
Eun Ji Hae meminta seluruh anggota tim untuk berkumpul di
salah satu tenda yang kebetulan memang sedang kosong. Dan Nhea adalah
satu-satunya orang yang belum berada di sana sampai saat ini. Sepertinya gadis
itu tahu betul apa yang akan terjadi di sana nanti. Otaknya telah berhasil
untuk membuat visualisasi atas segala asumsi yang muncul di dalam kepalanya.
Mungkin Nhea terkesan terlalu berlebihan. Tapi, mari kita
buktikan saja nanti. Apakah semua dugaan Nhea ini benar atau tidak sama sekali.
Pasalnya, sejak awal ia sadar betul jika intuisinya bisa diandalkan.
‘TAP! TAP! TAP!’
Suara langkah kakinya bergema di sepanjang perjalanan. Entah
kenapa mendadak tempat ini terasa begitu sepi. Seperti tidak ada orang sama
sekali. Perasaannya mulai tidak nyaman. Ia menduga jika sesuatu yang buruk akan
segera terjadi. Namun, di sisi lain Nhea sedang tidak ingin memikirkan hal
tersebut.
Atmosfir yang ia rasakan di tempat ini sungguh berbeda
dengan yang sebelumnya. Sesekali Nhea berdeham pelan, atau malah menghela
napas. Semua itu ia lakukan untuk memberikan ketenangan terhadap dirinya
sendiri.
Gadis itu mendadak menghentikan langkahnya saat sampai tepat
di depan pintu masuk. Mungkin orang-orang yang berada di dalam sana sadar jika dirinya sudah tiba.
Bagaimanapun juga kedua alas kakinya pasti terlihat. Sebab tirai penutupnya
tidak benar-benar menutup hingga ke permukaan tanah.
Untuk yang terakhir kalinya pada hari ini, Nhea kembali
menghela napas. Tangannya ia kepal kuat-kuat. Gadis itu sedang berusaha untuk
mengumpulkan keberaniannya. Padahal sebelumnya ia tidak pernah merasa secemas
ini. Eun Ji Hae bukanlah menjadi sesuatu yang sedang ia takutkan sekarang.
Melainkan, situasi buruk yang mungkin saja akan terjadi ke depannya.
Dengan segenap sisa nyali yang ia miliki, gadis itu
memutuskan untuk masuk ke dalam sana. Yang benar saja, semua mata langsung
tertuju kepadanya. Tepat ketika ia menyingkap tirai yang menutupi pintu masuk.
“Akhirnya kau datang juga!” interupsi Eun Ji Hae.
“Kuharap kau tidak sedang sengaja menghindar dari masalah
ini,” lanjutnya.
Mendengar perkataan tersebut, Nhea lantas hanya berdecih.
Sekarang, Eun Ji Hae tidak lebih dari seorang wanita yang sedang berceloteh. Bahkan
__ADS_1
isi dari kalimatnya sama sekali tidak bermutu. Eun J Hae hanya tahu cara
menjatuhkan orang lain, tanpa tahu cara merobohkannya untuk selamanya.
Sejak awal, Nhea memang tidak pernah menghargai Eun Ji Hae
sama sekali. Tidak peduli apakah mereka saudara atau bukan. Baginya, Eun Ji Hae
sama saja dengan anggota keluarga yang lainnya. Mereka tidak pantas untuk
dihargai ketika tidak tahu cara menghargai orang lain.
Di dunia ini, seharusnya semua hal terjadi secara timbal
balik. Sama seperti simbiosis mutualime. Meski terkadang pada akhirnya hubungan
tersebut tidak selalu berakhir menguntungkan kedua belah pihak.
Gadis itu memutar bola matanya dengan malas. Kemudian
berjalan mendekat ke arah kumpulan teman-teman satu timnya. Entah pesan apa
lagi yang akan diberikan oleh Eun Ji Hae kali ini. Apa pun itu, ia sama sekali
tidak tertarik dengan hal tersebut. Saat ini, bahkan kemenangan Reodal jauh
lebih penting jika dibandingkan dengan celotehan Eun Ji Hae yang tidak jelas
arah serta tujuannya.
Belum sempat Nhea merapatkan diri ke dalam barisan, gadis
itu langsung ditarik oleh Eun Ji Hae. Kemudian secara mengejutkan, Eun Ji Hae
berhasil mempermalukannya di hadapan semua orang dengan perlakuan yang tidak
Nhea berpaling ke sebelah kiri secara tidak sengaja.
Nhea tidak langsung menyadari hal tersebut. Peristiwanya
terjadi terlalu cepat. Sampai-sampai otaknya tidak diberi kesempatan untuk
berpikir. Sehingga Nhea masih tetap bergeming. Kepalanya tengah berusaha untuk
mencerna setiap hal yang barusaja terjadi.
Sepertinya kejadian barusan bukan hanya mengejutkan Nhea
saja. Namun, seisi ruangan ikut merasakan hal yang sama. Mereka bahkan sampai
tercengang. Eun Ji Hae merupakan satu-satunya orang yang tidak merasa terkejut
sama sekali di sini. Sebab ia memang sudah merencanakan ini sejak awal.
“Dasar gila! Apa dia sungguh menamparku barusan?!” batin
Nhea dalam hati.
Gadis itu kembali menegakkan kepalanya. Kali ini sorot
matanya berubah tajam. Ia menatap Eun Ji Hae seperti siap memangsa. Nhea siap
menghabisi siapa saja yang mencoba untuk cari masalah dengannya. Jika mereka
memilih untuk dijadikan sasaran empuk, maka sebaiknya mereka harus berpikir dua
kali sebelum beraksi.
“Kenapa?! Apa kau tidak terima jika diperlakukan seperti
__ADS_1
itu?!” sarkas Eun Ji Hae.
Bahkan kali ini nada bicaranya terdengar jauh lebih tinggi
daripada biasanya.
“Terserahmu saja!” balas Nhea dengan acuh tak acuh.
Sontak Eun Ji Hae merasa terkejut mendapati sikap adiknya
yang seperti itu. Bagaimana bisa ia tetap merasa santai. Apa Nhea sungguh tidak
keberatan jika Eun Ji Hae mempermalukannya di hadapan teman-temannya yang lain?
“Jadi, ada perlu apa sampai memanggilku ke sini?” tanya Nhea
secara gamblang.
Ia sungguh bersikap santai, sampai membuat orang lain tak
habis pikir. Bagaimana bisa ia bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi
apa-apa. Memangnya yang tadi itu ia anggap sebagai apa? Lelucon?
Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu. Sama sekali tidak
ada jawaban dari gadis itu. Kini situasinya berbanding terbalik. Malah Eun Ji
Hae yang tercengang di sini. Kejadian yang kali ini sungguh berada di luar
nalarnya. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan jika akan seperti ini pada
akhirnya. Respon dari Nhea berada di luar dari rencananya. Gadis itu telah
berhasil mematahkan asumsi Eun Ji Hae selama ini.
Ia kira bisa menekan orang lain dengan begitu mudahnya.
Namun, di sisi lain seharusnya ia tahu jika tidak semua orang berada satu level
di bawahnya. Bisa jadi ialah yang tertinggal jauh di antara mereka.
“Baiklah, jika tidak ada jawaban sama sekali aku akan pergi,”
ucap Nhea.
Namun, dia belum pergi. Masih tetap berdiri di sana selama
beberapa detik. Gunanya untuk memastikan kembali. Apakah sungguh tidak ada yang
ingin mereka bicarakan kembali.
“Lagipula, ini adalah yang terakhir bukan? Kita tidak akan
bertanding lagi,” ujar gadis itu.
“Sayang sekali kita harus berakhir dengan tragis,” tukasnya
di akhir kalimat.
Tanpa banyak bicara lagi, Nhea segera beranjak meninggalkan
tempat itu. Mereka semua sungguh memuakkan. Terutama Eun Ji Hae. Belakangan ini
mereka tidak pernah akur. Harusnya kedua gadis itu tidak perlu bertemu lagi
untuk sementara waktu. Tidak sampai mereka bisa berdamai dengan dirinya
masing-masing. Terkadang, jarak memang sengaja dibuat dengan dalih kebaikan.
__ADS_1