Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
putri diijinkan pulang


__ADS_3

Selepas kepergian polwan tadi, Budi membuka amplop di tangannya. Selembar surat pemberitahuan, isinya tidak berbeda dengan yang disampaikan polwan tadi.


*Pasang badan, tembok dan beringin bisa mendengar. Segitu banyaknyakah, telinga komplotan itu? Apa jangan-jangan Fatoni itu salah satu telinga komplotan itu? Kalo bener Fathoni itu telinga mereka, kenapa malah nunjukin foto si Bejo itu? Kan aku jadi jaga jarak sama orang itu. Logikanya kan, kalo emang si Bejo itu penguasanya, dan aku ini mereka anggep aset, harusnya kan malah aku dideketin, dinikahkan sama anaknya, terus direkrut. Kalo misalnya sebaliknya, aku ini dianggep useless, dan Fathoni itu bagian dari mereka, bukannya terkesan kaya mau makan temen sendiri? Kalo misalnya Fathoni bukan bagian dari mereka, dan beneran pengen nangkep papanya Erika, terus, yang ditakuti Nungki itu, siapa*?


Budi berjalan kembali ke kamar Rawat Adel. pikirannya masih melayang, sibuk merangkai segala kemungkinan. Sampai-sampai dia tidak menyadari, kalau dia diperhatikan Icha dan kang Jupri.


*Bahaya apa yang kiranya bakal aku hadapi? Kalo semua orang berpotensi jadi teliga mereka, bisa jadi juga mereka sumber dari bahaya itu. Tapi masa aku harus nyurigain semua orang? Minta tolong sama siapa, dong*?


“Gimana, mas? Ada info apa dari bu Polwan?” suara Icha mengejutkannya.


“Oh, ini”


Budi mengacungkan surat di tangannya, tapi tidak membaginya dengan Icha.


“Adel sudah boleh pulang, secara hukum. Maksudku, dalam hubungannya dengan kepolisian. Tapi mengenai kesehatannya, aku perlu nanya dulu ke dokter” lanjut Budi.


“Wah. Pas banget, bos. Untung saya masih di sini” sahut kang Jupri.


“Kita liat kondisi Adel dulu, yuk!” ajak Budi, terkesan mengacuhkan kang Jupri.


“Yuk” jawab Icha.


Budipun balik kanan, langsung masuk ke kamar rawat Adel. Icha mengusap-usap pundak kang Jupri. Dia meminta kang Jupri untuk sabar. Budi begitu karena sedang pusing, begitu ucapnya. Kang Jupripun tersenyum. Dia bilang tidak masalah. Ichapun menyusul Budi masuk ke dalam kamar rawat Adel.


“Wah. Udah lebih seger, kayaknya” komentar Icha, setelah masuk ke kamar rawat Adel.


“Iya, mbak Icha” jawab Adel.


Tampak Adel sudah bisa tersenyum. Di tangannya tergenggam surat yang tadi dipegang Budi.


“Alhamdulillah. Ikut seneng saya, mbak”


“Makasih ya, mbak Icha. Semoga Gusti Alloh mengganti kebaikan mbak Icha dengan berkali-kali lipat” doa Adel.


“Amiin” sahut Icha mengaminkan doa Adel.


“Eem, mas Bud. Ini yang mau nanya ke dokter, mas Budi apa Icha?” tanya Icha pada Budi.


Budi tidak langsung menjawab. Dia malah tersenyum terlebih dahulu.


“E eh. Bukan gitu maksud Icha, mas” kilah Icha, menolak tuduhan dari senyuman Budi, yang seolah-olah mengatakan kalau Icha sudah lelah membantu mereka.


“Ha ha ha” Budi malah tergelak.


“Aku juga nggak mikir gitu kali, mbak. Aku cuman keinget Putri aja. Dia tuh, seneng banget bantuin kakaknya. Kaya nggak punya capek” kata Budi meralat senyumannya.


“Hufff. Kirain” sahut Icha, sambil menghela nafas lega.


“Ya udah, aku aja yang nanya ke dokter. Tolong jagain Adel ya, mbak?” kata Budi menjawab pertanyaan Icha tadi.


“Oke” jawab Icha singkat, namun full senyum.


Budipun pergi mencari dokter yang menangani Adel. Setelah beberapa kali bertanya pada petugas jaga, Budi berhasil menemui dokter tersebut.


Dan beruntungnya, dokter tersebut mengatakan kalau sebentar lagi akan dilakukan pemeriksaan pada Adel. Dan hasil pemeriksaan itulah yang akan menjadi dasar, apakah Adel sudah boleh pulang atau belum.


Budipun hanya bisa mengiyakan saja. Dia harus menunggu setengah jam lagi, sampai dokter itu sampai di kamar Adel. Karena sekarang, dokter itu baru bersiap-siap untuk keliling.


*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...


Saat berjalan kembali ke kamar rawat Adel, tiba-tiba ponselnya berdering. Dan saat dia lihat, ada nama Erika yang terpampang di layar ponsel.


“Halo,assalamu’alaikum” sapanya.


“Wa’alaikum salam, mas. Lagi dimana?” sahut Erika.


Budi tersenyum. Suara Erika tak lagi sengak seperti sebelumnya.


“Lagi di rumah sakit, Ka” jawab Budi.


“Rame amat, lagi ada yang ulang tahun ya, di kantor?” Budi balik bertanya.


“Aku lagi di rumah sakit, mas. Di depan kamarnya Putri. Barusan ada yang meninggal, di sebelah kamar Putri” jawab Erika.


“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un” gumam Budi.


“Kok jam segini masih di rumah sakit, Ka? Nggak ngantor?” tanya Budi heran.


“Tadinya udah mau ngantor, mas. Tapi pak Paul nelpon. Aku disuruh nunggu di rumah sakit aja. Karena pak Paul mau nyamper. Lagi ngurusin kendaraan dulu, dia”

__ADS_1


“Emang kenapa mobil pak Paul? Nggak abis kecelakaan, kan?” tanya Budi terkejut.


“Ciee, udah ada rasa nih, sama calon bapak sambung” goda Erika.


“Enggak. Pak Paul lagi nyari mobil yang legaan. Kan Putri udah boleh pulang, mas” lanjut Erika.


“Oh, ya? Alhamdulillah” seru Budi mengucap syukur.


“Ini tadi abis packing, udah siap semua, tinggal nunggu pak Paul”


“Alhamdulillah, ya Alloh. Satu beban telah Engkau angkat. Kuatkan kami, ya Alloh!” gumam Budi setengah menahan tangis haru.


“Mas? Kenapa?” tanya Erika lirih.


Tak segera ada jawaban. Budi masih berkutat dengan rasa harunya. Butuh beberapa menit untuk menguasai dirinya.


“Mas?” tegur Erika lagi.


“Maafin aku ya, Ka!” sahut Budi.


“Maaf? Buat apa, mas?”


“Ya buat sikapku, yang bikin kamu cemburu berat. Pasti senewen, kan?”


“He he. Ya pasti, lah. Denger namanya mas sebut aja, aku udah cemburu berat, mas. Apalagi mas malah nyamperin orangnya. Demi apapun, aku belum pernah diperlakukan kaya gini, mas”


“Itu dia, Ka. Maaf banget, ya?”


“Iya, mas. Aku udah ngerasain kok, apa yang mas rasain semalem”


“Hem? Apa?”


“Ya, ibu” jawab Erika singkat. Budi masih menunggu kelanjutan kalimatnya.


“Nggak nyangka, mas. Kalo ibu udah ngeluarin kadigdayannya, pamornya jadi luar biasa. Bicaranya sih kalem, tapi auranya itu lho mas, berasa ada pasukan satu batalion di belakang ibu. Aku nggak bisa ngapa-ngapain tahu, mas. Takluk rasanya” lanjut Erika. Budi tergelak mendengar penuturan kekasihnya itu.


“Udah ngerti kan, kenapa aku nggak pake mbantah lagi? Kalo aku sampe dicap anak durhaka, mau tinggal dimana? Bumi langit ini punyanya Gusti Alloh, Ka. Kalo Gusti Alloh nggak ridho, ya cuman ada satu tempat buatku”


“Jangan sebut, mas!” potong Erika.


Keheningan tercipta setelahnya. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Ya mas?”


“Ibu ada?”


“Ada, mas. Lagi di dalem, sama Putri”


“Tolong dong, mau bicara sama ibu. Ada situasi yang harus kita pahami bersama”


“Bersama? Rika juga, mas?”


“Iya”


“Tentang?”


“Tentang kasus ini. Kayaknya yang kita lihat ini cuman puncak gunung es aja, Ka. Kebawahnya, kayaknya bakal dalem dan lebar banget”


“Jangan bilang kasusnya Vani nyambung sama kasusnya Adel!”


“Emang iya. Makanya, aku mau bicara sama ibu. Kamu dengerin juga, ya! Kencengin aja suaranya!”


“Oke” jawab Erika singkat.


Kecemburuannya menyeruak lagi. Tapi diapun tak bisa menolak. Dia melakukan apa yang diminta Budi.


“Ada apa, mbak Rika?”


Terdengar suara bu Ratih bertanya. Budi masih mendengarkan.


“Mas Budi mau bicara bu. Tapi mintanya di loud speaker. Biar semunya mengetahui” suara Erika yang kini terdengar.


“Ada apa, ngger?” tanya bu Ratih serta merta.


“Bu. Ada situasi di sini yang harus diketahui bersama” jawab Budi, juga langsung pada intinya.


“Kenapa, ngger? Kayaknya menghawatirkan. Mbak Adel nggak papa, kan?”


Di sini Erika terlihat cemburu berat. Bu Ratih masih menghawatirkan sekali keadaan Adel, persis seperti menghawatirkan keadaan Putri.

__ADS_1


“Kalo soal kesehatan, alhamdulillah, Adel udah baikan, bu. Tinggal observasi sekali lagi. Kalo hasilnya bagus, harusnya pagi ini udah boleh pulang” jawab Budi.


“Emang udah boleh keluar kota, mas?” sahut Putri.


“Udah. Nungki yang menyidik” jawab Budi.


“Mbak Nungki? Kok bisa sampe sana?”


“I don’t know”


“Tapi intinya udah boleh balik ke rumah kan, ngger?” tanya bu Ratih.


“Sudah, bu. Surat resminya juga sudah keluar. Tapi, “ Budi menggantung jawabannya.


“Tapi apa, ngger?”


“Tapi Budi yang dijadikan jaminan, bu”


“Maksudnya?” seru Putri.


Di sini Erika sebenarnya juga mau protes. Tapi dia takut dengan bu Ratih. Jadi dia memilih diam dulu.


“Ya. Budi diwajibkan untuk memastikan Adel pulang dengan selamat sampai ke rumah. Dan juga, Budi harus memastikan Adel bisa dilacak keberadaannya sampai kasus ini selesai”


“Lah. Kenapa harus mas Budi?”


Kali ini Erika tidak kuasa lagi menahan diri untuk tidak protes. Sontak bu Ratih dan Putri menatap ke arahnya.


“Aku juga nggak ngerti” jawab Budi.


“Masa jadi tanggung jawab mas Budi, sih? Yang berbuat siapa, yang bertanggung jawab siapa” keluh Erika.


“Mbak Rika, tenang dulu!” pinta bu Ratih, menengahi. Erikapun hanya bisa mendengus kesal.


“Memang keluarga bulekmu Lusi itu menjadi tanggung jawab kita juga, ngger. Sebagaimana bulekmu Lusi bantuin kita selama Putri dirawat”


Jawaban bu Ratih malah tambah membuat Erika kepanasan. Tapi dia tidak mampu berbuat banyak.


“Ini bukan soal masa lalu, mbak Rika” kata bu Ratih kepada Erika.


“Lusi itu udah ibu anggep sebagai adik ibu sendiri. Keselamatan keluarganya juga menjadi tanggung jawab ibu. Sebagaimana ibu jagain dia mati-matian sewaktu dia masih balita” lanjut bu Ratih.


Sorot mata itu, lagi-lagi membuat Erika tak berkutik. Kalem, tapi tajam. Begitulah yang Erika rasakan.


“Saran ibu gimana, bu?”


Suara Budi mengalihkan perhatian mereka semua.


“Tentang apanya, ngger?” tanya bu Ratih.


Tapi Budi tidak segera menjawab. Itu karena dia dicolek oleh dokter yang hendak memeriksa Adel. Budi tersenyum dan membungkukkan badannya sedikit, dan memperlihatkan ponselnya. Sebagai isyarat kalau dirinya sedang menerima telepon. Dokter itupun memberikan tanda oke, sambil terus berjalan menuju kamar rawat Adel.


“Eem. Dilanjut nanti aja, Bu. Itu dokternya udah masuk kamar Adel. Kalo oke, Budi harus segera beberes. Putri juga mau pulang, kan? Kita ketemu di rumah aja, ya?”


“Putri maunya di galeri aja, mas” seru Putri.


“Lah. Kok di galeri?”


“Putri nggak mau ketemu mak-mak rempong dulu. Apalagi ketemu bude Kusno. Pasti pusing deh, Putri” jawab Putri.


“Kan belum ada kamarnya, Put”


“Lagi dibikinin, ngger. Paling entar siang juga kelar” sahut bu Ratih.


“Wow. Keren juga kang Sukron” komentar Budi.


“Ya udah. Ketemu di sana aja ya bu?”


“Ati-ati ya, ngger! Kabari kalo udah mau balik!”


“Iya, bu” jawab Budi.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Sebenarnya bukan itu alasan utama Budi tidak menjawab pertanyaan ibunya tadi. Dia teringat pesan dari rekan sejawat Nungki.


Kalau tembok saja bisa mendengar, apalagi ponsel. Mudah saja untuk mencuri dengar pembicaraan orang melalui telepon.

__ADS_1


Budipun berjalan menuju kamar rawat Adel. terlihat Icha keluar dari kamar itu.


__ADS_2