
Sorak-sorai memekik telinga telah memenuhi seluruh penjuru
arena pertandingan. Ada banyak orang yang menyaksikan pertandingan hari ini. Sebenarnya
pertandingan sudah dimulai sejak tadi pagi. Ratusan orang berjejal di dalamnya
hanya untuk menyaksikan keseruan festival. Pertandingan hari ini dibuka oleh
lomba sapu terbang, kemudian dilanjutjan oleh beberapa lomba lainnya.
Sekarang Nhea dan timnya yang lain sedang bersiap di
belakang. Mereka akan melakukan hal yang sama persis seperti latihan kemarin.
Semua orang telah melakukan yang terbaik pada saat proses evaluasi akhir
kemarin. Seharusnya saat ini tidak ada masalah sama sekali. Mereka bisa
melakukannya. Anak-anak itu dapat diandalkan. Siapa yang tidak kenal dengan
akademi sihir Mooneta. Kehebatan mereka selalu diakui selama ini oleh
orang-orang di luar sana.
“Kita tidak perlu
mengklaim jika kita hebat.”
Perkataan itu kembali terlintas di dalam pikirannya. Pelatih
mereka pernah mengatakan hal tersebut pada proses evaluasi akhir yang
melibatkan seluruh anggota tim.
“Apakah kalian semua sudah siap untuk bertanding?” tanya
sang pelatih yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Sontak semua mata kini tertuju kepadanya. Nhea sama sekali
tidak berniat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ia yakin jika masih adaorang
lain yang jauh lebih berinisiatif di antara mereka semua. Tidak mungkin jika
tak ada satu pun dari mereka semua yang bersuara.
“Dengar, kalian tidak perlu takut,” ujar wanita itu sambil
berjalan mendekat.
“Lakukan saja yang terbaik versi kalian sendiri, sama
seperti evaluasi kemarin. Dengan begitu, hasilnya bukan lagi permasalahan,”
jelasnya dengan panjang lebar.
Ia berharap agar kata-katanya bisa membantu mereka semua
dalam berkonsentrasi. Setidaknya anak-anak itu bisa jaih lebih tenang dari pada
sebelumnya. Tidak bisa dipungkiri jika saat-saat seperti ini merupakan pemicu
adrenalin. Itu sebabnya kenapa jantung kita berdetak lebih cepat dari tempo
yang biasanya.
Semua itu normal. Hampir seluruh orang yang berada di muka
bumi ini pasti pernah merasakan hal serupa. Bohong jika ia mengaku tidak pernah
merasakannya. Mungkin dia bukan manusia seutuhnya.
“Mari kita berkumpul dan sorakkan yel-yel agar semangat!”
__ADS_1
ajak sang pelatih.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka segera mempertipis jarak
antara santu dengan yang lainnya. Semua orang berkumpul di tengah-tengah,
termasuk sang pelatih juga. Tangan mereka terulur ke depan. Bersatu dalam tos
yang padu.
“Mooneta! Mooneta! Mooneta!” sorak semua orang secara
bersamaan.
Suara mereka begitu menggelegar di belakang sini. Bahkan
satu tim panahan saja sepertinya cukup untuk menandingi sorakan seluruh
penonton yang berada di arena pertandingan saat ini.
Setelahnya, semua orang mulai bersiap. Ada juga yang kembali
melanjutkan kegiatannya untuk melakukan pemanasan. Nhea sendiri sudah
mempersiapkan perlengkapannya. Tidak ada yang kurang sedikit pun. yang perlu ia
lakukan saat ini adalah mempersiapkan mentalnya. Bagaimanapun juga, arena
pertandingan nanti tidak seperti yang ia bayangkan selama ini. Tempat itu sama
sekali tidak sama dengan tempat mereka berlatih.
Selain itu, ada faktor lain yang membuatnya merasa harus
menyiapkan mental secara lebih baik lagi. Yang paling penting saat ini adalah
bagaimana caranya untuk mengendalikan dirinya sendiri. Nhea tidak bisa
membiarkan rasa gugup mencekiknya. Apalagi sampai mengambil alih dirinya.
berpotensi untuk membuatnya gugup. Gadis itu tidak ingin menjadi pusat
perhatian banyak orang. Tapi, sepertinya mulai hari ini ia harus terbiasa.
Berada pada dimensi yang berbeda berhasil membuat
kepribadiannya berubah pula. Tidak bisa disebutkan satu-persatu secara lebh
mendetail. Tapi, pada kenyataannya Nhea memang banyak berubah semenjak tinggal
di akademi. Entah itu karena peraturan akademi yang cukup ketat, atau malah
memang karena faktor lainnya.
Begitu menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di arena
pertandingan, semua orang langsung bersorak kencang sambil bertepuk tangan. Suasana
kali ini jauh lebih riuh daripada sebelumnya. Orang-orang itu mengabaikan
panasnya sinar matahari. Tidak seperti kemarin.
Nhea melemparkan pandangannya ke segala arah. Menyisir setiap
objek yang berhasil ditangkap oleh kedua netranya. Kemudian ia menghela
napasnya. Kali ini Nhea bersikap jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Untuk
pertama kalinya ia berdiri di hadapan banyak orang seperti ini dan menjadi
sorotan.
“Paman Johnson ada di sini, aku tidak boleh sampai
__ADS_1
mengecewakannya,” batin gadis itu dalam hati.
Kemarin Nhea dan Oliver benar-benar melancarkan rencana
gilanya itu. Untung saja semua berjalan lancar. Tidak ada hal yang terjadi di
luar prediksi mereka. Jika tidak, mungki Bibi Ga Eun akan memberikan hukuman
yang tidak main-main kepada mereka. Terlepas dari apa status Nhea.
Seorang pria yang kerap dipanggil dengan sebutan Johnson itu
kabarnya akan menonton seluruh pertandingan hari ini. Kemarin, Paman Johnson
memang tidak ingin ikut hadir dalam acara pembukaan. Katanya suhu di kota
mendadak naik tiga derajat lebih panas daripada biasanya. Nhea dan Oliver juga
membenarkan hal tersebut.
Hari ini pria itu ingin bersenang-senang dan menghabiskan
waktunya seharian penuh di tempat ini. Sekarang ia sama sekali tidak peduli
dengan cuaca yang kerap tak bersahabat. Pasalnya, besok ia harus pergi ke luar
kota. Katanya ada urusan penting. Tapi, Paman Johnson tidak ingin menceritakan hal
tersebut secara lebih mendetai kepada Nhea dan Oliver. Mereka memakluminya. Bukan
hak mereka sebenarnya untuk tahu.
“Tentu saja! Aku akan datang dan menonton pertandingan
kalian semua. Aku ingin meleihat apakah kalian masih sama hebatnya dengan dulu.”
Begitu pemaparannya kemarin saat Nhea dan Oliver menemuinya.
Untuk yang kesekian kalinya gadis ini melemparkan
pandangannya ke sembarang arah. Jangan bilang jika ia sedang berusaha untuk menemukan
Paman Johnson di tengah keramaian ini. Dia tidak akan bisa melihat batang
hidungnya sekali pun. Itu adalah pekerjaan yang sia-sia. Mustahil untuk
terjadi. Ada banyak orang yang sedang berada di tribun saat ini.
Menyadari waktu pertandingan akan segera dimulai, Nhea
kembali memusatkan perhatiannya. Ia harus tetap fokus di tengah keramaian
seperti ini. Tidak mudah memang. Tapi, selama ini mereka telah berlatih untuk
hal itu. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak bisa melakukannya.
Selama ini mereka telah dilatih secara khusus. Banyak waktu
yang telah dikorbankan. Nasib mereka akan dipertaruhkan hari ini. Dihadapan semua
orang. Semesta menjadi saksi kerja keras mereka.
Lagi-lagi Nhea menghela napasnya dengan kasar. Membiarkan semua
beban hidupnya menguap bersama sisa-sisa udara yang baru saja ia hembuskan. Dengan
penuh keyakinan, Nhea dan timnya melangkah maju untuk berdiri di tengah-tengah
arena. Kehebatan mereka sedang dipertontonkan di hadapan semua orang. Ia menggenggam
busur panahnya kuat-kuat. Harapan terbesar ada di tangannya.
“Hari ini kita akan membuktikan kepada dunia jika kademi
__ADS_1
sihir Mooneta masih dan tetap akan menjadi yang pertama,” gumamnya pelan.