Mooneta High School

Mooneta High School
Pujian


__ADS_3

Mereka berdua duduk di salah satu kursi kosong yang tersedia


di dalam kamp. Hanya ada mereka berdua di sana. Tidak ada yang lain. Mereka


semua sedang sibuk untuk bertukar pakaian. Sebenarnya Nhea juga berniat begitu


pada awalnya. Hanya saja, sesuatu yang tidak diinginkan mendadak terjadi. Dia


tidak bisa memprediksi apa pun. Mungkin jika Chanwo memberitahu sebelumnya jika


ia akan datang selepas dirinya bertanding, mungkin Nhea akan bersiap-siap lebih


cepat. Tidak perlu sampai merasa terkejut seperti ini lagi.


“Lain kali sepertinya kau harus memberi tahu lebih dulu


kepadaku jika ingin datang,” ucap Nhea dengan apa adanya.


“Kau selalu muncul secara mendadak dan membuatku terkejut,”


lanjutnya kemudian.


Apa yang dikatakan oleh gadis ini tidak ada salahnya. Memang,


sebaiknya lain kali ia memberikan peringatan terlebih dahulu. Anggap saja


sebagai salah satu cara untuk mengantisipasi terjadinya hal serupa. Chanwo juga


tahu betul jika kali ini bukan pertama kalinya Nhea merasa dirugikan akibat


perbuatannya sendiri.


“Baiklah, lain kali aku akan mengikuti saranmu yang satu


itu,” jawab Chanwo yang tidak ingin ambil pusing sama sekali.


Pria itu mengambil tempat duduk tepat di samping Nhea.


Sehingga jarak di antara mereka saat ini tidak terlalu jauh. Hanya beberapa


centi saja. Chanwo memutuskan untuk menemani gadis itu sebentar setelah


memberikannya minum. Butuh waktu yang tidak sebentar bagi Nhea untuk


mengembalikan kondisi tubuhnya. Terlebih saat ini jantungnya sudah mulai


melemah. Tidak seperti dulu lagi.


“Omong-omong, kenapa kau mendadak menemuiku lagi?” tanya


Nhea tanpa alasan.


“Apa ada hal penting yang harus kita bicarakan?” tanyanya


sekali lagi.


Gadis itu terlalu bersemangat. Ia bahkan tidak memberikan


kesempatan sama sekali bagi Chanwo untuk menjawab pertanyaannya. Mendapati hal


tersebut, Chanwo hanya bisa menghela napasnya dengan kasar. Pasalnya, memang


tidak ada hal lain lagi yang bisa ia lakukan sejauh ini.


“Apakah kau sudah selesai dengan pertanyaanmu?” tanya Chanwo


yang kemudian dibalas dengan anggukan kecil dari gadis itu.


Tidak perlu berpikir terlalu keras untuk menjawab pertanyaan


tersebut. Cukup mudah bagi Chanwo untuk menjawab pertanyaan yang satu itu.


Bahkan anak kecil berumur sekitar lima tahun saja bisa menjawabnya dengan


cepat.

__ADS_1


Selama ini Chanwo sudah terlaltih untuk berpikir cepat. Mengambil


keputusan dengan tepat dalam waktu singkat. Memecahkan masalah yang rumit


dengan cara yang tidak kalah sulit juga. Ia sudah terbiasa dengan smua itu.


Bahkan sebelum dirinya resmi diangkat menjadi pemimpin kerajaan. Keluarganya


telah mengajari banyak hal yang mungkin akan berguna bagi kehidupannya kelak. Sebab,


seorang pemimpin harus bisa menyelesaikan segalanya. Setiap hal yang tidak bisa


diselesaikan oleh orang biasa akan dilemparkan ke pemimpin. Tidak ada penolakan


dalam bentuk apa pun.


Chanwo melipat kedua tangannya di depan dada. Ia kembali


menghela napasnya sebelum mulai berbicara. Namun, kali ini Chanwo terlihat jauh


lebih tenang dari pada sebelumnya. Entah hal apa yang mempengaruhinya. Tidak ada


yang tahu jelas. Chanwo bisa berubah kapan saja.


“Kau benar, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan lagi. Dan


itu pula yang menjadi alasanku untuk menemuimu hari ini,” jelas Chanwo secara


singkat.


Pria itu memang bukan termasuk kepada tipikal orang yang


suka berbicara dengan panjang lebar. Ia jauh lebih suka jika kau berbicara


langsung kepada intinya. Daripada membuang terlalu banyak waktu hanya dengan


berputar pada topik yang sama. Tidak ada gunanya sama sekali.


Nhea tertegun. Untuk beberapa saat ia tetap bergeming. Sebelum


pria yang tengah duduk di sampingnya sekarang. Nhea sama sekali tidak memiliki


ide apa pun saat ini. Lebih tepatnya, gadis itu tidak bisa menebak. Entah hal


macam apa lagi yang saat iini tengah tersembunyi di balik tempurung kepala


Chanwo.


Ini bukan yang pertama kalinya Chanwo menemuinya. Untuk hari


ini saja sudah yang kedua kali. Mungkin juga bisa lebih. Hari akan tetap


berjalan terus. Meski sang mentari sudah berpamitan untuk kembali ke dalam sangkarnya,


jika belum genap dua puluh empat jam sejak pertama kali hari dimulai, maka


belum bisa dikatakan sebagai satu hari.


“Jadi, kau ingin mengatakan sesuatu lagi?” tanya Nhea sekali


lagi untuk memastikan. Padahal semuanya sudah cukup jelas di sini. Tidak ada


lagi yang perlu diperjelas secara  lebih


terperinci.


“Bukankah aku sudah mengatakannya tadi?” tanya Chanwo balik.


“Lantas, kenapa kau masih menanyakan hal yang sama?”


lanjutnya tanpa mengalihkan pandangan.


Nhea berdeham beberapa kali untuk menetralisir suasana. Berada


di dalam satu atmosfir yang sama dengan pria itu membuatnya menjadi sulit

__ADS_1


bernapas. Ia mendadak kehilangan pasokan oksigen. Situasi canggung tidak dapat


dihindari. Tidak peduli seberapa keras Nhea berusaha untuk mengacuhkan semua


hal itu. Tetap saja hasilnya nihil.


“Kalau begitu langsung katakan saja!” titah Nhea.


“Kau yang terus mengulur waktu dari tadi di sini. Padahal


aku sama sekali tidak pernah melarangmu,” ungkap gadis itu secara


terang-terangan.


Chanwo sepertinya sama sekali tidak tertarik untuk


menggubris kalimat terakhir yang keluar dari mulut gadis itu. Menurutnya,


kalimat yang terletak pada barisan pertama jauh lebih penting.


“Baiklah, kalau begitu aku akan langsung pada intinya saja.


Karena kita sama-sama bukan orang yang sudah bertele-tele,” ucap Chanwo sebagai


pembukaan.


“Baguslah kalau kau tahu soal yang satu itu,” cicit gadis


itu.


Nhea sudah memberikan kesempatan kepada pria itu untuk


bicara. Sekarang Chanwo boleh mengambil alih segalanya. Baik itu tempat atau


pun waktu. Gadis itu tidak akan melarangnya. Jadi, ia bisa melakukan apa pun


yang ia mau. Tidak usah sungkan.


“Aku hanya ingin bilang, kalau permainanmu yang tadi itu


sungguh hebat,” ungkap Chanwo.


Kali ini ia benar-benar tulus dalam mengatakannya. Tidak ada


paksaan sama sekali.


Di sisi lain, Nhea yang mendengar kalimat tersebut hanya


bisa mengerjap-ngerjap. Untuk memastikan apakah yang barusan ia dengar ini


benar atau tidak. Terkadang rasa lelah yang terlalu berlebih juga bisa


membuatnya merasakan efek halusinasi. Nhea hanya ingin memastikan jika dirinya


sedang dalam kondisi yang baik-baik saja.


“Aku belum pernah melihatmu menguasai permainan seperti itu


sebelumnya. Kau bahkan telah menyumbang lebih dari separuh poin untuk tim,”


jelas pria itu kemudian.


“Apa kau sedang mencoba untuk memujiku dengan kata-kata itu?”


balas Nhea.


“Tidak, aku hanya mengatakan apa yang ingin ku katakan saja,”


tepis Chanwo dengan cepat.


Sesaat kemudian, Nhea langsung mengangguk paham. Alih-alih


menanggapi perkataan pria itu barusan, akan kauh lebih baik jika ia tampak


mengikuti alur permainannya saja. Nhea terlalu malas untuk memberikan tanggapan

__ADS_1


lebih kepadanya.


__ADS_2