Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
ternyata dokter yang dulu itu


__ADS_3

“AMPUUUUN”


Orang itu rupanya telah sampai pada batas ketahanan fisiknya. Dia menyerah dengan rasa sakit yang dia terima.


“Dokter Gea. Dokter Gea” kata laki-laki itu lirih.


Budi mendekatkan telinganya, sebagai sarkasme. Seolah dia belum mendengar apa yang laki-laki itu katakan.


“Dokter Gea, rumah sakit daerah” kata laki-laki itu lagi.


Memerah mata Budi mendengar jawaban laki-laki itu. Dia tahu, dokter Gea yang dimaksud laki-laki itu adalah dokter yang pernah memfitnahnya.


Terlebih saat laki-laki itu bilang, sudah sejak bengkel ini berdiri, dia beroperasi. Dan selalu dengan modus yang sama.


Tentang Brandon, dia mengaku tidak kenal namanya, tapi sering melihatnya. Dia yang membukakan jalan, dengan cara menyirep semua yang ada di bengkel ini. Baik malam, maupun siang hari sekalipun.


Sontak Budi menghadiahi si Brandon dengan balok kayu. Sekujur tubuhnya dia hadiahi dengan pukulan-pukulan keras. Tapi Brandon masih bisa tersenyum.


Saat Budi bertanya, apakah dokter Gea itu terkait jaringannya Sandi, laki-laki itu mengiyakan. Tapi saat dia bertanya apakah mereka terkait dengan jaringannya bos Bejo, laki-laki itu bingung.


Lebih lanjut laki-laki itu mengatakan, kalau sekarang sedang terjadi perselisihan diantara mereka. Tapi intinya, semuanya berasal dari bos Bejo.


Sandi punya atasan yang merupakan bawahannya bos Bejo. Semua narkoba yang beredar di kota ini merupakan supplai dari bos bejo. Dikoordinasikan oleh atasannya Sandi, dan diedarkan oleh kelompoknya Sandi.


Jalur peredarannya memanfaatkan profesi dokter, apoteker, dan juga profesi lain, seperti bengkel kayu ini. Tentunya untuk transaksi skala besar, buat bandar dari kota lain.


“Tunjukin rumahnya!” perintah Budi.


“Tapi, tapi, ”


“AAAAAAA”


Belum selesai dia protes, Budi sudah menghadiahinya sayatan lagi. Sontak dia menjerit lagi, kesakitan.


“Ampun, ampun. Oke, oke. Saya tunjukin, saya tunjukin” kata laki-laki itu.


Budi mencabut potongan kayu yang dia tancapkan itu. Dengan dibantu anak buahnya kang Sukron, laki-laki itu mencoba berdiri.


“Si Brandon gimana, bos?” tanya kang Sukron.


“Iket seluruh tubuhnya! Kasih beton tiang bendera, biar berat! Terus, lempar ke laut!” jawab Budi.


“Ngak dibikin linglung aja, bos?”


“Nggak usah. Pasang mata aja, kang!”


“Oh. Siap, bos. Gampang itu”


Kang Sukron dan akan buahnya segera menjalankan apa yang diperintahkan Budi. Si Brandon masih tersenyum, sekalipun dia akan menjumpai keadaan yang membahayakan nyawanya.


Budi tahu, kalau menceburkan si Brandon ke laut bukanlah pilihan tepat. Tapi paling tidak, itu cukup untuk membuat Brandon bekerja keras. Karena Budi tahu, si Brandon bukanlah lawannya. Tak ada hukuman yang bisa menghentikan si Brandon kecuali kematian.


Lagipula Budi juga tidak yakin, kang Sukron bisa membuat Brandon linglung. Dia punya ilmu sirep, pasti dia punya ilmu supranatural lain.


“Udah siap, bos” seru kang Sukron.


Budi mengangguk, lalu mengambil sebuah golok.


“Kalian jaga orang-orang ini!” perintah Budi pada anak buah kang Sukron.

__ADS_1


“Ayo, kang!” ajak Budi pada kang Sukron.


Bersama-sama, mereka menggotong si Brandon menuju hutan yang berbatasan lagsung dengan laut selatan. Lalu anak buah kang Sukron melemparkan si Brandon ke laut. Mereka menunggu beberapa saat.


“Udah, yuk!” seru Budi.


Setelah yakin si Brandon tidak tersangkut tebing, Budi mengajak kang Sukron dan yang lain untuk kembali ke bengkel kayu. Saat tiba di bengkel, ternyata Adel sudah terbangun. Dan dia bingung dengan apa yang dia lihat.


“Boleh pinjem mobil, Del?” tanya Budi, tanpa basa-basi.


“Oh. Iya, boleh” jawab Adel.


“Ambilin kuncinya, dek!” pinta Adel pada Madina.


Dia langsung berlari kembali ke atas untuk mengambilkan kunci mobil. Sedangkan kang Sukron dan anak buahnya, menyiapkan penyusup tadi.


“Ini, mas”


Madina telah kembali ke bawah, dan menyerahkan kunci mobilnya. Budi menerimanya, masih dengan sorot mata tajam.


“Yang ini gimana, bos?”


Salah seorang anak buahnya kang Sukron menanyakan orang yang menusuk si penyusup tadi.


“Lepas aja!” jawab Budi.


Mereka saling berpandangan, tapi sama-sama tidak mengerti. Akhirnya mereka melakukan apa yang diperintahkan Budi.


“Kalian berdua, ikut di mobil! Yang lainnya, ikut dari belakang!” perintah Budi.


“Siap, bos” jawab anak buah kang Sukron.


“Panggil Erika sama Aldo, kalo perlu!” lanjut Budi.


“Kenapa nggak Zulfikar aja?” tanya Adel.


Budi tidak menjawab.Hanya tatapan matanya saja yang berbicara. Adel juga tidak melanjutkan pertanyaannya. Dia hanya mengangguk mengiyakan perintah Budi. Budipun pergi sambil menggunakan masker buff.


Mereka berkendara menuju arah timur. Cukup jauh juga dari watu karung. Karena dari pusat kota saja masih jauh lagi ke timur.


Walau sempat sangsi, tapi mereka mengikuti saja petunjuk si penyusup itu. Karena penyusup itu berkali-kali bersumpah kalau dia tidak berbohong. Akhirnya merekapun sampai pada sebuah rumah, yang agak terpisah dari kerumunan rumah-rumah lainnya.


“Kalian berdua, bawa dia duluan! Aku di belakangnya” perintah Budi.


“Siap” jawab anak buah kang Sukron.


“Suruh yang lain menyebar ke sekeliling rumah, kang!” perintah Budi pada kang Sukron.


“Siap” jawab kang Sukron.


Merekapun langsung bergerak. Sesuai dengan perintah, semuanya bergerak menuju posisi masing-masing.


*Tok tok tok*


Anak buah kang Sukron mengetuk rumah dokter Gea. Terdengar suara wanita berseru dari dalam rumah. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat.


*Ceklek*


“Haa”

__ADS_1


Seorang wanita membukakan pintu, dan terkejut melihat siapa yang datang.


“Apa kabar, dokter?”


Dia semakin terkejut mendengar suara Budi. Dia langsung paham degan situasai yang sedang dia hadapi. Diapun langsung kabur masuk ke dalam rumah. Kang Sukron memperingatkan anak buahnya.


“Aaaa”


Terdengar pekikan dari arah belakang rumah. Tanpa bisa mengelak, si dokter perempuan itu tertangkap oleh anak buah kang Sukron. Diapun dibawa masuk ke dalam rumah. Rupanya dia tinggal sendirian.


“Saya tidak akan menyakiti anda, Dokter. Saya cuman pengen tahu, siapa yang nyuplai narkotika ini?” tanya Budi, sambil mengacungkan obat-obatan yang disusupkan ke bengkel kayunya.


Dokter itu diam, tak mau menjawab. Budi menunggu dengan menatap mata dokter itu lekat-lekat. Walaupun tampak takut, tapi dokter itu tetap bungkam.


“Kamu lihat dok, laki-laki ini sampe nggak bisa jalan. Aku bahkan mampu bikin dia nggak bisa makan. Pastinya kamu nggak mau kan, ngerasain luka itu?” tanya Budi lagi.


Dia memainkan pisau dapur, yang dia dapatkan di dapur dokter itu. Terlihat raut tegang di wajahnya. Namun dia berusaha untuk tetap bungkam.


“Aa”


Dokter Gea memekik, saat Budi menyentuhkan ujung tajam pisau itu ke pahanya. Celana pendeknya, sudah pasti tidak mampu melindungi paha mulusnya.


Matanya nanar menatap pisau yang bergeser di paha itu. Tapi dia masih berusaha bungkam.


“AAAA”


Kali ini dia berteriak cukup kencang. Dia merasakan sakit di pahanya yang tertusuk ujung pisau yang dipegang Budi. Walaupun suaranya terdengar sampai luar, tapi Budi tampak tidak peduli.


*Kreekk*


“AAAAA”


Budi menarik sedikit pisaunya, menimbulkan sayatan pada paha dokter Gea. Sontak dokter Gea menjerit kesakitan. Tapi Budi masih tidak peduli dengan suara kencang dokter itu.


*Kreekk*


“AAAAA”


Darah segar mulai mengucur membasahi paha tanpa penutup itu. Dokter Gea menggeleng-gelengkan kepalanya. Buat wanita yang bukan kombatan, rasa sakit itu sudah tidak tertahankan.


“Oke, oke” kata dokter Gea kemudian.


Dia masih meringis dan menangis menahan sakit di pahanya. Butuh beberapa lama untuknya menenangkan diri. Budi masih lekat menatapnya. Menunggunya berbicara.


“Sales obat, sales obat” kata dokter Gea.


“Tunjukkan rumahnya!” perintah Budi.


“Saya nggak tahu” Jawab dokter Gea.


*Kreekk*


“AAAAA”


Dokter Gea menjerit lagi. Dia menggelengkan kepalanya semakin kencang.


“Oke, oke” katanya sambil menangis.


Dokter Gea menyanggupi permintaan Budi. Budipun mencabut pisaunya. Budi memerintahkan anak buah kang Sukron untuk membalut luka dokter Gea. Lalu mereka pergi menuju rumah orang yang disebut dokter Gea sebagai sales obat.

__ADS_1


__ADS_2