Mooneta High School

Mooneta High School
Leader?


__ADS_3

Kenyataannya memang tidak meleset jauh dari prediksi gadis


ini. Naluri alamia Nhea setidaknya hampir selalu benar. Itu sebabnya kenapa ia


begitu mengandalkan intuisinya. Meski pada kenyatannya, Nhea tidak pernah


benar-benar percaya kepada dirinya sendiri.


Mereka akan mengadakan diskusi singkat. Tentu saja akan


membahas soal persiapan mereka. Sudah sejauh mana dan sehebat apa. Tidak perlu


terlalu berlebihan sebenarnya. Mereka hanya perlu berada di posisi yang sedikit


lebih unggul dari pada yang lainnya.


Prinsip permainannya masih sama seperti beberapa hari yang


lalu. Bahkan format penilaiannya juga sama. Mereka yakin betul soal hal


tersebut. Meski pada dasarnya tidak ada yang pernah melihatnya sama sekali. Tidak


ada seorang pun yang tahu bagaimana cara mereka menilai. Hanya para dewan juri


yang terhormat yang memiliki ha katas semua itu. Tapi, ada satu hal yang


membuat mereka cukup yakin sampai sekarang. Semua orang bisa menilai dari


permainan mereka. Jangankan dewan juri, orang biasa saja bisa menentukan siapa


yang berhak untuk mendapatkan kemenangan hanya dengan melihat dari bagaimana


cara mereka bertanding.


Seperti biasanya, Eun Ji Hae akan memimpin jalannya diskusi


saat ini. Jangan lupa jika sekarang gadis itu sudah menjadi tangan kanan Bibi


Ga Eun. Otomatis ia juga memiliki hak yang kurang lebih sama dengan wanita itu.


Termasuk dalam urusan mengatur para siswa. Ia bahkan bisa melakukan yang lebih


dari itu. Jangkauannya semakin luas akibat wewenang yang diberikan oleh Bibi Ga


Eun kepadanya.


Eun Ji Hae berhak untuk mengatur apa pun yang berkaitan


dengan akademi ini. Kekuasaan membuat orang lain menjadi dihargai oleh siapa


saja. Orang-orang hanya akan tunduk kepada mereka yang berkuasa dan memiliki


kekayaan. Harta dan kekuasaan tidak bisa dipisahkan. Mereka memiliki hubungan


yang sangat erat. Baik secara sadar maupun tidak sama sekali.


“Semuanya berkumpul!” seru Eun Ji Hae.


Gadis itu tengah berusaha untuk menarik perhatian semua


orang. Sehingga seluruh pasang mata hanya tertuju ke arahnya. Tidak bisa


dipungkiri jika Eun Ji Hae memang tetap akan menjadi pusat perhatian. Terlepas dari  diminta atau tidak sama sekali.


“Apakah suatu hari nanti aku akan menjadi seirang pemimpin


sama seperti Eun Ji Hae?” batin Nhea dalam hati.

__ADS_1


Kedua bola matanya sudah menyoroti Eun Ji Hae sejak tadi. Pandangannya


tidak teralihkan. Ia terpaku. Seolah Eun Ji Hae adalah segalanya saat ini. Sampai-sampai


ia tidak bisa berhenti memandanginya bahkan hanya untuk sekejap saja.


Sulit bagi Nhea untuk membayangkan bagaimana rasanya jika


suatu hari nanti ia akan berdiri di posisi yang sama dengan Eun Ji Hae. Atau


bahkan mungkin jauh lebih tinggi dari pada gadis itu. Tidak ada yang pernah


tahu. Hal tersebut mungkin saja terjadi. Kenapa tidak. Lagipula, Nhea memang


memiliki potensi yang besar untuk menjadi seorang pemimpin.


Menyadari jika dirinya haampir saja tenggelam dalam isi


kepalanya yang berisik, Nhea segera menggeleng-gelengkan kepalanya dengan


cepat. Ia berusaha untuk mengalihkan perhatiannya sendiri. Sulit untuk


dipercaya. Setelah sekian lama tidak terjebak dalam kebiasaan tersebut,


bagaimana bisa sekarang mendadak ia nyaris kembali ke sana.


Sudah lama sejak terakhir kali Nhea melamun. Ia terlalu


hanyut pada isi kepalanya sendiri. Sampai-sampai tidak menghiraukan sekitarnya


lagi. Tapi, itu sudah sangat lama. Setelahnya Nhea sama sekali tidak pernah


melamun. Sebab, dirinya selalu saja disibukkan oleh berbagai hal.


“Kenapa aku harus memusingkan hal tidak penting seperti itu?!”


gerutunya.


kepalanya. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk memusingkan hal tersebut. Ada hal


lain yang masih jauh lebih penting. Yaitu pertandingan di babak final. Kali ini


tidak bisa dibantah atau bahkan diganggu gugat.


Sekarang seharusnya Nhea hanya perlu fokus terhadap


pertandingannya nanti saja. Bukannya malah memikirkan hal lain. Secara sadar


atau tidak, hal tersebut telah berhasil memecah konsentrasinya saat ini. Padahal,


hal tersebut tidak boleh sampai terjadi. Kunci dari suksesnya pertandingan tadi


bergantung kepada kesiapa para pemainnya. Salah satu faktor yang paling


mempengaruhi sejauh ini adalah konsentrasi.


“Apakah semua orang sudah berkumpul di sini?” tanya Eun Ji


Hae dari depan sana.


“Aku ingin kalian sendiri yang memeriksaanya,” ucapnya.


“Kuberi waktu selama lima menit untuk melakukannya. Kemudian


setelah itu kembali laporkan kepadaku,” jelasnya secara singkat kemudian


mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


Ia membiarkan anak-anak itu untuk melakukan pekerjaannya


lebih dulu. Kemudian setelah itu ia baru buka suara kembali. Eun Ji Hae bahkan


tidak memberikan kesempatan bagi mereka semua untuk menjawab pertanyaannya yang


barusan. Barang kali ada salah satu dari mereka yang tahu. Namun, tadi Eun Ji


Hae malah langsung menyambung kalimatnya begitu saja tanpa memberi jeda sama


sekali.


Tidak perlu merasa heran lagi. Ini bukan sesuatu yang


mengejutkan. Kau juga akan merasakan hal yang sama ketika berhadapan dengan Eun


Ji Hae. Gadis itu terkenal angkuh dan suka mengatur. Padahal, dirinya sendiri


juga tidak suka diatur oleh orang lain. Tapi, di antara semua itu setidaknya ia


masih memiliki satu sisi baik yang tidak semua orang tahu. Baiklah, jika


kebanyakan orang beranggapak dia memiliki kepribadian yang keras. Hal tersebut


memang benar adanya. Tapi, pasti setidaknya ada satu atau dua orang yang


menilainya dari sudut pandang berbeda.


Setelah lima menit berlalu, Eun Ji Hae kembali mengalihkan


pandangannya kepada anak-anak tersebut. Mereka semua tampak tenang. Sepertinya jawaban


dari pertanyaan gadis itu barusan sudah ditemukan. Sehingga, tidak ada hal yang


perlu mereka cemaskan lagi.


“Waktunya sudah habis!” seru Eun Ji Hae dengan lantang.


Ia kembali memperingati semua orang. Padahal mereka juga


sudah tahu perihal tersebut tanpa perlu diingatkan.


“Berikan aku jawabannya sekarang!” tegas gadis itu sekali lagi.


Namun, kali ini nada bicaranya terkesan lebih santai daripada sebelumnya.


Untuk beberapa saat setelahnya, semua orang bungkam. Entah kenapa.


Tidak ada yang tahu apa alasan jelasnya. Padahal, sudah pasti jika salah satu


dari mereka pasti mengetahui jawabannya. Atau mungkin malah nyaris semua orang


yang sedang berada di sini tahu jawabannya.


“Nhea!” sahut Eun Ji Hae secara tiba-tiba.


“Berikan aku jawabannya,” lanjutnya kemudian.


Sontak gadis itu membulatkan kedua bola matanya dengan


sempurna. Tepat setelah mendengar kalimat dari Eun Ji Hae. Bagaimana bisa gadis


itu membuat permintaan demikian. Nhea bahkan belum menyiapkan jawaban apa pun. Kejadian


barusan sukses membuatnya gelagapan.


Di sisi lain, Eun Ji Hae terus menatapnya secara intens. Membuat

__ADS_1


gadis itu merasa terdesak. Sorot mata Eun Ji Hae seolahs edang menuntut


jawaban.


__ADS_2