Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
puncak dari kemarahan Budi


__ADS_3

Selesai dengan Madina, Erika kemudian mencari satu nomor lagi. Satu nomor yang tidak asing baginya, tapi sudah sangat lama tidak dia hubungi. Ibarat kata, seperti percobaan untung-untungan.


“Halo, mas Sandi” sapanya, begitu panggilanya tersambung.


“Halo. Siapa, ya?” tanya Sandi, lupa.


“Erika, mas” jawab Erika.


“Oh, hai. Masih idup, lu? Mentang-mentang udah jadi bos, nggak pernah ngabarin gua, lu” seru Sandi.


“He he. Ya maaf. Kan gua udah jadi perwakilan perusahaan, jadi gua harus ati-ati banget dalam bersikap”


“Iya, deh. Gua ngerti, kok. Adek gua juga bikin pusing, ya? Ha ha”


“He he. Budi sih, yang kepusingan, kalo soal itu”


“Nah. Lu ngomongin Budi, gua jadi keinget dia. Lu nggak ikut ke eropa?”


“Ikut. Ini aku juga mau ngomongin soal Budi, sih”


“Nah, loh. Kenapa tu bocah? Tadi sih abis ngambek ama gua. Minta tolong gua, tapi gua nggak mau”


“Minta tolong apa, mas?”


“Minta tolong buat nyambungin dia sama Adel. Dia curiga kalo Luki ngalang-ngalangin Adel buat nerima telepon dia. Kalo itu bener, Budi minta gua buat ngerjain si Luki”


“Yah. Pantes”


“Maksud lu?”


“Iyain dulu kenapa, mas? Perkara jalannya kan bisa dipikir belakangan. Ngamuk tuh sekarang”


“Maksud lu? Ngamuk gimana?”


“Tadi udah minta bantuan Farah. Farah udah kesana. Tapi, ya gitu. Si Luki nggak kasih ijin. Jadinya sekarang dia lagi ngurung diri tuh di kamar, nggak mau diganggu”


“Lah. Paling juga semedi”


“Astaga, mas. Budi lu bilang semedi? Lu nggak inget, kalo Budi udah nggak mau diganggu artinya apa?”


“Aih. Dia masih punya pamor buat serangan jarak jauh”


“Itu dia”


“Kenapa nggak dicegah? Kan lu deket?”


“Bawa mayat gua lebih mahal, mas” jawab Erika.


“Ngelawan mereka juga nggak kalah mahal, Ka”


“Ngapain di lawan? Nggak perlu”


“Lah, terus? Ngapain lu telepon gua?”


“Gua cuman mau minta tolong sama mas Sandi buat evakuasi Adel dan keluarganya”


“Cih, ogah. Sama Budi aja kaya gitu, sombongnya”


“Siapanya? Luki? Terserah mas Sandi kalo dia, sih. Fokus gua cuman Madina, bu Lusi, dan juga Adel. Pastikan, saat orang-orangnya Budi nyerang, mereka bisa dievakuasi dengan selamat”


“Oke. rencana lu gimana?”


“Buat saat ini, mas Sandi cukup tanem mata aja di sana. Mas Sandi baru bergerak kalo orang-orangnya Budi udah sampai dan bikin ulah. Gua udah bilang sama Madina, kalo ada yang nyerang dari depan, dia harus pergi ke pintu balkon belakang. Dia sana dia akan kasih tanda dengan lampu flash”


“Emang lu yakin, Budi bakal ke sana malem? Kok pake flash”


“Ya nggak tahu juga. Gua kepikirannya gitu, mas. Siang juga keliatan, kali” jawab Erika.


“Tapi nggak usah bergerak, kalo emang nggak ada yang datang!” lanjut Erika.


“Terus, dibawa kemana?”

__ADS_1


“Paling aman, ya ke rumahnya Budi”


“Lah, gila lu. Bisa jantungan bu Ratih, kalo tahu anaknya nekat gitu”


“Nggak bakalan. Gua jamin. Justru dengan di sana, peluang Budi buat bisa ngomong langsung sama Adel, lebih besar. Tujuan utama dia kan, cuman itu”


“Astaga Budi. Bener-bener, lu. Kalo udah sakit hati, nggak bisa ditinggal ngedip” komentar Sandi.


“Jadi, gimana, mas?” tanya Erika memastikan.


“Ya udah. Gua bantuin” jawab Sandi.


“Syukurlah. Makasih ya, mas”


“Sama-sama. Jangan lupa oleh-olehnya!”


“Iya”


Tuuuut


Erika memutuskan sambungan teleponnya. Dia keluar dari toilet dan kembali bergabung dengan rekan-rekannya.


Di tempat lain, Madina masih berusaha mencari kesempatan untuk bertemu dengan kakaknya. Tapi kakak iparnya masih saja tak keluar kamar. Semenjak mengembalikan ponsel Madina tadi, Luki tetap berada di kamar. Dia memutuskan untuk bekerja di dalam kamar itu.


Madina semakin khawatir di saat malam mulai menjelang. Kakak iparnya sama sekali tidak keluar dari kamar kakaknya. Di saat adzan maghrib berkumandang, Madina mencoba peruntungannya untuk mengajak kakaknya sholat berjamaah. Tapi begitu pintu diketuk, yang keluar kakak iparnya lagi. Dia bilang kakaknya mau sholat di kamar saja.


Memang, di saat dia meminta izin untuk melihat kondisi kakaknya, dia melihat sendiri kalau kakaknya masih belum sehat betul. Dia juga sepertinya habis menangis. Luki menawari Madina untuk ikut berjamaah di kamar ini, tapi Madina menolak. Dia bilang ingin sholat bersama ibunya.


Bu Lusi merasa aneh, saat Madina mengajaknya untuk sholat maghrib di kamar atas. Tapi dia mengalah, karena Madina memaksa. Bu Lusi mengira kalau Madina sedang merajuk. Karena, semenjak ada Luki, dia jadi tidak sebebas sebelumnya untuk bertemu dan merawat kakaknya. Jadilah mereka sholat maghrib berdua saja. Bu Susan tidak diajak, karena memang sedang berada di solo.


Deeeeeerrrrr


Beeerrrrrrmmmmm


“Astaghfirulloh. Suara apa itu? Apa gempa?” tanya bu Lusi, kaget”


“Bukan, bu. Kalo gempa kok nggak kerasa getarannya? Itu sih suara motor, bu” jawab Madina.


Teet teeeet teeet


“WOOOI LUKI... KELUR LU BANG***!”


Terdengar suara keras dari arah depan. Jelas sekali itu berasal dari pelantang suara. Sontak bu Lusi langsung berdiri dan berlari keluar kamar.


“Ibu jangan!” cegah Madina. Tangan bu Ratih dia pegang erat.


“Ibu mau nemuin mereka. Itu mereka maksudnya apa? Suruhan siapa?”


“Jangan ibu! Bahaya”


“Biar Luki aja yang ke depan, bu” kata Luki. Dia langsung turun tangga.


“Adel ikut, mas” kata Adel, langsung berjalan menuju tangga.


“Mbak Adel. Jangan!” cegah Madina. Tangan Adel dia tarik kencang hingga terhuyung-huyung ke belakang.


“Kamu ngapain sih, dek? Orang embak cuman mau nemenin mas Luki, kok”


“Embak tuh lagi, sakit. ngapain ke sono-sono?”


“Ya nggak papa, kan? Embak udah kuat jalan juga, kok”


WOI WOI WOI WOI WOI


Suara di depan semakin ramai. Membuat Adel nekat balik badan dan hendak menuruni tangga.


“Mbak Adel, jangan nekat, mbak!”


“Apaan sih? Itu suami embak lagi ngadepin banyak orang. Bukannya dibantuin, malah ngelarang mbak Adel ngebantuin. Gimana, sih?” omel Adel sambil berbalik arah.


“Kalo embak emang mau mas Luki selamat, dengerin kata Madin!” pinta Madina.

__ADS_1


Matanya melotot dan memerah saat dia menatap kakaknya. Adel yang langkahnya terhenti karena tarikan tangan Madina, terkejut melihat Adiknya terlihat sangat marah.


“Kamu kenapa, dek?”


Adel melunak. Dia tahu, ada sesuatu yang diketahui Madina tapi dia tidak tahu.


“Kalo mbak Adel merasa cukup sehat buat turun tangga, berarti seharusnya mbak Adel juga udah cukup sehat buat nerima teleponnya mas Budi” Jawab Madina.


“Abram? Kapan Abram nelpon?”


“Lah. Dari tadi mas Budi neleponin embak. Mbak Adelnya aja, nggak pernah angkat. Tadi siang sampe nyuruh mbak Farah ke sini buat jadi perantara. Tapi kata mas Luki, mbak Adel lagi nggak bisa terima telepon. Nah ini, jadinya. Timbang minta kata-kata perpisahan aja nggak diturutin. Emang apa beratnya sih, mbak? Mas Budi cuman pengen denger langsung dari mbak Adel. Kalo emang pernikahan ini pilihan mbak Adel, ya udah. Apa harus ada pertumpahan darah lagi di rumah ini?”


“Embak nggak ngedenger ada telepon masuk dari pagi” kilah Adel membela diri.


WOOOOOOOIII


“Astaghfirulloh” gumam bu Lusi.


“ADEEEELL. SEMBUNYIII!”


Dap dap dap dap dap


Terdengar ada suara orang menaiki tangga. Sesaat kemudian Luki muncul dengan wajah panik.


“SEMBUNYII!” teriaknya lagi.


“Jangan ke kamar!” seru Madina.


Sontak Adel dan Luki yang hendak masuk kamar terhenti langkahnya.


“Kita keluar lewat belakang” kata Madina lagi.


“Jangan gila, dek! Ini lantai dua” tolak Luki.


BRAK BRAK BRAK BRAK


Terdengar suara pintu di dobrak. Perhatian merekapun teralihkan.


BRAK BRAK BRAK BRAK


“Ya udah tunjukin!” kata Adel memberi keputusan.


“Sayang?”


Luki terkejut melihat istri dan mertuanya malah mengikuti perintah adik iparnya. Dalam hati dia mengatakan kalau Madina gila. Mau turun dari lantai dua tanpa menggunakan tangga.


BRAK BRAK BRAK BRAK


Suara di depan semakin kencang. Dia jadi takut sendiri. Terlebih, di saat dia menoleh ke belakang, istrinya sudah tidak ada di ambang pintu.


“Adel?”


Gantian Madina yang menghilang. Dan bu Lusi juga ikut menghilang.


DUAAAAARRRR


WOOOOOOO


Terdengar suara pintu di jebol, dan riuh suara orang memasuki rumah. Mau tak mau, Luki berlari ke arah pintu balkon belakang.


“Woooi tunggu!” serunya.


Dia datang tepat di saat tangga yang bertengger di balik pintu itu mau dipindahkan. Serta merta Luki melompat dan berseluncur ke bawah. Ada dua orang laki-laki kekar yang menolongnya di bawah. Satu orang lagi langsung mengangkat tangga itu. Luki didorong untuk duduk.


CIIIIITTTT


Suara ban berdecit saat mobil yang membawa mereka melaju dengan kecepatan tinggi. Ya, mereka ternyata mendarat di atas sebuah bak mobil.


“Mereka kabur” teriak salah seorang yang berada di abang pintu balkon belakang.


Sontak ada kendaraan di depan rumah yang dinyalakan. Sang sopir terpaksa mencari jalan alternatif. Mereka harus memutari gunung guna menghindar dari kejaran kelompok penyerang itu.

__ADS_1


__ADS_2