
Kenyataannya memang tidak meleset jauh dari prediksi gadis
ini. Naluri alamia Nhea setidaknya hampir selalu benar. Itu sebabnya kenapa ia
begitu mengandalkan intuisinya. Meski pada kenyatannya, Nhea tidak pernah
benar-benar percaya kepada dirinya sendiri.
Mereka akan mengadakan diskusi singkat. Tentu saja akan
membahas soal persiapan mereka. Sudah sejauh mana dan sehebat apa. Tidak perlu
terlalu berlebihan sebenarnya. Mereka hanya perlu berada di posisi yang sedikit
lebih unggul dari pada yang lainnya.
Prinsip permainannya masih sama seperti beberapa hari yang
lalu. Bahkan format penilaiannya juga sama. Mereka yakin betul soal hal
tersebut. Meski pada dasarnya tidak ada yang pernah melihatnya sama sekali. Tidak
ada seorang pun yang tahu bagaimana cara mereka menilai. Hanya para dewan juri
yang terhormat yang memiliki ha katas semua itu. Tapi, ada satu hal yang
membuat mereka cukup yakin sampai sekarang. Semua orang bisa menilai dari
permainan mereka. Jangankan dewan juri, orang biasa saja bisa menentukan siapa
yang berhak untuk mendapatkan kemenangan hanya dengan melihat dari bagaimana
cara mereka bertanding.
Seperti biasanya, Eun Ji Hae akan memimpin jalannya diskusi
saat ini. Jangan lupa jika sekarang gadis itu sudah menjadi tangan kanan Bibi
Ga Eun. Otomatis ia juga memiliki hak yang kurang lebih sama dengan wanita itu.
Termasuk dalam urusan mengatur para siswa. Ia bahkan bisa melakukan yang lebih
dari itu. Jangkauannya semakin luas akibat wewenang yang diberikan oleh Bibi Ga
Eun kepadanya.
Eun Ji Hae berhak untuk mengatur apa pun yang berkaitan
dengan akademi ini. Kekuasaan membuat orang lain menjadi dihargai oleh siapa
saja. Orang-orang hanya akan tunduk kepada mereka yang berkuasa dan memiliki
kekayaan. Harta dan kekuasaan tidak bisa dipisahkan. Mereka memiliki hubungan
yang sangat erat. Baik secara sadar maupun tidak sama sekali.
“Semuanya berkumpul!” seru Eun Ji Hae.
Gadis itu tengah berusaha untuk menarik perhatian semua
orang. Sehingga seluruh pasang mata hanya tertuju ke arahnya. Tidak bisa
dipungkiri jika Eun Ji Hae memang tetap akan menjadi pusat perhatian. Terlepas dari diminta atau tidak sama sekali.
“Apakah suatu hari nanti aku akan menjadi seirang pemimpin
sama seperti Eun Ji Hae?” batin Nhea dalam hati.
__ADS_1
Kedua bola matanya sudah menyoroti Eun Ji Hae sejak tadi. Pandangannya
tidak teralihkan. Ia terpaku. Seolah Eun Ji Hae adalah segalanya saat ini. Sampai-sampai
ia tidak bisa berhenti memandanginya bahkan hanya untuk sekejap saja.
Sulit bagi Nhea untuk membayangkan bagaimana rasanya jika
suatu hari nanti ia akan berdiri di posisi yang sama dengan Eun Ji Hae. Atau
bahkan mungkin jauh lebih tinggi dari pada gadis itu. Tidak ada yang pernah
tahu. Hal tersebut mungkin saja terjadi. Kenapa tidak. Lagipula, Nhea memang
memiliki potensi yang besar untuk menjadi seorang pemimpin.
Menyadari jika dirinya haampir saja tenggelam dalam isi
kepalanya yang berisik, Nhea segera menggeleng-gelengkan kepalanya dengan
cepat. Ia berusaha untuk mengalihkan perhatiannya sendiri. Sulit untuk
dipercaya. Setelah sekian lama tidak terjebak dalam kebiasaan tersebut,
bagaimana bisa sekarang mendadak ia nyaris kembali ke sana.
Sudah lama sejak terakhir kali Nhea melamun. Ia terlalu
hanyut pada isi kepalanya sendiri. Sampai-sampai tidak menghiraukan sekitarnya
lagi. Tapi, itu sudah sangat lama. Setelahnya Nhea sama sekali tidak pernah
melamun. Sebab, dirinya selalu saja disibukkan oleh berbagai hal.
“Kenapa aku harus memusingkan hal tidak penting seperti itu?!”
gerutunya.
kepalanya. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk memusingkan hal tersebut. Ada hal
lain yang masih jauh lebih penting. Yaitu pertandingan di babak final. Kali ini
tidak bisa dibantah atau bahkan diganggu gugat.
Sekarang seharusnya Nhea hanya perlu fokus terhadap
pertandingannya nanti saja. Bukannya malah memikirkan hal lain. Secara sadar
atau tidak, hal tersebut telah berhasil memecah konsentrasinya saat ini. Padahal,
hal tersebut tidak boleh sampai terjadi. Kunci dari suksesnya pertandingan tadi
bergantung kepada kesiapa para pemainnya. Salah satu faktor yang paling
mempengaruhi sejauh ini adalah konsentrasi.
“Apakah semua orang sudah berkumpul di sini?” tanya Eun Ji
Hae dari depan sana.
“Aku ingin kalian sendiri yang memeriksaanya,” ucapnya.
“Kuberi waktu selama lima menit untuk melakukannya. Kemudian
setelah itu kembali laporkan kepadaku,” jelasnya secara singkat kemudian
mengalihkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
Ia membiarkan anak-anak itu untuk melakukan pekerjaannya
lebih dulu. Kemudian setelah itu ia baru buka suara kembali. Eun Ji Hae bahkan
tidak memberikan kesempatan bagi mereka semua untuk menjawab pertanyaannya yang
barusan. Barang kali ada salah satu dari mereka yang tahu. Namun, tadi Eun Ji
Hae malah langsung menyambung kalimatnya begitu saja tanpa memberi jeda sama
sekali.
Tidak perlu merasa heran lagi. Ini bukan sesuatu yang
mengejutkan. Kau juga akan merasakan hal yang sama ketika berhadapan dengan Eun
Ji Hae. Gadis itu terkenal angkuh dan suka mengatur. Padahal, dirinya sendiri
juga tidak suka diatur oleh orang lain. Tapi, di antara semua itu setidaknya ia
masih memiliki satu sisi baik yang tidak semua orang tahu. Baiklah, jika
kebanyakan orang beranggapak dia memiliki kepribadian yang keras. Hal tersebut
memang benar adanya. Tapi, pasti setidaknya ada satu atau dua orang yang
menilainya dari sudut pandang berbeda.
Setelah lima menit berlalu, Eun Ji Hae kembali mengalihkan
pandangannya kepada anak-anak tersebut. Mereka semua tampak tenang. Sepertinya jawaban
dari pertanyaan gadis itu barusan sudah ditemukan. Sehingga, tidak ada hal yang
perlu mereka cemaskan lagi.
“Waktunya sudah habis!” seru Eun Ji Hae dengan lantang.
Ia kembali memperingati semua orang. Padahal mereka juga
sudah tahu perihal tersebut tanpa perlu diingatkan.
“Berikan aku jawabannya sekarang!” tegas gadis itu sekali lagi.
Namun, kali ini nada bicaranya terkesan lebih santai daripada sebelumnya.
Untuk beberapa saat setelahnya, semua orang bungkam. Entah kenapa.
Tidak ada yang tahu apa alasan jelasnya. Padahal, sudah pasti jika salah satu
dari mereka pasti mengetahui jawabannya. Atau mungkin malah nyaris semua orang
yang sedang berada di sini tahu jawabannya.
“Nhea!” sahut Eun Ji Hae secara tiba-tiba.
“Berikan aku jawabannya,” lanjutnya kemudian.
Sontak gadis itu membulatkan kedua bola matanya dengan
sempurna. Tepat setelah mendengar kalimat dari Eun Ji Hae. Bagaimana bisa gadis
itu membuat permintaan demikian. Nhea bahkan belum menyiapkan jawaban apa pun. Kejadian
barusan sukses membuatnya gelagapan.
Di sisi lain, Eun Ji Hae terus menatapnya secara intens. Membuat
__ADS_1
gadis itu merasa terdesak. Sorot mata Eun Ji Hae seolahs edang menuntut
jawaban.