Mooneta High School

Mooneta High School
Plan B?


__ADS_3

Gadis itu kembali memusatkan


perhatiannya kepada acara ini. Padahal sebetulnya ia sama sekali tidak peduli


dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Berbicara dengan Chanwo hanya akan


berakhir sia-sia. Tidak ada yang bisa ia adapatkan dari sana.


Terlepas dari semua itu, Nhea


sama sekali tidak mau ambil pusing sendirian. Untuk apa mempedulikan pria itu.


Sekarang ia hanya terfokus kepada cara bagaimana dirinya pergi untuk mengambil mahkota


tersebut dari tangan Eun Ji Hae. Sebab, itu adalah tujuan utamanya untuk datang


kemari. Bukan yang lain. Agar berhasil, ia harus tetap fokus kepada tujuan


utamanya saja.


Otaknya sedang sibuk memikirkan,


bagaimana strategi yang tepat. Ia tahu jika tindakannya kali ini terkesan


nekat. Resikonya juga lumayan tinggi. Tapi, Nhea sungguh tidak bisa menghindari


yang satu itu. Semakin besar kemungkinan gagalnya, maka resikonya juga akan


semakin besar.


“Semakin sulit usahamu dalam


mencapai sebuah hal, maka akan semakin berarti hal tersebut.”


Lagi-lagi, pepatah kuno itu


selalu benar. Entah kenapa. Nhea juga tidak pernah tahu apa alasan pastinya.


‘TAP! TAP! TAP!’


Suara langkah kaki tersebut


menggema di seluruh ruangan. Mereka semua bisa mendengarnya dengan jelas. Sebab


tempat ini benar-benar sunyi. Hening. Sejak tadi bahkan tidak ada yang berani


untuk buka suara. Terkecuali Bib Ga Eun. Pasalnya, sejauh ini baru ia saja yang


tampak berbicara.


Ternyata pemiliki suara langkah


kaki tersebut adalah Eun Ji Hae. Sudah bisa ditebak sebenarnya. Nhea bahkan


bisa tahu siapa itu, tanpa perlu melihat siapa orangnya. Pasti salah satu di


antara mereka bertiga. Eun Ji Hae, Valery atau kalau tidak Bibi Ga Eun.


Gadis itu bisa membedakan antara


suara sepatu pantofel pria dan juga wanita. Tidak terlalu spesifik memang. Hanya


saja memang terdengar sedikit berbeda di telinganya.


Eun Ji Hae tampak beranjak dari


tempat duduknya. Berjalan dengan tenang dari tempat terakhir ia berdiri menuju


podium. Sepertinya kali ini ia yang akan bicara. Bukan lagi Bibi Ga Eun. Pada akhirnya,


mereka semua yang berada di sana akan kebagian kesempatan untuk bicara. Jadi tidak


perlu cemas.


Sejak awal pertama kali ia

__ADS_1


menunjukkan eksistensinya di ruangan ini, Nhea terus menyoroti Eun Ji Hae


dengan tatapan tidak suka. Pada dasarnya gadis itu memang tidak terlalu


sependapat dengan Eun Ji Hae. Sepertinya mereka memang tidak cocok antara satu


sama lain. Terlepas dari hubungan kakak adik mereka. Karena pada kenyataannya


mereka tidak terikat oleh hubungan darah apa pun.  Pantas saja keduanya tidak pernah memiliki


hubungan yang sedekat itu.


Nhea sudah muak dengan semua yang


terjadi di sini. Mulai dari pemilihan Eun Ji Hae sebagai pimpinan akademi tanpa


persetujuan semua orang, juga tentang tuduhan yang mereka layangkah kepada


Oliver secara tidak langsung tadi.


Jjika dipikir-pikir, ternyata ada


begitu banyak hal yang membuatnya kesal hari ini. Ia masih tidak habis pikir


sama sekali. Bagaimana bisa Eun Ji Hae diangkat menjadi pimpinan. Mereka bahkan


tidak mengadakan kongres untuk melihat reaksi para siswa lain. Tindakan mereka


yang satu ini terkesan sepihak dan tidak adil. Karena tidak melibatkan kedua


belah pihak.


Gadis itu yakin jika orang lain


pun memiliki pemikiran yang sama persis dengannya. Seluruh siswa pasti akan


menentang Eun Ji Hae untuk menjadi pemimpin. Itu pun jika mereka telah diberi


tahu dulu sebelumnya.


menebak yang satu itu. Bukan hanya Eun Ji Hae saja. Melainkan anggota keluarga


yang lainnya juga. Mereka sudah tahu jika akan ada potensi pertentangan antara


pihak atas dengan bawahannya. Sehingga untuk sementara waktu mereka memutuskan


untuk tidak memberi tahu siapa pun dulu.


Ringkasnya mereka sudah


mngetahui, hal buruk macam apa saja yang memilikipotensi untuk terjadi. Sehingga


Eun Ji Hae dan yang lainnya sudah mengantisipasi itu lebih dulu. Bisa dikatakan


jika langkah mereka saat ini sudah jauh lebih memimpin dari pada yang lainnya.


Bukan hal yang mengejutkan lagi


memang. Gadis itu sudah tahu betul soal seluk beluk keluarga mereka. Meskipun bisa


dikatakan jika hubungan dengan kedua orang tuanya tidak sedekat Eun Ji Hae.


Tapi, setidaknya ia bisa mendapatkan informasi yang sama. Tidak ada bedanya.


Seperti yang semua orang tahu,


jika arus informasi di tempat ini cukup terbatas. Mereka tidak bisa mendapatkan


sembaarang informasi. Terlebih jika tidak memiliki koneksi dengan orang


penting. Maka bisa dipastikan jika ia tidak akan tahu apa-apa.


“Ternyata mereka licik juga,”


batin Nhea sambil tersenyum miring.

__ADS_1


Bukan suuatu senyum yang


melambangkan rasa suka cita atau semacamnya. Namun, malah sebaliknya.


“Harus ku akui jika cara mereka


dalam menyusun rencana terbilang cukup cerdik. Semuanya dibuat dengan


sedemikian rupa,” ujar Oliver secara tibaa-tiba.


Ternyata bukan hanya Nhea yang


berpikiran seperti itu. Namun, Oliver juga. Entah kenapa keduanya selalu berada


di dalam pihak yang sama. Sepemikiran, walaupun tidak ada hubungan darah


tertentu.


Sebenarnya mereka juga cukup tahu


banyak soal sistematika akademi ini. Meski orang-orang di luar sana berkata


jika Mooneta adalah akademi sihir terbaik, maka Nhea akan berseru sebaliknya.


Semua orang yang ada di dalam akademi ini adalah orang munafik.


Nhea, Chanwo, Oliver, Jang Eunbi


serta Jongdae tahu setiap kebusukan mereka. Jika suatu saat Eun Ji Hae berani


macam-macam, maka mereka berlima tidak akan diam saja. Terlepad dari Eun Ji Hae


atau bukan pemimpinnya. Mereka tidak akan mempedulikan hal itu lagi.


Nasib Eun Ji Hae berada di tangan


mereka. Setiap rahasia besar gadis itu ada di sana. Mereka bisa membongkarnya


kapan saja jika mereka mau. Jadi, sebaiknya Eun Ji Hae perlu lebih berhati-hati


lagi. Dia tidak boleh sembarang memilih lawan.


Mungkin posisi Eun Ji Hae saat


ini jauh lebih tinggi dari pada mereka di akademi. Tapi, tidak ada yang tahu


bagaimana cara kelima anak itu untuk melawan Eun Ji Hae. Memangnya siapa yang mengira


jika mereka akan menang.


Untuk sekarang jika dilihat dari


segi jumlah, maka pihak Nhea yang jauh lebih unggul. Terkesan tidak seimbang


memang jika satu melawan lima orang. Tapi, setidaknya Eun Ji Hae tidak akan


kalah telak. Ia masih bisa bertahan dengan kekuatan yang dimilikinya.


“Jadi, apa rencana kita?” tanya


Chanwo secara mendadak.


Nyaris saja jantung gadis itu


copot. Pria itu berhasil membuyarkan konsentrasinya. Bahkan sekarang isi


pikirannya ikut berserakan seketika.


“Kenapa kau begitu gemar untuk


mengagetkanku?!” protes Nhea yang merasa keberatan.


Bisa-bisa


ia malah terkena sakit jantung selama berada di sekitar pria itu. Sama sekali

__ADS_1


tidak menutup kemungkinan untuk terjadi.


__ADS_2