Mooneta High School

Mooneta High School
Backstage


__ADS_3

Sorak-sorai memekik telinga telah memenuhi seluruh penjuru


arena pertandingan. Ada banyak orang yang menyaksikan pertandingan hari ini. Sebenarnya


pertandingan sudah dimulai sejak tadi pagi. Ratusan orang berjejal di dalamnya


hanya untuk menyaksikan keseruan festival. Pertandingan hari ini dibuka oleh


lomba sapu terbang, kemudian dilanjutjan oleh beberapa lomba lainnya.


Sekarang Nhea dan timnya yang lain sedang bersiap di


belakang. Mereka akan melakukan hal yang sama persis seperti latihan kemarin.


Semua orang telah melakukan yang terbaik pada saat proses evaluasi akhir


kemarin. Seharusnya saat ini tidak ada masalah sama sekali. Mereka bisa


melakukannya. Anak-anak itu dapat diandalkan. Siapa yang tidak kenal dengan


akademi sihir Mooneta. Kehebatan mereka selalu diakui selama ini oleh


orang-orang di luar sana.


“Kita tidak perlu


mengklaim jika kita hebat.”


Perkataan itu kembali terlintas di dalam pikirannya. Pelatih


mereka pernah mengatakan hal tersebut pada proses evaluasi akhir yang


melibatkan seluruh anggota tim.


“Apakah kalian semua sudah siap untuk bertanding?” tanya


sang pelatih yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


Sontak semua mata kini tertuju kepadanya. Nhea sama sekali


tidak berniat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ia yakin jika masih adaorang


lain yang jauh lebih berinisiatif di antara mereka semua. Tidak mungkin jika


tak ada satu pun dari mereka semua yang bersuara.


“Dengar, kalian tidak perlu takut,” ujar wanita itu sambil


berjalan mendekat.


“Lakukan saja yang terbaik versi kalian sendiri, sama


seperti evaluasi kemarin. Dengan begitu, hasilnya bukan lagi permasalahan,”


jelasnya dengan panjang lebar.


Ia berharap agar kata-katanya bisa membantu mereka semua


dalam berkonsentrasi. Setidaknya anak-anak itu bisa jaih lebih tenang dari pada


sebelumnya. Tidak bisa dipungkiri jika saat-saat seperti ini merupakan pemicu


adrenalin. Itu sebabnya kenapa jantung kita berdetak lebih cepat dari tempo


yang biasanya.


Semua itu normal. Hampir seluruh orang yang berada di muka


bumi ini pasti pernah merasakan hal serupa. Bohong jika ia mengaku tidak pernah


merasakannya. Mungkin dia bukan manusia seutuhnya.


“Mari kita berkumpul dan sorakkan yel-yel agar semangat!”

__ADS_1


ajak sang pelatih.


Tanpa pikir panjang lagi, mereka segera mempertipis jarak


antara santu dengan yang lainnya. Semua orang berkumpul di tengah-tengah,


termasuk sang pelatih juga. Tangan mereka terulur ke depan. Bersatu dalam tos


yang padu.


“Mooneta! Mooneta! Mooneta!” sorak semua orang secara


bersamaan.


Suara mereka begitu menggelegar di belakang sini. Bahkan


satu tim panahan saja sepertinya cukup untuk menandingi sorakan seluruh


penonton yang berada di arena pertandingan saat ini.


Setelahnya, semua orang mulai bersiap. Ada juga yang kembali


melanjutkan kegiatannya untuk melakukan pemanasan. Nhea sendiri sudah


mempersiapkan perlengkapannya. Tidak ada yang kurang sedikit pun. yang perlu ia


lakukan saat ini adalah mempersiapkan mentalnya. Bagaimanapun juga, arena


pertandingan nanti tidak seperti yang ia bayangkan selama ini. Tempat itu sama


sekali tidak sama dengan tempat mereka berlatih.


Selain itu, ada faktor lain yang membuatnya merasa harus


menyiapkan mental secara lebih baik lagi. Yang paling penting saat ini adalah


bagaimana caranya untuk mengendalikan dirinya sendiri. Nhea tidak bisa


membiarkan rasa gugup mencekiknya. Apalagi sampai mengambil alih dirinya.


berpotensi untuk membuatnya gugup. Gadis itu tidak ingin menjadi pusat


perhatian banyak orang. Tapi, sepertinya mulai hari ini ia harus terbiasa.


Berada pada dimensi yang berbeda berhasil membuat


kepribadiannya berubah pula. Tidak bisa disebutkan satu-persatu secara lebh


mendetail. Tapi, pada kenyataannya Nhea memang banyak berubah semenjak tinggal


di akademi. Entah itu karena peraturan akademi yang cukup ketat, atau malah


memang karena faktor lainnya.


Begitu menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di arena


pertandingan, semua orang langsung bersorak kencang sambil bertepuk tangan. Suasana


kali ini jauh lebih riuh daripada sebelumnya. Orang-orang itu mengabaikan


panasnya sinar matahari. Tidak seperti kemarin.


Nhea melemparkan pandangannya ke segala arah. Menyisir setiap


objek yang berhasil ditangkap oleh kedua netranya. Kemudian ia menghela


napasnya. Kali ini Nhea bersikap jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Untuk


pertama kalinya ia berdiri di hadapan banyak orang seperti ini dan menjadi


sorotan.


“Paman Johnson ada di sini, aku tidak boleh sampai

__ADS_1


mengecewakannya,” batin gadis itu dalam hati.


Kemarin Nhea dan Oliver benar-benar melancarkan rencana


gilanya itu. Untung saja semua berjalan lancar. Tidak ada hal yang terjadi di


luar prediksi mereka. Jika tidak, mungki Bibi Ga Eun akan memberikan hukuman


yang tidak main-main kepada mereka. Terlepas dari apa status Nhea.


Seorang pria yang kerap dipanggil dengan sebutan Johnson itu


kabarnya akan menonton seluruh pertandingan hari ini. Kemarin, Paman Johnson


memang tidak ingin ikut hadir dalam acara pembukaan. Katanya suhu di kota


mendadak naik tiga derajat lebih panas daripada biasanya. Nhea dan Oliver juga


membenarkan hal tersebut.


Hari ini pria itu ingin bersenang-senang dan menghabiskan


waktunya seharian penuh di tempat ini. Sekarang ia sama sekali tidak peduli


dengan cuaca yang kerap tak bersahabat. Pasalnya, besok ia harus pergi ke luar


kota. Katanya ada urusan penting. Tapi, Paman Johnson tidak ingin menceritakan hal


tersebut secara lebih mendetai kepada Nhea dan Oliver. Mereka memakluminya. Bukan


hak mereka sebenarnya untuk tahu.


“Tentu saja! Aku akan datang dan menonton pertandingan


kalian semua. Aku ingin meleihat apakah kalian masih sama hebatnya dengan dulu.”


Begitu pemaparannya kemarin saat Nhea dan Oliver menemuinya.


Untuk yang kesekian kalinya gadis ini melemparkan


pandangannya ke sembarang arah. Jangan bilang jika ia sedang berusaha untuk menemukan


Paman Johnson di tengah keramaian ini. Dia tidak akan bisa melihat batang


hidungnya sekali pun. Itu adalah pekerjaan yang sia-sia. Mustahil untuk


terjadi. Ada banyak orang yang sedang berada di tribun saat ini.


Menyadari waktu pertandingan akan segera dimulai, Nhea


kembali memusatkan perhatiannya. Ia harus tetap fokus di tengah keramaian


seperti ini. Tidak mudah memang. Tapi, selama ini mereka telah berlatih untuk


hal itu. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak bisa melakukannya.


Selama ini mereka telah dilatih secara khusus. Banyak waktu


yang telah dikorbankan. Nasib mereka akan dipertaruhkan hari ini. Dihadapan semua


orang. Semesta menjadi saksi kerja keras mereka.


Lagi-lagi Nhea menghela napasnya dengan kasar. Membiarkan semua


beban hidupnya menguap bersama sisa-sisa udara yang baru saja ia hembuskan. Dengan


penuh keyakinan, Nhea dan timnya melangkah maju untuk berdiri di tengah-tengah


arena. Kehebatan mereka sedang dipertontonkan di hadapan semua orang. Ia menggenggam


busur panahnya kuat-kuat. Harapan terbesar ada di tangannya.


“Hari ini kita akan membuktikan kepada dunia jika kademi

__ADS_1


sihir Mooneta masih dan tetap akan menjadi yang pertama,” gumamnya pelan.


__ADS_2