Mooneta High School

Mooneta High School
Madness


__ADS_3

Pada akhirnya, Eun Ji Hae melepaskan Do Yen Sae begitu saja setelah memberikannya peringatan. Beruntung saat itu emosi Do Yen Sae sudah mulai terkendali. Sehingga ia tidak menyerang dengan brutal lagi atau bahkan sampai melukai Eun Ji Hae. Sepertinya perang dingin yang jauh lebih besar akan segera dimulai sebentar lagi. Semua orang akan terlibat di dalamnya tanpa terkecuali sama sekali. Kali ini akan jauh lebih sengit dari pada yang sebelumnya.


“Kau akan melihat akibat dari perbuatanmu ini sebentar lagi,” ujar Do Yen Sae yan sama sekali tidak mendapatkan reaksi apa pun dari gadis itu.


Eun Ji Hae sudah sampai di ambang pintu tadi. Mendadak ia menghentikan langkahnya begitu saja karena ucapan gadis itu. Ia kira ada apa. Ternyata Do Yen Sae hanya ingin mengatakan omong kosong saja. Eun Ji Hae bahkan tidak pernah menanggapi ucapan gadis itu dengan sungguh-sungguh. Jika ancaman itu benar nyata, pasti Eun Ji Hae sudah siap sebelum ia menyerang.


Tak ingin ambil pusing soal omong kosong yang dilontarkan oleh Do Yen Sae tadi, Eun Ji Hae bergegas untuk meninggalkan ruangan tersebut. Tidak ada gunanya lagi jika tetap berada di sini. Eun Ji Hae tidak akan bertindak gegabah. Dia telah merencanakan semua hal di dalam otaknya.


Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat. Ia mengamati sekitarnya dengan begitu seksama. Saat ini ia sedang berada di kandang musuh. Jadi, lebih baik untuk selalu bersikap hati-hati. Sekali lagi, waspada akan membuatnya aman.


Seharusnya sekarang tidak ada siapa-siapa di yang masih berkeliaran di sekitar sini. Terutama para siswa. Memangnya apa yang mereka lakukan pada jam segini. Sekarang sudah hampir pukul tiga pagi. Mereka semua pastimasih terlelap. Sebagian besar mungkin tidak sadar jika fajar hampir muncul dalam waktu beberapa jam ke depan.

__ADS_1


Eun Ji Hae berjalan menyusuri lorong yang mulai gelap ini sendirian. Ia akan langsung kembali ke asrama untuk beristirahat. Mau tidak mau gadis itu harus melewati jalanan yang minim akan pencahayaan untuk kembali ke tempat itu. Biasanya pada jam segini beberapa sumber cajaya sudah dimatikan dan hanya menyisakan sedikit saja. Setidaknya mereka tidak akan membiarkan jalanan menjadi gelap hanya karena tidak ada yang melintas pada tengah malam seperti ini.


Tempat yang gelap sama sekali bukan masalah besar bagi Eun Ji Hae. Ia sudah terbiasa. Apa lagi sekarang gadis itu memiliki kekuatan api yang bisa ia gunakan kapan saja. Tentu hal tersebut akan sangat menguntungkan baginya. Eun Ji Hae juga bukan tipikal orang yang penakut. Bahkan tak jaran ia malah menantang sesuatu yang menjadi pemicu dari rasa takutnya itu sendiri. Kelihatannya Eun Ji Hae memang berbeda dari gadis lainnya. Ia gemar memacu adrenalinnya.


‘TAP! TAP! TAP!’


Langkah kakinya terdengar dengan jelas di sepanjang perjalanan. Apa lagi lorong yang lumayan sempit ini berhasil membuat suara dari telapak sepatunya yang tengah beradu dengan permukaan lantai menggema ke seluruh penjuru ruangan. Ia berharap tidak ada yang terbangun karena kebisingan yang ia ciptakan. Eun Ji Hae tidak mungkin melepas sepatunya dan berjalan tanpa atas kaki. Sekarang sedang puncak musim dingin. Suhunya bisa lebih dingin dari pada biasanya. Ia tidak akan sanggup jika harus ditempatkan pada posisi seperti itu.


“Apakah mereka sudah sampai di hutan terkutu itu?” gumam Eun Ji Hae.


Yang ia maksud saat ini adalah Chanwo dan juga Hwang Ji Na. Mereka telah pergi sejak petang tadi. Seharusnya jika belum sampai, mereka paling tidak sudah menempuh lebih dari separuh perjalanan. Mengingat, jarak dari Reodal ke hutan itu tidak terlalu jauh. Mereka bisa sampai dalam waktu yang cukup singkat. Eun Ji Hae bahkan bisa langsung melihat hamparan hutan lebat yang dijuluki sebagai hutan terkutuk atau hutan kegelapan itu dari tempatnya berdiri saat ini. Dia hanya perlu naik ke puncak tertinggi, kemudian pergi mengarahkan pandangannya ke sebelah utara. Tepat di hadapannya adalah hutan kegelapan.

__ADS_1


“Apa mereka sedang kedatangan salju juga saat ini?” tanya gadis itu kepada dirinya.


“Haha! Mana mungkin,” jawabnya kemudian.


“Sinar matahari saja sulit untuk menembus hutan itu. Ku rasa mereka menjalani musim dingin tanpa salju sepanjang tahun. Tidakkah mereka ingin merasakan salju sekali saja?” celoteh Eun Ji Hae dengan panjang lebar.


Gadis itu terus saja berbicara dengan dirinya sendiri sejak tadi. Jangan salah sangka dulu. Eun Ji Hae masih sehat betul. Ia tidak mengalami gangguan jiwa sama sekali. Menurutnya berbicara kepada diri sendiri adalah sesuatu yang wajar. Ia yakin jika setiap orang pasti pernah melakukannya.


Eun Ji Hae membenarkan baju hangatnya begitu mengetahui angin bertiup semakin kencang. Ia tidak ingin sampai udara dingin itu menembus masuk ke dalam pori-porinya. Udara dingin menyeruak tajam. Bahkan sampai berhasil membuat bulu kuduk gadis ini meremang.


Sepertinya kondisi saat ini sudah tidak memungkinkan lagi bagi Eun Ji Hae untuk tetap berada di sini. Dia memutuskan untukkembali melanjutkan perjalanannya. Gadis itu hampir sampai di kamarnya. Sejak tadi ia bahkan sudah berpijak di lantai dua gedung asrama. Tempat itu seharusnya dihuni oleh para pria. Sedangkan, kamar wanita berada di lantai empat gedung ini. Kamar Eun Ji Hae berada pada lantai empat. Hanya perlu berjalan sedikit lagi agar ia sampai di kamarnya.

__ADS_1


Eun Ji Hae harus segera beristirahat. Besok mereka akan kembali melakukan perjalanan panjang. Harusnya dari awal ia tidak setuju dengan penawaran dari akademi sihir Reodal. Dari awal mereka memang tidak berniat untuk membantu sama sekali. Mereka hanya ingin memanfaatkan situasi.


__ADS_2