Mooneta High School

Mooneta High School
Tamparan


__ADS_3

Eun Ji Hae meminta seluruh anggota tim untuk berkumpul di


salah satu tenda yang kebetulan memang sedang kosong. Dan Nhea adalah


satu-satunya orang yang belum berada di sana sampai saat ini. Sepertinya gadis


itu tahu betul apa yang akan terjadi di sana nanti. Otaknya telah berhasil


untuk membuat visualisasi atas segala asumsi yang muncul di dalam kepalanya.


Mungkin Nhea terkesan terlalu berlebihan. Tapi, mari kita


buktikan saja nanti. Apakah semua dugaan Nhea ini benar atau tidak sama sekali.


Pasalnya, sejak awal ia sadar betul jika intuisinya bisa diandalkan.


‘TAP! TAP! TAP!’


Suara langkah kakinya bergema di sepanjang perjalanan. Entah


kenapa mendadak tempat ini terasa begitu sepi. Seperti tidak ada orang sama


sekali. Perasaannya mulai tidak nyaman. Ia menduga jika sesuatu yang buruk akan


segera terjadi. Namun, di sisi lain Nhea sedang tidak ingin memikirkan hal


tersebut.


Atmosfir yang ia rasakan di tempat ini sungguh berbeda


dengan yang sebelumnya. Sesekali Nhea berdeham pelan, atau malah menghela


napas. Semua itu ia lakukan untuk memberikan ketenangan terhadap dirinya


sendiri.


Gadis itu mendadak menghentikan langkahnya saat sampai tepat


di depan pintu masuk. Mungkin  orang-orang yang berada di dalam sana sadar jika dirinya sudah tiba.


Bagaimanapun juga kedua alas kakinya pasti terlihat. Sebab tirai penutupnya


tidak benar-benar menutup hingga ke permukaan tanah.


Untuk yang terakhir kalinya pada hari ini, Nhea kembali


menghela napas. Tangannya ia kepal kuat-kuat. Gadis itu sedang berusaha untuk


mengumpulkan keberaniannya. Padahal sebelumnya ia tidak pernah merasa secemas


ini. Eun Ji Hae bukanlah menjadi sesuatu yang sedang ia takutkan sekarang.


Melainkan, situasi buruk yang mungkin saja akan terjadi ke depannya.


Dengan segenap sisa nyali yang ia miliki, gadis itu


memutuskan untuk masuk ke dalam sana. Yang benar saja, semua mata langsung


tertuju kepadanya. Tepat ketika ia menyingkap tirai yang menutupi pintu masuk.


“Akhirnya kau datang juga!” interupsi Eun Ji Hae.


“Kuharap kau tidak sedang sengaja menghindar dari masalah


ini,” lanjutnya.


Mendengar perkataan tersebut, Nhea lantas hanya berdecih.


Sekarang, Eun Ji Hae tidak lebih dari seorang wanita yang sedang berceloteh. Bahkan

__ADS_1


isi dari kalimatnya sama sekali tidak bermutu. Eun J Hae hanya tahu cara


menjatuhkan orang lain, tanpa tahu cara merobohkannya untuk selamanya.


Sejak awal, Nhea memang tidak pernah menghargai Eun Ji Hae


sama sekali. Tidak peduli apakah mereka saudara atau bukan. Baginya, Eun Ji Hae


sama saja dengan anggota keluarga yang lainnya. Mereka tidak pantas untuk


dihargai ketika tidak tahu cara menghargai orang lain.


Di dunia ini, seharusnya semua hal terjadi secara timbal


balik. Sama seperti simbiosis mutualime. Meski terkadang pada akhirnya hubungan


tersebut tidak selalu berakhir menguntungkan kedua belah pihak.


Gadis itu memutar bola matanya dengan malas. Kemudian


berjalan mendekat ke arah kumpulan teman-teman satu timnya. Entah pesan apa


lagi yang akan diberikan oleh Eun Ji Hae kali ini. Apa pun itu, ia sama sekali


tidak tertarik dengan hal tersebut. Saat ini, bahkan kemenangan Reodal jauh


lebih penting jika dibandingkan dengan celotehan Eun Ji Hae yang tidak jelas


arah serta tujuannya.


Belum sempat Nhea merapatkan diri ke dalam barisan, gadis


itu langsung ditarik oleh Eun Ji Hae. Kemudian secara mengejutkan, Eun Ji Hae


berhasil mempermalukannya di hadapan semua orang dengan perlakuan yang tidak


Nhea berpaling ke sebelah kiri secara tidak sengaja.


Nhea tidak langsung menyadari hal tersebut. Peristiwanya


terjadi terlalu cepat. Sampai-sampai otaknya tidak diberi kesempatan untuk


berpikir. Sehingga Nhea masih tetap bergeming. Kepalanya tengah berusaha untuk


mencerna setiap hal yang barusaja terjadi.


Sepertinya kejadian barusan bukan hanya mengejutkan Nhea


saja. Namun, seisi ruangan ikut merasakan hal yang sama. Mereka bahkan sampai


tercengang. Eun Ji Hae merupakan satu-satunya orang yang tidak merasa terkejut


sama sekali di sini. Sebab ia memang sudah merencanakan ini sejak awal.


“Dasar gila! Apa dia sungguh menamparku barusan?!” batin


Nhea dalam hati.


Gadis itu kembali menegakkan kepalanya. Kali ini sorot


matanya berubah tajam. Ia menatap Eun Ji Hae seperti siap memangsa. Nhea siap


menghabisi siapa saja yang mencoba untuk cari masalah dengannya. Jika mereka


memilih untuk dijadikan sasaran empuk, maka sebaiknya mereka harus berpikir dua


kali sebelum beraksi.


“Kenapa?! Apa kau tidak terima jika diperlakukan seperti

__ADS_1


itu?!” sarkas Eun Ji Hae.


Bahkan kali ini nada bicaranya terdengar jauh lebih tinggi


daripada biasanya.


“Terserahmu saja!” balas Nhea dengan acuh tak acuh.


Sontak Eun Ji Hae merasa terkejut mendapati sikap adiknya


yang seperti itu. Bagaimana bisa ia tetap merasa santai. Apa Nhea sungguh tidak


keberatan jika Eun Ji Hae mempermalukannya di hadapan teman-temannya yang lain?


“Jadi, ada perlu apa sampai memanggilku ke sini?” tanya Nhea


secara gamblang.


Ia sungguh bersikap santai, sampai membuat orang lain tak


habis pikir. Bagaimana bisa ia bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi


apa-apa. Memangnya yang tadi itu ia anggap sebagai apa? Lelucon?


Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu. Sama sekali tidak


ada jawaban dari gadis itu. Kini situasinya berbanding terbalik. Malah Eun Ji


Hae yang tercengang di sini. Kejadian yang kali ini sungguh berada di luar


nalarnya. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan jika akan seperti ini pada


akhirnya. Respon dari Nhea berada di luar dari rencananya. Gadis itu telah


berhasil mematahkan asumsi Eun Ji Hae selama ini.


Ia kira bisa menekan orang lain dengan begitu mudahnya.


Namun, di sisi lain seharusnya ia tahu jika tidak semua orang berada satu level


di bawahnya. Bisa jadi ialah yang tertinggal jauh di antara mereka.


“Baiklah, jika tidak ada jawaban sama sekali aku akan pergi,”


ucap Nhea.


Namun, dia belum pergi. Masih tetap berdiri di sana selama


beberapa detik. Gunanya untuk memastikan kembali. Apakah sungguh tidak ada yang


ingin mereka bicarakan kembali.


“Lagipula, ini adalah yang terakhir bukan? Kita tidak akan


bertanding lagi,” ujar gadis itu.


“Sayang sekali kita harus berakhir dengan tragis,” tukasnya


di akhir kalimat.


Tanpa banyak bicara lagi, Nhea segera beranjak meninggalkan


tempat itu. Mereka semua sungguh memuakkan. Terutama Eun Ji Hae. Belakangan ini


mereka tidak pernah akur. Harusnya kedua gadis itu tidak perlu bertemu lagi


untuk sementara waktu. Tidak sampai mereka bisa berdamai dengan dirinya


masing-masing. Terkadang, jarak memang sengaja dibuat dengan dalih kebaikan.

__ADS_1


__ADS_2