Mooneta High School

Mooneta High School
Fearness


__ADS_3

Mereka salling melempar pandangan antara satu sama lain


untuk beberapa saat. Sebelum pada akhirnya Nhea kembali mengalihkan


pandangannya. Ia memutar bola matanya dengan malas. Kehadiran keluarganya


sendiri bukan lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan. Melainkan sebaliknya.


Suasana hati gadis ini malah terasa jauh lebih lebh buruk ketika mereka datang.


Nhea juga tidak tahu kenapa bisa begitu.


“Jadi, kalian sudah datang lebih dulu?” tanya Eun Ji Hae


yang hanya berniat untuk sekedar basa-basi. Tidak lebih.


Tampaknya, Nhea tidak ingin menjawab pertanyaan barusan. Jadi


jangan pernah berharap jika Nhea akan memberikan jawabannya.


Sementara itu, di sisi lain Jongdae dan Oliver saling


memberikan arahan antara satu sama lain. Meereka saling melempar kesempatan


untuk menjawab pertanyaan tersebut. Rasanya akan terkesan tidak sopan jika


tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan dari Eun Ji Hae tadi.


“Iya, benar! Kami baru saja sampai di sini,” balas Oliver


tanpa mengurangi rassa hormatnya sama sekali.


Mungkin Nhea tidak akan mendapatkan masalah apa pun jika


melakukannya. Namun, hal yang sama belum tentu akan terjadi kepada mereka juga.


Mengingat jika keduanya tidak memiliki posisi yang berarti di tempat ini. Mereka


berdua hanya sebatas ketua asrama saja. Tidak lebih.


Siapa pun tahu jika posisi tersebut belum cukup kuat untuk


melawan Eun Ji Hae. Mereka berdua bahkan tidak ada apa-apanya di hadapan gadis


itu. Jika mereka tetap nekat dan terlalu memaksa untuk melakukan perlawanan,


maka nasibnya mungkin tidak akan bisa tertolong lagi.


Jadi, untuk sementara waktu sebaiknya mereka mencari jalan yang


paling aman dulu. Sembari menghimpun kekuatan. Jika kira-kira sudah cukup kuat


untuk melakukan perlawanan secara individu, maka mereka tidak akan segan-segan


untuk melakukannya. Tidak peduli resiko macam apa yang sedang menhadang di depan


sana. Oliver bahkan tidak akan pikir panjang untuk menyerang tanpa aba-aba


sebelumnya.


“Cih! Menjijikkan!” sarkas Nhea dengan suara pelan.


Ia tidak ingin semakin memperburuk suasana yang sejak awal


memang sudah tidak baik-baik saja. Dengan berbagai cara gadis itu sedang


berusaha untuk mengendalikan emosinya. Sekarang bukan saat yang tepat untuk


beradu bicara dengan Eun Ji Hae. Lagipula Nhea juga tidak ingin buang-buang


waktu dengan sesuatu yang tidak berguna sama sekali.


Beruntung hanya teman-temannya saja yang mendengar perkataan


barusan. Vallery, Wilson dan juga Eun Ji Hae masih berada di etalase makanan

__ADS_1


untuk mengambil jatah makan siang mereka. Jaraknya cukup jauh. Mungkin ada


sekitar lima meter lebih. Sehingga, kecil kemungkinan jika udara akan membawa


frekuensi suara gadis ini sampai ke gendang telinga mereka. Meski begitu, tetap


tidak menutup kemungkinan. Ruangan ini masih sepi. Suara sekecil apa pun pasti


akan terdengar. Minimal samar-samar.


Tapi jika dilihat dari gelagat Eun Ji Hae dan anggota


keluarga yang lainnya, maka bisa disimpulkan jika mereka tidak mendengarnya


sama sekali. Buktinya tidak ada yang mempermasalahkkan hal tersebut. Mereka tampak


begitu tenang. Seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.


“Lain kali jangan berbicara sembarangan di hadapan mereka!”


larang Jang Eunbi.


Gadis itu tengah berusaha untuk memperingati Nhea. Dengan


harapan agar ia tidak mengulang kesalahan yang sama lagi lain kali. Namun, Nhea


tetaplah gadis yang selama ini mereka kenal cukup keras kepala. Nasehat seperti


itu tidak akan berarti apa-apa baginya. Nhea hanya menganggapnya sebagai angin


lalu. Tidak pernah serius sama sekali.


“Tenang saja, tidak perlu takut kepada mereka!” balas Nhea


secara gamblang.


Seolah sudah tahu sampai sebatas mana kekuatan mereka, Nhea


lantas mengatakan hal tersebut. Padahal bisa dikatakan jika ia dan keluarganya


sebenarnya Nhea begitu mendambakannya. Namun, tetap saja ia tidak bisa. Jarak yang


tercipta di antara mereka selama ini membuat Nhea juga kesulitan untuk


mendapatkan informasi.


“Kau mungkin tidak akan mendapatkan masalah, tapi setidaknya


pikirkan nasib kami juga!” cibir Oliver.


Gadis itu menimbrung di dalam obrolan secara tiba-tiba. Padahal


tidak ada yang memintanya untuk berbicara pada saat itu. Tapi, tidak masalah


sama sekali. Tidak ada satu pun dari mereka yang merasa keberatan dengan hal


tersebut.


“Apa kau takut jika harus berhadapan dengan mereka?” tanya


Nhea dengan raut wajah yang tampak tidak meyakinkan.


Mustahil jika nyali gadis itu mendadak ciut jika berhadapan


dengan mereka. Gadis itu hanya sedang berpura-pura saja. Ia akan merasa jauh


lebih takut jika jabatannya sebagai ketuua asrama dicopot secara tidak


terhormat. Siapa pun itu orangnya, pasti mereka akan setuju. Memangnya siapa


yang sudi jika dikeluarkan secara tidak terhormat seperti itu.


“Kau hanya takut kehilangan kekuatanmu di asrama ini bukan?”


tanya gadis itu lagi untuk sekdar memastikan.

__ADS_1


Oliver bahkan belum sempat menjawab. Padahal, ia sudah


memberikan waktu dan kesempatan kepada gadis itu. Hanya saja, entah kenapa kali


ini Oliver terlihat sedikit lebih lambat daripada biasanya.


“Aku tahu bagaimana rasanya,” ungkap Nhea secara gamblang.


“Jadi, tidak perlu cemas. Kau akan tetap berada di posis


itu. Kalau bisa, kau akan berada di posisi yang jauh lebih kuat,” ujar gadis


itu dengan begitu antusias.


“Jika kau tidak bisa mempertahankan orang lain dengan posisi


tersebut, maka setidaknya kau masih bisa mempertahankan dirimu sendiri. Sehingga


tidak akan merepotkan orang lain nantinya,” jelas Nhea dengan panjang lebar.


Ternyata kalimat yang tadi itu sekaligus menjadi sebuah


kalimat penutup darinya. Gadis ini sedang tidak ingin terlalu banyak bicaa


sebenarnya. Terlebih saat ini suasana hatinya sedang dalam kondisi yang tidak


baik-baik saja.


“Bukankan kita akan mencapai titikitu bersama-sama?” tanya


Chanwo.


Kali ini pertanyaannya ditujukan kepada semua orang yang


berada di sana. Mereka berempat lebih tepatnya.


“Aku tidak terlalu yakin dengan motto yang satu itu.


Bukankah kita akan terdengar begitu ambisius nantinya?” tanya Jang Eunbi


sembari memainkan kuku jarinya.


Gadis itu bahkan berbicara tanpa menatap lawan bicaranya


sama sekali. Sungguh tidak sopan. Tapi tenang saja, Chanwo dan yang lainnya


juga tidak akan mempermasalahkan hal yang satu itu.


Sementara itu, di sisi lain Nhea tampak mengulum senyum. Agaknya


ia merasa lucu karena melihat ekspresi pria tersebut. Namun, kali ini ia tidak


bisa berkata-kata sama sekali.


“Ada apa denganmu?” tanya Chanwo yang ternyata menyadari hal


tersebut.


“Apa ada sesuatu yang salah


denganku?”


Pria itu kembali mempertegas pertanyaannya yang sebelumnya.


“Tidak sama sekali!” tepis Nhea dengan cepat.


Ia sedang tidak ingin memperpanjang


masalah ini. Walaupun sebenarnya hal tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai


masalah. Apa pun itu namanya, Nhea hanya sedang tidak ingin membaginya dengan


orang lain. Cukup dirinya sendiri saja yang menikmati hal tersebut. Terserah apa


kata orang. Mungkin mereka akan mengatakan kalau Nhea egois dan tidak asik sama

__ADS_1


sekali. Ia tidak akan mempedulikan hal yang satu itu.


__ADS_2