
“Mas?” tegur Erika.
Budi hanya menoleh saja. Emosinya masih bergejolak.
“Selanjutnya kita gimana, mas? Lapor pak Paul?” tanya Erika.
Budi tampak berpikir beberapa saat. Matanya bergerak ke sana-ke mari, menandakan dia sedang membayangkan beberapa pilihan.
“Yang pertama, kita stop dulu pembelian rotan jenis yang itu. Kita lihat, siapa saja yang bereaksi”
“Tapi si Resti itu wataknya sama kaya Isma, mas. Dia nggak mau ngambil keputusan tanpa dasar yang jelas. Emang kita mau kasih tahu dia, mas?” potong Erika.
“Ya jangan, dong. Cukup kita dulu aja yang tahu”
“Berarti harus ada masalah dulu, mas”
“Itu yang aku pikirin” sahut Budi.
Namun kalimat yang menggantung itu membuat Erika mengernyitkan keningnya. Dia menatap Budi dengan lekatnya, menunggu kelanjutan kata-katanya.
“Kita butuh rekan untuk berperan sebagai end user. Bikin video, waktu dipakai, rotannya jebol”
“Kaya semacam over weight, tapi sebenernya bobot dari pemakainya masih masuk dalam spek?” potong Erika.
“Yap, betul” jawab Budi singkat.
“Tapi siapa, ya? Temenku sih malaikat penjaga surga. Aku belum punya temen orang eropa” gumam Budi.
“Malaikat penjaga surga? Halu” seru Erika. Merekapun tertawa untuk sesaat.
“Oke. sambil nganter papa ke bandara, sambil aku inget-inget lagi, siapa temen aku yang lagi ada di eropa” lanjut Erika.
“Local assetnya si Ratna kan bisa, dikaryakan” usul Budi.
“Eeem. Mungkin. Coba entar aku kontek dia. Tapi mas jangan cemburu! Ganteng orangnya” goda Erika.
“Ya asal jangan ngomongin iplik-iplik” sahut Budi.
“Ngomongin doang sih, nggak papa kali. Daripada mas Budi” kilah Erika.
“Kenapa?”
“Itu tangannya nyari apa? Perseneleng bukan di situ” jawab Erika gemas.
“MAAS”
Erika memekik terkejut. Dia tidak menyangka Budi akan memberikan sentuhan mengejutkan di area terlarangnya. Terlebih dia masih menggunakan celana bahan, yang pastinya tidak setebal celana jeans.
Budi tertawa lepas melihat ekspresi Erika. Dia diam saja saat Erika menaboki punggungnya sebagai ekspresi rasa gemasnya.
“Udah, udah! Tuh, papanya nelepon” kata Budi, setelah beberapa lama ceng-cengan.
Erika masih berpura-pura kesal, namun senyum tipis kembali menghiasi bibirnya. Dia mengangkat telepon dari papanya itu. Dan ternyata Erika sudah ditunggu.
“Mampir rumah sakit dulu, ya? Mau ambil motor sekalian”
“Nggak mampir hotel?” goda Erika.
“Halah. Speak speak doang” kilah Budi.
“Ha ha ha ha”
Merekapun segera beranjak dari parkiran laboratorium. Mereka mampir dulu ke parkiran rumah sakit, yang hanya berjarak seratusan meter.
Erikapun mengambil alih kemudi mobilnya, saat Budi turun untuk mengambil belalang tempurnya. Dan dengan beriringan, mereka melaju menuju rumah Erika.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Erika, mereka disambut oleh papanya Erika. Sempat canggung saat bertemu papanya Erika, karena otaknya masih terpengaruh pada foto yang disodorkan oleh Respati. Tapi sebisa mungkin dia menjaga sikapnya senormal mungkin.
Sempat juga Budi ditanyai soal wajahnya yang bengep di beberapa titik. Budi menjawab apa adanya, habis tonjok-tonjokan. Tapi dia sedikit merubah ceritanya. Dia bilang, masih banyak yang dendam padanya, karena ulahnya selama di Tarantula.
Bukannya menasehati macam-macam, papanya Erika hanya tergelak dan geleng-geleng kepala saja. Seolah-olah, apa yang diceritakan Budi tidak akan berujung bahaya untuk putrinya.
Walau agak bingung, tapi Budi bersyukur, papanya Erika tidak memperpanjang pertanyaannya itu.
Terjadi kehebohan saat kedua adik tiri Erika muncul. Mereka seperti kompak terkagum-kagum pada Budi. Dan menggodanya sampai Erika kesal.
Walau merasa lucu, tapi pak Respati kemudian memperingatkan kedua anak tirinya itu untuk tidak menggoda calon ipar mereka.
Setelah acara goda-menggoda, Budi membantu Erika memasukkan barang-barang yang akan dibawa papanya ke dalam mobil. Ternyata ibu dan adik-adik tirinya juga ikut dalam perjalanan itu. Walau merasa aneh, tapi Budi tidak menanyakan hal itu.
“Oh iya, mas” tegur Erika, saat papanya masuk ke dalam rumah.
“Soal Brandon, selanjutnya gimana?” tanya Erika.
Budi tidak segera menjawab. Dia berpikir sejenak tentang si Brandon itu.
“Ya nggak usah dilanjut. Itu kan bantuan pak Paul. Sekarang udah ada empat sekawan yang bisa aku tugaskan untuk berjaga bergantian” jawab Budi kemudian.
“Iya mas, bener begitu. Aku khawatir jadinya, abis kejadian tadi. Aku takut, galerinya mas Budi dijadiin tempat peredaran narkoba, kaya bengkelnya Adel”
“Bengkelnya Adel?” tanya Budi bingung.
Di sini Erika tampak terkejut, walau tersamar.
“Tahu darimana, bengkelnya Adel dijadiin tempat peredaran narkoba?” lanjut Budi.
“Ya dilogika aja, lah. Buat apa sebuah benalu nempel pada sebuah inang? Ya pasti buat manfaatin inangnya, kan?” jawab Erika.
Budi tersenyum. Dia merasa itu hanyalah asumsinya Erika saja.
“Oke, asumsi yang masuk akal. Patut buat dipertimbangkan” komentar Budi.
Sebuah seruan mengalihkan perhatian mereka.
“Udah, pa? Tinggal yang kecil-kecil, ada yang ketinggalan nggak, pa? Rika kan nggak tahu” jawab Erika.
“Oh, iya. Charger”
Pak Respati kembali masuk ke dalam rumah.
“Mau aku apa mas Sendiri yang bilang ke pak Paul?”
“Aku aja, Ka. Paling entar juga main, ke galeri” jawab Budi. Senyum gelinya sukses menular pada Erika.
“Oke, siap. Ayo dek! Malah maen hape mulu, sih?”
Suara pak Respati kembali menggema. Adik-adik Erikapun segera beranjak masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan ibu tiri Erika. Setelah pamitan, dia juga ikut masuk ke dalam mobil.
“Ngger. Nanti titip Erika, ya? Tolong jaga dia! Bapak pergi-pergian mulu, kerjanya. Rika jadi kehilangan sosok yang bisa buat dia bersandar. Tolong jaga dia, ya?” kata pak Respati kepada Budi.
“Siap, pak. Saya pasti akan jaga Erika” jawab Budi, mantap.
“Terimakasih, ya? Sampai jumpa lagi”
“Oh ya, pak. Apa nanti saya boleh berkunjung ke tempat bapak?” tanya Budi.
“Tempat yang mana?” pak Respati kembali bertanya.
“Ya yang mana saja” jawab Budi. Pak Respati bingung. Erika juga bingung.
“Eem. Begini, pak. Mungkin untuk saat ini, Budi belum siap untuk secara resmi, melamar Erika” kata Budi mengawali penjelasannya. Pak Respati tersenyum. Sedangkan Erika terkejut.
__ADS_1
“Mungkin nanti, setelah adik saya sembuh, saya akan ajak ibu dan adik saya untuk sowan ke tempat bapak” lanjut Budi.
“Apa kamu nggak berani melakukannya sendiri?” tantang pak Respati.
“Apa bukannya tidak sopan pak, kalau saya melamar Erika sendirian?”
“Belum dicoba kok sudah berkesimpulan”
“Kalau begitu, apa boleh pak, saya minta putri bapak untuk saya jadikan istri?”
Sebuah kalimat yang sanggup membuat Erika ternganga. Budi benar-benar melamarnya sendirian. Pak Respati tersenyum lebar melihat keberanian Budi.
“Gimana, Ka?”
Pak Respati melemparkan pertanyaan itu kepada Erika. Tanpa bersuara, Erika dengan cepat menganggukkan kepalanya. Air matanya meluncur mengiringi anggukan kepalanya. Pak respati tersenyum lebar lagi.
“Ambillah, ngger! Jadikan Erika istrimu! Bapak yakin sama kamu” kata pak Respati, menjawab lamaran Budi.
Budipun sontak sungkem pada pak Respati, seraya mengucapkan terimakasih. Sempat pak Respati mengelus-elus kepala Budi. Tatapannya sendu.
“Ngger” panggil pak Respati. Budipun bangkit dari membungkuknya.
“Mungkin kamu udah denger dari Erika, kalo bapak ini bukan bapak yang baik. Memang begitu adanya. Tolong, pisahkan kenyataan tentang bapak dari Erika! Yang nggak baik itu bapak, yang nggak sayang keluarga itu bapak, bukan Erika. Jadi tolong, tetap sayangi Erika, sekalipun nanti kamu denger dari tetangga, bagaimana buruknya bapak!”
Budi tidak segera menjawab. Dia bingung dengan apa yang pak Respati bicarakan. Dia sempat menoleh ke arah Erika. Dan Erika sama bingungnya. Dia hanya menganggukkan kepalanya, sebagai isyarat kepada Budi untuk mengiyakan apa yang dikatakan oleh papanya.
“Baik, pak. Akan Budi lakukan” jawab budi.
“Ya sudah, kalian bicarakan sendiri aja ya, kapan kalian siap untuk mengikat janji suci! Bapak pergi dulu” pamit pak Respati.
“Baik, pak. Silakan!” jawab Budi.
Pak Respati beranjak masuk ke dalam mobil. Dan Erika menyalami Budi, dan mencium tangannya juga. Matanya tampak masih berkaca-kaca. Terlihat sangat bahagia dia, petang ini.
Tak lama kemudian, Erika dan keluarganya berangkat. Meninggalkan Budi yang masih berdiri melambaikan tangannya.
Selepas dari rumah Erika, Budi menyempatkan diri mampir ke masjid agung. Dia tunaikan sholat maghrib di sana.
Selepas sholat maghrib, putri meneleponnya dan meminta untuk dibelikan jagung. Putri bilang ingin bakar jagung. Mendengar suara Putri yang sudah kembali ceria, Budi mengiyakan permintaan itu.
Dia teringat kalau kang Sukron pernah bilang, kalau tetangganya ada yang berladang jagung. Diapun segera menelepon kang Sukron untuk menanyakan apakah tetangganya itu punya jagung atau sudah habis. Dan beruntung, ternyata tetangganya kang Sukron itu baru saja panen sore tadi. Budipun langsung meluncur ke tempat kang Sukron.
“Wuih. Beneran dateng sendiri”
Sebuah komentar mengiringi kedatangan Budi.
“Assalamu’alaikum” sapa Budi.
“Wa’alaikum salam”
Tak hanya suara kang Sukron, suara Fitri juga terdengar menggema dikeremangan petang ini. Tampak mereka baru saja pulang dari mushola.
“Jadi iri saya kang, liat yang kompak sholat di mushola gini” kelakar Budi, saat menyalami keduanya.
“Alhamdulillah. Umur makin nambah, bos. Ya harus sudah dimulai. He he. Masa bengalnya mulu yang diterusin?” sahut kang Sukron.
“He he. Jadi makin iri nih, saya”
“Duduk, bos. Nggak buru-buru, kan? Kita ngopi dulu. Yang punya jagung masih di mushola, masih ngajarin ngaji, dua-duanya”
“Oh. Nungu isya’ dong?”
“Enggak juga, bos. Saya udah bilang ke orangnya. Bilangnya, entar istrinya pulang duluan. Ini nyicil dulu, dua apa tiga anak dulu, bos”
“Oh. Oke, deh” jawab Budi mengerti.
__ADS_1
Merekapun duduk di kursi di teras rumah. Mungkin itu tempat kang Sukron dan Fitri bercengkerama dikala senggang.
“Nah, sambil nunggu kopinya dateng, saya boleh nanya nggak, bos?”