Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
laporan intelejen 2


__ADS_3

“Loh, kok?”


Budi merasa menemukan sesuatu saat membaca daftar kimia yang membentuk senyawa narkoba itu. Walaupun dibilang baru rumusan awal, tapi komposisinya mirip seperti yang terdapat pada rotan yang dia tes di laboratorium tempo hari.


“Kenapa, ngger” tanya bu Ratih, lirih.


“Komposisinya mirip sama hasil tes lab pada rotan di PRAM, bu” jawab Budi.


“Apa?” seru bu Ratih lirih.


“Bukan berarti pak Paul ikutan, bu. Kayaknya dia juga nggak tahu menahu soal rotan itu” kata Budi menenangkan ibunya.


Budi kembali membaca tulisan-tulisan dalam laporan itu, setelah ibunya menganggukkan kepalanya.


“Ngomong-ngomong, apa hubungannya ketiga perwira tinggi tadi, dengan bapak dan rekan-rekannya?” tanya bu Ratih. Budi menoleh.


“Di sini tertulis, kalau ketiga perwira itu merasa kesal, karena ternyata para jenderal di atas mereka ternyata menjadi pendukung peredaran narkotika itu. Mau mengadu juga tidak tahu lagi mau kepada siapa”


“Terus?”


“Di sini tertulis, kalau mereka bertiga pernah dipanggil panglima angkatan kepolisian yang baru. Ternyata panglima yang baru ini juga merasa risih dengan perbuatan rekan sejawatnya. Tak mudah untuk menyingkirkan para jenderal yang dekat dengan keluarga cendana”


“Wah. Ngelawan keluarga cendana sama aja bunuh diri” komentar bu Ratih.


“Itu dia, bu. Secara rahasia, panglima angkatan kepolisian itu memerintahkan pada ketiga perwira itu untuk membentuk sebuah tim khusus, yang berisi orang-orang baru, yang sama sekali tidak tercantum dalam daftar resmi prajurit kepolisian”


“Loh. Terus?”


“Mereka digembleng langsung oleh kopasanda sejak awal. Identitas mereka diserupakan dengan beberapa prajurit intel yang sebenarnya telah gugur. Dari situ mereka menerima gaji. Selebihnya, mereka seolah tidak pernah ada” jawab Budi sambil menunjuk barisan kalimat yang menunjukkan siapa bapaknya dan teman-temannya sebenarnya.


Terdapat biodata dari tim khusus tersebut. Nama dan latar belakang mereka sama sekali berbeda dengan yang aslinya. Budi bisa tahu, karena di biodata bapaknya tercantum nama Suparlan bin Paeman. Dan sederet identitas yang sama sekali berbeda dengan asal-usul bapaknya.

__ADS_1


“Tapi kok bapak malah pake nama asli, buat menyamar? Kan jadinya kebawa sampe sekarang” tanya bu Ratih.


“Wah. Mana Budi tahu, kalo soal itu, bu. Budi doain deh, ibu mimpi ketemu bapak. Jadi bisa nanya sendiri langsung sama orangnya. He he” jawab Budi.


“Kamu ih, kok doanya gitu? Serem, ngger” sergah bu Ratih.


“Serem apanya, bu? Tempatnya bapak sih, enak banget, bu. Wah, istana ratu Inggris aja, kalah. Tamannya, luas banget. Sekalipun matahari kaya terik banget, tapi nggak panas, bu. Sejuk. Budi aja betah, bu”


“Tuh, kan. Kalo Budi betah di sana, terus nggak balik, gimana dong? Jangan ngomongin itu, ah! Serem”


“Hempf. He he. Iya deh, bu” kata Budi mengalah.


“Terus, apalagi yang bisa buat ngelawan mereka, ngger?” tanya bu Ratih.


Budi mengambil isi dari amplop selanjutnya. Ternyata isinya adalah data dari banyak perwira baik dari kepolisian maupun tentara yang terlibat peredaran narkoba.


Beberapa nama yang tertulis dengan angkat menengah, saat ini masih aktif dan menyandang pangkat jenderal. Beberapa lainnya, saat ini masih berpangkat menengah, namun memegang jabatan komando yang cukup strategis.


Saat Budi search di internet, ternyata nama-nama itu ada yang menjadi kapolda, kapolres, komandan batalion, dan yang paling sangar, adalah komandan skadron udara.


Banyak sekali foto-foto yang menunjukkan keterlibatan para perwira itu dalam peredaran narkotika. Belum lagi bukti-bukti lain, seperti surat perintah, nota, sidik jari, dan lain-lain.


Di halaman selanjutnya, Budi merasakan keberuntungan saat membacanya. Sebuah berkas yang menyatakan kesetiaan korps baret merah untuk ikut berjuang memberantas peredaran narkotika. Dan akan diwariskan turun-menurun ke generasi selanjutnya.


Di sini juga Budi baru mendapatkan jawaban, mengapa semudah itu si Cobra sudah berada di dekatnya lagi, bahkan setelah mengembalikan peralatan berat, tadi sore.


Tapi pertanyaan ibunya, tentang mengapa bukti-bukti ini tidak diteruskan oleh bapaknya, belum juga dia dapati jawabannya. Lantas dia mengambil isi amplop berikutnya. Di situlah pertanyaan itu tampaknya menemukan jawabannya.


Tema besarnya adalah kebuntuan. Bermula dari saat panglima angkatan kepolisian yang membentuk tim khusus itu dipensiunkan dini, digantikan orang lain, yang lebih bisa disetir oleh keluarga cendana.


Tak lama kemudian, muncullah geger yang berujung pada reformasi, dimana tentara dan polisi dipisah menjadi dua institusi berbeda. Dimana penanganan sipil, berada dibawah kewenangan polisi. Sedangkan tentara, hanya dikhususkan untuk berperang saja. Praktis, korps baret merah, yang menggembleng tim khusus inipun tidak bisa menjadi tempat bernaung.

__ADS_1


Seperti anak ayam kehilangan induk, tim inipun bimbang. Di berkas itu tertulis, mereka sempat melakukan pertemuan di suatu tempat. Mereka membicarakan kelangsungan operasi yang sudah lama mereka jalankan.


Mereka sepakat untuk tetap melanjutkan operasi secara mandiri.


Mereka juga sepakat, bahwa mereka akan terbagi menjadi dua kelompok. Ada yang tetap menyamar, ada yang membangun kekuatan dari dalam tubuh kepolisian. Satu diantara yang membangun kekuatan dari dalam, ialah Iwan Satria, si bule.


Si bule berhasil mempengaruhi petugas administrasi, untuk memutasinya dari lapangan ke kantor. Budi sampai geleng-geleng kepala membaca detil proses bagaimana si Iwan Satria itu mengganti semua berkas lamanya. Ruwet dan banyak tahapannya.


Tapi usaha memang tak menghianati hasil. Iwan Satria Bule berhasil masuk ke kantor dan menempati satu posisi strategis.


Dari situ, Iwan mulai membangun kekuatan untuk memberangus kelompoknya Moreno. Pertama-tama dia menyasar si Bejo.


Operasi pertama hampir berhasil, namun sayang, si Bejo berhasil kabur. Dari situ Bejo menyadari, ada kekuatan lain yang tidak kalah besarnya dengan kelompoknya. Si Bejopun membalas. Tapi tanpa kekuatan dari cendana, memuatnya tak begitu perkasa.


Penggerebekan kedua, berjarak sangat jauh dari penggerebekan pertama. Namun dengan hasil yang jauh lebih spektakuler.


Walau akhirnya tidak dipublikasikan, namun puluhan ton narkotika berhasil diamankan si bule dan timnya. Mengapa tidak dipublikasikan? Pastinya itu perintah dari keluarga cendana.


Namun lagi-lagi sayang, si Bejo, Handono dan juga bos mereka, Moreno, berhasil lolos.


Kerugian yang sangat besar itu membuat si moreno berang. Di berkas itu tertulis deretan cara yang dipakai Moreno untuk mendapatkan kekuatan dari dalam. Termasuk mengidentifikasi, siapa saja intel yang mengawasi mereka.


Lantas mereka melakukan pengejaran dengan kekuatan tak kurang dari satu SSK setiap pengejaran. Terutama saat mengejar personil-personil yang dicurigai membawa berkas bukti-bukti kejahatan komplotannya Moreno.


Tapi di jurnal itu, dituliskan bahwa pak Rouf tak kurang akal. Dia membuat salinan dari berkas itu, menjadi beberapa salinan. Dan sebenarnya salinan itu hanya sepuluh persennya saja yang sama. Sisanya, sengaja dibuat berbeda. Agar dikira hanya sedikit saja yang bocor dari operasai mereka selama ini.


Tapi berkas ini juga sempat hendak raib, saat pak Rouf menitipkan berkas asli ini ke salah satu rekannya. Sedangkan dia membawa yang palsu. Karena dia merasa dirinya sedang diincar si Handono.


Namun rupanya pak Rouf terkecoh. Yang mereka sasar ternyata adalah rekannya yang dititipi berkas asli ini.


Walau harus memukuli rekannya sendiri, bahkan harus membakar rumah rekannya itu dengan tangannya sendiri, namun untungnya pak Rouf juga masih sempat mengamankan berkas asli ini.

__ADS_1


Keesokan harinya, di bawah keramik lantai, tepat di bawah tulang belulang rekan kerjanya, pak Rouf masih berkesempatan mengambil berkas asli ini, dan menyimpannya kembali.


Untuk sementara waktu, si Bejo, Handono dan Moreno mengira kalau berkas bukti itu telah hilang. Tapi tak berselang lama, mereka mendapat kabar dari intel mereka di internal kepolisian, kalau masih ada beberapa salinan lagi yang pernah dibuat.


__ADS_2