
Gadis itu kembali memusatkan
perhatiannya kepada acara ini. Padahal sebetulnya ia sama sekali tidak peduli
dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Berbicara dengan Chanwo hanya akan
berakhir sia-sia. Tidak ada yang bisa ia adapatkan dari sana.
Terlepas dari semua itu, Nhea
sama sekali tidak mau ambil pusing sendirian. Untuk apa mempedulikan pria itu.
Sekarang ia hanya terfokus kepada cara bagaimana dirinya pergi untuk mengambil mahkota
tersebut dari tangan Eun Ji Hae. Sebab, itu adalah tujuan utamanya untuk datang
kemari. Bukan yang lain. Agar berhasil, ia harus tetap fokus kepada tujuan
utamanya saja.
Otaknya sedang sibuk memikirkan,
bagaimana strategi yang tepat. Ia tahu jika tindakannya kali ini terkesan
nekat. Resikonya juga lumayan tinggi. Tapi, Nhea sungguh tidak bisa menghindari
yang satu itu. Semakin besar kemungkinan gagalnya, maka resikonya juga akan
semakin besar.
“Semakin sulit usahamu dalam
mencapai sebuah hal, maka akan semakin berarti hal tersebut.”
Lagi-lagi, pepatah kuno itu
selalu benar. Entah kenapa. Nhea juga tidak pernah tahu apa alasan pastinya.
‘TAP! TAP! TAP!’
Suara langkah kaki tersebut
menggema di seluruh ruangan. Mereka semua bisa mendengarnya dengan jelas. Sebab
tempat ini benar-benar sunyi. Hening. Sejak tadi bahkan tidak ada yang berani
untuk buka suara. Terkecuali Bib Ga Eun. Pasalnya, sejauh ini baru ia saja yang
tampak berbicara.
Ternyata pemiliki suara langkah
kaki tersebut adalah Eun Ji Hae. Sudah bisa ditebak sebenarnya. Nhea bahkan
bisa tahu siapa itu, tanpa perlu melihat siapa orangnya. Pasti salah satu di
antara mereka bertiga. Eun Ji Hae, Valery atau kalau tidak Bibi Ga Eun.
Gadis itu bisa membedakan antara
suara sepatu pantofel pria dan juga wanita. Tidak terlalu spesifik memang. Hanya
saja memang terdengar sedikit berbeda di telinganya.
Eun Ji Hae tampak beranjak dari
tempat duduknya. Berjalan dengan tenang dari tempat terakhir ia berdiri menuju
podium. Sepertinya kali ini ia yang akan bicara. Bukan lagi Bibi Ga Eun. Pada akhirnya,
mereka semua yang berada di sana akan kebagian kesempatan untuk bicara. Jadi tidak
perlu cemas.
Sejak awal pertama kali ia
__ADS_1
menunjukkan eksistensinya di ruangan ini, Nhea terus menyoroti Eun Ji Hae
dengan tatapan tidak suka. Pada dasarnya gadis itu memang tidak terlalu
sependapat dengan Eun Ji Hae. Sepertinya mereka memang tidak cocok antara satu
sama lain. Terlepas dari hubungan kakak adik mereka. Karena pada kenyataannya
mereka tidak terikat oleh hubungan darah apa pun. Pantas saja keduanya tidak pernah memiliki
hubungan yang sedekat itu.
Nhea sudah muak dengan semua yang
terjadi di sini. Mulai dari pemilihan Eun Ji Hae sebagai pimpinan akademi tanpa
persetujuan semua orang, juga tentang tuduhan yang mereka layangkah kepada
Oliver secara tidak langsung tadi.
Jjika dipikir-pikir, ternyata ada
begitu banyak hal yang membuatnya kesal hari ini. Ia masih tidak habis pikir
sama sekali. Bagaimana bisa Eun Ji Hae diangkat menjadi pimpinan. Mereka bahkan
tidak mengadakan kongres untuk melihat reaksi para siswa lain. Tindakan mereka
yang satu ini terkesan sepihak dan tidak adil. Karena tidak melibatkan kedua
belah pihak.
Gadis itu yakin jika orang lain
pun memiliki pemikiran yang sama persis dengannya. Seluruh siswa pasti akan
menentang Eun Ji Hae untuk menjadi pemimpin. Itu pun jika mereka telah diberi
tahu dulu sebelumnya.
menebak yang satu itu. Bukan hanya Eun Ji Hae saja. Melainkan anggota keluarga
yang lainnya juga. Mereka sudah tahu jika akan ada potensi pertentangan antara
pihak atas dengan bawahannya. Sehingga untuk sementara waktu mereka memutuskan
untuk tidak memberi tahu siapa pun dulu.
Ringkasnya mereka sudah
mngetahui, hal buruk macam apa saja yang memilikipotensi untuk terjadi. Sehingga
Eun Ji Hae dan yang lainnya sudah mengantisipasi itu lebih dulu. Bisa dikatakan
jika langkah mereka saat ini sudah jauh lebih memimpin dari pada yang lainnya.
Bukan hal yang mengejutkan lagi
memang. Gadis itu sudah tahu betul soal seluk beluk keluarga mereka. Meskipun bisa
dikatakan jika hubungan dengan kedua orang tuanya tidak sedekat Eun Ji Hae.
Tapi, setidaknya ia bisa mendapatkan informasi yang sama. Tidak ada bedanya.
Seperti yang semua orang tahu,
jika arus informasi di tempat ini cukup terbatas. Mereka tidak bisa mendapatkan
sembaarang informasi. Terlebih jika tidak memiliki koneksi dengan orang
penting. Maka bisa dipastikan jika ia tidak akan tahu apa-apa.
“Ternyata mereka licik juga,”
batin Nhea sambil tersenyum miring.
__ADS_1
Bukan suuatu senyum yang
melambangkan rasa suka cita atau semacamnya. Namun, malah sebaliknya.
“Harus ku akui jika cara mereka
dalam menyusun rencana terbilang cukup cerdik. Semuanya dibuat dengan
sedemikian rupa,” ujar Oliver secara tibaa-tiba.
Ternyata bukan hanya Nhea yang
berpikiran seperti itu. Namun, Oliver juga. Entah kenapa keduanya selalu berada
di dalam pihak yang sama. Sepemikiran, walaupun tidak ada hubungan darah
tertentu.
Sebenarnya mereka juga cukup tahu
banyak soal sistematika akademi ini. Meski orang-orang di luar sana berkata
jika Mooneta adalah akademi sihir terbaik, maka Nhea akan berseru sebaliknya.
Semua orang yang ada di dalam akademi ini adalah orang munafik.
Nhea, Chanwo, Oliver, Jang Eunbi
serta Jongdae tahu setiap kebusukan mereka. Jika suatu saat Eun Ji Hae berani
macam-macam, maka mereka berlima tidak akan diam saja. Terlepad dari Eun Ji Hae
atau bukan pemimpinnya. Mereka tidak akan mempedulikan hal itu lagi.
Nasib Eun Ji Hae berada di tangan
mereka. Setiap rahasia besar gadis itu ada di sana. Mereka bisa membongkarnya
kapan saja jika mereka mau. Jadi, sebaiknya Eun Ji Hae perlu lebih berhati-hati
lagi. Dia tidak boleh sembarang memilih lawan.
Mungkin posisi Eun Ji Hae saat
ini jauh lebih tinggi dari pada mereka di akademi. Tapi, tidak ada yang tahu
bagaimana cara kelima anak itu untuk melawan Eun Ji Hae. Memangnya siapa yang mengira
jika mereka akan menang.
Untuk sekarang jika dilihat dari
segi jumlah, maka pihak Nhea yang jauh lebih unggul. Terkesan tidak seimbang
memang jika satu melawan lima orang. Tapi, setidaknya Eun Ji Hae tidak akan
kalah telak. Ia masih bisa bertahan dengan kekuatan yang dimilikinya.
“Jadi, apa rencana kita?” tanya
Chanwo secara mendadak.
Nyaris saja jantung gadis itu
copot. Pria itu berhasil membuyarkan konsentrasinya. Bahkan sekarang isi
pikirannya ikut berserakan seketika.
“Kenapa kau begitu gemar untuk
mengagetkanku?!” protes Nhea yang merasa keberatan.
Bisa-bisa
ia malah terkena sakit jantung selama berada di sekitar pria itu. Sama sekali
__ADS_1
tidak menutup kemungkinan untuk terjadi.