Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
pagi hari di resort baru


__ADS_3

Pagi ini, matahari juga masih malu-malu untuk menunjukkan sinarnya. Atau lebih tepatnya, minder. Oleh cantiknya kabut pagi yang menyelimuti hutan pinus ini.


Sehingga kesejukan dan kesegaran udara, masih bisa dirasakan setiap makluk yang tinggal di sekitaran hutan pinus ini. Termasuk dua insan ini. Mereka tampak menikmati semangkuk wedang cemue. Semacam bajigur, yang mungkin hanya bisa ditemui di pacitan.


Bertepatan dengan tanggal merah, sebuah resort meresmikan operasinya. Tidak ada grand opening, hanya soft opening yang dihadiri penduduk sekitar.


Pagi ini, ada tiket gratis bagi warga sekitar untuk menikmati fasilitas resort. Walaupun bukan warga sekitar, Adel juga mendapatkan tiket khusus dari resort tersebut. Karena pemilik resort itu, masih memiliki kekerabatan dengan bapaknya Adel. Dan itu dia manfaatkan untuk menghabiskan hari libur bersama kekasihnya.


“Asyik nggak tempatnya, bram?” tanya Adel.


Budi tidak langsung menjawab. Angin yang berhembus menerbangkan rambut Adel, memukau dirinya. Membuat Adel terlihat semakin cantik. Terlebih dia hanya bersolek dengan polesan make up tipis.


“Asyik banget” jawab Budi.Adel tersenyum.


“Kalau abram pengusaha, yang kerjanya meeting online, betah abram meeting di sini” lanjut Budi. Adel tergelak.


“Amin” sahut Adel. Seolah apa yang diucapkan Budi adalah sebuah do’a


“Buat meeting tatap muka juga cocok, kok. Kalo clientnya cuman satu atau dua, outdoor gini, asik, tahu” lanjut Adel.


“Kalo banyakan? Sepuluh orang misal?”


“Kalo buat meetingnya, ada tuh, ruangan di dalem. Yang tadi buat opening, kan ada dinding dari papan yang bisa di bongkar pasang. Tinggal susun aja. Cepet kok”


“Cie, yang dijadiin brand ambassador. Udah mulai beraksi, nih” goda Budi.


“Apaan, sih? Masa cowok sendiri dijadiin target? Ya enggak lah. Tata cuman sekedar ngasih tahu aja” kilah Adel malu-malu.


“Tapi emang boleh juga, sih. Di seputaran sini, hutan pinus, di bawah sana, kebun kelapa. Jarang, lho, ada kaya gini” komentar Budi.


Dia menunjuk kebun kelapa yang ada di lembah, di sebelah kirinya. Jaraknya cukup jauh, dan berada puluhan meter di bawah mereka. Adel hanya tersenyum, mendapat reaksi positif dari Budi. Walau Budi adalah cowoknya, tapi dia menaruh harapan, Budi mau merekomendasikan resort saudaranya ini kepada atasannya.


“Kayaknya mbak Farah emang butuh tempat-tempat kaya gini. Secara kemarin sempet ada kekecewaan dari calon customer besar kita. Butuh perlakuan lebih khusus buat mereka” lanjut Budi.


“Emang kenapa Bram, kok kecewa?” tanya Adel penasaran.


“Biasa, lah. Preman sok jago. Ngerasa jadi penguasa. Semaunya sendiri. Pas customernya visit, mereka pas ngopi. Jadi pertanyaan, kan. Secara, belum waktunya istirahat, kok produksi berhenti. Udah gitu, delay, lagi. Ngeper deh”


“Kan ada abram?”


“Abram lagi diajakin pak Paul, ketemu klient lain. Telat baliknya. Keburu mereka datang”


“Emang, customernya dari mana, bram?”


“Brunei”


“Oh”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Kalo dari Brunei sih, harusnya nggak minta macem-macem. Kan muslim juga”


“Oh, cewek? Belum tentu juga. Tergantung orangnya. Kan Brunei itu negara tempat mereka mendirikan perusahaan. Yang punya perusahan kan orang Belgia”


“Aduh. Abram jangan ikutan, ya! cukup mbak itu aja, deh. Siapa tadi?”


“Farah?”


“Iya. Dia aja yang ngurusin. Abram jangan ikut-ikutan!”


“Ha ha ha ha”


Budi tertawa mendengar kata-kata keberatan dari Adel. Terlihat raut cemburu di wajahnya, saat membayangkan kalau Budi ikut serta dalam memberikan perlakuan khusus. Dia takut kalau Budi ikut-ikutan incip-incip.


“Kamu cantik deh, kalo lagi cemburu” komentar Budi.


Adel terkesiap mendengar ucapan itu. terlebih saat tangan Budi mendekat ke arah wajahnya. Dia tidak mengelak, saat Budi menyentuhan jemarinya di dagunya. Matanya juga tidak berkedip, menatap lekat pada wajah kekasihnya itu.


“Kasihan, tamunya. Abram usir aja, ya?” celetuk Budi.


Dia menyeka dagu Adel, yang berbatasan dengan bibir bawahnya. Ada kuah cemue yang meleber.


Setelah itu, Budi tersenyum sambil menarik tangannya kembali ke posisi normal. Adel tersadar, dan ikut mengusap dagunya sendiri. Dia tersenyum malu, karena dari tadi dia tidak menyadari kalau makannya belepotan.


“Emangnya tata anak kecil?” tolak Adel.


“Tanker to fighter, tail boom has approached. Please open your cap!” kata Budi menirukan percakapan radio pesawat. Tapi Adel belum mau membuka mulutnya.


Dia malah menutupinya dengan telapak tangan. Karena dia juga tergelak. Terdengar lucu buatnya.


“Hostile air is not far ahead. Every second is precious. You have to open your cap in three seconds! Its order” Adel masih tertawa dengan kelakuan dan ucapan Budi.


“Three, twoo, one. Nabrak bibir, tumpah lho, kalo nggak dibuka”


“Ha ha ha ha”


Adel tertawa lagi. Tapi kali ini dia menyingkirkan telapak tangannya. Dan dia juga membuka mulutnya. Budi tersenyum lebar, mendapati suapannya diterima dengan baik oleh kekasihnya.


“OK fighter. You are ready to fight again. Bring victory come to us!” kata Budi. Adel tergelak saat mengunyah kacang tanah.


“Comando!” lanjut Budi, masih menirukan gaya komunikasi radio militer.


“Kok komando? Kan pesawat?” protes Adel.


“Oh, iya, ya. Terus, apa dong?”

__ADS_1


“NKRI harga mati” jawab Adel.


“Oh, iya. Ha ha ha ha”


Budi tertawa menyadari kekeliruannya. Dan mereka tertawa lepas bersama. Betapa bahagianya mereka, walau hanya ditemani semangkuk cemue. Gantian Adel yang menyuapi Budi. Walau awalnya Budi tampak gugup, tapi kemudian dia tertawa. Karena Adel sama sekali tidak menggunakan kata-kata pembuka seperti yang dia lakukan. Langsung main suap saja.


Sepertinya, kebahagiaan pagi ini memang hanya milik mereka berdua. Faktanya, ada seorang perempuan yang memperhatikan mereka dengan raut wajah cemburu.


Sedari tadi dia duduk bertemankan secangkir kopi. Dan seorang wanita lain yang sedang berbicara padanya. Tapi tampaknya, tawa lepas Budi dan Adel, lebih menyita perhatiannya, daripada orang yang berbicara di hadapannya.


“Mbak Vani” tegur wanita yang berbicara itu.


“Hem?” wanita yang cemburu itu, tersentak dari lamunannya.


“Apa penjelasan saya sudah dipahami, mbak?” tanya wanita itu. dari seragamnya, bisa ditebak kalau dia adalah salah satu pegawai dari resort ini.


“Aduh, maaf banget, mbak. Tadi, out of focus. Abis, pemandangan di sekitar sini, ngundang banget buat mata saya jelalatan” jawab Wanita yang cemburu itu.


“Ha ha ha ha. mbak Stevani bisa aja” komentar pegawai resort itu.


“Intinya, apa yang mbak Vani ajukan, bisa kami berikan. Untuk sepuluh orang, dua hari satu malam, fasilitas penuh, dengan harga yang mbak Vani ajukan” lanjut pegawai resort itu.


“Oh, bagus. Kalo gitu, tolong kirimkan ulang penawarannya ya, mbak! Tapi dengan detil, sesuai dengan yang saya sampein tadi” jawab dia yang dipanggil Stevani.


“Baik, mbak. Saya kan buatkan penawaran lagi ke Bu Isma” jawab pegawai resort itu.


“Oke, saya langsung pamit, ya?”


“Loh, nggak jadi nyobain fasilitas kamar sama kolamnya, mbak?”


“Nggak lah. Udah keburu jealeous sama yang lagi romantis” dia menunjuk ke arah Budi dan Adel.


“Emang kenapa, mbak?”


“Nasib jomblo emang begini”


“Ha ha ha. Mbak Vani bisa aja. Masa iya, secantik mbak Vani, jomblo?”


“ He he. Ya udah, aku cabut, ya?” pamitnya lagi, sambil beranjak.


“Baik, mbak. Terimakasih sudah mengunjungi resort kami. Semoga, kerjasama dengan PT. PRAM bisa berlanjut terus” jawab pegawai resort itu.


“Oke”


Stevani langsung balik badan setelah berjabat tangan. Langsung menuju parkiran, dan memasuki mobilnya. Dari kaca pintu sebelaj kiri, dia bisa melihat dengan jelas, bagaimana romantisme dua sejoli itu masih terus berlangsung.


“Pantes tadi Budi aku ajakin pergi, nggak mau. Ternyata udah diduluin si sinden. Apa sih yang dia liat dari si sinden itu? Cantik? cantikan aku. Seksi? Seksi apanya? Kerempeng gitu” Sambil geleng-geleng kepala, dia menyalakan mesin mobilnya. Dan perlahan pergi dari resort itu.

__ADS_1


__ADS_2