Mooneta High School

Mooneta High School
Curiga


__ADS_3

Hwang Ji Na masih tetap memperhatikan gadis itu. Matanya


lekat menyoroti Nhea sejak tadi. Ia sama sekali tidak bisa memalingkan


pandangannya ke arah lain. Entah kenapa dia begitu yakin jika firasatnya yang


satu ini benar. Sedang ada yang tidak baik-baik saja terhadap gadis itu. Hwang


Ji Na bisa mengetahuinya dengan jelas. Gadis itu memiliki insting sebagai


manusia serigala yang cukup kuat. Bahkan ia telah menguasai hal itu sebelum Eun


Ji Hae datang dan memberikan tambahan ilmu kepadanya.


“Sebaiknya kau hampiri gadis itu dan tanyakan tentang


keadaannya,” usul Hwang Ji Na kepada Chanwo.


Lagi-lagi pria itu terpaksa memalingkan pandangannya ke arah


Hwan Ji Na. Apakah tidak ada orang lain yang bisa ia ajak bicara selain


dirinya. Kenapa harus Chanwo yang menjadi sasarannya. Mungkin Hwang Ji Na memang


belum mengenal seperti apa orang-orang yang berada di sekolah ini. Tapi setidaknya,


ia telah mengenal Eun Ji Hae sebelumnya. Bahkan bisa dibilang jika hubungan


mereka cukup dekat. Sangking dekatnya, kedua orang itu sampai dianggap berasal


dari satu garis keturunan yang sama. Semua itu terjadi ketika Eun Ji Hae


memutuskan untuk tinggal bersama gadis itu beberapa waktu.


Chanwo ingin menghela napas panjang kala itu, tapi sayangnya

__ADS_1


ia tidak bernapas. Pria itu baru saja menyadarinya. Selain jantung, beberapa


oragan vital lain yang berada di dalam tubuhnya juga tidak bekerja dengan


maksimal. Akan jauh lebih tepat jika organ-organ tersebut dikatakan memang


tidak pernah bekerja sama sekali. Seperti jantung, paru-paru serta organ


pencernaan lainnya.


“Memangnya ada apa dengan Nhea?” tanya Chanwo.


“Lagi pula ia terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang salah


dengannya,” timpalnya.


Sebenarnya ia malas untuk menanggapi perkataan gadis ini


barusan. Sungguh tidak penting sama sekali baginya.


“Tapi, aku yakin jika ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan


Otomatis, kalimat tersebut berhasil menarik perhatian


Chanwo. Pasalnya, sangat tak biasa Hwang Ji Na berbicara seperti ini. Jika dilihat


dari pola penyusunan kalimat serta intonasi bicaranya, ia tak terlihat seperti


sedang bermain-main dengan ucapannya. Hwang Ji Na tampak begitu serius. Hal tersebut


berhasil membuat Chanwo ikut terbawa suasana. Hwang Ji Na tahu betul bagaimana


cara untuk mengendalikan situasi. Dia bisa melakukan apa pun. Gadis itu serba


bisa. Bahkan kemampuannya jauh lebih hebat jika dibandingkan dengan miliki

__ADS_1


Chanwo.


“Nhea kenapa?” tanya Chanwo dengan datar, namun penuh


penekanan.


“Aku tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi di sana,”


ungkapnya.


“Apakah dia masih memiliki kemungkinan untuk terkena efek


samping jangka panjang dari salju abadi?” tanya Hwang Ji Na. Dia harus


memastikan jika semuanya benar terlebih dahulu sebelum mulai untuk


mengungkapkan semua kebenarannya.


Sementara itu, di sisi lain Chanwo tampak tak langsung


menjawab. Ia malah sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri. Mencari  jawaban yang paling tepat dengan mengumpulkan


semua data serta fakta yang ada di lapangan.


“Harusnya bisa saja,” jawab Chanwo.


“Nhea masih memiliki gen, bahkan darah manusia yang masih


mengalir di dalam tubuhnya. Ia tidak bisa terlepas dari hal tersebut. Jadi kesimpulannya,


Nhea masih bis adisebut sebagai manusia meski gen lainnya jauh lebih dominan,”


jelas pria itu dengan panjang lebar.


Hwang Ji Na mengangguk paham dengan penjabaran yang

__ADS_1


diberikan oleh Chanwo barusan. Tidak perlu waktu lama baginya untuk segera


memproses semua hal itu di dalam otak.


__ADS_2