Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
jadi sopir ikan


__ADS_3

Pagi buta, adzan subuh juga belum berkumandang, Budi sudah meluncur dengan motor maticnya ke arah kota. Sepagi ini dia sudah ditunggu.


Jalan yang sepi memungkinkannya untuk memampatkan waktu di jalan. Sehingga, tak sampai sepuluh menit, dia sudah sampai di rumah sepupunya.


Entah sejak kapan proses muat barangnya dimulai. Tapi yang jelas, bak mobil pick up ini sudah penuh dengan polyfoam. Budi segera memarkirkan motornya dan ikut membantu menali tumpukan polyfoam itu. Di tangan orang yang sudah handal, pekerjaan menjadi cepat selesai. Untungnya Budi suka bantuin orang delivery bongkar muat barang. Jadi urusan tali – temali, dia tidak terlalu buta.


“Bud, ini bon pesanannya”


Seorang wanita memanggil dan memberinya selembar kertas.


“Oh, iya. cash semua ini, mbak?” tanya Budi.


“Cash, lah. Masa pemain besar ponorogo pake tempo segala”


“Mantap” komentar Budi.


Dia membaca dengan seksama setiap detil isi bon atau nota itu. Dia mencoba mencocokkan jumlah muatan dengan yang tertulis. Beruntung, karyawan sepupunya ini mau membantu dengan menyebutkan isi dalam polyfoam itu, satu per satu.


“Ayo, udah ditunggu nih”


Sepupunya Budi, sang juragan ikan, melambaikan tangannya. Mengajak mereka untuk segera berangkat. Budi mengangguk. Dalam satu mobil, ada tiga orang, termasuk Budi, yang berangkat.


Berarti, nanti Budi juga harus ikut menurunkan muatannya. Budi langsung tancap gas sejak keluar dari gang. Melewati jalur yang sama dengan jalan ke rumahnya. Hanya saja, perjalanannya kali ini, berkali – kali lebih jauh daripada pulang ke rumahnya.


Di tangan Budi, tak sampai dua jam, mereka sudah sampai di tujuan. Sebuah gudang, masih di seputaran kota. Dia belum paham mengenai wilayah kabupaten ponorogo. Makanya sesekali dia tengak – tengok. Setelah terlihat tujuan akhirnya, Budi langsung masuk ke dalam gudang itu tanpa tengak – tengok lagi.


"Wuidih, keren amat juragan ini? Belanjanya nggak ada obat. Sampe panjang gini" komentar Budi


Ternyata bukan mereka sendiri yang datang ke sini. Sudah ada tiga mobil lagi yang mengantri di depannya.


"Sarapan, Yuk!"


Sambil menunggu, sepupunya mengajak Budi dan karyawan itu untuk sarapan. Di warung yang tak jauh dari gudang, mereka memesan satu – satunya menu yang sudah siap, nasi pecel.


Sembari menunggu makanan siap, Budi melihat – lihat beberapa momen yang berhasil dia abadikan selama mengemudikan mobil. Dia berencana untuk mengunggahnya ke media sosial, nanti.


"Bud. Aku molor dulu, ya? Kalo udah mau bongkar, bangunin!" kata karyawan sepupunya.


"Welah, udah ngantuk aja, jam segini?" tanya Budi.


"Abis ronda, semalam"


"Sama siapa?"


"kangmasmu noh"


"Oh. oke"


Butuh waktu satu jam untuk tiba giliran mereka membongkar muatan. Dan butuh satu jam lagi untuk memindahkan isi dari polyfoam mereka, ke polyfoam milik tuan rumah.


Walau tubuh sudah berpeluh keringat, tapi Budi selalu menebar senyum saat pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata teman seperjuangan, maupun dengan sepupunya.


"Selanjutnya, gimana nih, bos?" tanya karyawan sepupu Budi.


"Seperti rencana tadi" jawab sepupu Budi.


Sepulang dari gudang itu, sepupunya mengajak mereka mampir ke trenggalek dan tulungagung. Untuk membeli jenis ikan yang laku banyak, tapi belum tersedia di pacitan. Budi menurut saja apa kata juragan. Di ajak ke bali juga dia mau.


Tubuhnya mulai merasa lelah, dan sinar matahari juga mulai terasa sangat menyengat. Sepupunya mengajak mereka untuk istirahat dulu di pinggiran trenggalek. Rencananya mereka akan melewati jalur sudimoro, untuk kembali ke arjowinangun.


"Mas. Aku rebahan dulu, ya?" kata budi ke sepupunya.


"Ya. Jawab sepupunya.


Budi langsung merebahkan tubuhnya di warung lesehan itu. Beberapa saat kemudian, dia sudah terlelap, tidur. Sepupu Budi dan karyawannya hanya tertawa melihat Budi kelelahan. Wajar kata dia, baru pertama kerja keras. Biasanya dia kerja otak.

__ADS_1


"Loh. Pada udahan, makannya?"


Budi terbangun saat semua sudah selesai makan. Jadilah dia makan sendirian. Tak lupa dia jalankan kewajibannya kepada Tuhannya. Sekalipun sepupu dan rekan seperjuangannya tidak menjalankannya.


Sepupunya masih asyik merokok sambil berbincang, saat dia kembali. Dan dia diberi kesempatan untuk beristirahat lebih lama.


"Makasih ya, mas. Lumayan juga, ternyata"


Budi berterimakasih atas kebaikan itu. Dia mengakui, kalau dia cukup lelah saat ini.


Keduanya tertawa, tapi juga menyemangati.


Sambil menikmati secangkir kopi hitam, Budi mengunggah beberapa momen selama aktivitas tadi. Mulai dari mengemudikan mobil, makan, sampai bongkar muat polyfoam ikan. Kali ini dia mempostingnya di status whatsapp.


Baru beberapa menit di unggah, sudah masuk komentar – komentar dari orang yang dia kenal. Ada yang salut, menyemangati, tapi ada juga yang dengan tega menertawakannya. Bahkan juga meledeknya. Termasuk dari tetangga – tetangganya.


Nah, gitu dong, Bud. Jangan nganggur terus. Jadi cowok harus kerja. Jangan bisanya makan, tidur, eek – makan, tidur, eek. Kasihan ibumu. Makin hari makin tua. Mana janda lagi, sekarang


Darah muda Budi memanas membaca komentar itu. Dia bisa menerima hinaan pada dirinya, tapi mengapa status ibunya harus dibawa – bawa?


Bud, Bud. Lulusan as*** kok cuman nyopir. Mbah tebir juga bisa kalo cuman nyopir. Makanya, kalo sekolah tuh belajar, jangan tawuran sama nge*** aja. Ha ha ha


Kalau komentar yang ini, Budi masih bisa tersenyum. Dia tahu siapa yang berkomentar ini.


Ya, wajar lah, kalo aku urakan. Aku anaknya orang nggak punya, nggak ada yang bisa aku sombongin kecuali keberanian dan mental tarung. Emang kamu sekarang jadi apa? Coba kalo pakde dipanggil Alloh, jadi apa kamu? Anak sama emaknya kok sama aja. Dosa apa pakdeku, punya istri dan anak seperti ini


budi membatin sambil geleng-geleng kepala, membaca komentar tadi.


Cari kerjaan yang elit dikit kenapa, Bud? Kapan bisa bayar utang kalo cuman nyopir gitu? Kamu kan punya banyak temen di jakarta, kamu juga ganteng, jadi gig***, kek. Banyak tuh duitnya


Walau terpancing juga emosinya, tapi Budi masih bisa tersenyum. Ada yang lucu dari komentar ini.


Eh, aku nggak pernah nyaranin temen cewek aku buat jadi lon**, lho. Karena aku nggak butuh lon**, jadi nggak kepikiran tentang lon**. Mereka yang kepikiran *****, adalah mereka yang butuh *****. Kalo bude sampe nyaranin aku buat jadi gig***, sepertinya bude juga butuh deh. Apa mau jadi pelanggan pertamaku? Lumayan kan, daripada dikasih orang lain. Ha ha ha ha


Budi membatin sambil terkekeh.


Kali ini si tukang plagiat yang berkomentar. Budi senyum saja menanggapinya.


Oh iya, betewe, teori kamu soal nge*** bisa bikin otak encer, kayaknya terbukti. Dalam sekala kecil, aku udah ngerasain, sih. Makanya, aku mau ngebooking Liza selama sebulan. Dia kan jago tuh, muasin kamu. Dan dia udah confirmed. Mulai besok, dia aku pake ya. Hi hi hi


Dari sekian komentar pedas, baru ini yang benar – benar memancing emosinya. Walau hanya suka sama – suka, Budi tak bisa memungkiri kalau dia punya rasa tersendiri pada Liza. Walau belum bisa dikatakan cinta.


Tapi saat Budi mengingat dia bukanlah siapa – siapanya Liza, ya dia berpikir untuk membiarkan saja liza melakukan apa yang dia mau. Toh, belum tentu itu benar. Bisa jadi itu hanya akal – akalan si plagiat itu saja, untuk memanas - manasinya


Tapi kok dia bisa tahu ya, hubungan aku sama Liza?


Dia tak habis pikir, rahasia yang dia simpan rapat – rapat itu bisa bocor juga. Dia berusaha mengingat – ingat tetangga kontrakannya. Tapi dia merasa, tidak ada yang punya hubungan dengan si plagiat itu. Setahu dia.


Masya Alloh, luar biasa kamu, Bud. Tiga kota kamu lahap sekaligus? Hebat. Jangan putus asa ya. Tetap semangat


Begitulah bunyi pesan dari seseorang yang menggetarkan hati Budi. Dia tersenyum membacanya.


Alhamdulillah, rejeki nggak boleh ditolak. Makasih ya, udah semangatin aku. Langsung berasa nih, segernya, di badan


Budi membalas pesan dari Adel.


Gombal


Serius


Eh, tapi Bud. Nomermu ini masih nomer yang kamu pakai selama kerja di sana, kan? Pasti banyak temen – temen kamu yang liat. Apa kamu nggak malu? Maksudku, nggak takut diledekin, gitu?


Adel bertanya panjang-lebar.


Enggak. Kenapa harus malu? Yang udah ngerasain duluan juga banyak kok. Nyatanya mereka baik – baik saja. Dan tetap melanjutkan pekerjaan mereka yang sekarang. Kalaupun ada yang ngeledek, ya biarin aja. Itung – itung, ngurangin dosa, atas rasa kurang bersyukurku dulu

__ADS_1


Budi membalas tak kalah panjang.


Syukurlah kalau kamu punya kemantapan hati begitu. Aku cuman takut, kamu bakal terpengaruh sama kata – kata yang menjatuhkan. Sekalipun hanya tulisan, tapi efeknya bisa bikin depresi


Kalau yang menghina aku tu, manusia, aku nggak pikirin. Lain cerita kalau menghinaku itu, Gusti Alloh. Wah, kacau itu


Emang Gusti Alloh bakal bicara langsung sama kamu?


Ya enggak sih. Nggak perlu juga. Cukup dengan membuka aib kita, kita akan hina sendiri di mata manusia


Aku seneng kalau Alloh mengirimkan orang untuk menghinaku. Bukan untuk membuka tabir aibku. Itu tandanya Alloh masih sayang sama aku. Terlebih, cuman pekerjaanku yang diambil. Aku masih diberi kesempatan bersama ibu, adek, tetangga. Dikasih sodara yang baik hati. Dikasih kesempatan kenal sama kamu, lagi. Ini sih, Alloh pengen aku lebih banyak bersyukur


lanjut Budi panjang lebar.


Kamu diuji kayak gini, masih bisa bersyukur? Jauh banget lho bedanya. Dulu pasti kamu banyak duit. Sekarang, kamu sampe harus mati – matian buat dapet duit. Caper doang kali. Sama kaya yang lain


Caper juga modalku apa? Kata – kata doang? Mending nggak usah deh. Aku nggak berbakat nyakitin cewek. Cukup aku mengagumimu dari jauh. Sambil ngerayu Gusti Alloh. Barangkali mau jodohin aku sama kamu. Ha ha ha


Emang kamu bisa ngerayu Tuhan?


Bisa lah. Kalau Dia bisa bikin aku jatuh, apa susahnya bikin aku sekaya orang yang punya pabrik? Cuman aku emang belum belajar caranya jadi orang kaya yang bener sih. Makanya disuruh sekolah dulu


Apa lagi itu? Sekolah menjadi orang kaya. Gurunya aja masih honorer


Ha ha ha ha. Gurunya ya langsung Gusti Alloh


Tahu dari mana?


Kalo guruh sekolah, contohnya kan udah ketebak, bapak Budi, sama ibu Budi. Bukan Adelia fitri


Sumpah, pikiranku penuh, Bud. Aku nggak bisa nyerna semua yang kamu bilang barusan


BTW, semangat ya


kalimat lanjutan itu membuat Budi tersenyum.


Makasih, cantik


Eh, ngomong – ngomong, kamu lagi ngapain, del?


Budi mencoba peruntungannya mengakrabkan diri dengan Adel.


Adel tidak menjawab dengan tulisan. Tapi dia mengirimkan sebuah foto. Dimana dia sedang memakai kebaya hijau, persis seperti di IG dia.


Ya Alloh, cantiknya. Kapan ya, aku bisa melihat kamu pake kebaya begini, secara live? Langsung di depan mataku


Pujian langsung Budi berikan.


Lagi – lagi Adel tidak menjawab dengan tulisan, dia memberikan lagi dua foto dari jarak pengambilan yang agak jauh. Sehingga seluruh tubuhnya tertangkap dalam satu bingkai.


Allohu Akbar, cantiknya. Aku jadi nggak yakin kalo kamu itu kelahiran gulang


Loh, emang kelahiran gulang, kok. emang kelahiran mana?


Setahuku, bidadari itu produk surga deh, bukan produk gulang


Allohu Akbar, mujinya. Aku terbang nih


Ha ha ha ha. Eh aku pergi dulu ya, udah diajak jalan lagi


Budi berpamitan, karena sudah dikode sepupunya.


Iya, hati – hati ya. Kalau turun, kaki dulu


Emangnya aku mau debus, turun kepala dulu? Benjol dong, Adel

__ADS_1


Ha ha ha ha


Budipun mengahiri percakapan itu. Juragan dan teman seperjuangannya sudah menunggunya di dalam mobil. Sempat dia digoda keduanya. Karena ternyata, mereka berdua sempat melihat foto yang Adel kasih.


__ADS_2