Mooneta High School

Mooneta High School
Silent


__ADS_3

“Jika pecahan rubi itu berada di sini, maka itu artinya Ify tak akan menyerang tempat ini atau bahkan untuk mendekat saja ia takut.” batin Nhea dalam hati.


Gadis itu terus-terusan memikirkan tentang hal itu sejak berada di kelas tadi. Pikirannya sama sekali tak bisa lepas dari masalah rubi itu. Benda itu akan menjadi sangat penting bagi mereka semua. Tempat ini akan aman selamanya, jika salah satu serpihannya berada di sini. Memiliki sedikit bagian saja dari batu rubi itu akan membuat semuanya menjadi tenang.


“Jika rubi itu berharga, lantas kenapa semua orang hanya diam?”  tanya Nhea kepada Oliver.


“Itu dia masalahnya. Rubi itu terjebak di dalam hutan rimbun itu, aku dengar hutan itu menjadi sangat berbahaya karena dihuni oleh para vampir,” jelasnya secara gamblang.


“Lagipula tak ada satu orangpun yang tahu apakah rubi itu masih ada atau telah lenyap,” lanjutnya.


“Apa ada orang yang pernah mencoba masuk ke dalam hutan itu?” tanya nya lagi.


“Entahlah, kurasa tidak ada. Para vampir bisa menyerang kita di dalam kegelapan abadi. Pergerakan mereka juga akan jauh lebih cepat dalam situasi seperti itu,” jelasnya.


“Kalian benar, gadis yang pintar,” bisik seseorang secara tiba-tiba.


Sontak kedua gadis itu merasa terkejut dan langsung waspada untuk mempertahankan posisinya saat itu. Mereka yakin jika tak ada orang lain di sini selain mereka berdua saja. Bagaimana bisa suara itu muncul tapi sama sekali tidak ada objek nyata yang terlihat di depan mata mereka saat itu.


“Tapi bukankah kita juga beraktifitas dalam gelap?” bisik Nhea pelan.


Kini mereka harus berbicara dengan suara yang sangat halus, sehingga tak ada yang bisa mendengarnya. Kedua gadis itu juga tetap waspada terhadap sekitarnya yang meskipun terlihat baik-baik saja. Mereka sangat yakin jika saat ini ada seseorang yang sedang memata-matai mereka berdua.

__ADS_1


“Kita tidak sama dengan mereka. Kita manusia, sementara mereka vampir dan klan bayangan. Tubuh kita tak dirancang sama seperti mereka. Kau harus ingat jika kita hanyalah para manusia yang mencoba untuk merubah takdir,” jelasnya dengan nada bicara yang tak kalah pelan.


“Sudah, ayo cepat pergi dari sini!” lanjutnya sambil menarik tangan Nhea.


“Ouch!” teriak Nhea kesakitan.


“Kenapa? Apa yang terjadi denganmu?” tanya Oliver yang mendadak terlihat begitu cemas.


Ternyata tangan Nhea tergores dengan besi penyangga lilin yang sengaja dibuat tajam di salah satu sisinya. Hal itu sengaja dilakukan, agar pada saat situasi darurat, mereka bisa mengandalkan benda yang satu itu sebagai senjata. Setidaknya dampak yang ditimbulkan benda itu  akan sama dengan satu anak panah yang menancap di tubuhmu.


“Maafkan aku.” ujar Oliver, kemudian buru-buru menuntun Nhea untuk kembali keruangannya.


“Tak masalah, ini bukan salahmu,” balas Nhea yang merintih kesakitan.


Pergerakannya teramat halus dan sulit untuk diprediksi. Ia melancarkan aksinya dengan diam-diam dan bermain dengan elegan. Sungguh cara vampir yang satu ini sangat licik. Chanwo semakin menggila saat gadis itu meneteskan darah segarnya. Bahkan ia mampu mendengar suara cairan itu saat menyentuh lantai.


Ia tetap saja tertarik kepada darah dan itu adalah hal yang wajar terjadi. Bagaimanapun Nhea tetaplah memiliki darah manusia, karena gadis itu memang mewarisi darah manusia. Ia juga terlahir dari rahim seorang manusia. Meskipun kini darah para kaum kegelapan telah mendominasi nyaris seluruh bagian dari tubuhnya, namun jika ada satu tetes saja darah manusia maka ia tetap saja manusia.


Pada dasarnya sesama vampir tak akan memangsa bangsanya sendiri atau bagian dari kaum mereka. Namun sayang sekali, nasib baik tak sedang bersama gadis itu. Ia ditakdirkan untuk memiliki darah manusia. Dan itu artinya ia tetaplah memiliki kemungkinan besar untuk menjadi santapan mereka.


“Biar aku obati,” tawar Oliver.

__ADS_1


“Terima kasih!” balas Nhea yang masih meringis kesakitan.


Namun saat Oliver baru saja akan membalut luka gadis itu, tiba-tiba semua lilin yang sedang menyala di sudut ruangan mati. Seperti ada seseorang yang telah meniupnya dengan sengaja, tapi entah siapa. Sangat tak wajar jika hal itu disebabkan karena angin malam. Ruangan ini benar-benar tertutup, tak ada sedikit celah yang bisa dimasuki angin sekencang itu.


Sedetik kemudian, Nhea merasa seperti ada seseorang yang membawanya keluar dari ruangan itu. Awalnya ia kira jika orang itu adalah Oliver. Mungkin saja gadis itu melakukan hal tersebut karena merasa ada sesuatu yang aneh sedari tadi. Tapi sepertinya akan sangat aneh jika gadis itu mampu menggendong dirinya tanpa mengeluh keberatan sedikitpun. Oliver terlihat seperti tak sedang membawa beban apapun di tangannya.


“Ah, dia kan penyihir yang jauh lebih senior daripada aku. Mungkin ia menggunakan bantuan ilmu sihir,” batin Nhea dalam hati.


“Kemana kita akan pergi?” tanya Nhea yang akhirnya mulai memberanikan diri.


Kini semua hal yang awalnya terasa aneh baginya, perlahan mulai terlihat cukup masuk akal jika dipikir-pikir. Nyatanya semua hal itu bisa dijelaskan secara logika, tapi kecuali dengan lilin yang tiba-tiba menjadi padam dengan sendirinya itu.


“Ke tempat yang hanya ada aku dan kau,” bisiknya pelan.


Nhea hanya mengikut saja kepada gadis ini, ia merasa aman jika bersama orang lain yang bisa ia andalkan seperti ini. Semua orang di sini sangat memberikan perlindungan ekstra dengan Nhea. Wajar saja, hanya ia satu-satunya pewaris tahta dari sekolah sihir ini. Nhea akan memegang kendali seluruh sekolah jika kedua orangtuanya nanti telah tiada. Tapi sayangnya bukan itu sesuatu yang ia cari selama ini.


Nhea merasa jika dirinya tengah dibawa berlari dalam kecepatan tinggi. Nyaris sama dengan kecepatan cahaya saat menembus bumi. Ia terus berpegangan erat dengan seseorang yang ia anggap Oliver, padahal bukan sama sekali.


“Kau sangat hebat, sihir apa ini? Lain kali tolong ajari aku,” ujar Nhea dalam kegelapan.


“Sebentar lagi kau akan merasakannya sendiri, tanpa perlu ku ajari,” balas orang tersebut, kemudian berhenti secara mendadak.

__ADS_1


Mereka berhenti di atas atap bangunan ini, dengan pemandangan langit malam yang gemerlap. Nhea dibuat terkejut oleh dua hal secara bersamaan. Pertama karena ia terhipnotis dengan pesona sang gulita kala itu. Namun, ada satu hal lagi yang paling membuatnya terkejut. Ternyata orang itu bukan Oliver, tapi…..


“Slurppp”


__ADS_2