Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
kasus baru


__ADS_3

Minggu pagi, seperti yang sudah disepakati bersama, Budi pergi ke rumah sepupunya. Tak lupa dia memasang kamera go pro pemberian Erika di motornya.


Erika bilang ingin melihat perjalanan Budi, mulai dari galeri, muat ikan, jalan ke ponorogo, bongkar muatan, sampai pulang lagi ke tempat sepupunya Budi. Walau semalam Budi sempat menertawakan permintaan itu, tapi dia pikir tidak ada salahnya. Toh tidak berat.


Karena dari watu karung, dia butuh waktu yang lebih lama untuk sampai di rumah sepupunya itu. dan sampai di sana, semua polyfoam sudah dinaikkan ke atas mobil bak. Sudah ditutup terpal dan ditali, malah. Satu mobil sudah berangkat, dan kakak sepupunya juga terlihat mau pergi dengan istrinya.


“Walah. Maaf mas, aku telat”


Budi berseru sambil cengengesan. Sepupunya hanya geleng-geleng kepala saja.


“Ya udah, nih catatannya. Kalo mau cek, bongkar lagi aja! Aku mau pergi dulu” jawab sepupunya. Budi menerima catatan semacam nota penjualan dari sepupunya.


“Ini uang jalan sama uang makannya. Dan ini upah kamu” lanjut sepupunya.


“Oke” jawab Budi.


“Pergi dulu, ya?” pamit sepupunya.


“Ya, mas” jawab Budi.


Selepas kepergian sepupunya, Budi melihat jam di ponselnya. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia merasa masih cukup waktu untuk memeriksa muatannya kali ini. Dia putuskan untuk membuka kembali ikatan tali itu, dan membuka terpalnya.


*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...


Baru juga memposisikan kamera go pro di posisi yang tepat, tiba-tiba ponsel Budi berdering. Dan terlihat nama Farah terpampang sebagai pemanggil. Panggilan video, lagi.


“Halo, assalamu’alaikum” sapa Budi.


“Wa’alaikum salam”


Ternyata pak Paul yang terlihat di layar ponselnya.


“Loh, pak Paul. Kok bisa sama Farah?” tanya Budi.


“Bud. Ternyata tamunya jadi dateng. Urusan sama pemerintah udah beres. Kamu dateng, ya!” perintah pak Paul tanpa basa-basi.


“Waduh” komentar Budi singkat.


“Ya, pinter-pinternya kamu, deh. Pokoknya aku butuh kamu dari pagi. Aku tunggu, ya!”


“Ya, pak. Siap” jawab Budi.


“Ya udah, gitu aja. Assalamu’alaikum” pamit pak paul.


“Wa’alaikum salam” jawab Budi.


Sejenak Budi termenung. Dia sedang berpikir, apa langkah yang akan dia ambil sekarang.


“Apa liat-liat?” tanya Budi pada kameranya. Seolah ada Erika di situ.


“Kacau, kan. Coba semalam ada penjelasan logis. Aku nggak bakal ke sini” lanjut Budi, masih dengan menatap kameranya.


“Kalo udah begini, gimana dong? Uangnya udah di tangan, ini. Masa aku batalin?” lanjut Budi lagi.


Lalu dia termenung lagi. Dia berpikir lagi, bagaimana mengakomodasi kedua kepentingan ini.


“Mas. Gimana kalo aku gantiin”


Sebuah suara dari belakangnya, menyentakkan angannya.


“Eh, Edi. Nggak kerja, Ed?” sapa Budi. Edi adalah teman masa kecilnya Budi.


“Lagi nganggur, mas. Makanya aku nawarin. Kali aja bisa buat makan hari ini sama besok. He he”


“Oh. Tawaran yang bagus sih, Ed. Tapi aku masih bingung”


“Bingung kenapa? Kalo aku jadi kamu nih mas, kerjaan pabrik nggak akan aku di tinggal. Lembur sehari juga, bisa tiga kali pulang pergi bawa mobil ini” tanya Edi.


“Lagian bisa ngamal juga sama orang yang lebih membutuhkan” lanjut Edi.


“Tapi jangan ngentit, ya! Mas Eko nyari aku soalnya nggak percaya sama sopir tembak. Takut dikentit, bilagnya.


“Hempf. Siapa yang berani ngentit mas Eko? Nama kamu terlalu nakutin buat dijadiin mainan. Apalagi cuman ngentit ikan. Ya elah, mas. Dapetnya nggak seberapa, taruhannya nyawa” kilah Edi sambil tergelak.


“Lah, terus, yang kata mas Eko pernah dikentit itu?”


“Ya elah mas. Kamu itu anak pedagang kok nggak ngerti cara ngerayu pembeli. Ya itu bisa-bisanya mas Eko aja. Biar kamu mau nyetirin mobilnya. Kata pak Janto, kamu kalo bawa mobil, fokus. Cepet nyampeknya. Itu yang mas Eko suka. Kalo kamu jam dua udah nyampe sini, kan masih ada waktu buat belanja ke semarang”


“Oh. Iya juga sih” komentar Budi.


“Terus, gimana?” tanya Edi.


“Aku cuman dikasih cepek. Mau nggak?”

__ADS_1


“Ada uang makannya, kan?”


“Ada”


“Oke deh. Daripada nggak ada pemasukan”


“Jangan ada yang dikentit!”


“Iya, mas. Aku nyari duit, bukan nyari mati” jawab Edi.


“Ya udah, nih” kata Budi menyerahkan kunci mobil, catatan, dan uangnya kepada Edi.


“Aku tetep mantau dari atas, ya? Jaga amanah ini!”


“Emang masih bisa, mas?”


“Masih, lah”


“Beres. Silakan pantau tiap detik. Niat aku bener, nyari pemasukan. Kalo nyari gara-gara, pastinya bukan sama kamu, mas” komentar Edi.


“Ya udah, aku tinggal, ya!” pamit Budi sambil meraih kamera go pronya.


“Tumben main gopro? Kan udah ada di atas?” tanya Edi.


“Buat kampanye, nggak cukup dari atas. Nggak keliatan merakyatnya” jawab Budi asal.


“Welah. Mau nyaleg, ceritanya?” tanya Edi antusias.


“Ha ha ha. Nyaman” jawab Budi.


“Nyaman?”


“Nyalon mantu” jawab Budi.


“Para calon mertua kan sukanya sama calon mantu yang pekerja keras. Itu harus aku tunjukin” lanjut Budi.


“Wuih. Dapet orang mana nih, sekarang?”


“Ada deh”


Budi tersenyum melihat Edi geleng-geleng kepala.


“Duluan, ya? assalamu’alaikum”


Budi pergi dari rumah sepupunya, menuju pabrik tempatnya bekerja. Di tengah jalan dia berhenti. Dia mengambil ponsel dan mengirimkan pesan singkat kepada sepupunya.


*Mas sori. Aku dipanggil bosku ke pabrik. Ternyata tamunya jadi dateng. Ini pengiriman ikan aku limpahin ke Edi. Tadi dia nawarin diri. Bilangnya lagi butuh duit. Tapi tenang, aku tetep pantau kok dari pabrik. Dia juga masih takut sama aku. Jadi harusnya sih aman, nggak ada yang dikentit*.


Setelah mengirimkan pesan itu, Budi segera melanjutkan perjalanannya. Di pabrik, dia sudah ditunggu oleh tim marketing. Rencananya mereka akan bersama-sama menuju sebuah ruko yang disewa untuk dijadikan showroom.


“Digantiin siapa, mas?”


Suara Erika mengejutkannya. Ternyata dia juga hadir, pagi ini.


“Ada, temen mainku” jawab Budi.


“Nih, kameranya. Gagal” lanjut Budi sambil tergelak.


“He he. Ya nggak papa” sahut Erika, sambil menerima kamera itu.


“Tugas mas nanti juga nggak kalah keren, kok. Lebih keren, malah”


“Emang buat apaan, sih? Jangan bilang buat pamer ke papamu!"


“He he. Peace” Erika meringis sambil mengacungkan tanda damai ke udara.


“Haduh. Untung nggak jadi. Apa kata papamu kalo aku belepotan ikan? Nggak keren, lah” komentar Budi.


“Kata siapa nggak keren? Mainan lumpur aja keren, kok”


“Terbang lagi nih, dipuji mulu”


“Bukan muji. Emang bener, kan?”


“Ka. Berkasnya udah siap semua?”


Suara pak Paul mengalihkan perhatian mereka.


“Sudah, pak. Silakan diperiksa lagi, kalau berkenan” jawab Erika.


Budi manggut-manggut. Terjawab sudah pertanyaan dalam hatinya tadi. Untuk apa Erika ikut datang pagi ini. Ternyata dia datang dalam kapasitasnya sebagai sekretarisnya pak Paul.


“Tamunya udah deket. Yuk, berangkat!”

__ADS_1


Suara Farah memecah kesunyian minggu pagi. Dan seperti dikomando, semua yang hadir segera mendekati mobil yang akan membawa mereka. Kecuali Erika. Dia ikut dengan mobil pak Paul, karena mereka tampak masih mendiskusikan seusatu.


Tak lama setelah mereka sampai di showroom, tamu yang mereka tunggupun datang. Langsung saja terjadi perbincangan hangat.


Dari basa-basi, meningkat menjadi pembicaraan serius. Tak jarang Budi dilibatkan, untuk memberikan penjelasn seputar proses produksinya. Termasuk pengaturan kalau ada permintaan desain khusus.


Selama perbincangan itu, sudah beberapa kali ponsel Budi berdering. Tapi selalu dia tekan tombol kunci agar berhenti berdering. Sampai pada akhirnya, kunjungan resmi di showroom itu berakhir. Tim marketing mengajak tamu itu untuk beramah tamah di rumah makan di sebelah mereka. Dan Budi diijinkan untuk menerima telepon.


“Halo, assalamu’alaikum” sapa Budi.


“Bud. Kamu dimana, sih?”


Suara mas Eko langsung meninggi tanpa menjawab salam Budi.


“Lagi sama tamu, mas. Kenapa?” jawab Budi.


“Itu mobil kenapa bisa sampe kena razia? Kamu kasih apa?” tanya mas Eko.


“Kasih apa? Megang juga belum. Emang mobilnya kenapa? Razia kan cuman urusan sim, STNK sama KIR”


“Iya. Kamu kasih apa dalemnya? Kalo mau bisnis, jangan ngorbanin sodara, lah!”


“Ngomong apa, sih? Aku belum megang mobilmu, mas”


“Halah. Nggak usah ngelak, deh! Gimana ceritanya bisa ada narkoba di dalem perut keting? Kamu mau bilang Edi yang masukin? Mana ngerti, dia?”


“Lah. Mas Eko nuduh aku yang ngelakuin itu? Dasarnya apa?”


Suara Budi yang semakin meninggi, membuat semua mata tertuju padanya.


“Ya terus?”


“Loh. Yang packing siapa? Kok aku yang dituduh?”


“Bud, udah deh. Jangan kaya gitu sama sodara! Nggak usah main api!”


“Mas. Aku ada buktinya kalo aku belum nyentuh sama sekali mobil kamu. Aku bawa gopro tadi. Kalo mas nggak percaya sama omongan aku, bilang, sekarang kamu dimana! Aku kasih liat”


“Ngapain kamu bawa-bawa gopro ke rumah aku?”


“Ngapain ngurusin gopro aku, sekarang?”


“Ya buat apa kamu videoin mobil aku? Kamu mau ngadu aku sama Gondo? Kamu mau kasih liat ikan aku kaya gimana, gitu?”


“Lah. Kok jadi kemana-mana?” tanya Budi heran.


“Aku parkir di belakang mobil kamu, mas. Aku juga cuman naruh kamera itu di teras, buat entar aku pasang di dashboard. Ngapain disangkutin ke Gondo?”


“Dasar setan” komentar mas Eko.


“Pokoknya aku nggak mau tahu. Aku nggak mau keseret-seret soal narkoba ini”


“Lah. Ngomong ke polisinya, lah. Ngapain nomong ke aku? Beneran nuduh aku, kamu mas?”


“Ya siapa lagi?”


“Dengan segala homat, gua minta maaf, kalo abis ini, gua nggak sopan lagi sama lu, mas” kata Budi.


*Tuut*


Budi mengepalkan tangannya menahan amarah. Erika mendatanginya.


“Kenapa, mas?” tanya Erika.


“Ka. Boleh aku pinjem kameramu?” Budi balik bertanya.


“Ada apa, mas?” tanya Erika sambil memberikan kamera kecil tadi.


“Aku ijin dulu, mau ke polres” kata Budi tanpa menjawab pertanyaan Erika.


“Bang*** ternyata si Eko” geram Budi.


Tanpa dia sadari, ternyata pak Paul memperhatikannya sedari tadi.


“Pake mobilku, Bud!” seru pak Paul.


Tanpa sempat menjawab, Budi sudah dikejutkan sesuatu yang melayang ke arahnya. Pak Paul telah melemparkan remot mobilnya tanpa menunggu jawaban darinya.


“Terimakasih, pak” jawab Budi.


“Kamu ikut, ka!” perintah pak Paul pada Erika.


“Baik, pak” jawab Erika.

__ADS_1


Mereka berdua pamit lalu pergi dari showroom itu.


__ADS_2