Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
jadian


__ADS_3

Sore ini, selepas dari kuliah, Adel langsung meluncur ke Fishbed cafe. Tak perlu waktu lama untuk bisa sampai ke sana.


Sesampainya di fishbed cafe, suasana masih tampak sepi. Wajar, karena cafe juga tampaknya baru saja buka. Dan juga bukan malam minggu. Dari parkiran, Adel bisa melihat sosok Budi sudah menunggunya di meja biasa. Budi tampak gelisah, membuat Adel bertanya-tanya dalam hati, ada apakah gerangan.


“Assalamu’alaikum” sapa Adel memberi salam.


“Wa’alaikum salam” jawab Budi.


Tampak kegugupan di wajah Budi, sekalipun dia mencoba untuk tersenyum. Dengan isyarat tangan, Budi mempersilakan Adel untuk duduk.


“Ada apa, Bud? kamu kenapa kaya gugup gitu?” tanya Adel.


“Ee, ee, enggak. Aku, cuman nggak enak aja sama kamu” jawab Budi.


“Nggak enak? Nggak enak kenapa?”


“Ya, karena, tadi pagi aku telat masuk kerja”


“Loh, kok bisa? motor Putri udah bisa, kan? Kamu bawa motor sendiri, tuh”


“Iya, udah bisa, emang”


“Terus? Kamu sakit?” tanya Adel lagi.


Kali ini raut wajahnya terlihat berbeda. Ada kesan hawatir tergambar di wajahnya. Dia menyorongkan tangannya, dan menempelkan telapak tangannya di kening Budi. budi terkesiap. Dia tidak menyangka Adel akan menyentuh keningnya.


“Enggak kok. Aku nggak sakit. Aku baik-baik aja” jawab Budi.


“Iya, sih. Nggak panas. Terus, kenapa?” tanya Adel semakin penasaran.


Budi tidak langsung menjawab. Dia menatap wajah Adel. Ada sepasang mata yang teduh di sana. Mata yang sanggup membuatnya gugup dan detak jantungnya berpacu.


“Aku nggak bisa tidur, Del” jawab Budi singkat.


“Nggak bisa tidur? Tumbenan? Kamu punya riwayat insomnia, gitu?”


“Enggak. Aku ngak pernah insomnia. Baru kali ini aku bener-bener nggak bisa tidur”


Adel tertegun. Dia mengingat-ingat kembali apa-apa yang telah terjadi dengan Budi. dan apa-apa yang disampaikan ibunya Budi.


“Kamu mikirin apa, sih? Kamu abis dapet telepon dari jakarta, ya? makanya kamu kepikiran, mau kembali ke sana atau tetap kerja di PRAM”


Budi tak segera menjawab. Dia masih kebingungan bagaimana caranya mengungkapkan perasaannya. Seumur-umur, baru kali ini dia ingin menyatakan cinta pada seorang wanita. Sebelumnya, tidak pernah dia menjalin hubungan atas dasar cinta. Apalagi sedalam ini.


“Nggak usah terlalu dipikirin, Bud! Jangan mikir, karena aku yang kasih link ke kamu, kamu jadi ngerasa nggak enak buat cabut dari PRAM! Semua terserah kamu. Kamu yang paling tahu, mana yang terbaik buat kamu. Nggak usah mikirin gimana sejarahnya kamu bisa masuk PRAM!”


“Aku mikirin kamu, Del” jawab Budi.


Adel terkesiap. Tapi pernyataan Budi terasa ambigu. Adel masih menunggu kelanjutan kalimat itu.


“Semalaman aku kebayang-bayang terus kebersamaan kita” lanjut Budi.


Ada senyum tipis mengembang di bibir Adel. Tapi terlalu tipis untuk bisa dilihat mata yang tidak jeli.


“Maksudnya? Kebersamaan yang mana?” tanya Adel.


“ Semua kebersamaan kita. Terlebih, kebersamaan kita di sore kemarin” jawab Budi. sejenak mereka saling menatap, tanpa ada suara.


“Oke, i’m listening” kata Adel.


“Mungkin terdengar norak, lebay, atau semacamnya. Sumpah, demi apapun, bayangan wajah kamu selalu melintas di pikiran aku. Aku belum pernah ngalamin ini, Del” kata Budi. Senyum Adel semakin mengembang. Walau masih tipis.


“Pelukanmu, sikap manjamu, aku terjemahin berbeda, Del” lanjut Budi.


“Terjemahin gimana?” tanya Adel.


Budi terdiam lagi. Dia tampak kesulitan merancang kata-kata. Hanya tatapan matanya yang begitu lekat, tak bisa lepas dari tatapan mata Adel. Adel bisa merasakan getaran dari tatapan mata itu.


“Aku cinta sama kamu, Del” jawab Budi.


Adel terkejut mendapat tembakan dari Budi. Walau dia bisa membaca arah pembicaraan Budi, tapi dia tidak menyangka akan secepat ini Budi menyatakannya. Dia menutup mulutnya yang terbuka karena keterkejutan itu.


“Aku tahu. Aku tahu ini terlalu cepat. Tapi aku nggak tahu mesti gimana lagi. Aku udah tergila-gila sama kamu, Del. Sampe orang lain aja, keliatannya tuh, kamu” lanjut Budi. Adel masih tak bisa berkata-kata. Membuat Budi salah tingkah.


“Aku, aku, aku nggak tahu gimana caranya aku meredam gejolak rasa cinta di hatiku ini. Aku pikir, satu-satunya jalan, hanyalah dengan bertanya sama kamu” lanjut Budi lagi. Adel hanya menggerakkan alisnya, sebagai isyarat menanyakan kelanjutan kalimat itu.


“Apa kamu mau jadi pacarku?” pungkas Budi.


Lagi-lagi adel tidak segera menjawab. Dia hanya menatap mata Budi dengan lekatnya. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Sedangkan Budi terus berharap-harap cemas. Dia tidak tahan dipandang Adel sedemikian rupa. Dia menundukkan kepalanya, menghindari tatapan yang mengandung beribu arti itu.


“Iya, aku mau” Adel membuka suara.


Suara itu sanggup menyentakkan kepala Budi hingga kembali tegak menatap lawan bicaranya. Gantian tatapan matanya yang mengandung ribuan pertanyaan.

__ADS_1


“Aku juga cinta sama kamu, Bud” jawab Adel.


Kali ini Budi yang menutupi mulutnya. Dia terkejut, dia belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dia dengar.


“Iya, aku mau jadi pacarmu” lanjut Adel.


“Alhamdulillah”


Serta merta Budi bergeser ke samping, lalu merendahkan tubuhnya. Dia melakukan sujud syukur. Karyawan cafe itu bersorak senang melihat Budi sujud syukur.


Tanpa mereka sadari, ternyata ada beberapa pasang mata yang memperhatikan percakapan mereka. Saat Budi bangkit dari sujudnya. Para karyawan cafe itu memanggil Budi. Lalu mereka memberikan hormat, dengan membungkukkan tubuh mereka. sebagai apresiasi atas jadiannya Budi dengan Adel.


Budi balas membungkuk sebagai ucapan terimakasih atas apresiasi itu.


Budi merendahkan tubuhnya lagi. Dia berlutut di depan Adel, lalu mencium tangan Adel. Kembali para karyawan cafe itu bersorak. Mereka baper dengan pasangan baru ini.


“Bud” tegur Adel.


Budi yang masih tertawa mendengar kelakar dari para karyawan cafe itu, tersentak dan menoleh pada Adel.


“Ya?”


“Em, gini. Aku punya satu situasi yang kamu harus tahu.” Kata Adel.


“Apa?” tanya Budi.


Adel tidak segera menjawab. Gantian dia yang takut salah bicara. Tapi senyum Budi menguatkan hatinya.


“Kamu tahu kan, gimana tanggapan orang-tuaku sama kamu, tempo hari?” tanya Adel pelahan dan hati-hati.


“Ya, terus? Tanya Budi. Dia belum menangkap hubungannya.


“Aku malu buat bilangnya, Bud”


“Kenapa malu? Nggak ada orang yang sempurna di dunia ini”


“Ya, dan salah satu ketidak sempurnaan bapak-ibuku adalah matre. Semua diukur pake harta. Ngomong pelan aja nyakitin, kan?”


“Oke. Aku tahu maksud kamu. Walau sebenernya, itu nggak seberapa buat aku”


“Itu karena mereka tahunya kamu cuman temen jauh aku. Kalo mereka tahu kamu itu pacar aku, emm” Adel tidak mampu meneruskan kata-katanya.


“Apa udah pasti begitu? Belum tentu juga. Jangan buruk sangka, ah!”


Budi bingung dikasih pilihan semacam itu. Karena bagi dia, backstreet itu belum ada dalam kamusnya. Hanya urusan nakal saja dia backstreet.


“Kita main cantik aja” jawab Budi.


“Maksudnya?”


“Ya, backstreet sih, judulnya. He he”


“Kamu pilih itu?”


“Tapi gini. Aku tetap main ke rumah kamu. Tapi ngakunya sebagai teman aja. Tukang bengkel kek, tukang tenda, kek. Kan pacaran juga nggak ngapa-ngapain, kan?”


“Emang mau ngapain?’ tanya Adel setengah melotot.


“Itu dia. Jadi nggak ada bedanya kan, ngaku teman juga? Ngaku pacar juga cuman duduk deketan sama ngobrol. Ngaku tukang ojek lebih mantap kayaknya”


“Ya Alloh, Bud. Kamu sadar nggak sih, sama yang kamu bilang itu? Tukang ojek? Emang kamu nggak ngerasa sakit hati, tempo hari diledek ibu kaya gitu?”


“Biasa aja. Namanya juga mau dapet mutiara. Ya harus nyelem dulu. Ketemu hiu? Ya santai aja. Emang hiu hidupnya di air, wajahnya sangar, giginya banyak"


“Suek, ortu aku dikata hiu” sahut Adel sambil tergelak.


“Ha ha ha ha”


“Udah, nggak usah dipikirin masalah itu! Kamu, emang pantes buat diperjuangin. Seberat apapun itu, worthed” lanjut Budi.


Adel tertegun, matanya berkaca-kaca. Dia terharu mendapat penghargaan sedemikian tingginya. Dalam hati dia berdoa, semoga Budi tidak mundur di tengah jalan. Apalagi di tumbukan pertama.


“Oke. Kalo itu udah jadi keputusanmu, aku setuju. Aku harap kamu kuat merjuangin cinta kamu itu” kata Adel. Suaranya terdengar menahan tangisnya.


Mereka berpegangan tangan. Mereka saling meremas jari. Menumpahkan rasa bahagia dan haru yang berebut keluar bagai letupan gunung berapi. Mata mereka saling menatap. Air mata itu tak sanggup lagi Adel bendung. Meluncur begitu saja mengiringi perasaannya.


*Tiiiiit, tiiiiiiit, tiiiiiiit*


Terdengar dering ponsel dari dalam tas Adel. Adel melepaskan tangannya dan memeriksa ponselnya.


“Eh, Bud. Sori banget, nih” kata Adel.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Aku ada janji. Aku udah terlanjur janji mau jemput ibu di widoro” jawab Adel.


“Oh, monggo. Nggak papa. Mau dikawal?”


“Ha ha ha. Emangnya presiden, pake dikawal?”


“Masa depanku” jawab Budi.


“Aih, bisa aja” komentar Adel.


“Yuk, aku temenin!” ajak Budi.


“Eh, emang ibu nggak jualan? Kan jamnya beresin lapak”


“Widoro sih, deket”


“Hem. Kayaknya kamu orangnya posesif, deh” komentar Adel.


“Masa sih?”


“Ha ha ha ha. Kali”


Setelah membayar minuman yang dipesan, Budi pergi menyusul Adel ke parkiran. Mereka konvoi seperti kemarin. Tapi di jalan yang lebar, sesekali Budi menyejajari Adel.


Dia menebarkan senyum bahagia. Senyum yang sukses memancing tawa renyah Adel. Tiba di dekat jalan masuk menuju sebuah dusun, Adel menghentikan motornya.


“Kayaknya, sampe sini aja mas, nganternya. Rumahnya udah keliatan, tuh” kata Adel sambil menunjuk ke sebuah rumah. Jaraknya tinggal seratus meter lagi.


Tapi budi tidak segera menjawab. Dia terpana dengan panggilan mas. Panggilan yang sebelumnya hanya diucapkan Adel saat ada ibunya, kini dia ucapkan, walau tidak ada ibunya sekalipun.


“Hei, mas. Kok ngelamun? Mikirin apa?” tegur Adel.


“Aku terkesima aja, denger kamu panggil aku, mas” jawab Budi.


“Kan kamu masa depan aku. Boleh dong aku belajar menjadi masa depan kamu?” kata Adel menjelaskan. Budi makin terkesima.


“Ya udah, aku pergi dulu, ya” pamit Adel.


“Oh, iya”


Budi tergagap saat Adel mengulurkan tangannya. Dan saat dia sambut, tidak hanya disalami, tapi tangannya juga dicium sama Adel. Adel tersenyum setelah mencium tangan Budi.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Akhirnya mereka berpisah. Budi masih sempat memperhatikan kepergian Adel, sampai menghilang di balik mobil yang parkir di pinggir jalan. Budi melajukan motornya menuju pasar. Masih ada kewajiban yang harus dia tunaikan.


Saat tiba di pasar, terlihat bu Ratih dan Putri baru mulai beres-beres lapaknya. Budi mengucapkan salam dengan senyum lebar. Tanpa bertanya, Budi segera mengambil pakaian gantinya. Hanya matanya yang bergerak-gerak memindai seisi lapak ibunya. Dia tersenyum dan bersiul-siul sambil berjalan menuju toilet pasar.


“Kangmasmu kenapa, Put?’ tanya bu Ratih.


“Nggak tahu, Bu. Seneng banget kayaknya. Kenapa, ya?” jawab Putri, sama-sama tidak tahunya.


Tak lama kemudian, Budi kembali. Masih dengan bersiul-siul ria. Dengan bahasa isyarat, dia menyuruh ibunya untuk duduk saja, tidak perlu ikut membereskan lapak.


Dia juga memberikan toples uang kepada ibunya, sebagai isyarat kalau dia menyarankan ibunya untuk menghitung hasil penjualan hari ini.


Beberapa pedagang mengungkapkan rasa irinya pada bu Ratih. Yang sekarang tidak perlu grasak-grusuk sendiri. Tinggal duduk manis menghitung laba. Tapi ada juga yang mempertanyakan sikap Budi yang berbeda hari ini. Terlalu ceria untuk ukuran jam pulang kerja.


“Jangankan sampeyan, mbak Puji. Aku aja bingung. Kenapa itu anak” kata bu Ratih menanggapi pertanyaan temannya.


“Bud, kamu seneng amat hari ini. Abis dapet apa sih?” tanya lek Puji. Budi tersenyum.


“Kepo deh” jawabnya asal.


Lek Puji dan Bu Ratih saling pandang, sedangkan Budi tertawa, merasa lucu dengan jawabannya sendiri.


“Abis jadian”


Seseorang berseru dari arah belakang Budi. Sontak semua mata tertuju pada orang itu, termasuk mata Budi. orang itu tak lain adalah pak Janto, supir sepupunya. Budi sempat terkesiap beberapa saat. Membuat pak janto tertawa kecil.


“Sok tahu” komentar Budi.


“Ha ha ha ha”


Pak Janto tidak menjawab, hanya tertawa saja. Budi berpikir, sepertinya pak Janto hanya bercanda, atau lebih tepatnya menggodanya.


“Asal jeplak wae bapak, ah. Jadi gosip nih entar”


“Ha ha ha ha”


Saat sudah di dalam kabin mobil pick up tunggangannya, pak Janto masih sempat tertawa. Dia merasa lucu melihat Budi salah tingkah, diperhatikan banyak orang.

__ADS_1


Dan benar saja, lek Puji langsung berbisik-bisik dengan ibunya, dan tertawa. Budi tidak menghiraukan. Toh hanya akan jadi gosip.


__ADS_2