Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
doa meminta pelukan


__ADS_3

Budi mengibas-ibaskan seragamnya sebelum diangin-angikan di jemuran darurat. Jemuran darurat ini adalah tempat untuk menggantungkan jemuran yang belum kering, sedangkan hujan turun dengan derasnya. Sampai – sampai jemuran di teras terkena tampias.


*Klek*



*Graak*


Adel keluar dari kamar mandi, dia tercekat karena tidak menyangka akan berpapasan dengan Budi di depan kamar mandi.


Dia terpana melihat Budi hanya memakai kaos singlet putih yang ketat di badannya. Budipun begitu. Dia terpana melihat Adel berbalut gaun terusan milik Putri.


Gaun itu tidak punya lengan, hanya seutas tali saja yang menggantung di setiap pundak Adel. Tubuh Putri, sedikit lebih kurus dibanding Adel. Praktis, saat gaun itu dipakai Adel, tampak seperti kekecilan. Tapi malah justru menampakkan keindahan dari lekuk lekuk tubuh Adel.


“Mbak”


Sebuah suara membuyarkan angan keduanya. Mereka serempak menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata itu suara Putri.


“Pake nih, mbak. Sweaternya! Ada garangan” lanjut Putri sambil memberikan sweaternya.


Adel tergelak mendengar kata garangan. Dia menerima sweater itu. Dia membalikkan tubuh,membelakangi Budi. Lalu memakai sweater itu. Budi masih terpana, sekalipun yang dia lihat kini adalah punggung.


“Ngger”


Seseorang menegur sambil menepuk pundak Budi. Ternyata itu adalah ibunya.


“Mbok jangan gitu amat ngeliatnya! Ora becik” lanjut Bu Ratih.


“Enggeh, Bu” jawab Budi.


Kemudian Budi berlalu ke depan. Dia duduk di teras depan, menikmati teh hangat yang rupanya sudah disiapkan oleh Putri.


“Bud” sebuah teguran membuatnya menoleh.


“Eh, Adel. Udah pake sweaternya?” goda Budi. Adel tersenyum.


“Emang kamu ngeliatin aku, ya? sampe ditegur sama ibu” tanya Adel.


“Eemm, maaf Del. Aku udah lancang curi-curi pandang sama kamu” jawab Budi.


Adel tidak segera menjawab. Dia tersenyum, tapi kemudian juga seperti memikirkan sesuatu.


“Aku juga minta maaf ya, Bud. Udah lancang meluk-meluk kamu. Jangan marah, ya!” kata Adel.


Budi bingung malah jadinya. Baru kali ini ada wanita yang minta maaf padanya karena memeluknya.


Biasanya juga, wanita yang dia kenal, bebas-bebas saja mau melakukan apa saja. Yang lebih dari memeluk juga tidak pakai ijin. Sekalipun bukan siapa-siapanya.


“Iya, kamu ih. Pake meluk-meluk segala, kenapa sih?’ tanya Budi.


Wajahnya yang terlihat serius membuat Adel salah tingkah. Adel merasa apa yang menjadi ketakutannya terjadi. Ternyata Budi hanya baik kepadanya karena ingin membalas jasa atas bantuan yang pernah dia berikan. Bukan semata karena suka sama dia.


“Kalo aku ketagihan, gimana?” lanjut Budi. kali ini diiringi dengan senyuman merekah setengah menggoda.


Adel sempat bingung dengan perubahan ekspresi Budi. Dia masih menebak-nebak, arti dari senyuman itu.


“Rejeki belum tentu datang dua kali” jawab Adel. Dia ingin melihat reaksi Budi.


“Aduuuuh. Cuman sekali, ya?” sahut Budi berlagak mengeluh.


“Ya Alloh, tolong Budi, ya Alloh!’ lanjut Budi menirukan doanya Baim cilik. Tanganya dia angkat tinggi ke udara.


Adel tertawa melihat kelakuan Budi. dia meminta sama Tuhannya hanya untuk bisa memeluknya.


Sekarang dia lega, ternyata tadi si Budi hanya mengerjainya. Itu tandanya, Budi bukan hanya sekedar ingin balas jasa saja. Bisa jadi, lebih dari itu. Budi menawarinya untuk minum teh. Tawaran yang susah ditolak disaat hujan begini.


Magrib pun tiba. Mereka sholat berjamaah di pimpin oleh Budi. Adel merasakan getaran tersendiri di setiap kalimat yang diucapkan Budi secara keras. Dia seperti menemukan kedamaian berada di tengah-tengah keluarga ini.


Selepas maghrib, Adel pamit untuk pulang. Bu Ratih memerintahkan Budi untuk menemaninya sampai ke rumah Adel.


Awalnya Adel menolak. Tapi bu ratih bersikeras. Kata beliau, sudah menjadi kewajiban Budi menjamin keselamatan Adel.


Sebuah pernyataan yang ambigu untuk Adel. Apakah maksud Bu ratih, Budi wajib menjamin keselamatannya sampai rumah, atau sampai selamanya?


Tapi apapun itu, Adel senang. Kebersamaannya dengan Budi hari ini masih akan berlanjut.


Budi mengawal Adel dari belakang. Sebelum sampai ke jalan raya, sempat Adi dan beberapa temannya mencegat Adel.


Adel ketakutan dihadang beberapa laki-laki berwajah garang. Tapi Budi segera datang dengan kecepatan tinggi, dan mengerem tepat beberapa mili meter di depan orang-orang itu. Membuat teman-teman Adi melompat ke belakang.


“Eh, cari mati, lu?” teriak salah satu dari mereka.

__ADS_1


Budi tidak menjawab. Dia langsung turun dan menghadiahi orang itu dengan bogem mentahnya.


“Anj***. Hyaaa”


Yang lain maju hendak meninju Budi. Tapi gerakan orang itu terlalu lamban untuk Budi. dengan mudahnya dia berkelit, dan memanfaatkan energi kinetik dari serangan itu untuk menjatuhkan orang itu sendiri.


Warga mulai keluar rumah mendengar keributan di jalan. Tapi tampaknya Adi dan teman-temannya tidak peduli. Mereka tetap bergiliran menlancarkan serangan. Tapi nyaris tidak membuahkan hasil.


Kalaupun ada yang berhasil menyarangkan tinjunya ke wajah Budi, tak lantas membuat Budi roboh. Dia masih berdiri kokoh dan balik menyerang.


Pada akhirnya tinggallah Adi sendiri yang tersisa. Melihat banyak warga yang menonton. Dia menunjukkan sikap seolah dia mampu mengalahkan Budi. dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Cincin. Ya, cincin akik dengan mata batu berwarna merah berkilau.


“Mati kau Bud” pekik Adi.


“Hyaaaaa” Dia berari mendekat dan melayang di udara.


*WUUUSSS*


Saat Adi melayangkan tinjunya, tanpa diduga, ada angin yang seolah mengikuti gerakan tangannya. Budi tahu, Adi memakai jimat. Dia bersiap dengan membentuk kuda-kuda.


*DUAAAAARRRRR*


“AAAAAA”


Terdengar bunyi ledakan yang cukup keras, disaat ayunan tinju Adi bertemu dengan tinjunya Budi. Keduanya terpental cukup jauh. Membuat warga yang menonton berteriak histeris.


“Budi”


Adel yang sedari tadi takut untuk beranjak dari motornya, seketika bereaksi. Dia standarkan motornya dan berlari menghapiri Budi. Belum juga sampai, Budi sudah bangkit dan berdiri lagi.


“Kamu nggak papa, Bud?” tanya Adel.


“Enggak. Nggak papa. Kamu sendiri?”


“Aku nggak papa”


“ADI”


Terdengar suara teriakan keras dari arah jalan depan. Sekilas terlihat kilatan dari benda panjang.


Ternyata orang itu adalah pak Kusno. Dia datang dengan membawa pedang samurai. Dia acungkan sambil berjalan menuju tempat anaknya terjatuh.


Seketika teman-teman Adi berhamburan, lari tunggang-langgang. Tak terkecuali dengan Adi sendiri. Dia ikut lari bersama gerombolannya. Mereka kabur dengan mengendarai motor legendaris dua tak.


Sebuah suara menyapa Budi dari belakang.


“Ibu? Nggak papa kok, Bu” jawab Budi.


Tapi bu Ratih tidak langsung menerima jawaban itu. dia memeriksa tubuh Budi dari atas sampai bawah. Barulah dia merasa lega, mendapati Budi tidak terluka. Hanya sedikit lebam di wajahnya.


Di depan sana, terjadi drama antara pak Kusno dan istrinya. Bu Kusno tidak terima anaknya diacungi pedang samurai begitu. Pak Kusno tak kalah marahnya, mendapati istrinya malah membela kebengalan anaknya.


Hampir saja terjadi tragedi. Untung saja sesepuh kampung ini berhasil meredam kemarahan pak Kusno. Bu Kusno pergi dengan masih marah-marah. Karena merasa malu, pak kusno pun berlalu tanpa pamit. Hanya sedikit gestur tubuh, yang dia berikan kepada salah satu sesepuh, sebagai isyarat pamit.


Tanpa sadar, Adel memeluk lengan Budi karena takut dengan drama yang hampir berujung tragedi tadi. Budi juga tidak menyadari hal itu. Dia mengira kalau yang memeluk tangannya itu adalah ibunya.


“Ehm”


Putri mendehem pelan. Membuat Adel dan Budi tersentak, dan memisahkan diri. Adel tampak salah tingkah dan malu, mendapati dirinya ketahuan memeluk kakaknya Putri. Sedangkan Budi terlihat bingung.


Dia menunjuk ke arah ibunya, yang ada di sebelah kanannya. Lalu berpindah ke sebelah kiri, ke arah Adel. Lalu dia tertawa, menyadari kekeliruannya. Bu Ratih berkacak pinggang. Dia bisa menebak apa maksud Budi menunjuknya.


“Terimakasih ya Alloh, udah kabulin doa Budi. Lagi dong!”


Budi menengadahkan tangannya ke atas, lalu menirukan lagi logat Baim cilik saat berdoa. Kontan, Adel mendelik lalu mencubit pinggangnya.


Para warga yang mengerti maksud Budi, tertawa lepas. Beberapa dari mereka ada yang menggoda bu Ratih. Membuat bu Ratih geleng-geleng kepala. Tawa Adel merupakan pertanda bagi Budi, kalau Adel sudah terlepas dari cekaman rasa takut.


“Udah sana anterin, ngger! Keburu malem” perintah Bu Ratih.


Adel terkesiap mendengar perintah itu. Rasa takutnya kembali hinggap. Tapi dia juga berpikir, memang tidak baik kalau dia tidak segera pamit. Akan timbul fitnah. Merekapun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.


Sepanjang perjalanan, Adel sering melihat ke arah kaca spion. Memastikan motor Budi ada tepat di belakangnya. Budi menyadari ketakutan Adel. Dia menyalakan lampu hazard sebagai pembeda, antara motornya dengan motor lain. Sehingga, tanpa melihat kaca spion pun, kedipan hazardnya sudah cukup membuat Adel tenang.


Akhirnya mereka sampai di rumah Adel. Terasa sangat sunyi di sini. Jarak antar rumah yang agak berjauhan, membuat suara antar rumah tidak terdengar ke rumah lain. Hanya suara binatang malam yang terdengar.


“Aku pulang ya, Del” pait Budi.


“Nggak masuk dulu?” tanya Adel.


“Udah malem. Nggak baik, takut jadi fitnah” jawab Budi.

__ADS_1


Adel terkesiap mendengar jawaban itu. berbeda sekali dengan Luki, yang memaksakan diri untuk main ke rumah, walau sudah larut malam.


“Ya udah, deh. Makasih, ya. udah nganterin aku sampe rumah” jawab Adel.


“Aku yang makasih. Kamu udah mau nganterin aku. Mana keujanan, lagi” tolak Budi, halus. Senyumnya sukses menular ke Adel. Memancing keluar, senyum manis yang indah luar biasa.


*Seeeeesssstttt*



*Srek srek srek*



*Seeeeeesssstttt*


Terdengar suara mendesis dari arah tumpukan kayu sisa dan serbuk gergaji.


“WAAAAA”


Adel berteriak kencang sekali.


Reflek dia maju dan memeluk tubuh Budi. Wajahnya dia sembunyikan di dada Budi. Budi bingung, ada apa dengan Adel.


“Ulaaaar” katanya setengah terisak.


Adel menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, sebagai ekspresi rasa takut. Budi melihat ke belakang. Seekor ular kobra berada beberapa meter darinya. Ular itu sedang menegakkan badannya. Artinya dia sedang merasa terancam. Mungkin ular itu kaget mendengar pekikan Adel.


“Diem, Del!” pinta Budi. Tapi Adel masih bergerak-gerak.


“Diem, Del. Kakinya jangan dihentak-hentakin gitu. Diem aja! Dia kaget denger kamu teriak” pinta Budi lagi. Adel berusaha menghentikan hentakan kakinya. Tapi tubuhnya gemetaran.


“Diem, ya! Dia cuman mau lewat kok” hibur Budi.


Budi tidak hanya sekedar menghibur. Kenyataannya ular itu memang tidak berniat untuk berkonfrontasi dengan mereka.


Ular itu kembali merendahkan badannya, dan kembali melata. Ular itu bergerak ke depan menuju jalan. dia menyeberang jalan, lalu menghilang di semak – semak di seberang jalan.


“Udah, Del. Ularnya udah pergi” kata Budi.


“Yang bener?” tanya Adel. Dia masih terisak karena takut.


“Beneran. Udah nyeberang jalan. Udah ilang tuh, di semak-semak sana” jawab Budi.


Adel masih belum berani untuk melihat kenyataan. Dia masih tetap memeluk Budi. Budi tersenyum menyadari doanya yang asal tadi, malah dikabulkan.


Momen ini benar-benar dia resapi. Entah kapan lagi dia bisa merasakan pelukan seperti ini.


“Del, ada pak RT” kata Budi.


“HA?”


Adel memekik lagi, dan serta-merta melepas pelukannya. Dia melihat ke arah jalan, tapi tidak ada siapapun di sana.


“Heem”


Adel berkacak pinggang melihat Budi tertawa.


“Aduuh”


Suara Budi membahana terkena cubit Adel. Lalu mereka tertawa, menyadari apa yang terjadi. Dalam hati, Adel mengakui kalau dirinya malu, main peluk saja. Tapi dia juga merasa, kalau dia sama sekali tidak merasa rugi, telah memeluk Budi.


“Aku pulang, ya?” pamitnya lagi.


“Pamit?” tanya Adel.


“Iya, lah” jawab Budi sambil tergelak. Dia merasa pertanyaan itu terlalu aneh.


“Ularnya beneran udah pergi kan?” tanya Adel memastikan. Dia juga menyebar pandangan ke sekitar.


“Udah, cantik. Dia lewat aja” jawab Budi.


“Ya udah, ati-ati di jalan, ya”


“Iya. Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam.


Akhirnya perjumpaan mereka kali ini telah berakhir. Budi melajukan motornya diiringi lambaian tangan Adel. Di sepanjang jalan, dia hampir selalu tersenyum mengingat rentetan kejadian tadi.


Dia merasa semakin tergila-gila dengan Adel. Rasa ingin memiliki itu semakin kuat. Terlebih, Adel juga sepertinya suka dengannya. Walau belum tersurat. Tapi dari sikapnya, dia seperti nyaman berada di dekatnya.

__ADS_1


Malam ini, dia tidak nyenyak tidur. Pikirannya melayang pada sosok Adel. Sosok yang sangat ingin dia miliki. Wajah ayu nan rupawan itu selalu menghiasi pelupuk matanya. Selalu melintas di angannya. Sehingga susah untuknya terlelap tidur.


Rasa ingin memiliki itu sudah semakin berat dan mulai menyiksa batinnya. Dalam pikirannya, masih terlintas satu logika. Kalau dia ingin memilikinya, satu-satunya cara, ya harus mengungkapkan perasaannya. Terlepas apapun jawaban yang akan Adel berikan nanti.


__ADS_2