
Mereka berdua duduk di salah satu kursi kosong yang tersedia
di dalam kamp. Hanya ada mereka berdua di sana. Tidak ada yang lain. Mereka
semua sedang sibuk untuk bertukar pakaian. Sebenarnya Nhea juga berniat begitu
pada awalnya. Hanya saja, sesuatu yang tidak diinginkan mendadak terjadi. Dia
tidak bisa memprediksi apa pun. Mungkin jika Chanwo memberitahu sebelumnya jika
ia akan datang selepas dirinya bertanding, mungkin Nhea akan bersiap-siap lebih
cepat. Tidak perlu sampai merasa terkejut seperti ini lagi.
“Lain kali sepertinya kau harus memberi tahu lebih dulu
kepadaku jika ingin datang,” ucap Nhea dengan apa adanya.
“Kau selalu muncul secara mendadak dan membuatku terkejut,”
lanjutnya kemudian.
Apa yang dikatakan oleh gadis ini tidak ada salahnya. Memang,
sebaiknya lain kali ia memberikan peringatan terlebih dahulu. Anggap saja
sebagai salah satu cara untuk mengantisipasi terjadinya hal serupa. Chanwo juga
tahu betul jika kali ini bukan pertama kalinya Nhea merasa dirugikan akibat
perbuatannya sendiri.
“Baiklah, lain kali aku akan mengikuti saranmu yang satu
itu,” jawab Chanwo yang tidak ingin ambil pusing sama sekali.
Pria itu mengambil tempat duduk tepat di samping Nhea.
Sehingga jarak di antara mereka saat ini tidak terlalu jauh. Hanya beberapa
centi saja. Chanwo memutuskan untuk menemani gadis itu sebentar setelah
memberikannya minum. Butuh waktu yang tidak sebentar bagi Nhea untuk
mengembalikan kondisi tubuhnya. Terlebih saat ini jantungnya sudah mulai
melemah. Tidak seperti dulu lagi.
“Omong-omong, kenapa kau mendadak menemuiku lagi?” tanya
Nhea tanpa alasan.
“Apa ada hal penting yang harus kita bicarakan?” tanyanya
sekali lagi.
Gadis itu terlalu bersemangat. Ia bahkan tidak memberikan
kesempatan sama sekali bagi Chanwo untuk menjawab pertanyaannya. Mendapati hal
tersebut, Chanwo hanya bisa menghela napasnya dengan kasar. Pasalnya, memang
tidak ada hal lain lagi yang bisa ia lakukan sejauh ini.
“Apakah kau sudah selesai dengan pertanyaanmu?” tanya Chanwo
yang kemudian dibalas dengan anggukan kecil dari gadis itu.
Tidak perlu berpikir terlalu keras untuk menjawab pertanyaan
tersebut. Cukup mudah bagi Chanwo untuk menjawab pertanyaan yang satu itu.
Bahkan anak kecil berumur sekitar lima tahun saja bisa menjawabnya dengan
cepat.
__ADS_1
Selama ini Chanwo sudah terlaltih untuk berpikir cepat. Mengambil
keputusan dengan tepat dalam waktu singkat. Memecahkan masalah yang rumit
dengan cara yang tidak kalah sulit juga. Ia sudah terbiasa dengan smua itu.
Bahkan sebelum dirinya resmi diangkat menjadi pemimpin kerajaan. Keluarganya
telah mengajari banyak hal yang mungkin akan berguna bagi kehidupannya kelak. Sebab,
seorang pemimpin harus bisa menyelesaikan segalanya. Setiap hal yang tidak bisa
diselesaikan oleh orang biasa akan dilemparkan ke pemimpin. Tidak ada penolakan
dalam bentuk apa pun.
Chanwo melipat kedua tangannya di depan dada. Ia kembali
menghela napasnya sebelum mulai berbicara. Namun, kali ini Chanwo terlihat jauh
lebih tenang dari pada sebelumnya. Entah hal apa yang mempengaruhinya. Tidak ada
yang tahu jelas. Chanwo bisa berubah kapan saja.
“Kau benar, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan lagi. Dan
itu pula yang menjadi alasanku untuk menemuimu hari ini,” jelas Chanwo secara
singkat.
Pria itu memang bukan termasuk kepada tipikal orang yang
suka berbicara dengan panjang lebar. Ia jauh lebih suka jika kau berbicara
langsung kepada intinya. Daripada membuang terlalu banyak waktu hanya dengan
berputar pada topik yang sama. Tidak ada gunanya sama sekali.
Nhea tertegun. Untuk beberapa saat ia tetap bergeming. Sebelum
pria yang tengah duduk di sampingnya sekarang. Nhea sama sekali tidak memiliki
ide apa pun saat ini. Lebih tepatnya, gadis itu tidak bisa menebak. Entah hal
macam apa lagi yang saat iini tengah tersembunyi di balik tempurung kepala
Chanwo.
Ini bukan yang pertama kalinya Chanwo menemuinya. Untuk hari
ini saja sudah yang kedua kali. Mungkin juga bisa lebih. Hari akan tetap
berjalan terus. Meski sang mentari sudah berpamitan untuk kembali ke dalam sangkarnya,
jika belum genap dua puluh empat jam sejak pertama kali hari dimulai, maka
belum bisa dikatakan sebagai satu hari.
“Jadi, kau ingin mengatakan sesuatu lagi?” tanya Nhea sekali
lagi untuk memastikan. Padahal semuanya sudah cukup jelas di sini. Tidak ada
lagi yang perlu diperjelas secara lebih
terperinci.
“Bukankah aku sudah mengatakannya tadi?” tanya Chanwo balik.
“Lantas, kenapa kau masih menanyakan hal yang sama?”
lanjutnya tanpa mengalihkan pandangan.
Nhea berdeham beberapa kali untuk menetralisir suasana. Berada
di dalam satu atmosfir yang sama dengan pria itu membuatnya menjadi sulit
__ADS_1
bernapas. Ia mendadak kehilangan pasokan oksigen. Situasi canggung tidak dapat
dihindari. Tidak peduli seberapa keras Nhea berusaha untuk mengacuhkan semua
hal itu. Tetap saja hasilnya nihil.
“Kalau begitu langsung katakan saja!” titah Nhea.
“Kau yang terus mengulur waktu dari tadi di sini. Padahal
aku sama sekali tidak pernah melarangmu,” ungkap gadis itu secara
terang-terangan.
Chanwo sepertinya sama sekali tidak tertarik untuk
menggubris kalimat terakhir yang keluar dari mulut gadis itu. Menurutnya,
kalimat yang terletak pada barisan pertama jauh lebih penting.
“Baiklah, kalau begitu aku akan langsung pada intinya saja.
Karena kita sama-sama bukan orang yang sudah bertele-tele,” ucap Chanwo sebagai
pembukaan.
“Baguslah kalau kau tahu soal yang satu itu,” cicit gadis
itu.
Nhea sudah memberikan kesempatan kepada pria itu untuk
bicara. Sekarang Chanwo boleh mengambil alih segalanya. Baik itu tempat atau
pun waktu. Gadis itu tidak akan melarangnya. Jadi, ia bisa melakukan apa pun
yang ia mau. Tidak usah sungkan.
“Aku hanya ingin bilang, kalau permainanmu yang tadi itu
sungguh hebat,” ungkap Chanwo.
Kali ini ia benar-benar tulus dalam mengatakannya. Tidak ada
paksaan sama sekali.
Di sisi lain, Nhea yang mendengar kalimat tersebut hanya
bisa mengerjap-ngerjap. Untuk memastikan apakah yang barusan ia dengar ini
benar atau tidak. Terkadang rasa lelah yang terlalu berlebih juga bisa
membuatnya merasakan efek halusinasi. Nhea hanya ingin memastikan jika dirinya
sedang dalam kondisi yang baik-baik saja.
“Aku belum pernah melihatmu menguasai permainan seperti itu
sebelumnya. Kau bahkan telah menyumbang lebih dari separuh poin untuk tim,”
jelas pria itu kemudian.
“Apa kau sedang mencoba untuk memujiku dengan kata-kata itu?”
balas Nhea.
“Tidak, aku hanya mengatakan apa yang ingin ku katakan saja,”
tepis Chanwo dengan cepat.
Sesaat kemudian, Nhea langsung mengangguk paham. Alih-alih
menanggapi perkataan pria itu barusan, akan kauh lebih baik jika ia tampak
mengikuti alur permainannya saja. Nhea terlalu malas untuk memberikan tanggapan
__ADS_1
lebih kepadanya.