
Mereka salling melempar pandangan antara satu sama lain
untuk beberapa saat. Sebelum pada akhirnya Nhea kembali mengalihkan
pandangannya. Ia memutar bola matanya dengan malas. Kehadiran keluarganya
sendiri bukan lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan. Melainkan sebaliknya.
Suasana hati gadis ini malah terasa jauh lebih lebh buruk ketika mereka datang.
Nhea juga tidak tahu kenapa bisa begitu.
“Jadi, kalian sudah datang lebih dulu?” tanya Eun Ji Hae
yang hanya berniat untuk sekedar basa-basi. Tidak lebih.
Tampaknya, Nhea tidak ingin menjawab pertanyaan barusan. Jadi
jangan pernah berharap jika Nhea akan memberikan jawabannya.
Sementara itu, di sisi lain Jongdae dan Oliver saling
memberikan arahan antara satu sama lain. Meereka saling melempar kesempatan
untuk menjawab pertanyaan tersebut. Rasanya akan terkesan tidak sopan jika
tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan dari Eun Ji Hae tadi.
“Iya, benar! Kami baru saja sampai di sini,” balas Oliver
tanpa mengurangi rassa hormatnya sama sekali.
Mungkin Nhea tidak akan mendapatkan masalah apa pun jika
melakukannya. Namun, hal yang sama belum tentu akan terjadi kepada mereka juga.
Mengingat jika keduanya tidak memiliki posisi yang berarti di tempat ini. Mereka
berdua hanya sebatas ketua asrama saja. Tidak lebih.
Siapa pun tahu jika posisi tersebut belum cukup kuat untuk
melawan Eun Ji Hae. Mereka berdua bahkan tidak ada apa-apanya di hadapan gadis
itu. Jika mereka tetap nekat dan terlalu memaksa untuk melakukan perlawanan,
maka nasibnya mungkin tidak akan bisa tertolong lagi.
Jadi, untuk sementara waktu sebaiknya mereka mencari jalan yang
paling aman dulu. Sembari menghimpun kekuatan. Jika kira-kira sudah cukup kuat
untuk melakukan perlawanan secara individu, maka mereka tidak akan segan-segan
untuk melakukannya. Tidak peduli resiko macam apa yang sedang menhadang di depan
sana. Oliver bahkan tidak akan pikir panjang untuk menyerang tanpa aba-aba
sebelumnya.
“Cih! Menjijikkan!” sarkas Nhea dengan suara pelan.
Ia tidak ingin semakin memperburuk suasana yang sejak awal
memang sudah tidak baik-baik saja. Dengan berbagai cara gadis itu sedang
berusaha untuk mengendalikan emosinya. Sekarang bukan saat yang tepat untuk
beradu bicara dengan Eun Ji Hae. Lagipula Nhea juga tidak ingin buang-buang
waktu dengan sesuatu yang tidak berguna sama sekali.
Beruntung hanya teman-temannya saja yang mendengar perkataan
barusan. Vallery, Wilson dan juga Eun Ji Hae masih berada di etalase makanan
__ADS_1
untuk mengambil jatah makan siang mereka. Jaraknya cukup jauh. Mungkin ada
sekitar lima meter lebih. Sehingga, kecil kemungkinan jika udara akan membawa
frekuensi suara gadis ini sampai ke gendang telinga mereka. Meski begitu, tetap
tidak menutup kemungkinan. Ruangan ini masih sepi. Suara sekecil apa pun pasti
akan terdengar. Minimal samar-samar.
Tapi jika dilihat dari gelagat Eun Ji Hae dan anggota
keluarga yang lainnya, maka bisa disimpulkan jika mereka tidak mendengarnya
sama sekali. Buktinya tidak ada yang mempermasalahkkan hal tersebut. Mereka tampak
begitu tenang. Seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.
“Lain kali jangan berbicara sembarangan di hadapan mereka!”
larang Jang Eunbi.
Gadis itu tengah berusaha untuk memperingati Nhea. Dengan
harapan agar ia tidak mengulang kesalahan yang sama lagi lain kali. Namun, Nhea
tetaplah gadis yang selama ini mereka kenal cukup keras kepala. Nasehat seperti
itu tidak akan berarti apa-apa baginya. Nhea hanya menganggapnya sebagai angin
lalu. Tidak pernah serius sama sekali.
“Tenang saja, tidak perlu takut kepada mereka!” balas Nhea
secara gamblang.
Seolah sudah tahu sampai sebatas mana kekuatan mereka, Nhea
lantas mengatakan hal tersebut. Padahal bisa dikatakan jika ia dan keluarganya
sebenarnya Nhea begitu mendambakannya. Namun, tetap saja ia tidak bisa. Jarak yang
tercipta di antara mereka selama ini membuat Nhea juga kesulitan untuk
mendapatkan informasi.
“Kau mungkin tidak akan mendapatkan masalah, tapi setidaknya
pikirkan nasib kami juga!” cibir Oliver.
Gadis itu menimbrung di dalam obrolan secara tiba-tiba. Padahal
tidak ada yang memintanya untuk berbicara pada saat itu. Tapi, tidak masalah
sama sekali. Tidak ada satu pun dari mereka yang merasa keberatan dengan hal
tersebut.
“Apa kau takut jika harus berhadapan dengan mereka?” tanya
Nhea dengan raut wajah yang tampak tidak meyakinkan.
Mustahil jika nyali gadis itu mendadak ciut jika berhadapan
dengan mereka. Gadis itu hanya sedang berpura-pura saja. Ia akan merasa jauh
lebih takut jika jabatannya sebagai ketuua asrama dicopot secara tidak
terhormat. Siapa pun itu orangnya, pasti mereka akan setuju. Memangnya siapa
yang sudi jika dikeluarkan secara tidak terhormat seperti itu.
“Kau hanya takut kehilangan kekuatanmu di asrama ini bukan?”
tanya gadis itu lagi untuk sekdar memastikan.
__ADS_1
Oliver bahkan belum sempat menjawab. Padahal, ia sudah
memberikan waktu dan kesempatan kepada gadis itu. Hanya saja, entah kenapa kali
ini Oliver terlihat sedikit lebih lambat daripada biasanya.
“Aku tahu bagaimana rasanya,” ungkap Nhea secara gamblang.
“Jadi, tidak perlu cemas. Kau akan tetap berada di posis
itu. Kalau bisa, kau akan berada di posisi yang jauh lebih kuat,” ujar gadis
itu dengan begitu antusias.
“Jika kau tidak bisa mempertahankan orang lain dengan posisi
tersebut, maka setidaknya kau masih bisa mempertahankan dirimu sendiri. Sehingga
tidak akan merepotkan orang lain nantinya,” jelas Nhea dengan panjang lebar.
Ternyata kalimat yang tadi itu sekaligus menjadi sebuah
kalimat penutup darinya. Gadis ini sedang tidak ingin terlalu banyak bicaa
sebenarnya. Terlebih saat ini suasana hatinya sedang dalam kondisi yang tidak
baik-baik saja.
“Bukankan kita akan mencapai titikitu bersama-sama?” tanya
Chanwo.
Kali ini pertanyaannya ditujukan kepada semua orang yang
berada di sana. Mereka berempat lebih tepatnya.
“Aku tidak terlalu yakin dengan motto yang satu itu.
Bukankah kita akan terdengar begitu ambisius nantinya?” tanya Jang Eunbi
sembari memainkan kuku jarinya.
Gadis itu bahkan berbicara tanpa menatap lawan bicaranya
sama sekali. Sungguh tidak sopan. Tapi tenang saja, Chanwo dan yang lainnya
juga tidak akan mempermasalahkan hal yang satu itu.
Sementara itu, di sisi lain Nhea tampak mengulum senyum. Agaknya
ia merasa lucu karena melihat ekspresi pria tersebut. Namun, kali ini ia tidak
bisa berkata-kata sama sekali.
“Ada apa denganmu?” tanya Chanwo yang ternyata menyadari hal
tersebut.
“Apa ada sesuatu yang salah
denganku?”
Pria itu kembali mempertegas pertanyaannya yang sebelumnya.
“Tidak sama sekali!” tepis Nhea dengan cepat.
Ia sedang tidak ingin memperpanjang
masalah ini. Walaupun sebenarnya hal tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai
masalah. Apa pun itu namanya, Nhea hanya sedang tidak ingin membaginya dengan
orang lain. Cukup dirinya sendiri saja yang menikmati hal tersebut. Terserah apa
kata orang. Mungkin mereka akan mengatakan kalau Nhea egois dan tidak asik sama
__ADS_1
sekali. Ia tidak akan mempedulikan hal yang satu itu.