa dikatakan jika ia merupakan salah satu orang


yang paling berpengaruh dalam perkembangan setiap akademi yang berdiri. Termasuk


Mooneta. Ia memulai kerja samanya dengan berbagai akademi sejak lebih dari

__ADS_1


sepuluh tahun yang lalu. Sejak saat itu mereka mulai sering melakukan


konferensi setiap tahunnya.


Semua orang begitu menghormati Tuan Venerald. Bahkan


anak-anak Mooneta sendiri lebih menganggap penting dirinya daripada Bibi Ga Eun


serta jajaran keluarga inti lainnya.


Sejauh ini belum ada yang bisa menggantikan posisinya dari


jabatan tersebut. Kabarnya ia memiliki seorang anak lelaki dan perempuan. Saat


ini mereka juga tengah disekolahkan pada salah satu akademi sihir tingkat


dasar. Sebelum masuk ke akademi sihir besar seperti Mooneta, Reodal dan Orton,


mereka perlu setidaknya memiliki kemampuan dasar terlebih dahulu. Atau paling


tidak tahu sedikit soal sihir.


Berbeda ceritanya dengan Nhea. Gadis itu terlahir dari garis


keturunan seorang penyihir sejak awal. Meski Vallery bukan anak kandung dari


kakek dan neneknya Nhea, tapi tetap saja ia sudah banyak menguasai ilmu sihir. Menurut


fakta juga mengatakan jika gadis ini sebenarnya adalah keturunan dari generasi


pertama. Yang dengan kata lain, kekuatannya jauh lebihbesar dari pada Eun Ji


Hae dan bahkan Ify sekali pun.


Mungkin orang bertanya-tanya kenapa Nhea dikatakan sebagai


generasi pertama. Padahal sebelum ia lahir ada Ibu dan kakek neneknya. Seharusnya


gadis ini adalah generasi ketiga. Tidak hanya sampai di situ saja. Bahkan Eun


Ji Hae dan Ify telah lahir lebih dulu sebelum gadis ini ada.


Ternyata ada satu hal yang mendasari semua prinsip itu


terjadi. Berhubung Vallery bukan anak kandung dari sepasang suami istri yang


mendirikan akademi sihir Mooneta ini, jadi ia tidak bisa dikatakan sebagai


generasi murni. Bahkan mereka sama sekali tidak memiliki hubungan darah.


Begitu pula dengan Bibi Ga Eun. Posisinya di keluarga ini


kurang lebih memiliki kedudukan yang sama dengan Vallery. Mereka tidak jauh berbeda.


Ify memang lahir dari rahim seorang wanita yang bernama Ga


Eun. Tapi, tetap saja ia tidak bisa dikatakan sebagai generasi pertama dalam


tatanan keluarga ini. Terlepas dari ia anak kandung atau bukan. Memiliki hubungan


darah atau tidak.


Dalam susunan keluarga inti pada saat itu, Vallery adalah


anak pertama. Yang berarti jika dirinya berpihak sebagai kakak dari Bibi Ga


Eun. Vallery jauh lebih dituakan di sini. tidak ada yang bisa menggeser


posisinya sampai kapan pun. Gadis itu tetap akan menjadi anak pertama, bahkan


jika ia telah mati nanti. Karena seseorang berusaha untuk menyingkirkannya.

__ADS_1


__ADS_2