
Siapa yang tak kenal dengan akademi sihir Mooneta. Sekolah itu merupakan pusat penyihir terbaik di pulau ini. Ada banyak orang berbakat di dalamnya. Sekolah mereka bahkan berhasil menduduki peringkat pertama dalam beberapa tahun belakangan ini sebagai akademi sihir terbaik. Bukan tanpa alasan julukan tersebut diberikan.
Jika Mooneta ada pada posisi pertama, maka yang kedua adalah Reodal. Selama ini mereka selalu bersaing dalam segala hal. Tidak bisa dipungkiri jika tak selamanya persaingan itu sehat dan sportif. Tak jarang malah kebalikannya. Tapi, selama ini semuanya selalu terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang. Reodal berhasil menyembunyikan kebusukannya dengan rapih dan bermain secara apik. Sehingga tidak ada yang menyadari jika tawaran ini juga merupakan salah satu bagian dari rencana jahat mereka.
“Apa kalian sungguh berasal dari Mooneta?” tanya pejabat kota.
Eun Ji Hae menggerakkan kepalanya ke atas lalu ke bawah secara bergantian.
“Bukankah itu adalah akademi sihir yang cukup terkenal?”
“Tapi, kenapa mereka tiba-tiba datang ke sini?”
“Apakah ada sesuatu yang terjadi?”
“Persaingan soal apa lagi kali ini?”
“Aku dengan mereka tengah terjebak dalam sebuah krisis.”
“Saju abadi telah menyelimuti daratan selatan. Hal tersebut membuat mereka mau tak mau harus berpindah ke tempat lain untuk menyelamatkan diri.”
Di tengah keheningan suasana antara Eun Ji Hae dan juga pejabat kota, ada deasa-desus dari para warga yang sampai di teling gadis itu. Eun Ji Hae dan yang lainnya tidak marah sama sekali. Mereka hanya sedikit terkejut. Bagaimana bisa berita itu menyebar dengan cepat. Padahal mereka tidak pernah memberitahu siapa pun sebelumnya sejak salju pertama turun. Jangankan memberitahu orang lain, keluar saja tidak bisa.
Bukan hanya soal itu saja. Mereka juga belum tahu sama sekali dari mana akademi sihir Reodal mendapatkan informasi tersebut. Bahkan sampai mengirimi mereka surat yang berisikan penawaran kerja sama. Semua itu masih menjadi misteri tersendiri sampai saat ini. Tidak ada yang tahu pasti soal apa penyebabnya.
Bibi Ga Eun berdeham pelan untuk memecah keheningan suasana di antara kedua orang tersebut. Sekaligus ia meminta Eun Ji Hae untuk mempercepat segala prosesnya. Para tetua sama sekali tidak mau turun tangan kali ini. Termasuk Bibi Ga Eun sendiri. Padahal ia adalah kepala sekolah akademi tersebut. Wilson juga bersikap demikian.
Menyadari jika ia telah membuang waktu terlalu banyak, Eun Ji Hae langsung kembali ke topik pembicaraan mereka di awal tadi. Saling diam seperti ini tidak akan menyelesaikan apa pun.
__ADS_1
“Jadi, bagaimana? Apakah kami bisa masuk?” tanya Eun Ji Hae dengan agak mendesak.
“Dengar!” ucapnya kemudian.
“Maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk bertemu dengan akademi sihir Reodal. Ada beberapa hal yang harus kami urus,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.
“Apa kau berkata dengan jujur tadi?” tanya pejabat kota.
Pria itu terlihat meragukan niat baik Eun Ji Hae dan yang lainnya. Jika saja di tempat mereka tidak sedang terjadi bencana, maka mereka tidak akan sudi untuk datang kemari. Eun Ji Hae menghela napasnya dengan kasar sembari memijat pelipisnya dengan lembut. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membujuk serta meyakinkan orang yang satu ini. Dari tadi ia telah mengeluarkan semua jurus andalannya. Tapi tak tersebut tampaknya sama sekali tidak berguna bagi mereka.
“Apa lagi yang harus ku katakan kepada mereka agar orang-orang ini percaya,” gumamnya pelan.
Tanpa pikir panjang, Wilson segera mengambil alih situasi. Dia tidak ingin berlama-lama berdiri di sini, sama seperti yang lainnya. Pria itu sudah membuang waktu mereka terlalu banyak.
“Apa susahnya untuk mengizinkan kami masuk?” tanya Wilson dengan nada bicara yang tidak bersahabat.
Pejabat kota adalah satu-satunya alasan kenapa Wilson bersikap seperti ini. Ia mendadak tak ramah kepada semua orang yang berada di sekitarnya. Pria itu sudah terlarut oleh emosinya sendiri.
Di tengah perselisihan pendapat itu, mendadak seorang wanita paruh baya berlari menghampiri mereka. Dengan langkah yang tergesa serta napas yang memburu ia akhirnya sampai di hadapan keduanya. Entah dari mana munculnya wanita itu. Tidak ada satu pun dari rombongan Mooneta yang mengenalinya.
“Maaf membuat kalian menunggu,” ujar wanita tersebut masih dengan pola napas yang tak beraturan.
“Perkenalkan, aku Jin Hae In!” ucapnya sembari membungkuk hormat.
Ia bahkan sudah memperkenalkan dirinya sendiri sebelum diminta. Eun Ji Hae dan yang lainnya ikut membungkuk sebagai simbol kesopanan.
“Siapa kau?” tanya Wilson
__ADS_1
Ditatapnya wajah wanita di hadapannya itu dengan datar.
“Aku adalah pimpinan staff tertinggi di akademi sihir Reodal,” ungkapnya.
“Kami mendengar dari warga jika kalian telah datang dan mereka menahan kalian semua di gerbang kota. Jadi, mereka mengutusku untuk meluruskan semua kesalahpahaman ini,” jelas wanita yang mengaku sebagai Jin Hae In itu.
Wilson mengangguk paham.
“Biarkan mereka masuk!” titah wanita tersebut.
“Mereka adalah tamu kami,” timpalnya.
Pejabat kota menepi dari jalanan diikuti dengan beberapa warga lainnya yang berdiri pada barisan paling depan. Atas penjelasan singkat sekaligus meyakinkan dari Jin Hae In tadi berhasil membuat pejabat kota percaya. Tidak ada yang perlu diragukan lagi. Setidaknya sudah ada orang yang berani menjamin kebenaran informasi tersebut.
“Mari! Akan ku antar kalian semua ke pintu gerbang Reodal,” ucap Jin Hae In.
Dengan penuh rasa hormat, wanita itu mempersilahkan semuanya untuk masuk. Tidak usah sungkan-sungkan, karena mereka telah diterima di sini.
“Orang-orang di sini sungguh menyebalkan!” cicit Hwang Ji Na.
“Lihat saja bagaimana cara mereka melihat kita,” timpal Chanwo.
Untuk pertama kalinya dalam hari ini mereka berdua sependapat. Biasanya tidak pernah.
Berkat bantuan dari Jin Hae In, mereka semua pada akhirnya diberikan akses masuk ke kota. Jika wanita itu tidak datang, entah sampai kapan mereka akan ditahan di sini. Padahal Eun Ji Hae telah memaparkan semuanya dengan cukup jelas. Bagaimana bisa pejabat kota tidak percaya dengan orang-orang itu. Memangnya sejak kapan Eun Ji Hae tampak berbohong. Ia sama sekali tidak habis pikir dengan perlakuan yang baru saja mereka dapatkan. Ini akan menjadi kesan pertama yang tidak baik bagi siswa Mooneta. Bahkan para siswa telah kehilangan rasa simpatinya sejak awal sebelum menginjakkan kaki di tempat ini. Karena mereka tahu jelas seperti apa sikap busuk para siswa serta penduduk di sekitar Reodal.
“Aku sama sekali tidak percaya jika kita akan menjadi salah satu bagian dari mereka juga nantinya,” ujar Oliver sambil menggeleng-geleng pelan.
__ADS_1